Menceritakan tentang Sandra seorang fashion jurnalist. Bagaimana ia di dunia kerjanya dan trauma dengan kisah percintaannya di masa lalu.
Kehidupan Sandra di dunia jurnalistik merupakan jiwanya, apalagi dia ditempatkan di desk fashion. Hubungannya dengan desainer tanah air terjalin dengan akrab dan menyenangkan.
Tapi itu tidak sejalan dengan kehidupan percintaannya, yang selalu dibayangi trauma masa lalunya. Banyak pria jatuh cinta padanya, namun semua ia tolak.
Hingga Bimo, teman baru di kantornya mengajaknya bicara, dan mengurai permasalahannya.
Dengan pria mana kira - kira cintanya disematkan?
Bagaimana lika - liku cintanya?
Apakah setelah ini Sandra akan menemukan cintanya dan berakhir bahagia atau terungkit lagi masa lalunya?
Inilah kisah Kasandra Putri Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wurikart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Persiapan Pemotretan
Setelah meeting dan perbincangan soal percintaanku selesai, aku langsung menghubungi model managemen untuk booking 2 model, Ami dan Rina. Kedua model yang aku pilih itu masuk dalam satu managemen, jadi lebih mudah menghubunginya.
Setelah fix, kedua model yang aku pilih bisa, aku menelpon Doddy, make up artis yang serba bisa, karena dia tidak hanya jago make up, tetapi juga jago hair do. Meskipun hair do suka dipegang asistennya. Aku pun booking dia.
Hari Kamis adalah hari liburnya, dia kerja disalah satu salon terkenal di Pondok Indah Mall 1. Jadi bisa dipastikan dia pun fix terlibat dalam pemotretan hari Kamis besok.
Kemudian aku menghubungi OB dan mengasih daftar barang investasi untuk pemotretan yang disimpan di kamar penyimpanan untuk disiapkan. OB yang bertanggung jawab untuk properti ini adalah Budi.
Aku minta Rabu pagi sudah bisa aku masukkan ke studio pemotretan. Jadi hari ini dan besok mereka bisa menyiapkannya dan membersihkannya.
***
Seperti jadwal sebelumnya, hari Selasa aku mengambil Baju Hamy. Tapi sebelum jalan aku ngecek ke Budi, OB yang bertanggung jawab dengan properti, sudah sejauh mana mereka menyiapkan properti yang aku minta.
Daftar yang aku minta ke mereka adalah ban mobil bekas beberapa, bangku panjang dari kayu, jendela kayu, ranting - ranting kering, dll. Setelah aku cek, sebagian sudah disiapkan, jadi kemungkinan besok sudah lengkap. Oke, akupun bisa langsung jalan ketempat Hamy.
Sebelum jalan aku telepon Hamy dulu, janjian dan minta disiapkan bajunya sebanyak enam set beserta aksesorisnya. Aku meminta aksesorisnya juga karena biasanya Hamy kalau merancang busana selalu dilengkapi dengan aksesoris pendukung.
Setelah selesai telepon, aku pun bergegas pergi. Jarak kantor di daerah Cempaka Putih menuju Grogol lokasi butiknya Hamy lumayan jauh, aku berharap jalan tol tidak macet.
Rencananya, aku nanti tidak balik kantor, aku langsung pulang saja, toh besok bawa mobil lagi, jadi gak perlu mikir untuk bawa baju Hamy ke kantor.
***
Rabu pagi saat diparkiran kantor aku bertemu dengan Bimo. Dia membantu aku membawakan baju Hamy yang aku ambil kemarin siang.
"Sandra, kalau berat sini aku yang bawa," katanya.
"Wah makasih banyak Bim, kamu sangat membantuku," kataku yang dibalas dengan senyumannya.
"Hari ini jadwal kamu apa San?"
"Ngecek properti untuk pemotretan besok, sama ambil baju ke Monica."
"Capek juga ya, bolak balik."
"Tapikan gak setiap hari Bim."
Setelah sampai lantai 3, yang merupakan lantai redaksi kami, akupun mengajaknya ke ruang penyimpanan yang terdapat lemari pakaian yang memang untuk menyimpan baju yang kami pinjam.
Setelah aku mengucapkan terima kasih, Bimo pun pergi ke ruangannya. Aku pun mencari OB untuk memindahkan properti pemotretan yang aku pesan, ke studio.
Koordinasi dengan Budi selesai. Semua yang dibutuhkan sudah ada di studio. Oh ya, aku juga minta Budi dan Tuti OG kantor untuk besok standby di studio saat pemotretan. Jaga-jaga tenaga mereka dibutuhkan.
