NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 — DIAM

Tiga hari berlalu sejak malam di mana foto-foto dari pantai itu terbentang di antara mereka. Hari-hari di kediaman Faruqi berubah menjadi lorong panjang yang diisi oleh keheningan kaku.

Tidak ada pertengkaran meledak-ledak. Tidak ada teriakan atau perdebatan sengit seperti pada minggu-minggu awal pernikahan mereka. Justru, yang melingkupi rumah itu adalah jenis ketenangan yang jauh lebih menyiksa: keheningan yang dingin dan berjarak.

Rasyid tetap menjalankan kewajibannya sebagai suami dan pengajar di pesantren. Pria itu tetap menyapa Aurel saat pagi hari, tetap meletakkan uang belanja di meja rias, dan tetap mengingatkan Aurel untuk makan saat hendak berangkat mengajar ke madrasah. Suaranya masih sehalus biasa, namun tidak ada lagi pendar kehangatan di matanya. Tidak ada lagi senyum tipis yang biasa mekar saat melihat tingkah kepolosan Aurel. Kalimat-kalimat yang terlontar dari bibirnya kini menjadi sangat singkat, efisien, dan formal—persis seperti interaksi dua orang asing yang kebetulan berbagi ruang di bawah satu atap.

Aurel pun tetap menjalani aktivitasnya. Ia pergi ke kampus untuk merapikan urusan draf bab empat, menghadiri bimbingan dosen, dan sesekali pulang ke pesantren sebelum magrib.

Namun, di dalam dadanya, ada sesuatu yang bolong dan terasa teramat mengganggu.

Aurel mulai menyadari sebuah kenyataan yang menakutkan: ia kehilangan Rasyid yang biasanya. Ia merindukan godaan halus suaminya, merindukan perhatian kecil yang tak diminta, dan merindukan kehangatan yang dulu selalu menyambutnya setiap kali ia melangkah masuk ke dalam rumah.

Beberapa kali pada sore hari, Aurel sengaja duduk di teras samping membawa bukunya, pura-pura sibuk membaca padahal matanya terus-menerus melirik ke arah gerbang—menunggu derak mobil SUV hitam Rasyid pulang. Namun, ketika Rasyid akhirnya tiba dan berjalan melintasi teras, Aurel mendadak buru-buru menundukkan kepala, membalik halaman bukunya dengan cepat, dan pura-pura tidak menyadari kehadiran suaminya.

Harga diri dan gengsi yang mengakar tinggi membendung lidahnya untuk memulai percakapan lebih dulu.

Rabu sore. Udara Arunika Timur dibalut mendung tipis.

Aurel sedang duduk di sudut ruang tengah, melipat jemuran kain kemeja dan jilbab yang baru saja ia angkat dari halaman belakang. Jemari tangannya merapikan lipatan kemeja katun abu-abu milik Rasyid, menghirup aroma wangi minyak zaitun dan deterjen yang melekat pada kain tersebut.

Aurel mendesah panjang, menyandarkan dahi ke atas tumpukan kain di pangkuannya.

"Mbak Aurel lagi ada masalah sama Mas Rasyid ya?"

Sebuah suara halus mendadak memecah sunyi. Aurel tersentak pelan, mendongak cepat.

Salma sedang berdiri di ambang pintu dapur, membawa sekeranjang buah apel yang baru saja dicuci. Gadis muda berkerudung instan warna kuning pastel itu menatap kakak iparnya dengan raut wajah prihatin yang tidak berusaha ditutupi.

Aurel berdehem kaku, buru-buru menegakkan posisi duduknya dan berpura-pura sibuk melipat celana kain. "Eh, Salma... Nggak kok. Siapa yang ada masalah?"

Salma melangkah mendekat, meletakkan keranjang buah di atas meja kayu, lalu duduk bersila di atas karpet tepat di samping Aurel.

"Mbak Aurel nggak bisa bohong sama Salma," ujar Salma pelan namun pasti. "Dari kemarin lusa, rumah ini rasanya sepi banget. Mas Rasyid kalau pulang biasanya langsung nyari Mbak Aurel ke kamar atau ke teras, tapi sekarang kalau habis magrib langsung ngurung diri di ruang kerja bawah. Mbak Aurel juga biasanya ramai kalau ngobrol sama Salma di dapur, sekarang lebih banyak melamun."

