Ini bumi dimana tradisional dan modern bergabung.
Ramainya upacara pernikahan adat bergabung dengan tradisi pedang pora malam ini turut menjadi saksi bisu kealpaannya. Tanpa sengaja Letnan muda itu mabuk karena ulah para rekannya. Lebih parahnya lagi ia menyentuh seorang gadis yang sama sekali tidak di kenalnya.
Beberapa tahun berlalu, takdir mempertemukan dirinya dengan seorang anak laki-laki yang mirip dengannya. Matanya, hidungnya, bibirnya sampai perawakan tubuhnya bahkan sifat garang dan pemberaninya sangat mirip dengan dirinya.
"Saya terpaksa mencarimu."
"Apa kita pernah saling kenal?"
"Secara langsung tidak, tapi anak ini menuntunku agar kita saling kenal." Jawab wanita tersebut. "Pendopo kesultanan, usai pernikahan seniormu."
"Kamu.. gadis yang malam itu........."
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Dunia tak memahami.
Inka membuka pintu rumah dengan amarah meledak-ledak. Dirinya tidak bisa menerima kenyataan yang telah terjadi antara dirinya dan Bang Seno di masa lalu hingga membuat Gilang terlahir ke dunia.
"Saya sudah mengaku salah dek."
"Apa dengan kata maaf semua bisa kembali semula Mas?? Kesalahanmu sudah menorehkan tinta di dalam rumah tangga kita."
"Inkaa.. apakah selama ini saya sebagai suamimu pernah membahas tentang masa lalumu dek?? Saya bisa menerima keadaanmu apa adanya."
"Tapi Inka jujur mengatakan keadaan Inka yang sudah tidak perawan lagi, Mas yang tidak jujur sudah pernah menghamili wanita lain." Pekik Inka.
"Saya nggak sengaja dek. Saya mabuk dan saya tidak tau siapa wanita yang saya sentuh sampai akhirnya Laras mencari saya karena Gilang sakit. Anak tetaplah anak dek. Saya nggak kuat kalau bicara tentang anak." Kata Bang Seno berusaha membujuk Inka.
"Apa Mas yakin Gilang anaknya Mas?? Bagaimana kalau Laras bohong. Kenapa juga Laras nggak bilang sejak dulu kalau dia hamil anaknya Mas??" Inka masih saja tidak terima dengan kejadian ini.
"Tidak perlu membahas, mengorek dan berpikir jauh. Saya yakin batin saya tidak salah mengarah, perkataan itu akan menyakitkan hati Laras." Jawab Bang Seno.
Mendengar ucap Bang Seno, Inka semakin marah. "Lalu bagaimana dengan hatiku Mas?? Mas nggak memikirkan perasaanku???"
"Inkaaa, masalahnya takdir tidak dapat di ubah. Mas melakukannya sebelum menikah sama kamu dek. Maafkan saya yang sudah membuat hatimu sesakit ini. Sungguh Mas tidak berniat menyakiti hatimu."
...
Sore itu Bang Erlang selaku senior Bang Seno memanggilnya secara pribadi ke rumahnya karena pengaduan Inka yang berniat menaikan kasus ini ke ranah militer.
"Abang memanggilmu secara pribadi agar kasus ini tidak naik dulu ke meja komandan. Abang menyayangkan kenapa kejadian ini harus terjadi Sen." Tegur Bang Erlangga sembari menggendong putra keduanya yang belum lama lahir.
"Siap salah Abang." Jawab Bang Seno dengan mata berkaca-kaca.
"Abang tidak bisa bicara banyak karena ini menyangkut masalah pribadimu. Tapi saat ini ada dua wanita menangis karenamu, Abang juga tidak bisa menyalahkan kemarahan Inka. Nyeri juga Abang melihat masalahmu ini."
Bang Seno meraup wajahnya, tak terlukiskan bagaimana perasaannya saat ini. Nasi sudah menjadi bubur namun tanggung jawab tidak bisa di abaikan begitu saja.
"Kerja lebih giat lagi Sen.. Anakmu sudah dua, kamu juga tidak mungkin membiarkan ibu dari anak-anakmu banting tulang sendiri khan? Apalagi sekarang anakmu ada yang sakit." Arahan Bang Erlangga untuk Bang Seno.
"Siap Abang."
pprrttt..
