Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07 - Life Must Go On
Gelisah menyelimuti setiap hati manusia kala sesuatu yang sudah sangat diusahakan nyatanya tak jua menemukan titik terang. Cemas, lelah, dan putus asa sudah pasti kerap kali menyerang jiwa. Bukankah itu hal yang sangat manusiawi? Hal yang wajar tapi juga sekaligus risiko yang harus ditanggung.
Itu pula yang dirasakan oleh seorang Zoe Mafarulls, bertahun-tahun ia tak henti-hentinya terus mencoba memberi perawatan terbaik untuk sang kekasih, berharap suatu hari Shena akan bangun kemudian tersenyum dan memanggil namanya.
Ini sudah 3 tahun berlalu, semua masih tetap sama dan belum ada perubahan signifikan seperti yang diinginkannya. Meski beberapa waktu lalu gadis itu sudah dipindahkan ke ruang VVIP, Zoe menyulap ruangan mewah dengan segala fasilitasnya itu menjadi bak sebuah hotel berbintang 6. Apa pun akan Zoe lakukan demi kenyamanan Shena dan atas kesungguhan usahanya.
Dulu di satu tahun pertama, Zoe bahkan hampir kehilangan kewarasannya, setiap saat hidupnya tidak lagi merasakan ketenangan. Laki-laki malang itu terus menerus diserang rasa takut yang berlebihan. Bagaimana tidak, gadis yang sangat dicintainya mengalami koma dan tidak memiliki kepastian kapan akan bangun lagi.
Zoe tidak baik-baik saja, ia sudah mencoba berbagai cara untuk melupakan kesedihannya, menjadi pecandu rokok, minuman beralkohol, hingga tubuhnya pun tumbang lantaran terlalu banyak mengkonsumsi minuman memabukkan tersebut secara berlebihan. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit setelah tak sadarkan diri di kamarnya yang berada di apartemen selama berjam-jam dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Mama Amelia sendiri sudah hampir gila dibuatnya, wanita paruh baya itu histeris melihat sang putra satu-satunya nampak sangat kacau dan dengan hati yang turut hancur. Sedalam itu Zoe merasakan kehilangan, ketakutan akan kehilangan seorang Shena Morghia seakan sudah mendarah daging baginya.
Satu hal yang tidak Zoe lakukan ialah, menolak untuk bermain perempuan!
Zoe Mafarulls adalah pria normal, seberat apa pun hasrat liar kelelakiannya muncul, namun ia tidak pernah sekali pun melampiaskannya pada wanita mana pun.
Jika memang ini adalah bentuk hukuman atas kesalahan dirinya di masa lalu, rasanya tidak adil saja bagi gadis itu. Shena tak bersalah, ialah yang sudah menyiram api ke rotan yang kering, ia adalah pemicu dari semua lara yang sudah terjadi. Baik saat ini, mau pun di masa lalu.
Sungguh, Zoe sanggup menanggung kehidupan sepedih apa pun. Tetapi, semesta seakan mengerti bawa gadis itu sudah menjadi sumber kehidupannya, sehingga jika sesuatu terjadi pada Shena, maka itu sama saja dengan menghancurkan kebahagiaannya, hidupnya, dan dunianya. Satu kata untuk menggambarkan seorang Zoe ..., miris.
Terlepas dari semua yang terjadi, Zoe sadar bahwa hidup harus terus berjalan, sesakit apa pun ia menapaki langkah, dunia tetap melaju tanpa mau mengerti.
Tujuan hidup Zoe sekarang hanya untuk Shena dan demi Shena, ia rela menjalani hidup suramnya ini tanpa adanya seseorang yang bersedia memberi warna baru untuknya. Sekalipun ada, ia tidak berjanji akan bisa menerimanya dengan sepenuh hati.
Zoe sendiri tentu tidak ingin itu semua terjadi, ia enggan mengulang dosa yang sama seperti yang sudah ia lakukan di masa lalu terhadap Shena. Maka biarlah seperti ini saja, berjalan seorang diri tanpa adanya tangan lembut di genggamannya sebagai pengobat hati.
"Pak, bangun, Pak. Sudah siang!" seru seseorang tepat di telinga Zoe.
Mata Zoe sempat mengerjap, namun hal itu tak berlangsung lama, sebab laki-laki itu kembali tertidur pulas. Erlita tersenyum melihat pemandangan di hadapannya, sofa yang baginya terlihat lebar dan panjang itu nyatanya tak mampu menampung tubuh jangkung milik seorang Zoe Mafarulls.
