"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.
"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.
Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.
Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengingat
"Kenapa? Kau sekretaris baru bukan?" Adrian tidak menanggapi keterkejutkan Mira, ia masih tetap fokus dengan laptopnya.
"Kenapa masih saja diam? Cepat katakan jadwal-jadwalku!" Mira terpaku di tempatnya, ia merasa seluruh tubuhnya bergetar dan matanya mulai memanas. Ia sangat miris pada nasibnya, pria yang telah merenggut kesuciannya seolah tidak ingat dengan dirinya.
Entah memang berpura-pura tidak mengingatnya.
"Ba-baik, Pak."
Mira mulai mengatakan beberapa jadwal dengan hati yang tengah meredam amarah besar. Ingin sekali dia memaki-maki pria di hadapannya saat ini, akan tetapi saat ini Adrian adalah atasannya.
"Jam satu anda ada pertemuan dengan direktur utama KUR Group, Pak."
Tiba-tiba tangannya berhenti memijat keyboard laptop, kepalanya yang tertunduk mulai terangkat. Kedua pasang mata mereka beradu setelah kepala Adrian tegak.
Mata Adrian membelalak melihat Mira.
"Kau?!" Ia bangkit dari duduknya, menunjuk Mira dengan raut wajah yang dipenuhi rasa terkejut. Mira sedikit memundurkan langkahnya, ia merasa takut sekaligus kesal.
"Sedang apa kau disini?" Adrian mulai mengintrogasinya, seperti Mira yang memiliki salah padanya. Bukankah jelas, Adrian yang telah bersalah perihal kesucian Mira yang terenggut.
"Bekerja," jawab Mira dengan mulut bergetar dan semakin menjauh dikala Adrian terus mendekatinya.
"Wah, sayang sekali aku tidak percaya." Ucap Adrian dengan ekspresi wajah mengerikan, membuat suasana tiba-tiba terasa mencekam. "Kau hamil? Ingin minta tanggung jawabku? Bukankah aku memberikan cek itu padamu? Tapi kau merobeknya, sepertinya kau memang seorang wanita malam yang ingin kepuasan, sampai-sampai kau menguntitku kesini." Adrian terus saja memojokan Mira, kata-katanya tentu sangat menyakiti hati Mira.
"Aku tidak tahu kalau ini kantor perusahaanmu." Mira terus mundur, hingga punggungnya menabrak dinding. Ia terperanjat lalu memejamkan matanya ketika Adrian berada sangat dekat dengannya.
"Siapa namamu? Untuk apa kau kesini?"
Hembusan napas Adrian bisa Mira rasakan ketika dia bertanya, bahkan tepat berhembus di leher Mira.
"Mira, aku hanya ingin bekerja. Aku butuh pekerjaan, bukan sedang menguntitmu."
Adrian terkekeh, kemudian menjauh dari Mira dan melipat kedua lengannya di dada. Pandangannya masih terpaku pada Mira.
Secantik itu dia? Sepertinya ada bagusnya dia disini, aku tidak perlu mencari wanita lain lagi untuk menghangatkan malam-malamku.
Adrian kembali mendekati Mira, senyumnya yang sangat indah membuat wanita manapun terpikat, lain dengan Mira yang sangat membenci setiap inchi tubuh serta wajah Adrian.
"Oh ya? Jika begitu, keluar dari sini!" Perintah Adrian sambil menunjuk pintu.
Mira bergegas menuju pintu, namun ia terkejut ketika hampir saja mencapai pintu, tangannya sudah dicekal Adrian.
"Kau sudah masuk ke perusahaan ini, tidak ada yang bisa keluar begitu saja. Kembalilah bekerja! Ingat, kau harus menemaniku untuk rapat siang ini."
Getaran tangan Mira dirasakan Adrian, ia sangat puas melihat Mira ketakutan. Dia masih menganggap Mira sama seperti wanita diluar sana, berusaha menemui Adrian untuk meminta tanggung jawab.
"Pergilah!" Usir Adrian tanpa menatap wajah Mira.
Seperginya Mira, kini Adrian menatap pintu yang baru saja di tutup.
"Ternyata dia sama saja seperti wanita lainnya. Aku pikir cek yang dibuang itu menandakan dia berbeda." Gumamnya dengan ekspresi penuh harap.
-
-
Pekerjaan telah usai, Mira baru saja akan bersiap untuk pulang ketika staf HRD memanggil namanya.
"Bu Mira, apa anda sudah akan pulang?"
Mira menoleh, lalu memberikan seulas senyum sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan stafnya.
"Ya, apa ada sesuatu yang penting? Mungkin saya bisa pulang nanti."
"Pak Adrian memanggil anda."
Deg...
Wajah Mira memucat, membuat staf HRD mengerutkan dahinya melihat wajah Mira yang pias.
Seketika tubuh Mira bergetar, hatinya kembali di kuasai rasa takut. Pikirannya melayang pada hari ia menemukan Adrian yang tidur disampingnya setelah merenggut hal paling berharga dalam hidupnya.
"Baik, sa-saya akan menemuinya." Dimas, staf HRD yang paling dipercaya Adrian tersebut bisa dengan jelas menangkap ketakutan pada diri Mira.
"Anda baik-baik saja?" Tanya Dimas meyakinkan Mira.
"Ya, mungkin karena ini hari pertama saya bekerja, jadi saya belum terbiasa." Mira mengangguk samar. Dimas telah meninggalkan Mira bersama rasa takutnya.
Seiring langkah yang semakin dekat ke ruangan Adrian, rasa takut Mira bertambah besar. Ia tak memungkiri takut Adrian mengulang kembali malam itu, meski Mira tak mengingatnya karena dalam keadaan tak sadarkan diri setelah terlalu banyak minum.
Mira memutar knop pintu pelan, menampilkan Adrian yang sedang bersandar dengan mata terpejam saat pintu terbuka.
Ia berjalan pelan menuju Adrian, namun saat Mira telah berhadapan dengannya, ia bisa melihat bahwa napas Adrian begitu teratur.
Kenapa menyuruhku datang, kalau dia tertidur begini?
"Nikmati saja, aku tidak tidur!"
Mira terlonjat hingga mundur beberapa langkah. Mata Adrian terbuka lebar dengan bola mata yang bening menunjukan bahwa Adrian memang tidak sedang tidur.
"Bapak memanggil saya, a-ada yang bisa saya bantu?" Refleks dipenuhi rasa gugup pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Mira.
"Ya,"
"Jadilah temanku malam ini."
Mata Mira membelalak sempurna, ia kembali terhina atas tawaran Adrian. Cepat-cepat Mira membalikan tubuhnya bermaksud untuk pergi meninggalkan Adrian.
"Maaf, Pak! Saya bukan j*l*ng!" Seru Mira sebelum ia keluar dari ruangan Adrian.
"Tunggu! Aku belum menyuruhmu pergi!" Adrian berlari, berusaha mencekal Mira lagi.
"Jangan kurang ajar! Aku adalah atasanmu!"
"Mungkin anda yang kurang ajar!" Mira menghempaskan tangan Adrian, kemudian berjalan cepat hingga berlari ia lakukan untuk berusaha menjauhi Adrian.
"Sialan! Dia terlalu jual mahal!" Umpat Adrian.
-
-
"Mir!" Vika mengejar Mira yang datang dengan wajah ketakutan.
"Kamu kenapa?!"
Bersambung...
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
mira.....liat apa an?????