Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Seni Bertarung yang Sesungguhnya
Lautan berkabut tebal itu seolah membeku. Angin utara berhembus membawa butiran air yang sangat dingin.
Di atas geladak kapal kayu kecil yang terombang-ambing, suasana terasa sangat mencekam. Para kru bajak laut menahan napas mereka. Mereka menatap punggung pemuda berarmor merah di haluan kapal dengan pandangan penuh kengerian dan antisipasi.
Sebuah armada kerajaan raksasa yang menunggangi siput laut baru saja menembakkan meriam artileri ke arah mereka. Tembakan mematikan itu berhasil dipatahkan hanya dengan sebuah tendangan malas.
Kini, sang Hantu Uchiha tidak lagi duduk diam.
Madara berdiri tegak di ujung haluan. Mata merah darah dengan tiga tanda koma hitam berputar pelan di wajahnya. Pandangannya mengunci lurus ke arah kastil besi raksasa yang berada di atas cangkang siput Germa 66.
Dia tidak berniat menunggu mereka menembakkan meriam kedua.
Madara mengambil posisi kuda-kuda yang sangat santai. Dia merenggangkan jarak antara kedua kakinya selebar bahu. Tangannya dibiarkan tergantung bebas di sisi tubuh.
Dia mulai mengalirkan chakra ke arah telapak kakinya.
Chakra biru yang sangat pekat berkumpul di bagian bawah sandal kayunya. Energi spiritual dan fisik itu dipadatkan sedemikian rupa hingga menciptakan sebuah tekanan kecil yang meretakkan papan kayu geladak di bawah kakinya.
Madara menarik napas panjang. Udara dingin memenuhi paru-parunya.
'Jaraknya sekitar delapan puluh meter,' batin Madara. Dia mengukur rentang ruang antara kapalnya dan kapal utama Germa 66 hanya dengan satu kali pandangan.
Bagi manusia biasa, melompati lautan sejauh itu adalah hal yang mustahil. Bagi seorang pengguna Buah Iblis, jatuh ke laut di bawah sana adalah akhir dari segalanya.
Tetapi bagi seorang veteran perang dari klan Uchiha, jarak itu hanyalah sebuah langkah kecil.
Madara memfokuskan pandangannya ke titik pendaratan yang dia inginkan. Sebuah area luas di geladak utama kapal musuh.
Detik berikutnya, dia melepaskan seluruh chakra yang tertahan di telapak kakinya dalam satu hentakan tunggal.
Suara ledakan udara terdengar memekakkan telinga. Papan kayu haluan kapal bajak laut hancur berkeping-keping akibat tolakan kaki Madara. Kapal kayu kecil itu berguncang hebat, bagian depannya nyaris tenggelam ke dalam air laut karena menahan gaya tolak yang luar biasa besar.
Tubuh Madara melesat ke udara bagaikan anak panah merah yang ditembakkan dari busur raksasa.
Dia membelah kabut tebal di atas perairan North Blue. Angin menderu kencang menghantam wajahnya, membuat rambut hitam panjangnya berkibar liar di belakang punggungnya. Pelindung dada merahnya membelah udara yang lembap.
Dia terbang melintasi lautan dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata telanjang.
Di atas geladak kapal utama Germa 66, para prajurit klon yang sedang berpatroli menghentikan langkah mereka. Sensor di helm mereka mendeteksi sebuah objek yang melesat ke arah mereka dengan kecepatan anomali.
Mereka menengadah ke atas secara serentak.
Dari balik kabut putih yang menggantung di udara, sebuah siluet merah dan hitam turun dengan kecepatan meteor.
Brak.
Suara dentuman keras menggema di seluruh penjuru kapal siput raksasa tersebut.
Madara mendarat tepat di tengah geladak utama yang terbuat dari pelat besi tebal. Pendaratannya tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dia membiarkan seluruh berat tubuhnya dan gaya gravitasi menghantam lantai besi itu tanpa diredam.
Pelat baja setebal beberapa inci di bawah kakinya penyok ke dalam, membentuk kawah kecil yang memancarkan getaran ke seluruh kapal.
Asap debu dan sisa embun kabut menyembur ke segala arah akibat dampak pendaratan tersebut.
Madara perlahan menegakkan tubuhnya. Dia memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak pelan. Mata Sharingan miliknya menyapu lingkungan di sekitarnya.
Lantai besi yang dingin. Dinding kastil logam yang menjulang tinggi. Dan ratusan manusia berseragam yang kini mulai mengepungnya dari segala penjuru.
Pasukan klon Germa 66.
Mereka mengenakan seragam putih bersih dengan jubah hitam panjang. Di kepala mereka terdapat helm besi yang menutupi sebagian wajah. Di balik seragam putih itu, terlihat kerangka luar atau eksoskeleton buatan yang menyatu dengan tubuh mereka.
Mereka memegang tombak panjang berbahan logam. Ujung tombak itu mengeluarkan suara gemeretak nyaring. Aliran listrik berwarna biru terlihat melompat-lompat di bagian ujung senjata tersebut.
Sekitar dua ratus prajurit kini berdiri membentuk lingkaran berlapis, mengurung Madara di tengah-tengah geladak.
Madara menatap wajah mereka satu per satu.
'Wajah yang sama,' batin Madara.
Dia menyadari sebuah keanehan yang sangat mencolok. Ratusan pria yang mengepungnya memiliki struktur wajah yang identik. Tinggi badan mereka sama. Postur mereka tidak berbeda satu sentimeter pun. Mereka bagaikan cetakan patung yang diproduksi secara massal dari sebuah pabrik.
Namun, hal yang paling menarik perhatian Madara bukanlah wajah mereka. Melainkan emosi mereka.
Atau lebih tepatnya, ketiadaan emosi mereka.
Haki Pengamatan yang baru saja dia miliki menyapu seluruh geladak itu. Biasanya, saat seseorang menghadapi musuh yang baru saja melompat dari langit dan merusakkan lantai baja, akan ada sedikit lonjakan emosi. Rasa terkejut, rasa takut, atau setidaknya rasa waspada.
Tetapi ratusan prajurit di hadapannya ini benar-benar kosong. Jantung mereka berdetak dengan ritme yang statis. Pikiran mereka hanya berisi barisan kode perintah untuk memusnahkan ancaman. Tidak ada jiwa di balik mata mereka yang kosong.
“Penyusup terdeteksi. Eksekusi segera,” ucap salah seorang prajurit dengan nada datar yang mekanis.
Tidak ada teriakan perang. Tidak ada amarah.
Ratusan prajurit itu bergerak secara serentak. Mereka tidak mundur. Mereka menerjang maju secara bersamaan, mengayunkan tombak listrik mereka ke arah Madara dari segala sudut. Ruang gerak di tengah geladak itu langsung menyempit dalam hitungan detik.
Madara berdiri diam.
Dia tidak meraih pedang di pinggangnya. Dia tidak merapal segel tangan untuk mengeluarkan elemen api. Dia hanya membiarkan kedua lengannya jatuh santai di sisi tubuhnya.
Bagi Madara, menggunakan senjata pada boneka bernyawa ini adalah sebuah penghinaan terhadap seni bertarung yang sesungguhnya.
Saat tombak listrik pertama meluncur lurus ke arah dadanya, Madara mulai bergerak.
Dia tidak membuang tenaga untuk menangkis menggunakan kekuatan penuh. Dia hanya memutar bahunya beberapa derajat ke belakang. Ujung tombak yang berderak dengan aliran listrik biru itu meleset hanya selebar satu helai rambut dari pelindung dadanya.
Tanpa menghentikan gerakannya, tangan kanan Madara meluncur ke depan seperti kilat.
