Komitmenlah yang membuat dua orang terikat dalam sebuah hubungan. Seperti perjanjian, suatu hari akan dipertanyakan. Sekuat itu Ayya menggenggam ikatan meski sedari awal tak terlihat ada masa depan.
Sementara Ali butuh cukup waktu untuk me-reset ulang perasaannya setelah masa lalu bersarang terlalu lama dalam ingatan.
Akan dibawa ke manakah rumah tangga mereka yang didasari atas perjodohan orang tua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baim Sepupu Ali
Bab 7
Ali mengecup pelan pucuk kepala Ayya yang masih lembap oleh air wudu. Aroma sabun dan minyak rambut perempuan itu samar tercium, menghadirkan rasa tenang yang justru membuat dada Ali semakin sesak. Ia mencoba menerima kenyataan bahwa perempuan di hadapannya kini adalah istrinya. Bahwa cepat atau lambat, ia harus belajar membuka ruang di hidupnya untuk Ayya.
Sementara Ayya hanya diam. Tubuhnya kaku, tetapi ia tidak menolak. Dalam hati pun, ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa beginilah kehidupan rumah tangga dimulai. Asing, canggung, dan perlahan dipelajari. Namun, beberapa detik kemudian, Ali justru menghentikan semuanya. Ia menarik napas panjang, lalu menjauh perlahan.
“Maaf… aku belum bisa,” bisiknya lirih.
Ali merebahkan tubuh di atas tempat tidur sambil menutup wajah dengan lengan. Kalimat sederhana itu terdengar lebih menyakitkan daripada bentakan atau kemarahan yang biasa ia tunjukkan. Ayya membalikkan badan membelakangi suaminya. Matanya mulai panas. Bukan karena ia mengharapkan sesuatu malam itu, melainkan karena penolakan Ali terasa begitu jelas.
Sedikit demi sedikit, sikap lelaki itu membuatnya merasa semakin tidak diinginkan. Dengan pelan Ayya merapikan piyamanya, lalu melangkah menuju pintu. Tenggorokannya tercekat. Rasanya sesak berada di ruangan yang sama. Ia turun ke dapur untuk mengambil air minum. Rumah begitu sunyi menjelang dini hari. Setelah meneguk beberapa teguk air, Ayya malah duduk termenung di meja makan. Kepalanya perlahan bersandar di atas meja hingga tanpa sadar ia tertidur di sana sampai azan Subuh terdengar samar dari kejauhan.
Pagi harinya, Ayya memilih bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam. Ia sadar, jika terus memikirkan sikap Ali, ia hanya akan semakin terluka sendiri. Karena itu Ayya mulai menyibukkan diri dengan hal-hal yang ia sukai. Ia mengubah tata letak vas bunga di ruang tamu, mengganti taplak meja, menyusun ulang rak buku, bahkan membuat beberapa hiasan sederhana dari kain bekas jahitan. Rumah yang sebelumnya terasa dingin perlahan mulai tampak lebih hidup.
Di asrama dulu, Ayya memang dikenal kreatif. Ia suka membuat ruangan terasa hangat dan nyaman hanya dengan sentuhan kecil. Diam-diam, Ali sering memperhatikan semua itu. Kadang saat pulang kerja, ia mendapati posisi sofa berubah sedikit lebih rapi. Sudut rumah yang tadinya kosong kini dihiasi tanaman kecil. Bahkan ruang makan yang dulu terasa biasa saja kini tampak lebih nyaman dipandang.
Ali tidak pernah memuji. Namun, dalam hati, ia mulai mengakui satu hal. Ayya membawa kehidupan ke rumah ini. Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, seorang tamu datang berkunjung.
Itu adalah Ibra. Pria yang baru saja pulang dari luar negeri beberapa hari lalu. Selain ingin menemui keluarga pamannya, ada satu alasan lain yang membuatnya datang, yaitu Ayya. Saat itu Ayya sedang duduk di teras belakang sambil menjahit sarung bantal kecil di mesin jahit lamanya.
“Mas Baim bisa tunggu di ruang tamu saja,” ucap Ayya tanpa menghentikan pekerjaannya. “Sebentar lagi Mas Ali juga pulang.”
“Memangnya aku nggak boleh duduk di sini sebentar?” tanya Ibra sambil tersenyum tipis.
Ayya akhirnya menghentikan jahitannya lalu menatap pria itu sekilas. “Kalau ada yang mau dibicarakan, nanti saja kalau Mas Ali ada di rumah.”
Ibra tersenyum hambar. “Ayy, kamu tahu nggak apa yang pertama kali aku lakukan waktu pulang ke Indonesia?”
Ayya menggeleng kecil.
“Aku langsung pergi ke yayasan buat nyari kamu.”
Jarum jahit di tangan Ayya berhenti bergerak.
“Tapi... aku malah dengar kabar kamu sudah menikah.” Ibra tertawa kecil, meski sorot matanya terlihat pahit. “Dan yang bikin aku lebih kaget, ternyata kamu menikah sama sepupuku sendiri.”
Ayya menunduk sebentar sebelum kembali merapikan kain di pangkuannya.
“Jodoh memang nggak pernah bisa ditebak, Mas.”
“Ayy…” suara Ibra melembut. “Kamu bahagia?”
Pertanyaan itu membuat Ayya diam beberapa saat. “Tentu,” jawab Ayya akhirnya, meski terdengar pelan.
