Zuyyina Al Humaira seorang gadis cantik nan imut yang terlahir dari keluaga sederhana.
Sang ayah yang hanya bekerja sebagai seorang petani hanya mengandalkan dari hasil kebunnya untuk kehidupan sehari-hari.
Dia mempunyai tekat yang kuat untuk memperdalam ilmu agamanya di pesantren DARUL QUR'AN.
Dengan kebaikan sang ummi mau menerima Zuyyina di pesantrennya.
Akankah Zuyyina mampu menjalani hari-harinya sang sangat di sibukkan dengan kegiatan-kegiatan pesantren.
Bagaimanakah kisah cinta Zuyyin yang jatuh hati dengan seorang anak dari putra yai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐀❣️𝐅, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
☘️☘️☘️☘️
Belajar itu memang melelahkan namun lebih lelah nanti jikalau kamu saat ini tidak belajar.
Ketika kita belajar memberi, kita belajar ketulusan dan ketika kita gagal kita belajar kesabaran.
Belajarlah dari kehidupan. Berusaha untuk masa depan. Berdo’a kepada yang Maha menentukan.
Motivasi santri.
❇️❇️❇️❇️
Belum genap satu tahun Zuyyin menjalani hari-harinya di pesantren.
Sudah tak ada tangisan malam atau pun nangis di kamar mandi atau pun saat muthola'ah di taman, yang ada hanyalah canda tawa yang mewarnai hari-harinya bersama teman sekamar dan sekelasnya.
Berbekal gemblengan dari sang kiyai dari rumah tentang makhroj dan bacaannya, tak butuh waktu lama untuk melafazkan surat Al-fatihah dengan benar.
Zuyyin yang giat menghafalkan juz 'ammanya, kini tepat di bulan sya'ban Zuyyin pun bisa menghatamkan hafalan Juz 'ammanya.
Acara khotmil Qur'an pun di gelar oleh para pengurus dan sudah menjadi tradisi untuk wisuda bagi santriwati yang hatam.
Para wali santri pun kini mulai berdatangan.
Dengan dekorasi yang sangat sederhana namung terlihat elegan, para santri putri merias panggungnya dengan sedemikian rupa.
Semalaman para pengurus putri mendekorasi dengan bunga-bunga hidup pun tertata rapih di depan panggung.
Sementara Zuyyin dan para santri lainnya kini merias diri melilitkan hijabnya dengan berbagai aksesoris.
Sebelum acara di mulai Zuyyin dan para santri yang ikut menjadi team Hadroh pun kini mulai memainkan alat Hadrohnya di atas panggung, sambil menunggu para wali santri lain yang belum datang.
Selama tiga puluh menit para team Hadrohnya bermain, kini giliran pembawa acara membacakan susunan puncak acara pada pagi hari.
Serangkaian acara kini berlalu dengan hikmat, saatnya tiba di puncak acara khotmil Qur'an bil ghoib dan juz 'ammanya.
Ada tiga puluh Lima santri yang mengikuti wisuda, kini telah bersiap di atas panggung.
Satu persatu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an nya dengan sangat menyentuh hati.
Kini giliran Zuyyin untuk melantunkan juz 'ammanya dengan sangat merdu hingga menghipnotis para wali santri dan asatidz yang duduk di bagian depan.
Tak lupa pula Gus Atha, Abah dan para tamu undangan teman-teman Abah pun kagum dengan suara Zuyyin.
Tanpa di sadari seulas senyum terbit di bibir Gus Atha bahkan Abah yai pun yang berada di dekatnya tak begitu memperhatikan. Sang ummi yang tak sengaja melihat anaknya tersenyum pun melihat kemana arah senyumnya.
Ummi pun semakin bersemangat untuk menjodohkan Zuyyin dengan putranya.
Rasa bangga dan haru pun kini di rasakan sang bunda dan ayah tercinta, tak di sangka anaknya yang manja kini bisa menuntaskan hafalan juz 'ammanya dalam waktu kurang dari satu tahun.
Tanpa di sadari air matanya kini mengalir seperti anak sungai yang tak mau berhenti.