Padahal ada sebuah ranjang khusus yang biasa digunakan oleh Zoe di sebelah sudut ruangan, tetapi mengapa laki-laki itu malah memilih sofa ini? Pikir Erlita sepertinya laki-laki pemilik tubuh tinggi itu begitu kelelahan hingga tertidur di sana.
Semalaman berbicara sendiri di hadapan Shena yang masih setia tertidur pulas, membuat kantuk menyerang Zoe ketika fajar menjemput. Matanya menyipit, saat sebuah cahaya menerobos jendela besar rumah sakit hingga mengenai wajah tampannya ketika khas bangun tidur. Mengucek-ngucek matanya sebentar, Zoe perlahan menarik diri dari sofa empuk yang seketika meninggalkan jejak hangat dari bekas tubuhnya.
"Eh, Pak, udah bangun. Maaf, saya tadi coba bangunin Bapak soalnya udah siang. Takut Pak Zoe telat mau berangkat kerja." Erlita nampak kikuk, wanita itu terlihat merasa bersalah lantaran sudah mengganggu waktu istirahat Zoe.
"Hem." Zoe tak terlalu menghiraukan sapaan Erlita, ia sibuk merapikan penampilannya yang berantakan khas bangun tidur. Namun, itu ternyata menjadi pemandangan yang sangat menarik di mata Erlita, Zoe terlihat jauh lebih menggoda di saat seperti ini. Kedua tangan gadis itu bahkan secara refleks saling bertautan menahan gejolak aneh di dalam dirinya.
Dengan mukanya yang masih kusut, Zoe berdiri kemudian meraih jaket miliknya yang tergeletak di atas sofa, kemudian dikenakannya.
"Mau saya pesankan kopi, Pak? Kebetulan setelah ini saya mau ke pantry," tawar Erlita buru-buru mendekati Zoe takut laki-laki itu langsung pergi begitu saja.
"Nggak perlu!" Zoe berjalan mendekati ranjang Shena, "aku membayarmu untuk hanya merawat kekasihku, bukan aku!" lanjut Zoe seraya memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuh sang gadis, kemudian satu tangannya naik membelai surai hitam milik Shena.
Perlahan tubuh Zoe merunduk, lalu mendekatkan wajahnya. Sebuah ciuman yang begitu lembut mendarat di kening Shena, cukup lama bibir itu menempel di sana seolah sengaja mengalirkan rasa rindu yang sudah tak terbendung.
"Aku pulang dulu, ya, Sayang." Zoe lagi-lagi merunduk, kali ini pipi Shena menjadi sasarannya.
Erlita, gadis yang sedari tadi masih berdiri tak jauh dari Zoe pun tentulah menyaksikan adegan pasangan penuh keromantisan itu. Meski sang gadis tidak bergerak sedikit pun, namun kesan manis masih tetap terasa.
"Beruntung sekali kamu, Mbak!" monolog Erlita di dalam hati.
Zoe berjalan melewati perawat muda tersebut, membuka pintu kemudian berlalu dari sana tanpa menghiraukan gadis itu yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu padanya.
"Zoe, Mama mau bicara sama kamu!" seru Mama Amelia sesaat setelah sang putra memasuki rumah mereka.
"Nanti aja, Ma. Aku mau bersih-bersih dulu badanku rasanya lengket semua." Zoe mengusap bahu sang ibu, meminta pengertian agar ia dibiarkan beristirahat terlebih dahulu. Namun, seperti yang sudah Zoe duga, Mama Amelia selalu tidak sabaran dan keinginannya harus segera dituruti.
"Sebentar doang, Zoe. Ya udah Mama ikut ke kamar kamu aja, deh!" kata Mama Amelia sembari berjalan tergesa menyusul langkah lebar putranya.
"Ya ampun, Ma. Mama menakutkan. Udah nanti aja, ya. Aku harus buru-buru ke kantor juga, tadi Vivian ngabarin kalau hari ini harus ke Jogja ada pertemuan penting dengan klien."
"Jogja?" ucap Mama Amelia mengernyitkan keningnya. Hatinya mendadak tidak enak saat mendengar nama gadis itu, langkahnya pun terhenti tepat di depan kamar Zoe yang sudah terbuka.
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih