NovelToon NovelToon
Possessive Husband

Possessive Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:862.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji Rahayu Ningsih

"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.

"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.

Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.

"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.

"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Makanan Spesyal

Sekarang Nadia sedang berada di rumah keluarga Mahendra. Kedua mertuanya sibuk dengan pekerjaan mereka. Nadia duduk bosan di sofa kamar Rehan.

Kaca mata anti radiasi bertengger di hidung mancung Rehan. Lelaki itu sedang sibuk mengurus proyek pembangunan hotel barunya.

Nadia mengamati gerak-gerik Rehan yang sedang berkutat dengan leptot dan berbagai dokumen kerja. Tidak ada bulan madu atau Hanymoon seperti pasangan lainnya yang baru saja selesai menikah.

Entah mengapa, Nadia kesal sendiri dengan sifat cuek Rehan. Dia bosan disini, sedari pagi dia hanya tidur, menonton televisi, dan makan. Dia ingin keluar.

"Bolehkah aku keluar rumah?" Nadia melirik Rehan yang duduk di sampingnya.

"Gak boleh, tunggu aku menyelesaikan tugas dari kantor dulu. Setelah ini kita akan jalan-jalan berdua." Rehan super sangat posesif, bahkan dia tidak mengizinkan Nadia untuk pergi ke luar rumah sendiri.

"Masih lama kah? Aku bosan disini?" Rehan terkekeh mendengar kalimat merajuk yang keluar dari bibir istrinya.

"Kamu bisa tidur dulu, sayang. Pekerjaan ini sangat penting." Rehan mencoba memberi pengertian kepada Nadia.

Nadia memanyunkan bibirnya, dia tidak suka di acuhkan.

"Tapi aku tidak mengantuk Rey. Coba saja Danil yang ku ajak, dia pasti akan meninggalkan semua pekerjannya untukku." Nadia beranjak dari sofa yang dia duduki. Dia naik keatas tempat tidur Rehan, tangannya menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.

"Hey, kamu marah?" Rehan mengusap rambut Nadia, dia ikut naik ke atas tempat tidur.

"Sayang..." Panggil Rehan, lembut.

"Nadia, Nad,"

Nadia bungkam, dia enggan menjawab panggilan dari Rehan. Moodnya sudah sangat buruk siang ini.

"Aku bukan Danil, Aku suami mu. Aku tidak suka kamu menyebut nama lelaki lain di depan ku." Sentak Rehan, dia menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuh Nadia dengan kasar.

"Bisakah kamu mendengarkan semua ucapan ku?!" Bentak Rehan, marah.

"NADIA ZAEN!!" Sekarang Rehan benar-benar sangat marah.

"Siapa kamu berani membentak ku? Danil saja tidak pernah membentak ku!! Kamu beda dengan dia, Kamu kasar, Kamu Arogan, Kamu cuek, aku gak suka sama kamu." Nadia berteriak di depan Rehan.

Seketika Rehan langsung mengunci tubuh Nadia yang sedang bersandar di belakang tempat tidurnya.

"Jangan samakan aku dengan dia." Ucap Rehan penuh penekanan.

***

Nadia tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Bahkan dia tidak tahu keberadaan lelaki menyebalkan itu. Rehan pergi setelah bertengkar dengannya tadi siang.

Sekarang Nadia sedang berdiri di balkon kamar Rehan. Perutnya sangat lapar, tapi dia tidak berani pergi ke dapur. Ini bukan rumahnya, dia masih sungkan berada disini.

"Apa itu arti bahagia?" Gumam Nadia, dia tersenyum getir.

"Aku tidak mengerti dengan definisi bahagia. Bukan seperti ini pernikahan yang aku inginkan." Nadia mencengkram erat pembatas balkon.

Air matanya meluncur, akhir-akhir ini dia memang sangat cengeng.

Kegelapan mewarnai malam, Nadia di rumah mewah ini sendiri.

"Shutt..., maaf aku sudah meninggalkan mu tadi." Rehan memeluk Nadia dari belakang. Dia tidak bermaksud meninggalkan Nadia sendiri disini. Dia hanya ingin menenangkan diri setelah bertengkar dengan perempuan yang dia cintai.

"Jangan menangis." Nadia membalikkan badannya, dia memeluk Rehan erat. Dia ingin mencari tempat ternyaman di dada bidang lelaki itu.

"Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu meninggalkan aku?" Nadia mempererat pelukannya.

"Sudahlah, Aku punya hadiah untuk kamu." Rehan melepas pelukan Nadia, lembut. Dia mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi Nadia.

"Hadiah apa?" Nadia menatap wajah Rehan dengan penasaran.

"Ikut aku." Rehan menautkan tangannya pada tangan Nadia. Mereka berdua berjalan ke dapur.

"Mana hadiahnya?" Mata Nadia celingukan mencari hadiah yang seperti Rehan ucapkan tadi.

"Itu, Di kedua plastik merah itu adalah hadiah nya." Nadia mendengus, itu bukan hadiah. Melainkan berbagai cemilan dan bahan pokok lainnya.

"Kamu pasti lapar, jadi aku bawakan kamu bahan-bahan masakan untuk kamu masak nanti." Nadia membuka mulutnya tidak percaya. Bukan dia tersanjung dengan apa yang Rehan katakan, melainkan dia sangat kesal dengan suaminya.

"Ck, Dasar tidak romantis." Decak Nadia. Dia meraih pisau dan memotong daging ayam di depannya dengan kesal.

"Harusnya kamu membelikan aku makanan jadi saja, aku malas memasak hari ini. Kenapa kamu malah membelikan aku bahan makanan untuk aku masak sendiri? Aku capek, Aku....., Au..." Nadia mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Gara-gara dia tidak memperhatikan pisaunya, benda tajam itu mengenai jari telunjuknya.

"Kamu tidak apa-apa? Tangan mu berdarah." Rehan membawa tangan Nadia ke bibirnya, dia menghisap darah istrinya.

"Kenapa kamu tidak hati-hati?" Rehan mencuci tangan Nadia, pelan.

Setiap gerak-gerik Rehan, Nadia memperhatikannya. Dia melihat ada kekhawatiran dari kedua sorot mata Rehan.

"Apa ini sakit?" Rehan terdengar cerewet. Dia meniup jemari Nadia yang terkena pisau.

"Sedikit." Ringis Nadia saat Rehan tidak sengaja memegang jemarinya yang terluka.

"Biar aku ambilkan kamu kotak P3K." Rehan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sedangkan Nadia, dia duduk di meja makan sambil menyesali perbuatan cerobohnya.

Rehan kembali dengan satu kotak P3K di tangannya. Dia menghampiri Nadia yang sedang menunduk, dia melihat jemarinya yang terluka. Rehan menarik tangan Nadia, dia menuangkan obat merah anti septik ke jemari Nadia. Sengaja Rehan tidak menuangkan alkohol ke jemari Nadia, Rehan tahu, pasti istrinya akan kesakitan nanti jika dia menuangkan alkohol ke lukanya.

"Hanya luka kecil, kamu tidak perlu berlebihan seperti ini." Nadia menarik tangannya yang sudah selesai di obati oleh Rehan.

"Hanya luka kecil? Tapi jika tidak di obati akan sangat berbahaya. Bagaimana kalau infeksi?" Rehan meniup pelan jari telunjuk Nadia yang terluka akibat terkena pisau tajam.

"Tidak perlu selebai ini. Kenapa kamu sebegitu khawatir dengan ku? Aku saja tidak mengeluh sakit." Terdengar helaan nafas kasar yang keluar dari bibir Rehan.

"Jelas aku khawatir, kamu istriku, sudah menjadi kewajiban ku untuk menjagamu. Sekarang kamu duduk saja, biar aku yang masak makan malam." Rehan memasang Apron di tubuhnya. Dia mulai memotong ayamnya.

