Grace Eloise seorang wanita lulusan mahasiswi tingkat atas yang sekarang sudah menjadi seorang dosen jurusan kedokteran di suatu kampus terbilang cukup elit tidak kalah terkenal dari kampus lainnya.
Wanita satu ini tidak kenal lelah karena hidupnya sangat keras sehingga dia menjadi orang yang mampu berdiri di kakinya sendiri.
Dikatakan keluarganya juga tidak terlalu mewah karena ayahnya bekerja di suatu bar kecil ibunya telah tiada dan sekarang hidup mereka sudah terbilang cukup lumayan akan tetapi sang ayah hanya menghabiskan uangnya hanya untuk berjudi dan mabukan.
Grace pernah melarikan diri dari rumah karena begitu marahnya terhadap sang ayah sebab dia sangat tidak di hargai sebagai seorang anak.
Bukankah anak perempuan sangat bermanja dengan ayah mereka?
Namun tidak untuk Grace, dia hanya tahu mencari uang untuk melanjutkan kehidupan mereka.
Sampai suatu ketika dia bertemu lagi dengan mantannya di sebuah cafe brsma seorang wanita.
Yuk ikuti kisahnya... 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegigihan, Keuletan, Kecerdasan
...『⇒Bab 7⇐』...
Ting
1 pesan masuk.
Grace yang tampak sudah bersiap diri untuk pulang seketika berhenti dari langkahnya karena mendengar bunyi notif pesan dalam tas miliknya kemudian ia langsung membuka tas tersebut serta membuka layar ponsel genggamnya.
"Hmm, ternyata pesan dari ayah!" gumam grace pula sembari membuka isi pesan tersebut.
Ayah :
Grace, cepat kau pulang! ayah sedang butuh uang sekarang karena uang ayah sudah habis jadi ayah minta kau langsung pulang jangan sampai terlambat kalau tidak ayah tak akan membukakan pintu untukmu, paham kau!
"Cuma bisa mengancam saja ujungnya uang yang di minta padaku," gumam Grace lagi kemudian ia langsung menonaktifkan ponsel genggamnya setelah itu ia kembali masukkan ke dalam tas hingga melanjutkan lagi langkahnya.
Tap
Tap
"Grace," panggil salah satu lelaki yang merupakan bos pemilik cafe tempat Grace bekerja tepat di belakangnya lalu Grace pun membalikkan badan melihat atasannya sudah kian tersenyum simpul padanya.
"Bapak memanggil saya?" tanya Grace secara sopan sembari mendekat ke arah bosnya itu.
"Bapak panggil dari tadi kau tak dengar, apa kau tak ingin gaji mu ini? atau kau ingin memberikan pada bapak secara sukarela?" seloroh dari bosnya bernama Doni dengan sengaja ia meledek Grace bahkan terdengar tawa candanya membuat Grace sedikit malu.
Doni merupakan atasan Grace terhitung beberapa tahun lalu semenjak pertama kali cafe itu baru di buka hingga seramai ini berkat cara kerja Grace yang tak pernah mengecewakan Doni karena Grace selalu disiplin dalam urusan pekerjaan berbeda dengan karyawannya yang lain bahkan ia selalu menerima waktu lembur yang di berikan oleh Doni padanya tak ada sedikitpun rasa mengeluh namun yang ada rasa semangat bagai kobaran api menyala begitulah yang terlihat di mata Doni setiap harinya.
Umur mereka sudah pasti berbeda jauh karena Doni berkisar umur 35 tahun bahkan memiliki satu orang anak perempuan yang masih kecil makanya istri dari Doni selalu mengurus rumah juga anak mereka sedangkan Doni sibuk pada urusannya sendiri sebab itulah Doni jarang ke cafe dan memberi kepercayaan pada Grace seutuhnya sudah jelas ia percaya dengan Grace sebab ia sangat memahami watak Grace walau ia tak pernah berlama di dalam cafe.
"Astaga! saya sampai lupa mohon maafkan saya pak dan maaf sekali lagi sudah merepotkan," turutnya pula hingga ia bungkukkan badan beberapa kali sembari menepuk jidatnya sendiri yang tampak di ambang rasa malu.
"Sudah sudah terima ini, kau seperti berbicara dengan siapa saja sampai begitu Grace?" selorohnya lagi hingga tertawa kecil lalu ia memberi sebuah amplop di hadapan Grace.
"Baik, terimakasih pak sungguh saya menjadi tidak enak bapak sampai datang ke sini," turutnya pula dengan menyambut amplop yang di berikan oleh Doni padanya.
"Memang bapak sudah menunggu mu tapi kau tak terlihat makanya bapak sampai datang ke loker mu ini ternyata orangnya masih di sini," balasnya sembari tertawa kecil pula kemudian Doni merogoh saku celananya seketika. "Ohya ini ada sedikit bonus dari bapak untukmu supaya kau bisa pergunakan buat uang kuliah mu Grace, ayoo di terima jangan sungkan."