“Ini keputusan Ayya sendiri.”
“Kalau begitu kenapa waktu itu kamu terlantar di tengah kota?”
Ayya tersenyum kecil, berusaha menepis topik itu. “Cuma salah paham kecil. Handphone Ayya ketinggalan di rumah waktu itu.”
Ibra memandangnya lama, seolah berusaha membaca kebohongan yang disembunyikan perempuan itu.
“Aku selalu berpikir…” ucapnya pelan, “kamu menolak semua lamaran selama ini karena sedang menunggu seseorang. Dan orang itu, aku 'kan?”
Ayya langsung memahami arah pembicaraan itu.
“Mas Baim,” ucapnya tegas namun tetap sopan, “masa lalu nggak perlu dibahas lagi.”
“Tapi aku serius, Ayy.” Ibra menatapnya lekat. “Apa kamu yakin Ali orang yang tepat buat kamu?”
Kali ini Ayya mulai merasa tidak nyaman. “Mas Ali suami Ayya,” jawabnya singkat. “Dia pilihan Ayya.”
“Ayy—”
“Sebaiknya kita masuk.” Ayya berdiri cepat sebelum pembicaraan semakin jauh.
Namun, saat ia hendak melangkah pergi, Ibra sempat menahan ujung tangannya. Refleks Ayya langsung melepaskan diri. Tatapan Ibra berubah samar. Dan di saat bersamaan....
“Aku ganggu, ya?”
Suara berat itu membuat keduanya menoleh bersamaan. Ali berdiri beberapa langkah dari sana dengan wajah datar. Seragam kerjanya masih melekat rapi, tetapi sorot matanya terasa dingin.
“Mm… Mas Ali baru pulang?” Ayya langsung gugup.
Ali hanya mengangguk tipis.
“Lanjutkan saja ngobrolnya,” ucapnya tenang sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Dan ketenangan itu justru membuat suasana terasa lebih menegangkan.
Malam harinya, meja makan dipenuhi lauk seperti biasa. Namun, baru beberapa suapan, Ali langsung mengernyit.
“Sayur asemnya beda.”
Ia mencoba bakwan di piring lain.
“Bakwannya juga.”
Bik Nur yang sedang menuang air mendadak gugup.
“Sambalnya juga tak seperti biasanya,” lanjut Ali.
Bu Lastri mulai menahan senyum.
“Memang, apa bedanya?” tanyanya sengaja.
“Bukan begitu, Bu. Maksud Ali…” lelaki itu berhenti bicara sambil melirik lauk lagi. “Rasanya beda aja.”
Bik Nur yang tak tahan akhirnya keceplosan. “Maaf kalau nggak enak, hari ini Non Ayya nggak masak, Den.”
Sendok di tangan Ali langsung berhenti di udara. Ayya spontan memejamkan mata pelan.
Aduh, Bik…
“Apa, Bik?” Ali menatap Bik Nur tidak percaya. “Jadi sebelumnya, yang saya makan itu.…”
“Iya, yang biasa Den Ali puji-puji itu sebenarnya masakan Non Ayya.”
“Mas Ali baru sadar?” sahut Ibra sambil tertawa kecil. “Masakan Ayya memang terkenal enak dari dulu.”
Ali menoleh tajam. Ibra malah santai menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Di yayasan dulu banyak guru laki-laki yang berharap bisa dapat istri kayak Ayya.”
Suasana meja makan langsung berubah canggung. Bu Lastri mulai salah tingkah. Pak Maulana pura-pura fokus makan. Sedangkan Ayya hanya bisa menunduk sambil menggigit bibirnya pelan. Ali menyipitkan mata ke arah sepupunya.
“Kamu juga termasuk?”
Ibra tersenyum tipis tanpa rasa takut. “Kalau ditanya, jujur iya.”
Hening. Tatapan Ali berubah semakin dingin.
“Sayangnya,” lanjut Ibra santai, “Ayya sekarang sudah jadi istrimu, Mas.”
Kalimat itu terdengar seperti tantangan. Ayya langsung meletakkan sendoknya.
“Mas Baim,” ucapnya cepat, “kalau sudah selesai makan, sebaiknya pulang. Hari juga sudah malam.”
Ia benar-benar ingin menghentikan suasana aneh itu sebelum berubah menjadi pertengkaran. Namun, Ali sudah lebih dulu berdiri dari kursinya.
“Kamu nggak perlu mengingatkan dia,” ucapnya dingin tanpa melepas tatapan dari Ibra. “Harusnya dia lebih tahu batasannya.”
Ibra ikut berdiri perlahan.
“Tenang aja, Mas. Aku cuma datang buat silaturahmi.”
“Asal benar-benar jangan lupa,” lanjut Ali tajam. “Kalau perempuan yang kamu kagumi itu sekarang istri orang.”
Suasana mendadak sunyi. Bu Lastri langsung berdeham pelan mencoba mencairkan keadaan.
“Ibra, lebih baik kamu pulang sekarang,” ucapnya lembut. “Papa kamu juga lagi sakit di rumah, kan?”
Pak Maulana ikut mengangguk.
“Jaga ayahmu baik-baik.”
Ibra akhirnya tersenyum kecil lalu menatap Ayya sekilas. “Kalau begitu aku pamit dulu. Terima kasih untuk makan malamnya.”
Ayya hanya mengangguk pelan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Ayya melihat sesuatu yang berbeda dari sikap Ali. Cemburu.