Sepertinya dia sudah terbiasa memasak, Dilihat dari caranya yang lihai menggoreng ayam.

"Ada yang bisa aku bantu?" Nadia cukup sadar diri, disini dia sudah sah menjadi istri Rehan, memasak adalah tugasnya, tidak mungkin dia membiarkan Rehan memasak sendiri dan dia malah enak-enakan duduk.

"Ada, cukup kamu duduk. Luka mu belum kering, biar aku yang memasak." Rehan tersenyum kepada Nadia.

"Baiklah Tuan Rehan." Nadia kembali duduk di kursi makannya. Dia malas berdebat dengan suami posesifnya.

Rehan mulai menuangkan kecap manis di ayam yang sudah dia goreng tadi. Dia juga mulai membuatkan Nadia susu hangat.

"Makanan spesyal untuk istri ku tercinta." Nadia tersenyum. Dia mencicipi ayam kecap buatan Rehan.

"Enak, pas, gak keasinan. Aku suka." Puji Nadia. Dia memakan masakan Rehan dengan lahap. Cacing di perutnya sudah meronta minta di isi sedari tadi.

Rehan menatap Nadia tanpa berkedip. Ada rasa senang ketika melihat istrinya menyukai masakannya.

"Akhem, Ngapain ngelihatin aku terus?" Rehan yang sudah tertangkap basah ngelihatin Nadia, langsung salah tingkah.

"Hehe..., Gak apa-apa. Kamu cantik kalau lagi makan." Nadia tertawa kecil, pujian seperti itu sudah sering Rehan lontarkan kepadanya.

"Apalagi pas lagi senyum, hati aku rasanya adem banget ngelihatnya."

Blus..

Semburat merah hadir di kedua pipi Nadia. Nadia tersenyum canggung sambil menggigit ujung sendoknya.

"Kamu kelihatan tambah cantik kalau sedang malu-malu seperti itu." Nadia duduk dengan gusar, dia meminum susu yang berada di depannya. Karena kecerobohannya, bibirnya harus merasakan panas.

"Au..." Kali ini Nadia bertingkah sangat bodoh. Dia meminum susu yang jelas-jelas masih sedikit panas. Ini semua gara-gara Rehan yang terus menggodanya, jadi dia gagal fokus.

"Kamu tidak apa-apa?" Rehan mendekati Nadia, jantung Nadia menggila saat ini. Kenapa lelaki di depannya terlihat semakin tampan ketika mengenakan Apron?

"Tidak, aku baik-baik saja." Cengir Nadia, salah tingkah.

1
Muna Junaidi
Hadirrrr kembali thorrrr💃💃💃
Alyah Nasution
😂😂 lucu hahaha
Apih Nabila
lanjut kak
Teriyanti Yan
Musiknya terlalu brisik, sehinga suaranya kurang jelas
Rahayu
Kalau saya lanjut ceritanya masih ada yang baca?
Rita Erisha
visual + bio nya nadia donk thor
Rita Erisha
visual nadia nya donk thor
Andez Ajja
🤣🤣🤣😂😂😂😂resiko mas hhhhh
Andez Ajja
cerita xa sangat mnarik
Yana Saleh
next dong
Ulfa Sawani
asyik bacax
Ulfa Sawani
seru yaaa
Ulfa Sawani
ceritax seru yaaaa..pengen sepeti dlm cetita ini..
Reni Tri Cahyowati
lanjut thor
Onih Sumarni
.😁😁🤲
Wiwin Yustika Yustika
Lanjut dong
Öžôŕã
bunuh aja si rehan sebel aq
Öžôŕã
gedek gwe sma rehan,,,, cuma manis di mulut doang
Öžôŕã
knapa kagak keluar negri skalian thorr
Ni Made Partini
habis sampai sini Aja nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!