Cinta karena harta akan musnah, karena rupa akan termakan usia.Tapi cinta karena Allah, akan kekal abadi sampai Jannah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Di Fitnah
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
..._______...
Hingga sore hari Arini belum juga pulang, Marta dan juga Ratna sudah tak sabar menunggu Arini, mereka berdua terus mondar-mandir selayaknya setrika yang tak ada henti.
"Di mana sebenarnya anak itu? sudah sampai sore begini belum juga pulang! apa kerjaan nya hanya ngelayap saja!." Gerutu Marta kesal.
Sementara Ratna yang sudah duduk lagi-lagi mempercantik kuku-kukunya sendiri dan terus meniup nya untuk mengeringkan kutek yang sudah menempel manis di kukunya.
"Mas kayak nggak tau saja. Anak mu itu kan emang seperti itu. Kalau sudah keluar pasti akan lupa untuk pulang!." Nyinyir Ratna mengompori.
Marta duduk dengan kesal tangannya menggerutuk saat dia menekankan nya itu adalah pertanda bahwa amarah nya benar-benar sudah di luar batas. Baru saja Marta duduk satu orang masuk dengan tergesa-gesa dan tentunya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Tuan.. Tuan... " Teriaknya.
Marta terkejut dia langsung berdiri dan menghampiri orang itu, "Ada apa!?. " Tanya Marta panik seketika.
"Arini, Tuan. Arini!!. "
"Kenapa dengan Arini!!. " Tanya Marta menegaskan.
"Arini berbuat mesum dengan laki-laki di kebun teh, Tuan!. " Ucapnya memberitahu.
Bukan hanya Marta yang terkejut, namun ada Ratna juga yang langsung beranjak dari duduknya dan berlari menghampiri Marta dan orang itu.
"Kamu jangan mengatakan fitnah ya! mana mungkin Arini melakukan hal seperti itu. Lagian siapa juga yang mau dengan gadis seperti dia!!." Ucap Ratna tak percaya.
"Benar, Nya. Saya melihat dengan kedua mata saya sendiri, kalau kalian tidak percaya saya akan antar kalian ke sana!. " Jawabnya yang begitu meyakinkan.
Di saat seperti itu Melisa dan Fara keluar dari dalam, dan tentunya dengan mata yang merah khas mata yang baru bangun dari tidur nya.
"Ini ada apa sih Bu? ." Tanya Melisa malas.
"Iya, kalian berisik banget sih! baru saja tertidur. " Imbuh Fara.
Orang itu kembali mengatakan pada Melisa dan juga Fara kalau Arini tengah berbuat mesum di kebun. "Arini berbuat mesum di kebun, Neng!. " Ucapnya.
Seketika keduanya saling pandang dengan mulut yang ternganga. "berbuat mesum!." Terkejut keduanya bersamaan.
"Iya, Neng!. " Jawab orang itu meyakinkan.
Mereka tak akan percaya begitu saja jika tak ada bukti nya, karena jatuhnya akan menjadi fitnah nanti. Karena itu mereka berempat berbondong-bondong pergi ke kebun dengan di antar oleh orang itu. Kehebohan yang terjadi membuat semua warga juga ikut serta, mereka ingin melihat sekaligus ingin memergoki perbuatan Arini yang tak pantas.
__________
Sepasang pria dan wanita terbaring di tengah-tengah kebun teh dengan tak sadarkan diri,dengan si wanita memeluk pria yang sama sekali bukan mahram nya.
Rambut dan baju keduanya berantakan, bahkan hijab sang gadis sudah terlepas dari kepalanya begitu saja.
"Lihatlah perbuatan anak buruk rupa mu, juragan Marta! lihat dengan jelas!. " Seru seorang laki-laki yang menjadi penunjuk jalan dan berhenti pas di depan kedua nya yang masih tak sadar diri.
Marta begitu ternganga, dia sangat syok melihat semua ini. Mukanya seakan-akan di lempar kotoran karena Arini, Marta benar-benar malu sekarang.
"Arini,,!! " Teriak Marta dengan sangat keras.
Malu dan kecewa Marta rasakan. Sudah di cap sebagai anak yang paling buruk rupa sekarang juga harus mempermalukan nya dengan melakukan hal tak senonoh yang semua orang tuduhkan pada Arini.