Aurel menghentikan jemarinya di atas kain kemeja Rasyid. Ia menunduk, memandangi jemari tangannya sendiri yang saling bertaut kaku.

"Kami cuma... lagi ada sedikit beda pendapat aja, Sal," bisik Aurel. Suaranya terdengar canggung dan serak.

"Beda pendapat soal apa, Kak?" tanya Salma lembut, mengulurkan tangannya untuk meremas pelan jemari Aurel. "Salma tahu Mas Rasyid itu orangnya tenang banget. Kalau sampai Mas Rasyid diam lama kayak gini, artinya ada hal yang bener-bener bikin hatinya luka atau bingung."

Kata luka membuat dada Aurel mendadak serasa dihantam beban berat.

Aurel membuang pandangannya ke arah jendela luar. "Aku nggak bermaksud bikin dia luka, Sal. Kemarin ada kesalahpahaman pas aku pergi ke acara kampus. Ada orang iseng yang foto aku sama temen lamaku terus dikirim ke HP Mas Rasyid. Mas Rasyid mikir aku nggak terbuka sama dia... dan aku... aku malah ngamuk karena kerasa dituduh."

Salma mendengarkan cerita pendek itu tanpa menghakimi. Gadis itu menarik napas pelan, menganggukkan kepalanya dengan tatapan penuh empati.

"Mas Rasyid itu bukan marah karena cemburu buta, Kak," tutur Salma halus, matanya menatap netra cokelat terang milik Aurel. "Mas Rasyid itu takut."

Aurel mengerutkan dahi pelan, heran. "Takut? Takut apa?"

"Takut kalau ternyata selama ini Kak Aurel masih menganggap Mas Rasyid sebagai orang asing," kata Salma jujur. "Mas Rasyid sudah memberikan seluruh rasa percaya dan kebebasannya buat Kak Aurel. Tapi sewaktu masalah itu datang, Kak Aurel justru memilih untuk menutup diri dan marah. Buat Mas Rasyid, respon itu rasanya seperti penegasan kalau Kak Aurel belum sepenuhnya percaya sama dia."

Aurel terpaku di tempatnya. Kalimat Salma menghantam tepat di pusat rasa bersalah yang selama tiga hari ini coba ia tekan rapat-rapat.

"Mas Rasyid itu gengsinya gede soal rasa sedihnya sendiri, Kak," lanjut Salma seraya tersenyum tipis. "Dia memilih diam bukan karena benci sama Kak Aurel. Tapi karena dia lagi nunggu... nunggu apakah Kak Aurel mau melangkah mendekat dan ngomong jujur sama dia."

Salma menepuk punggung tangan Aurel pelan sebelum berdiri dari karpet.

"Kadang..." bisik Salma di ambang pintu ruang tengah, menyisakan sebuah kalimat emas yang bergema nyaring di dalam kepala Aurel, "...orang yang paling kita tunggu untuk bicara adalah orang yang paling kita hindari."

Gadis muda itu melangkah menuju arah dapur, meninggalkan Aurel yang membeku sendirian di tengah tumpukan kain lipatan.

Kadang orang yang paling kita tunggu untuk bicara adalah orang yang paling kita hindari.

Kalimat itu berkumandang berulang kali di benak Aurel.

Aurel memandangi kemeja abu-abu Rasyid di pangkuannya. Selama tiga hari ini, ia selalu beralasan bahwa Rasyid-lah yang dingin, Rasyid-lah yang mulai menjauh, dan Rasyid-lah yang membuat suasana menjadi kaku. Namun realitasnya... dialah yang memegang kunci untuk meruntuhkan dinding batu ini. Dialah yang membiarkan rasa gengsi merusak jembatan kehangatan yang baru saja mereka bangun bersama.

Aurel mengepalkan tangannya di atas kain kemeja Rasyid, menarik napas dalam-dalam.

Malam ini... ia tidak akan melari diri lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!