Grace kaget karena biasanya dia hanya menerima satu amplop saja sebab memang uang gaji harian juga bonus sudah di satukan semuanya.
"Tapi pak..."
Serasa ia segan untuk menerimanya sudah jelas ia menjadi tak enak hati jika menerima begitu saja.
"Sudah ambil lah, ini khusus buat karyawan yang kerjanya selalu bagus jadi ini juga hasil keringat mu sendiri dan kalau bukan karena kegigihan mu mungkin cafe ini tak akan seramai sekarang makanya kau jangan menolak yang bapak berikan padamu," ucapnya lagi sembari tersenyum ramah pada Grace sehingga dari perkataan yang terlontar barusan membuat Grace menjadi begitu sangat di hargai sekali.
"Terimakasih banyak pak, saya beruntung bisa bekerja di sini dan memiliki bos yang sangat mengerti pada saya," turutnya lagi yang tiada henti merendah hingga ia bungkuk badan kembali.
"Iya sama-sama Grace begitupula sebaliknya, yasudah kau pulang dan istirahatlah di rumah karena bapak mau mengunci cafe ini," katanya pula.
"Baik kalau begitu saya pamit deluan pak," tutur Grace dengan sopan lalu ia melangkah pergi seusai perbincangannya pada atasannya itu.
.
.
.
"Loh Bram, ternyata kau benar menunggu ku di sini?" tanya Grace pula yang sebelumnya ia melihat Bram masih duduk di depan cafe tampak baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
Bram seketika berdiri karena kaget mendengar teguran dari Grace barusan. "Ah iya aku memang sudah berjanji akan menunggu mu sampai pulang, apa semuanya telah beres?" tanya Bram pula yang terlihat gugup kembali hingga ia tampak mengelus pundak lehernya sendiri.
"Sudah kok, yuk kita pulang!" ajak Grace serta memberikan senyuman kecil di wajahnya.
Baru beberapa langkah mereka berjalan seketika di kejutkan oleh sosok Gibran tepat di hadapan keduanya sedang berdiri mengatupkan tangan di dada bahkan ia melirik ke arah Bram yang membalas melihat ke arahnya pula.
"Grace kenapa ponsel mu tidak aktif?" tanya Gibran menaikkan kedua alis matanya membuat Grace melebarkan mata pula sebab ia baru teringat sudah mematikan ponsel setelah membaca pesan dari ayahnya itu.
"Ah iya ponsel ku habis baterai tadi mungkin mati sendiri," kilah Grace memberi alasan bahkan ia merasa canggung berada di dekat Gibran saat ini karena style Gibran begitu sangat rapi di lihat oleh sorotan mata Grace sedangkan Bram sempat melirik sebab kedua pipi Grace tampak merona namun ketika melihat dirinya Grace seperti biasa saja.
"Jangan kau bohongi aku cantik... aku tahu wajahmu jika sudah berbohong pasti terlihat seperti pinokio, nih nih rasakan!" celoteh Gibran pula menarik hidung Grace begitu saja hingga ia tertawa puas sudah menjahili Grace bahkan Bram memalingkan wajahnya tak ingin melihat suasana begitu.
"Aww! Gibran jahil banget sakit dong, ayo lepaskan hidungku jadi merah ini!" gerutu Grace terlihat berusaha menyingkirkan tangan Gibran yang masih menarik hidungnya.
"Biar saja supaya kau tak keterusan berbohong padaku, ayo bilang janji jangan berbohong lagi..."
Gibran terus menarik hidung Grace sembari tertawa kecil pula.
"Ya ya aku janji sudah lepaskan," rengek Grace sehingga tangan Gibran pun terlepas dari hidungnya.
"Nah begitu dari tadi kan enak, pfft hidung mu mirip sekali dengan pinokio sungguhan, hehe!" ledek Gibran yang tiada hentinya tertawakan Grace.
"Jahat banget sih, sakit tau!" keluh Grace memasang wajah jengkelnya itu. "Sudah ah aku mau pulang, ayo Bram!" ajak Grace seketika meninggalkan keduanya di belakang dengan berjalan lebih dulu.
"Eleh, kok malah ngambek hei cantik jangan ngambek donk..." Gibran pun mengejar Grace dari belakang begitu pula dengan Bram yang tampak jengah melihat kedekatan mereka berdua.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Bak ilmu padi makin berisi makin runduk. ~ Grace Eloise.
kisah perjuangan seorang Grace wanita hebat dan tangguh yang menjalani kehidupannya dg ayahnya dg kekuatannya sendiri...
sangat suka dg cerita seorang wanita tangguh yg sll di suguhkan author u para readers dg jalur cerita yg sangat menarik u di baca...
semangat ya thor u semua karya2 mu yg luar biasa. God bless always.
anak tiri di sayang sayang anak kandung di sia sia kan... sungguh ayah yg tidak bertanggung jawab terhadap anaknya
ngakak aq beb boy dpet baju ocha, warna apa sih.. jan bilang pink boy🤣🤣
untung aja OCHA msh selamat, bhya gk bisa renang