"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030: Jakarta, Aku Datang
Jakarta menyambut Bayu dengan suara koper di lantai bandara.
Pagi itu, penerbangan dari Surabaya penuh orang berjas, keluarga kecil, dan dua penumpang yang sejak naik sudah membicarakan proyek dalam bahasa setengah Indonesia setengah angka. Bayu duduk dekat jendela. Di saku dalam jaketnya, kerikil Pantai Klayar terasa kecil dan keras.
Saat pesawat turun, gedung-gedung Jakarta muncul dari balik kabut panas. Kota itu jauh dari gunung Pacitan dan pasar Surabaya; ia menelan orang kecil sebelum mereka siap.
Mobil jemputan televisi belum datang ketika Bayu tiba di hotel kawasan SCBD. Ia masuk dengan koper sederhana, kemeja putih, dan sepatu bersih dari merek biasa yang jarang dipakai tamu suite.
Resepsionis muda tersenyum profesional.
"Selamat siang, Pak. Ada reservasi?"
"Atas nama Bayu Prasetyo. Dari program Pusaka atau Palsu."
Jari resepsionis bergerak di keyboard. Senyumnya berhenti sepersekian detik.
"Baik, Pak. Untuk check-in, kami membutuhkan deposit tambahan."
"Berapa?"
"Lima juta rupiah."
Bayu mengangguk. Ia mengambil kartu.
Sebelum kartu itu diterima, seorang staf lain berlari kecil dari ruang belakang. Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah.
"Maaf, Pak Bayu. Reservasi Bapak memakai corporate guarantee dari stasiun televisi. Tidak perlu deposit pribadi. Suite junior juga sudah siap. Kami mohon maaf atas kekeliruan."
Resepsionis muda langsung menunduk.
"Maaf, Pak."
Bayu menyimpan kartu kembali.
"Tidak apa-apa. Lain kali cek dulu sebelum menilai koper orang."
Kalimat itu pelan.
Justru karena pelan, pipi resepsionis memerah.
Di kamar, Bayu tidak membuka minibar. Ia hanya mencuci muka, mengganti kemeja, lalu memeriksa map. Jam tiga sore, Mbak Rina datang bersama seorang asisten produksi.
"Mas Bayu siap?"
"Untuk rapat, siap. Untuk jadi boneka televisi, belum tentu."
Rina tertawa.
"Wah, kalimat pembuka yang membuat produser cemas."
Studio televisi itu jauh lebih besar daripada yang Bayu bayangkan. Lorongnya penuh kabel, pintu bertanda ruang make-up, ruang properti, ruang kontrol, dan orang-orang yang berjalan cepat sambil membawa clipboard. Di satu sisi, poster sementara program baru dipasang.
`PUSAKA ATAU PALSU`
Di bawahnya ada foto tiga siluet juri.
Salah satunya jelas dibuat lebih muda, lebih desa, dan lebih dramatis dari Bayu asli.
Dalam ruang rapat, tim kreatif memutar presentasi.
"Konsep kami," kata seorang creative director, "Mas Bayu adalah talenta alami dari daerah. Anak muda yang punya insting luar biasa. Narasinya: dari pasar kecil ke panggung nasional."
Hendra pasti akan menyukai bagian itu, pikir Bayu.
Namun slide berikutnya membuat ia diam.
`Konflik episode: juri senior ragu - Bayu mengambil risiko - penonton terbelah - reveal besar.`
Mbak Rina memperhatikan wajahnya.
Creative director melanjutkan, "Kami tidak akan mengubah fakta barang, tentu. Tapi untuk drama, mungkin ada arahan emosi. Misalnya Mas Bayu tahan dulu jawabannya, atau dibuat seolah bimbang."
Bayu meletakkan pena tua pemberian Intan di atas meja.
"Saya paham televisi butuh ritme."
Ruangan menunggu.
"Kamera, urutan barang, dan segmen edukasi boleh kalian atur. Penilaian saya tetap asli. Saya akan menyebut hasil sesuai bukti tanpa membalik status barang atau berpura-pura ragu."
Creative director tersenyum kaku.
"Mas Bayu, ini hiburan."
"Hiburan yang membuat orang salah menjual warisan keluarga sudah berubah menjadi kerusakan."
Rina mengetuk meja sekali.
"Catat sebagai klausul tambahan. Penilaian juri bersifat independen. Editing tidak boleh mengubah kesimpulan."