Dia tidak memukul wajah prajurit itu. Dia membuka telapak tangannya dan menghantamkan pangkal telapak tangannya tepat ke bagian siku lengan prajurit yang sedang terulur.
Krak.
Suara tulang yang hancur beradu dengan suara logam eksoskeleton yang patah. Lengan prajurit itu membengkok ke arah yang berlawanan.
Namun, prajurit klon itu tidak menjerit. Wajahnya tetap datar. Dia bahkan tidak melihat ke arah lengannya yang sudah hancur. Prajurit itu terus bergerak maju, mencoba menggunakan lengan kirinya untuk memukul wajah Madara.
Madara sedikit melebarkan matanya.
'Mereka tidak merasakan sakit,' batin Madara dengan cepat menganalisis situasi.
Di medan perang biasa, menghancurkan satu sendi utama sudah cukup untuk membuat musuh lumpuh karena syok dan rasa sakit yang luar biasa. Namun makhluk-makhluk berseragam putih ini tidak memiliki sistem saraf yang merespons rasa sakit. Selama mereka bisa bergerak, mereka akan terus menyerang.
'Kalau begitu, aku hanya perlu memutuskan semua engsel penggerak mereka.'
Madara menurunkan pusat gravitasinya. Tarian kehancuran dimulai.
Tiga tombak listrik mengarah ke punggung, perut, dan lehernya secara bersamaan.
Madara menunduk tajam, menghindari tombak yang mengarah ke leher. Dia menggeser kaki kirinya, membiarkan dua tombak lainnya saling bersilangan di udara kosong.
Dari posisi merendah, Madara mengayunkan kaki kanannya dalam sebuah sapuan melingkar. Tendangannya menyapu tulang kering ketiga prajurit tersebut.
Brak. Krak.
Eksoskeleton penahan kaki mereka hancur berkeping-keping akibat tendangan berlapis chakra dari Madara. Tulang kering mereka patah menjadi beberapa bagian. Ketiga prajurit itu roboh ke lantai baja karena kehilangan penyangga tubuh.
Mereka mencoba merangkak maju menggunakan tangan, masih berusaha meraih kaki Madara.
Madara menginjak pergelangan tangan salah satu dari mereka hingga hancur menjadi bubur daging dan besi. Dia lalu melompat ringan ke udara, menghindari belasan tombak yang datang menyusul.
Di udara, Madara memutar tubuhnya. Dia mendarat tepat di atas pundak seorang prajurit klon yang berbadan besar.
Sebelum prajurit itu bisa bereaksi, Madara menjepit leher musuhnya dengan kedua paha. Dia memutar tubuhnya dengan sangat keras.
Suara patahan tulang leher terdengar nyaring. Sambungan saraf tulang belakang prajurit itu terputus total. Tubuhnya ambruk seketika bagaikan boneka yang talinya baru saja diputus. Sistem saraf pusatnya tidak lagi bisa mengirimkan perintah ke otot, membuat prajurit itu lumpuh permanen meskipun matanya masih terbuka.
Madara melompat dari tubuh yang tumbang itu. Dia mendarat di tengah kerumunan yang lebih padat.
Setiap gerakan yang dilakukan oleh Madara adalah sebuah mahakarya Taijutsu. Tidak ada gerakan yang berlebihan. Tidak ada tenaga yang terbuang percuma.
Dia menggunakan gaya dorong dari serangan musuh untuk menguntungkan dirinya sendiri.
Seorang prajurit menusukkan tombaknya. Madara menepis batang tombak itu, mengarahkannya hingga menembus dada prajurit lain di sebelahnya. Saat prajurit pertama mencoba menarik senjatanya, Madara melangkah maju, meletakkan telapak tangannya tepat di tengah dada prajurit tersebut.
Sebuah ledakan chakra kecil dialirkan melalui telapak tangan Madara, langsung menembus armor logam dan menghancurkan organ dalam prajurit itu. Pria berseragam putih itu terpental mundur belasan meter, menabrak rekan-rekannya yang lain.