Aku pun ke mejaku dan kemudian menelpon Monica, memastikan siang ini aku akan pergi ke butiknya dan memintanya untuk menyiapkan enam set busana yang sudah kupilih.
Ternyata Monica sudah menyiapkan semuanya, dan akupun tinggal ambil saja. Sip deh. Setelah makan siang aku jalan ke Cipete ke butiknya Monica. Seperti kemarin, pulangnya aku tidak ke kantor lagi, tapi pulang kerumah.
***
Hari ini aku pemotretan dan aku minta Ami dan Doddy datang ke kantor jam 8 pagi. Aku berangkat dari rumah jam 6 pagi, diantar mang Asep, supirnya papa. Nanti dia bisa langsung pulang.
Sebelum sampai kantor aku mampir beli sarapan buat Ami dan Doddy. Untuk cemilannya nanti bisa pesan via telpon saja ke toko kue langganan dan bayarnya cukup aku transfer.
Aku membelikan mereka nasi uduk dengan bihun, telur semur, sambal, dan kerupuk. Semua lauk aku minta pisah, nanti aku sajikannya secara prasmanan saja, aku biasa menghidangkan di ruang tamu redaksi.
Sampai kantor aku hanya membawa tasku dan nasi uduk saja keatas. Untuk bajunya Monica, aku minta tolong Budi saja untuk mengambilnya dari mobilku.
"Mang Asep, nanti bajunya diambil Budi ya, setelah itu mang Asep bisa langsung pulang," kataku.
"Baik mba," jawabnya.
Kulihat Tuti sedang duduk di dapur. "Tut, aku minta tolong dong. Ini aku beli nasi uduk dan lauk pauknya, tolong ditempatin dan nanti ditaruh di meja tamu ya. Ini untuk model aku nanti."
"Baik Mba."
"Kalau ketemu Budi minta ke studio ya, saya mau minta tolong."
"Iya Mba."
Aku pun ke studio, dan menyiapkan tempat untuk make up model. Yap, di studio ini memang sudah disiapkan cermin dengan lampu pada sisinya untuk mempermudah MUA saat dandanin model.
Pintu studio di ketok, setelah kubuka ternyata Ami yang datang. "Hai Ami, apa kabar? Nanti MUA nya Doddy ya."
"Asyik. Dah lama Ami gak ketemu Mas Doddy."
"Hallooo semua," Doddy masuk studio bersama asistennya dan langsung menyapa kami. Setelahnya kami cium pipi kiri pipi kanan.
"Umur panjang kamu Dod, baru diomongin," kataku.
"Btw sarapan dulu aja yuk, sebelum dandan."
"Wah boleh mba," kata Ami.
"Yuk, keruang tamu," akupun mengajak mereka keluar menuju ruang tamu. Ternyata Tuti juga menyiapkan teh hangat untuk mereka.
"Aku beliin nasi uduk buat kalian. Makan dulu ya. Aku tinggal sebentar," kataku saat melihat Budi. Aku mau minta tolong dia ambil baju di mobil. Setelahnya aku mengambil baju Hamy, dan menggantungnya di studio.
Aku kembali bergabung bersama mereka dan ikut makan. Hingga akhirnya kami selesai makan ketika menunjukkan pukul 8.15.
Doddy pun mulai mendandani Ami. Untuk busana pertama sampai ketiga aku meminta eye shadow lebih dominan warna hijau dan rambut cukup di curly dan di jepit. Untuk rambut ditangani oleh asistennya, Iwan.
Tak lama kemudian mas Zaki dan Bimo datang dengan masing - masing membawa kamera. Mereka menyiapkan lampu dan setting background untuk pemotretan.
Budi pun datang dengan baju Monica. Aku memintanya untuk menggantung di gantungan baju yang ada di pojokan studio.
Karena ditangani langsung oleh dua orang, make up wajah dan hair do pun cepat selesai. Aku langsung mengajak Ami ke ruang ganti di sudut studio.
Aku membantu Ami mengenakan baju dan menjaga agar make up dan hair do - nya tidak rusak. Setelah Ami mengenakan baju dan aksesorisnya, aku pun memintanya mengenakan sepatu yang telah kusiapkan.
Setelah siap, aku pun memanggil Mas Zaki dan Bimo untuk siap pemotretan.
Pemotretan yang pertama ini kami hanya menggunakan background polos, karena seperti rencana akan ada permainan desain pada layout nantinya.
***
Baca novelku judulnya 'Cinta sejati'. Tentang dua orang yang menemukan cinta sejatinya serta lika-liku perjalanannya. Klik foto profilku buat baca...
Baca dulu sinopsisnya dan 3 episode awal.
suka bgt ma critanya, simple n mudah dipahami n bahasanya jg gampang dicerna...
ayo nulis trus thor...💪💪💪