Asisten produksi langsung mengetik.
Creative director ingin membantah, tetapi Rina menatapnya.
"Kita mengundang dia karena publik percaya matanya. Jangan kita potong bagian yang membuat publik percaya."
Bayu menoleh ke Rina.
"Terima kasih."
"Jangan terima kasih dulu. Kalau rating jelek, saya yang dimarahi."
"Kalau barangnya benar, rating biasanya menyusul."
"Anda terdengar seperti orang yang belum pernah rapat rating."
"Mungkin. Tapi saya pernah lihat orang menangis karena barang keluarga dinilai salah."
Rina tidak menjawab.
Setelah rapat, ia mengajak Bayu melihat studio utama. Panggungnya setengah lingkaran. Ada meja juri, layar besar, kursi penonton, dan tiga lampu sorot yang masih mati. Di sudut properti, beberapa barang untuk episode pertama ditata di rak tertutup kain.
"Jangan dibuka dulu," kata asisten produksi. "Besok baru briefing."
Bayu tidak membuka kain.
Ia hanya melewati rak itu.
Mata kirinya tiba-tiba hangat.
Tanpa sengaja, pandangannya menembus kain dan peti tipis. Salah satu vas porselen di dalamnya menampilkan struktur yang terlalu sempurna. Gelembung glasirnya seragam seperti hasil tungku listrik modern. Garis dasar dan pigmen tampak tua di permukaan, tetapi tubuhnya baru.
Di map properti yang tergeletak di dekat rak, ada salinan dokumen impor.
Perusahaan pengirim: sebuah trading company di Singapura.
Bayu tidak menyentuhnya.
Ia hanya mengingat nama itu.
Satu garis kecil lagi menuju jalur yang lebih besar.
Malamnya, di kamar hotel, Bayu membuka buku catatan.
Ia menulis dengan pena tua.
`Act 1 - perhitungan sebelum Jakarta.`
Angka-angka itu ia simpan sebagai alat ukur risiko, tanpa niat memamerkannya.
Mereka adalah jangkar agar ia tidak lupa dari mana ia berjalan.
Kurang dari seratus hari lalu, ia kehilangan pekerjaan, ditinggal tunangan, dan hampir hancur karena Keris Rizal. Sekarang, aset dan arus kas bisnisnya berada di kisaran Rp17 miliar lebih. Angka itu mencakup kas, persediaan berlian kasar, kontrak hotel, nilai usaha, jaringan pasokan, dan reputasi.
CV Prasetyo berjalan.
Cahaya Timur Jewelry mulai menerima pesanan.
Departemen Penilaian Terbuka menjadi pintu orang kecil datang membawa harapan sekaligus data.
Pacitan punya koperasi yang sedang menunggu rekening dan aturan.
Namanya sudah dikenal sebagai `Mata Emas dari Pacitan`, lalu di Martapura berubah menjadi `Mata Emas dari Jawa`.
Tetapi di halaman berikutnya, Bayu menulis daftar yang lebih penting.
`Belum selesai:`
Pak Karto masih dalam proses hukum.
Herman menghilang, Bengkel belum ditemukan, dan Mahkota mengingat wajah Bayu.
Wijaya Group menyimpan namanya.
Dua pintu grosir Jakarta muncul di database palsu.
Dan sekarang, sebuah perusahaan Singapura muncul pada dokumen vas yang tampak terlalu baru.
Bayu menutup buku itu.
Ia tidak merasa lebih besar.
Ia hanya merasa pintunya bertambah banyak.
Keesokan paginya, studio ramai sebelum matahari terasa panas. Kru memasang kamera. Kursi penonton diuji. Host berlatih pembukaan. Dua juri senior datang dengan jas rapi dan ekspresi orang yang sudah terlalu lama dipanggil ahli.
Bayu berdiri di tengah panggung kosong.
Lampu masih mati.
Mbak Rina berada di ruang kontrol, melihatnya dari monitor.
"Tes lampu!" teriak seorang teknisi.
Tiga sorot putih menyala sekaligus.
Cahaya itu jatuh ke bahu Bayu seperti palu yang tidak bersuara.
Ia tidak mundur.
Di balik kaca ruang kontrol, Rina menatap layar beberapa detik lebih lama.
Lalu ia berkata kepada asistennya, "Entah kenapa... aku merasa kita baru saja menyalakan lampu untuk sesuatu yang sangat besar."