Aliran listrik biru dari senjata Germa terus menyambar-nyambar di udara. Beberapa kali ujung tombak itu hampir menyentuh pakaian Madara.
Namun mata Sharingan Madara membaca segalanya. Dia bisa melihat kontraksi otot terkecil dari ratusan prajurit di sekitarnya. Dia bisa memprediksi arah serangan dari titik buta.
Dia menari di antara kilatan petir biru.
Pukulan ke arah rahang bawah untuk merusak otak kecil. Tendangan lurus ke arah tempurung lutut untuk memutuskan mobilitas. Hantaman siku ke arah tulang punggung untuk melumpuhkan seluruh sistem gerak.
Tubuh-tubuh prajurit klon bergelimpangan di atas geladak baja. Suara derak tulang patah dan besi yang penyok menjadi melodi konstan di tengah kabut yang dingin.
Seorang prajurit berhasil mendekat dari arah belakang saat Madara sedang menghancurkan lutut musuh di depannya. Prajurit itu tidak menggunakan tombak, melainkan melingkarkan kedua lengannya ke leher Madara, mencoba menguncinya dalam sebuah kuncian mati.
Prajurit itu tidak peduli jika lengannya akan patah. Dia hanya bertugas menahan target agar rekan-rekannya bisa menusukkan tombak listrik mereka.
Madara tidak panik.
Dia membiarkan prajurit itu memeluk lehernya dari belakang. Detik berikutnya, Madara mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sangat cepat, sambil meraih kedua pergelangan tangan prajurit yang menguncinya.
Menggunakan prinsip tuas dan sedikit chakra, Madara menarik pria itu melewati atas kepalanya, membantingnya dengan keras ke lantai besi tepat di depannya.
Hantaman itu membuat lantai baja penyok. Tulang belakang prajurit itu hancur berantakan.
Lima tombak listrik meluncur lurus ke arah dada Madara pada saat yang bersamaan.
Madara tidak menghindar. Dia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Telapak tangannya dilumuri oleh chakra pelindung yang sangat padat.
Dia menangkap kelima ujung tombak itu dengan tangan kosong.
Aliran listrik biru berkekuatan tinggi langsung menyengat telapak tangan Madara. Suara gemeretak listrik beradu dengan lapisan chakra pelindungnya. Percikan api menyembur liar, menerangi wajah Madara yang dingin dan datar.
Para prajurit mencoba mendorong tombak mereka lebih dalam. Namun senjata mereka tidak bergerak satu milimeter pun. Tenaga kelima manusia buatan itu tidak mampu melawan kekuatan murni seorang Uchiha yang sedang memegang ujung senjata mereka.
Madara menatap prajurit-prajurit berseragam putih yang berada di ujung lain batang tombak tersebut. Mata mereka masih kosong. Tidak ada kelelahan. Tidak ada rasa takut akan kematian.
'Menyedihkan,' batin Madara. Perasaan muak mulai merayap di hatinya.
Dia mengingat kembali sebuah entitas dari masa lalunya yang memiliki karakteristik serupa.
Pasukan Zetsu Putih. Ribuan makhluk biologis buatan yang diciptakan untuk menjadi prajurit tanpa emosi. Mereka tidak mengenal rasa takut. Mereka akan terus menyerang meskipun tubuh mereka terpotong menjadi dua.
Tetapi setidaknya, Zetsu Putih adalah makhluk biologis yang lahir dari akar Pohon Suci. Mereka memiliki kehendak kolektif yang dikendalikan oleh chakra.
Makhluk-makhluk di depannya ini hanyalah manusia biasa yang tubuhnya dipotong-potong dan dijejali oleh besi dan kabel. Pikiran mereka telah dihapus. Mereka tidak bertarung demi keyakinan. Mereka tidak bertarung demi melindungi sesuatu. Mereka hanya bertarung karena kode program di otak mereka memerintahkannya.
