Alex patah hati karena wanita yang ia incar ternyata lebih memilih rival bisnisnya. Membuat pria ini putus asa dan memilih melampiaskan kesedihannya dengan minum minuman keras.
Dalam keadaan terpuruk, tak sengaja Alex bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan wanita yang ia sukai.
Sayangnya kesalahpahaman sering terjadi di antara mereka. Meski begitu, tak dipungkiri bahwa Alex sebenarnya juga menyukai gadis itu.
Akankah Alex mampu merebut hati si gadis penolong? Ataukah malah menghindarinya gara-gara gadis itu berwajah mirip dengan wanita yang dia suka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ingin
Laila melihat sahabatnya ini masih melamun seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Padahal, ia sudah bilang bahwa ia mengikhlaskan cancel order yang mereka terima hari ini.
"Kenapa lagi sih, Bebs? Kan aku dah bilang, nggak pa-pa. Aku nggak marah kok soal sikap mu sama customer itu. Justru aku bangga, kamu bisa melawan penindasan dengan sangat berani!" ucap Laila, sembari menyodorkan segelas es teh untuk Emma.
"Tidak. Aku sedang tidak memikirkan masalah pria ter-stupid sepanjang sejarah itu. Aku memikirkan penawaran nenek-nenek itu. Bener nggak ya kira-kira?" tanya Emma pada sahabatnya.
"Kalo melihat mobil yang menjemputnya, sepertinya lu nggak halu deh. Coba saja, Bebs. Kali aja rezeki!" jawab Lita mendukung.
"Gitu ya, apakah kamu yakin?" tanya Emma, ragu.
"Ya, namanya juga usaha. Nggak pa-pa dicoba. Kali aja jodoh, Bebs. Aku mendoakanmu!" jawab Laila.
Emma menatap sang sahabat. Dengan tatapan penuh harapan tentunya. Sedangkan Laila, sebagai seorang sahabat ia tetap mendukung apapun keputusan yang Emma ambil.
***
Keesokan harinya...
Semalam utuh Emma tak bisa tidur. Ia memikirkan penawaran Oma Asri. Jujur Emma ragu. Namun, tak mungkin baginya untuk ingkar. Meskipun bisa saja dia di PHP, setidaknya bukan dia yang di PHP.
Kini Emma telah siap pergi ke taman itu. Berharap, apa yang ia kerjaan hari ini adalah sebuah jalan menuju doa-doanya. Menuju tujuannya untuk mencari obat buat seseorang yang sangat ia cintai. Yaitu pria yang merawatnya selama ini.
"Sudah siap, Bebs?" tanya Laila.
"Ya, aku degdegan, Bebs. Grogi!" jawab Emma. Sebab jujur, ia sangat takut dibohongi.
"Bismillah yakin, Honey. Yakin kalo ini adalah jawaban atas doa-doamu selama ini. Semangat, Bebs. Doa terbaikku untukmu!" ucap Laila menyemangati.
"Makasih, La... Lu tahu, di kota ini aku hanya punya kamu. Makasih udah mau menampung ku selama ini. Aku janji, kalo aku udah berhasil dapat uang buat biaya operasi dan perawatan Mbah Kung, aku pasti siap jadi kurir kamu lagi," jawab Emma sedih.
"No, tidak, jangan! Aku nggak mau kamu jadi kurir ku terus. Kamu harus punya usaha sendiri, Bestie. Terserah, mau itu lu punya catering sendiri, mau loundry, mau apa kek, yang penting usaha sendiri. Jadi bos untuk dirimu sendiri. Jangan mau jadi pekerja terus. Oke!" jawab Laila semangat.
"Haruskah begitu?" tanya Emma.
"Yes, Honey. Harusnya begitu. Karena kita punya kesempatan yang sama. Emmmm, aku pasti merindukanmu!"
"Aku juga. Ya Allah, semoga ini jalan terbaik untukku dan untuk Mbah Kungku!" ucap Emma.
"Yes, harus yakin!" Laila tersenyum.
Selesai bercengkerama dengan sahabatnya, Emma pun segera berangkat ke taman dan menunggu wanita tua itu.
Jujur, saat ini Emma berharap-harap cemas. Ia takut, wanita tua itu hanya membohonginya. Emma takut harapannya hancur. Sedangkan dia sangat butuh pekerjaan ini. Setidaknya ia bisa punya penghasilan untuk membayar hutang jika nantinya pengajuannya ke bank cair.
Satu jam menunggu, tetapi wanita itu tak kunjung datang. Emma sedikit kecewa. Namun ia masih berusaha sabar.
"Ya Tuhan, apakah aku terlalu tinggi berharap? Apakah nenek tua itu lupa? Ya Tuhan. Kenapa aku bodoh? Bukankah dia lupa dengan rumahnya kemarin? Lalu kenapa sekarang aku malah percaya padanya? Duh.. Emma.. Bodoh.. Bodoh.. Bodoh!" ucap Emma merutuki dirinya sendiri.
Tak ingin tenggelam dalam harapan palsu. Emma pun memutuskan kembali ke kedai Laila.
Namun ketika ia beranjak dan melangkah hendak meninggalkan taman itu, sebuah mobil mewah datang menghampirinya.
Emma tersenyum. Karena ia tahu bahwa mobil tersebut adalah milik wanita tua itu.
"Hayyyy... Emma... Kamu mau ke mana?" panggil Oma Asri.
Emma tersenyum girang, ternyata wanita itu tidak lupa. "Omaaa.... Kenapa lama? Emma pikir Oma lupa!" jawab Emma langsung menghambur kepelukan wanita tua itu.
"Tidak! Mana mungkin Oma lupa. Tapi cucu Oma itu, lamban sekali. Ayo ayo masuk mobil. Di sini panas!" ucap wanita tua itu seraya menarik tangan Emma dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Emma masih tampak antusias ketika masuk ke dalam mobil. Namun ia tercengang ketika melihat seseorang yang membawa mobil tersebut.
"Kamu!" pekik Emma spontan.
Sedangkan pria yang kini sedang memegang kemudi hanya diam dan menatap santai ke arah Emma. Seolah sudah tahu bahwa Emma lah yang akan menjadi asisten untuk Oma cerewetnya ini.
"Kenapa bengong? Kamu sudah kenal sama cucu Oma?" tanya Oma Asri.
"Tidak Oma, mana mungkin Emma kenal sama cucu Oma!" jawab Emma semari memasang wajah meremahkan.
"Oh, kirain kenal. Oiya, Oma mau minta maaf. Tadi itu sopir Oma izin karena istrinya melahirkan. Jadi Oma bujuk cucu Oma ini buat nganter Oma jemput kamu. Tapi dia ada meeting tadi. Jadi agak telat. Nggak pa-pa kan kelamaan nunggu?" tanya Oma Asri.
"Nggak pa-pa, Oma. Nggak pa-pa," jawab Emma. Padahal ingin rasanya ia memberontak dan meloncat saja dari mobil ini. Emma tak sudi bekerja pada musuh bebuyutannya itu.
"Kita ke mana Oma?" tanya Alex tiba-tiba.
"Oma mau makan. Terserah di mana. Yang penting makan. Oma mau traktir sahabat baru Oma ini," jawab Onay Asri semangat.
"Oke," jawab Alex singkat.
Padahal dalam hati, pria ini sangat kesal. Mengapa harus gadis barbar nan bodoh itu yang dipilih Oma nya untuk menjadi asisten pribadinya.
Bersambung...
kog malah muncul masalah baru,...
lanjut crazy up gtu kak😊