Seorang memberikan air satu ember pada Marta, dengan cepat Marta mengguyur nya ke wajah Arini dan pria itu.
𝘉𝘺𝘶𝘳𝘳𝘳....
Arini dan pria itu tersentak, mereka berdua langsung terperanjat dengan bingung.
"Astaghfirullahalazim,,, ada apa ini?. " Tanya Arini tak mengerti.
Arini semakin bingung dengan semua orang yang berkerumun menatapnya dengan begitu bengis, Arini seperti seorang yang linglung karena dia tak tau apa-apa.
"Apa yang terjadi, Yah?. " Tanya Arini polos.
Begitu pula dengan pria yang ada di sebelah Arini, dia juga sangat bingung. Namun saat dia melihat keadaannya dan juga Arini dia sangat terkejut dan mendorong Arini kemudian dia menjauh.
"Apa yang kamu lakukan padaku, Si kulit hitam! beraninya kamu menjebak ku!. " Serunya dengan pura-pura terkejut.
Arini begitu sangat takut, dia juga bingung kenapa semua ini bisa terjadi. Namun satu hal yang pasti dia tak mengingat apapun.
Marta mengusap wajahnya kasar, dengan satu tangan nya berkacak pinggang. " Kau telah mencoreng muka ku, Arini. Kau telah mempermalukan ku!." Seru Marta frustasi.
"Ayah, semua ini tidak seperti yang ayah lihat. Arini tidak melakukan apapun. Demi Allah, Ayah. Arini tak melakukan hal itu. " Ucap Arini yang mulai ketakutan dan mulai terisak.
"Halah,, jangan kau bawa-bawa nama Allah untuk menutupi kelakuan bejat mu. Jelas-jelas kamu tidur dan melakukan hal yang tidak senonoh di sini dengan pemuda itu. Apa semua itu belum cukup!. " Ucap seorang warga.
Arini menggeleng dengan kasar, dia yakin dia tidak melakukan apapun yang di tuduhkan.
"Tidak, Paman. Arini tidak melakukan hal itu, Paman. Tolong percayalah. " Jawab Arini menjelaskan namun semua orang sudah tak lagi percaya pada Arini.
"Usir dia dari kampung kita. Jangan sampai kampung kita ikutan terkutuk karena perbuatan nya, usir gadis buruk rupa yang tak tau diri ini. Usirrrr,,,!!! " Teriak warga menghakimi kesalahan Arini yang sama sekali tidak dia lakukan.
Air mata Arini semakin deras dia benar-benar takut. Arini merangkak memeluk kaki Marta dan memohon perlindungan dengan Marta, Ayah-nya.
"Ayah. Tolong Arini, Ayah. Arini benar-benar tidak melakukan itu. Tolong Arini ayah, Arini takut. " Tubuh Arini gemetar hebat dia benar-benar ketakutan dengan tangis yang semakin menjadi.
Sementara kedua kakaknya malah tersenyum sinis, mereka sangat bahagia.
"Dasar adik tak tau diri! Kami menerima mu dan kami merawat mu tanpa pamrih, tapi apa yang kamu berikan pada kami, kamu telah mempermalukan kami semua, dasar adik tak tau diri,,!! " Teriak Melisa.
"Seharusnya kami membuang mu sejak dulu sebelum kamu mempermalukan keluarga ku, gadis tak bermoral seperti mu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ku, pergiii,,!! " Imbuh Fara.
Arini menggeleng dia berganti merangkak ke depan kedua kakaknya ingin memeluk kakinya namun dengan sadis Melisa mendorongnya hingga Arini terjengkang ke tanah.
"Arini tidak melakukan itu semua kak. Arini berani bersumpah. " Isak tangis Arini terus saja keluar terus berusaha menjelaskan namun sama sekali tidak bisa di terima begitu saja orang semua orang.
Semua orang terus menatap remeh ke arah Arini. Sudah benci karena kulit Arini yang gelap sekarang tambah lagi dengan kelakuan Arini yang memalukan.