Madara mempererat genggamannya pada kelima ujung tombak tersebut.
Dia menarik napas perlahan. Suaranya memecah suara bising dari percikan listrik dan erangan logam yang patah.
“Prajurit tanpa rasa sakit?” ucap Madara. Suaranya bergema dengan nada bariton yang dipenuhi oleh penghinaan mutlak.
Dia memutar kedua pergelangan tangannya. Kelima batang tombak logam itu membengkok seketika akibat gaya putar yang luar biasa besar.
“Tanpa kehendak?” lanjut Madara.
Dia menarik kelima batang tombak itu ke arahnya, membuat kelima prajurit klon yang memegangnya ikut tertarik maju karena kehilangan keseimbangan.
Madara melepaskan genggamannya. Dia melompat ke udara, memutar tubuhnya dalam gerakan horizontal. Kakinya menyapu wajah kelima prajurit itu secara beruntun. Helm besi mereka penyok ke dalam, menghancurkan tulang hidung dan rahang mereka. Kelima prajurit itu terhempas ke belakang, menabrak rekan-rekan mereka bagaikan pin boling yang tersapu bola besi.
Madara mendarat dengan anggun di tengah tumpukan tubuh yang mulai menggunung.
Dia menatap sisa pasukan klon yang masih mencoba merangkak maju. Pemandangan itu benar-benar mengganggu sisi prajurit di dalam jiwanya. Pertarungan seharusnya adalah sebuah seni. Sebuah benturan dua ideologi. Sebuah tarian yang mempertaruhkan nyawa dan kebanggaan.
Bertarung melawan benda-benda ini terasa seperti sedang menghancurkan peralatan dapur.
“Kalian mengingatkanku pada Zetsu Putih,” gumam Madara merendahkan.
Dia melangkah maju, menendang tubuh seorang prajurit yang mencoba menusuk pergelangan kakinya. Tubuh prajurit itu meluncur di atas lantai besi, menabrak dinding kastil dengan keras.
Madara menyilangkan tangannya di belakang punggung. Dia tidak lagi mengambil posisi bertahan. Dia berjalan di tengah-tengah hujan serangan tombak listrik, hanya menggunakan gerakan minimal untuk menghindar.
Setiap kali dia melangkah, dia menendang lutut atau mematahkan leher prajurit yang berdiri di dekatnya. Dia melakukannya dengan sangat santai, seolah sedang menyingkirkan kerikil tajam di jalanannya.
“Tapi kalian lebih menyedihkan,” kata Madara. Suaranya kini terdengar sangat dingin, menyapu seluruh geladak yang dipenuhi oleh kabut tipis dan asap sisa pertarungan.
Dia berhenti melangkah. Ratusan prajurit yang tersisa kembali mengepungnya dalam formasi rapat. Mereka mengarahkan senjata mereka, bersiap untuk menyerang secara serentak.
Madara memejamkan mata sejenak, membiarkan Haki Pengamatannya membaca seluruh posisi musuh.
Dia membuka matanya kembali. Warna merah darah di matanya bersinar semakin terang.
“Kalian lebih menyedihkan karena bersembunyi di balik baju besi mainan ini,” desis Madara penuh penekanan.
Dia melengkungkan punggungnya sedikit, lalu melepaskan sebuah gelombang chakra mentah yang sangat masif dari seluruh pori-pori kulitnya.
Ledakan chakra itu tidak memiliki elemen. Itu adalah murni tekanan energi spiritual dan fisik yang ditembakkan ke segala arah. Gelombang kejut itu menghantam udara, menciptakan pusaran angin badai di tengah geladak.
Ratusan prajurit klon yang mengepungnya terhempas mundur. Eksoskeleton mereka tidak mampu menahan tekanan energi yang menghantam sel-sel tubuh mereka secara langsung.