Terdengar bunyi yang amat di kenali Bang Erlang. "Astagaa.. Yank.. sayaang.. anakmu p*p nih."
"Anak siapaaa??" Tanya Mbak Gizha dari dapur.
"Anak Lettu Erlangga." Jawab Bang Erlang.
"Coba urus dulu Bang, Abang mau bumbu soto campur p*p nya adek???" Kata Mbak Gizha.
"Ehm.." Bang Erlang berdehem membuang rasa gengsinya pada Bang Seno. "Saya butuh bantuanmu Sen."
Bang Seno yang sudah banyak pikiran semakin down karena seniornya meminta bantuan padanya. "Ijin Bang, lebih baik saya latihan lempar granat, yang ini belum terlatih..!!"
"Makanya sekarang Abang latih kamu..!!" Bang Erlang menarik tangan Bang Seno.
"Bang.. Abaaaang..!! Ya Allah.. please Bang..!!"
//
Gilang merebahkan diri mengarah pada dinding kamarnya. Sejak kembali dari rumah sakit tadi, pria kecil itu lebih banyak diam.
"Abang kenapa sih?? Marah sama Mama ya?" Tanya Laras.
Gilang menggeleng tapi wajahnya masih saja murung.
"Ada apa nak?"
"Papa mana Ma? Apa Papa marah sama Abang Gilang?"
"Nggak kok sayang.. Papa harus kerja, jadi Abang nggak bisa setiap saat bertemu Papa." Kata Laras berusaha membujuk dan memberikan pengertian pada putranya.
"Abang kangen sama Papa. Pengen main sama Papa.. nggak boleh ya Ma?" Tanya Gilang lagi.
Bibir Laras rasanya terkunci rapat, bagaimana bisa dirinya menjelaskan keadaan rumit ini pada anak sekecil Gilang. Kini dirinya terperangkap dalam masalahnya sendiri. Di hatinya memang tersimpan sakit hati tersendiri pada Bang Seno, tapi semua adalah jalan yang ia pilih.
Di dalam hidupnya, tidak pernah sekalipun Laras mengajarkan pada putranya untuk membenci sosok Papa hingga akhirnya Gilang sangat bangga dengan Papanya meskipun sangat terlambat untuk mengenali wajah ayah kandungnya karena hanya Laras yang memahami wajah pria yang hari itu telah mengubah hidupnya tanpa memiliki fotonya.
"Abang tau khan, Mama juga tidak pernah bertemu lagi dengan Opa. Opa ayahnya Mama, dan sampai saat ini Mama tetap baik-baik saja. Rindu tidak harus bertemu khan Bang, yang penting Abang tau kalau Papa sangat menyayangi Abang Gilang." Jawab Laras.
"Abang ngerti Ma. Papa pasti menyayangi anaknya. Seperti sayangnya Mama sama Abang."
"Itu pasti sayangku. Sekarang cepat tidur ya, Mama temani Abang tidur..!!" Ajak Laras.
Tak menunggu waktu lama, mata Gilang terpejam dan saat itu tumpahlah tangis Laras sembari mendekap Gilang. Satu-satunya miliknya yang paling berharga dan hanya Gilang alasan mengapa dirinya kuat hingga saat ini. "Gilang sayang, andaikan mati adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah kita, mungkin Mama memilih untuk mati saja tapi Mama masih punya hutang yang sangat besar atas kebaikan Tuhan yang telah memberikan kamu dalam hidup Mama, yang menjadi penghibur lara Mama. Cepat sembuh ya Abang Gilang. Mama akan berjuang dan membuang harga diri, yang penting Abang selalu bersama Mama."
Laras terisak-isak memeluk Gilang. Ia mengusap tubuh putranya, teringat perjuangan dirinya saat mengandung Gilang hingga melahirkannya ke dunia. "Tuhan, kenapa tidak aku saja? Kenapa harus buah hatiku. Aku sulit menerimanya." Laras terus menangis dan menghujani putranya dengan ciuman. "Mas Seno, Laras nggak kuat merasakannya sendirian."
//
"Astagfirullah.. nyeri sekali dadaku. Apakah Laras dan Gilang baik-baik saja??" Gumamnya sambil menemani Zea tidur karena Inka sedang marah padanya.
.
.
.
.
jadi bacanya gak tegang amat..🙏🙏
cerita nya bikin hatinano2