Tak sia-sia ayah dan bunda nya memberi semangat dan dukungannya, dari materi maupun rohani yang slalu di panjatkan dalam sepertiga malam nya.
Tak lupa pula bunda pun membantu sang anak untuk berpuasa Senin, Kamis dan di hari lahirnya, suatu bentuk ihtiyar sang bunda semoga anaknya menjadi pribadi lebih baik lagi.
Tak henti-hentinya dalam hati bunda pun slalu bersyukur atas apa yang di raih sang putri tercinta.
Bunda pun mengelap air mata bahagianya yang membasahi pipinya.
Tak berhenti di situ saja, dan ternyata di kelas satu Diniyahnya pun kini mendapat juara satu.
.
.
.
Tanpa terasa kini acara pun telah usai dan wejangan-wejangan yang Abah berikan kepada santrinya, guna slalu memperbaiki dan menelaah hafalannya. Jangan bangga diri atas apa yang telah di raih.
Zuyyin pun yang sudah turun dari panggung langsung berlari kecil menuju tempat di mana sang bunda berada.
"Euhhhh." Bunda pun langsung memeluk dan mencubit pipi Zuyyin cecara gemas.
"Semoga bermanfaat sayang, jangan besar kepala, slalu rendah diri ya. Ingat di atas langit masih ada langit." Ucap bunda sambil merenggangkan pelukannya.
"Makasih bund, berkat bunda juga Zuyyin bisa seperti ini." Ucap Zuyyin yang berpindah memeluk ayah.
"Tetap harus rajin belajar dan muthola'ah hafalannya, supaya ilmunya bermanfaat dan barokah sayang." Ucap ayah.
"Nggih yah."
"Zuyyin liburan apa masih di sini aja?" Tanya ayah pada Zuyyin.
"Pulang lah yah, masak ayah tega Zuyyin udah hampir satu tahun gak pulang, waktu giliran pulang gak di bolehin." Jawab Zuyyin sambil mengerucutkan bibirnya.
Ayah pun ikut tersenyum mendengar jawaban putrinya.
"Iya ih, g usah manyun kayak gitu."
"Lihat tuh gua Atha denger, apa yang kamu keluhkan barusan." Jawab ayah sambil membisikkan di telinga Zuyyin.
Gus Atha yang masih mengawasi para santri putra untuk bersih-bersih pun yang mendengar samar-samar obrolan Zuyyin pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Gus Atha yang tertangkap basah oleh ayah pun tersenyum kikuk sambil menganggukkan kepalanya dan bergegas meninggalkan tempat. Di situ juga sudah ada Zidan dan yang lainnya.
Sudah ada beberapa para santri putri pun pada meninggalkan pondoknya. Ada yang masih sowan ke ndalem Kyai.
Zuyyin pun reflek menengok ke arah dimana Gus Atha berada, ternyata sudah tidak ada orangnya.
Zuyyin pun pergi ke kamar guna mengambil barang-barang yang akan di bawa pulang.
Tak menunggu lama Zuyyin pun keluar asrama menuju pos guna menaruh barangnya di depan pos dan mengambil kartu izin yang telah di tandantngai oleh abah.
Dia pun ikut sowan ke ndalem beserta orang tuanya.
"Zuyyin kalo pulang satu Minggu aja ya, gantian dengan mbak Zahra." Dawuh ummi pada Zuyyin.
"Nggih ummi." Jawab Zuyyin sambil menganggukkan kepalanya.
Ummi yang seakan tak rela Zuyyin pulang pun ahirnya memberi izin tapi dengan catatan agar Zuyyin kembali lebih awal agar bisa menggantikan Zahra.
Ya, waktu liburan memang 2 Minggu tapi ummi bagi dengan Zahra. Zuyyin pun menyetujui perkataan ummi.
masih ada beberapa santri yang enggan pulang pun juga ada
πππππ
Terima kasih yang sudah berkenan mampir.
Maaf jika tak bisa membalas satu persatu dari kalian.😘😘😘
Jangan lupa fav dan tinggalkan jejak kalian agar emak semangat.
apalagi di kasih bunga, kupi dan vote nya 😍😍😍