Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Salah paham
Happy Reading all …
Isna tergelak di dalam kamarnya saat Wisnu keluar ruangan dan menutup pintu. Setidaknya dia tidak merana ditinggal di tempat itu sendirian. Ada pengawal yang menurutnya termasuk tampan. Meskipun Isna tidak tertarik secara fisik terhadap Wisnu, tapi dia cukup tertarik dengan sikap pria tersebut. Menurutnya pria itu kaku sekaligus menyenangkan.
“Apa Anda belum mengantuk?”
Wisnu membuka pembicaraan saat Isna terlihat sudah mandi dengan wajah dan tubuh lebih segar. Perban di tangannya sudah diganti. Pakaiannya juga berganti piyama tidur. Walau jelas dia masih menampakkan bekas luka memar pada tubuhnya, tetapi Wisnu yakin, nona kecil ini sedang sekuat tenaga menahan sakitnya. Isna saat ini memilih duduk di teras, memandangi pemandangan gelap di malam hari. Hanya beberapa sorot lampu kota yang terlihat terpedar sangat jauh, juga kilauan bintang di langit yang gelap. Wisnu berdiri menemaninya.
“Aku bosan tidur terus. Aku sampai lupa kalau ternyata masih hidup,” jawabnya datar masih memandang lurus ke depan.
Wisnu hanya mendengus tanpa menoleh, ia sibuk menjentikkan jari pada layar ponselnya. Dia masih setia berdiri di belakang Isna, punggungnya menempel pada tembok.
“Apa pekerjaanmu selain menjadi patung?” tanya Isna dengan nada malas.
“Patung?” tanya pria itu dengan raut wajah bingung.
“Iya, kamu berdiri, diam tanpa ekspresi, bukankah sudah mirip patung?” ejek Isna menatap remeh ke arah Wisnu.
“Lalu pekerjaan Anda sendiri apa?” tanyanya seolah terpancing.
Isna hanya mencibir, merasa akan menjadi korban ejekan juga.
“Maaf, aku tidak menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi,” balas Isna sinis.
“Ck!”
“Kau mengumpat padaku?” tanya Isna menoleh langsung ke arah Wisnu yang sibuk memainkan ponselnya dengan mata memicing kesal.
“Maaf, Nona. Ada apa? Saya sedang membalas pesan,” tanya pria itu datar tanpa menampakan rasa bersalah sama sekali.
Isna pun menjadi kesal, ia malam sudah bersiap dengan gigi gemerutuk serta mengepalkan jemari tangan.
Dia berani mengabaikanku? Huh?
“Kau pasti tidak punya pacar, 'kan?” ejek Isna mendelik.
Isna berdiri dan melangkah ke arah Wisnu. Mendekat dan mendongak menatap pria tersebut dengan penuh keberanian. Dengan gelagapan Wisnu pun segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celana lalu mulai memperhatikan Isna.
“Maaf, saya tidak tertarik sama sekali,” jawabnya tegas.
“Jadi, kau menyukai … yang bukan seperti … aku, begitu?” tanya Isna malu-malu sambil menutup mulutnya sambil tertawa meringis.
“Benar, Nona. Saya tidak menyukai orang seperti Anda,” jawabnya lagi dengan tegas.
Nona kecil ini, menguji kesabaranku saja!
“Astaga ....” Sambil terkekeh Isna memukul dada bidang Wisnu. Pria itu pun sampai berjingkat kaget karena tidak menyangka akan mendapatkan kontak fisik seperti itu dari seorang wanita.
“Padahal kau ini tampan lho,” goda Isna sambil menggeleng kepala disertai gelak tawa yang kian menjadi. Wisnu malah tampak sangat kebingungan.
Nona kecil ini kenapa sih? Benar-benar aneh.
“Padahal kau terlihat sangat sehat, atletis, … tapi ternyata,” komentar Isna sambil tergelak dan berlalu dari hadapan Wisnu.
Wisnu hanya bisa mencelus menatap kepergian Isna yang masih saja tertawa di sepanjang langkahnya menuju kamar.
“Apa dia berpikir aku ... aku ini? Astagaaa! Ya, ampun ... amit-amit!" umpatnya kesal saat menyadari kesalahpahaman Isna pada ucapannya.
Disusulnya Isna ke dalam kamar. Setelah mengetuk dan dipersilakan masuk, ia pun membuka pintu dan dilihatnya nona kecilnya itu sudah rapi terbungkus dengan selimut, lalu Wisnu pun mematikan lampu utama dan keluar kamar.
"Wisnu?" panggil Isna sebelum Wisnu menutup pintu.
"Ya, Nona?" Pria itu menjawab tegas, tetapi wajahnya jelas menahan diri tetap waspada.
“Semoga kamu mimpi indah,” ucap Isna sambil merekatkan selimutnya dan memejamkan mata. Isna menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya tinggal pucuk kepalanya saja yang terlihat.
Wisnu tersenyum tipis dan segera menutup pintunya rapat. Sebenarnya dia ingin menjelaskan kepada Isna kesalahpahaman tadi. Namun, setelah dipikir-pikir, tidak ada gunanya juga menjelaskan. Dia hanya seorang pengawal yang akan bertugas menjaga nona itu untuk tuan besarnya.