"Usir saja wanita seperti dia. Wanita seperti dia hanya bisa mengotori dan mencemari kampung kita, usir!." Seru seorang warga lagi.
"Iya usir dia,, usir..! "
"Usir.. usir.. usir.. !"
Semua orang bersorak-sorai menyerukan pendapat mereka, mereka benar-benar tak sudi melihat Arini lagi dan tak mau mendengarkan sepatah kata pun dari Arini lagi.
Sedangkan Pria yang bersama Arini tadi sekarang entah berada di mana dia, karena dia sudah tak terlihat lagi di tempat itu.
"Usir.... usir... usir....
Arini terus menangis sejadi-jadinya, dia begitu takut. Kedua tangan nya di tarik beramai-ramai dan di seret untuk pulang ke rumah Juragan Marta. Hingga sampai di depan rumah, Arini di dorong dengan keras hingga Arini terjatuh tersungkur di tanah.
Di sana Arini tetap tidak di perbolehkan masuk oleh kedua kakaknya dan kedua orang tuanya yang sudah terlanjur kecewa dengan Arini.
"Nih,, bawa barang-barang mu dan pergi sekarang!! jangan pernah sesekali kamu menginjakkan kaki di tempat ini lagi. "
Melisa membanting tas ransel kecil ke hadapan Arini, semua itu adalah barang-barang dari Arini yang memang sudah Melisa sediakan semenjak Arini pergi ke kebun teh.
"Kak, jangan usir Arini. Arini mohon. " Tangis semakin menjadi pada Arini dia terus meraung-raung namun semuanya sia-sia.
"Ayah... Ibu... jangan usir Arini. Arini harus kemana?. " Arini merangkak mendekati Marta dan Ratna namun mereka sudah tak perduli lagi.
Arini bersimpuh di hadapan Marta, meminta untuk tidak diusir dari sana. Marta angkat bicara namun kata-katanya membuat Arini semakin menangis dan semakin hancur.
"Pergi Arini,, pergi,,!! Ayah tak mau lagi melihat wajah mu, Pergi,,!! "
Marta mendorong Arini dengan sangat keras membuat Arini kembali tersungkur di tanah dengan tangis yang terus tiada henti. Marta sudah tak lagi sudi melihat wajah Arini, Marta melengos jauh.
Tak berapa lama mereka ada di sana dan menghakimi Arini, Marta, Ratna, dan kedua kakaknya masuk begitu saja meninggalkan Arini seorang diri dan menutup pintu dengan sangat keras.
Brakkkk...
Begitu pula dengan semua warga. Mereka pergi dengan meninggalkan Arini sorakan menyoraki Arini dan mendorong-dorong tubuh Arini hingga berkali-kali terhuyung hampir menempel ke tanah.
"Huu,,!! dasar gadis tak tau diri. Sudah wajahnya jelek akhlaknya juga lebih buruk.. Huuu..!!!
"huu!! pergi sana, jangan menjadi kotoran di desa ini. Pergi.. " Seru mereka tak habis-habisnya mengusirnya dan memperlakukan Arini dengan sangat buruk.
Arini menangis seorang diri, dia menjumputi barang-barangnya yang berserakan dan memeluknya setelah memasukkan nya ke dalam tas.
"Ya Allah, ujian apa ini. " Hati Arini begitu hancur, kesedihan dan penderitaannya terus bertambah dan tak ada habis-habisnya.
"Ya Allah,, aku harus kemana? Aku tidak punya siapapun. " Ucap Arini dalam tangis.
Perlahan Arini berdiri berjalan meninggalkan tempat itu meskipun sangat berat. Berkali-kali Arini menoleh melihat rumah yang menjadi tempatnya bernaung dan memberikan hidup selama ini, air matanya kembali lagi mengalir deras dan tak terkendali.
____________
Bersambung..
__________✿◉●•◦
ini memang pasangan unik lah ya arini dan Arya
wuah Arya junior sudah mau otw ini semoga lancar ya lahiran nya jangan membuat kerecokan di rumah sakit nanti agar para dokter dan perawat tidak bingung 😅😅😅
nah lho Arya salah jawab kan makanya kalau istri sedang mengagumimu jangan kamu komplain dia keluar kan kata" yg bisa bikin kamu bingung