Mereka terpental ke udara, berhamburan ke segala arah. Ada yang menabrak dinding baja kastil. Ada yang terlempar melewati pagar pembatas dan jatuh ke dalam lautan berkabut di bawah sana. Ada pula yang saling bertabrakan dan jatuh bertumpuk di atas lantai geladak.
Tubuh-tubuh berseragam putih itu bergelimpangan di bawah kaki Madara. Mereka terlihat persis seperti tumpukan boneka porselen yang baru saja dihancurkan oleh palu raksasa.
Beberapa dari mereka masih mencoba bergerak. Tangan-tangan kaku mereka berusaha meraih senjata yang terlepas. Sendi-sendi besi di dalam tubuh mereka berderak patah, mengeluarkan percikan api kecil dari kabel yang terputus. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berdiri kembali.
Madara berdiri di tengah-tengah kehancuran tersebut. Pelindung dada merahnya sama sekali tidak tergores. Napasnya masih teratur, tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun.
Dia menatap ke sekelilingnya dengan wajah tanpa ekspresi.
“Teknologi tanpa jiwa,” ucap Madara sebagai penutup dari tarian kehancurannya.
Dia menginjak kepala seorang prajurit klon yang masih berusaha merangkak ke arahnya. Helm besi prajurit itu retak di bawah sol sandal kayunya, mengakhiri sisa fungsi motorik di tubuh buatan tersebut.
“Adalah sampah tak bercita rasa.”
Keheningan perlahan turun kembali menyelimuti kapal utama Germa 66.
Suara bising dari pertempuran telah digantikan oleh suara rintihan mesin yang rusak dan aliran listrik korslet yang memercik di atas genangan air kabut. Di sekitar Madara, lebih dari dua ratus prajurit elit kerajaan terkapar tidak berdaya.
Seni bertarung murni yang mengandalkan fleksibilitas, insting, dan kendali energi telah membuktikan supremasinya atas teknologi modifikasi genetik yang kaku dan tanpa emosi.
Madara menghela napas pelan. Kebosanan kembali merayap di pikirannya.
Dia pikir kerajaan terapung yang terlihat mengintimidasi ini akan memberikan setidaknya satu atau dua petarung yang bisa membuatnya menikmati sedikit ketegangan. Namun yang dia temukan hanyalah pabrik boneka rusak yang tidak mengerti arti dari pertarungan yang sesungguhnya.
Tiba-tiba, telinga Madara menangkap sebuah suara langkah kaki yang berbeda dari arah balkon di lantai dua kastil besi.
Langkah kaki itu tidak terdengar mekanis. Tidak ada suara gesekan eksoskeleton. Suara itu adalah murni gesekan kain gaun mahal dan pijakan sepatu boots wanita yang halus.
Haki Pengamatannya menangkap keberadaan yang memiliki jiwa. Keberadaan yang memancarkan rasa takjub yang luar biasa dalam. Keberadaan yang jantungnya berdetak dengan cepat, bukan karena mesin, melainkan karena emosi kemanusiaan yang nyata.
Madara mendongakkan kepalanya secara perlahan.
Iris merah Sharingan miliknya menembus kabut tipis di udara, menatap lurus ke arah balkon logam yang menjorok keluar dari bangunan utama kastil.
Di sana, berdiri seorang gadis remaja dengan rambut berwarna merah muda.
Gadis itu berdiri mematung di balik pagar logam. Matanya yang indah terbelalak lebar, menatap lurus ke arah mata merah Madara. Wajah gadis itu merupakan perpaduan antara kengerian yang dalam dan kekaguman yang tidak bisa dia sembunyikan.
Sang Hantu Uchiha menatap balik gadis itu dalam diam.
Bidak catur lain sepertinya telah muncul secara alami di atas papan permainan dunia ini. Sebuah keberadaan yang mungkin memiliki nilai lebih tinggi daripada rongsokan besi yang berserakan di bawah kakinya.