*****
Krisna saat ini berada di dalam mobil setelah perjalanannya dari meeting bersama client-nya. Seno yang fokus menyetir tidak mengucap sepatah kata pun. Sesekali dia hanya menoleh ke arah Krisna yang menyandarkan bahunya dengan mata terpejam.
“Sen?”
Suara berat meskipun datar terdengar dari jok belakang, tetapi mata itu tampak masih terpejam.
“Ya, Tuan?” jawab Seno melirik Krisna lewat pantulan kaca spion bagian dalam.
“Apa saja yang dilakukan Tony saat ini?” tanyanya kini mulai membuka mata dan posisinya mengarah ke arah samping, menatap jendela kaca mobil.
“Mereka berbuat onar, melakukan perkelahian di Bar Zero Ground milik Anda, Tuan.”
“Kamu yakin itu disengaja?” tanyanya mengalihkan pandangan ke arah depan.
Mata kedua orang itu tampak beradu lewat pantulan kaca spion. Seno segera fokus kembali fokus menatap jalanan.
“Saya yakin, Tuan. Hanya orang bodoh, atau sengaja yang berani nekat membuat kekacauan di sana.”
“Menarik sekali, atur jadwalku bertemu gadis itu besok. Aku sangat penasaran dengan gadis yang membuat Tony sampai memancingku begini.”
Terdengar gelak lirih Krisna dari jok belakang. Seno hanya menghembus napas lirih.
“Baik, Tuan.”
“Ehm ... apa dia akan sehebat Kartika?” tanyanya lagi membuat Seno terhenyak menatap sekilas dari kaca spionnya.
Terlihat Krisna sedang menatapnya juga seolah sedang menunggu jawaban.
Hebat seperti apa maksud Anda, Tuan? saya takut terjebak.
“Saya tidak tahu, Tuan. Definisi hebat di sini seperti apa,” jawab Seno mengelak.
“Iya, hanya aku yang bisa menilainya,” jawab Krisna seraya tertawa.
Perasaan Seno menjadi tidak karuan. Melihat keadaan Isna saat ini yang jauh dari kata sehat dan fit. Apa yang akan ada di benak tuan besarnya ini bila besok mereka bertemu. Dia berharap gadis itu bisa bertahan dengan sikap dingin dan angkuh dari Krisna yang selalu pria itu tampilkan pada siapa pun ketika awal bertemu.
“Aku ingin tahu, sehebat apa gadis yang membuat kedua orang berpengaruh sampai memandangnya. Kau sendiri dan Tony,” sahutnya lagi dengan wajah senyum menyeringai.
Seno bingung, dia diam tidak mampu mengucap sepatah kata pun.
“Apa kau juga memberinya seorang pengawal, seperti Kartika?” tanya Krisna kemudian setelah Seno tidak juga bersuara.
“Benar, Tuan.”
“Siapa?” tanyanya antusias dengan senyuman sekilas di wajah.
“Wisnu Tama, Tuan.”
“Setan! Kau memberikannya pengawal seorang Wisnu?!” tanyanya dengan nada meninggi. Lebih seperti sedang memprotes keputusan Seno.
“Benar, Tuan,” jawab Seno masih bersikap tenang tanpa gusar.
“Ck! Otakmu Sen, sulit kutebak,” desisnya sambil membuang muka. Seno hanya bisa tersenyum tipis.
“Satu lompatan dua pulau terlampaui, Tuan,” jawab pengawal pribadi Krisna itu seraya tertawa lirih.
“Kau ini! Selalu bermain teka-teki denganku. Apa kau sudah bosan hidup?” decaknya menatap Seno sinis.
“Saya yakin, Anda tidak akan membuat saya mati semudah itu, Tuan?” tantang Seno seraya menahan tawa.
“Aku tidak akan membuatmu mati, sebelum aku menyiksamu, dasar!” hardiknya kesal.
“Makanya saya banyak teka-teki, agar Anda tidak menyiksa saya,” sahutnya masih tertawa.
“Dasar, orang gila!”
Seno hanya bisa tertawa sambil menatap sekilas ke arah Krisna. Mau tidak mau Krisna pun menarik bibir bawahnya ke atas, mengulas senyuman yang hanya mereka berdua saja yang tahu arti dari pembicaraan ini. Pembicaraan yang terkadang membuat para pengawal bawahan Seno merasa ngeri pada setiap percakapan dua orang dari penguasa di Baratha Group tersebut
“Kau tidak punya keinginan juga untuk menikah lagi?” tanya Krisna membuat Seno terdiam dari tawanya
Plak! Seno memilih ditampar saja.
“Tuan, saya mohon," ucapnya melunak dan jelas Krisna berganti menjadi terbahak melihatnya.
Sesuatu yang paling Seno takutkan dari permintaan Krisna, Seno pun menelan ludahnya kaku dan cemas.
“Aku 'kan hanya bertanya,” goda Krisna tertawa santai.
"Hfuhh! Tuan ini mengagetkanku saja," batin Seno menjadi lega.
******
Apa kelemahan Seno, ya? Haha…
Terimakasih telah membaca🥰
Jangan lupa like, komen bila mampir dan vote bila berkenan.
Terima kasih ^_^