Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Zilia tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru berkeliling menyusuri setiap sudut ruang keluarga yang begitu luas. Sesekali ia menoleh ke arah tangga, lalu ke lorong yang mengarah ke taman belakang.
Gerak-geriknya tak luput dari perhatian Tuan Adrian.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis.
"Kamu sedang mencari seseorang?"
Zilia buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Nggak."
Adrian menggeleng pelan.
"Kamu sedang mencari Rania dan Lora, kan?"
Zilia terdiam.
Meski tidak menjawab, raut wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.
Adrian menghela napas pelan sebelum kembali duduk di sofa.
"Istri Papa sedang berada di Singapura."
Zilia mengernyit.
"Singapura?"
"Iya. Ada urusan bisnis sekaligus menjalani pemeriksaan kesehatan rutin."
"Lalu Lora?"
"Lora ikut bersama mamanya."
Suasana kembali hening.
Zilia tidak tahu mengapa, tetapi ada sedikit rasa lega di dalam hatinya. Setidaknya, ia tidak perlu langsung berhadapan dengan ibu tiri dan adik tirinya di hari pertama kepulangannya.
Melihat perubahan ekspresi putrinya, Adrian tersenyum tipis.
"Kamu lega?"
Zilia menggeleng cepat.
"Nggak."
"Kamu masih belum siap bertemu mereka."
Kali ini Zilia tidak membantah.
Adrian memahami perasaan putrinya.
"Kamu tidak perlu khawatir."
"Maksud Papa?"
"Papa sudah memberi tahu mereka kalau kamu akan pulang."
"Lalu?"
"Mereka juga menunggumu kembali."
Zilia hanya tersenyum hambar.
"Benarkah?"
"Tentu."
Entah mengapa, Zilia sulit mempercayai ucapan itu.
Baginya, rumah ini telah berubah sejak wanita lain menggantikan posisi mendiang ibunya.
Di benaknya, ibu tiri adalah alasan mengapa ia harus tumbuh jauh dari ayah kandungnya.
Seolah dapat membaca isi hati putrinya, Adrian kembali membuka suara.
"Zilia."
"Iya?"
"Jangan langsung menilai mereka sebelum benar-benar mengenalnya."
Zilia menatap ayahnya datar.
"Aku tidak pernah berniat membenci mereka."
"Tapi?"
"Aku hanya... belum siap menerima kenyataan kalau tempat Mama sudah digantikan oleh orang lain."
Kalimat itu membuat Adrian menundukkan kepala.
Ia sadar, luka yang dipendam putrinya selama bertahun-tahun tidak akan sembuh hanya dengan beberapa penjelasan.
Butuh waktu...
Dan ia siap menunggu, selama apa pun itu, demi mendapatkan kembali hati putri sulung yang pernah ia tinggalkan.
Melihat wajah Zilia yang tampak lelah setelah perjalanan panjang, Davin pun berdiri dari duduknya.
"Sudah, Zil. Istirahat dulu saja."
Zilia mengangguk pelan.
"Iya, Kak."
Adrian ikut menatap putrinya.
"Kamarmu masih di lantai dua. Papa sengaja tidak mengubahnya sedikit pun sejak dulu."
Zilia sedikit tertegun mendengar kalimat itu. Namun, ia memilih tidak menanggapi dan perlahan bangkit dari duduknya.
Baru saja melangkah beberapa langkah...
Brrr... Brrr...
Suara ponsel di dalam tasnya tiba-tiba berdering.
Zilia berhenti, lalu buru-buru mengeluarkan ponselnya.
Saat melihat nama yang tertera di layar, kedua matanya langsung berbinar.
Vio
"Wah!"
Senyum yang sejak tadi menghilang kini kembali menghiasi wajahnya.
"Syukurlah..."
Tanpa sadar, bibirnya terus tersenyum sambil menatap layar ponsel.
"Akhirnya kamu nelepon juga."
Tanpa menunggu dering kedua, Zilia langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo, Vio!"
Suara bahagianya terdengar begitu jelas hingga membuat Davin dan Adrian saling berpandangan.
"Iya, ini aku."
Meski suara Vio terdengar sedikit lelah, bagi Zilia itu sudah lebih dari cukup.
"Kamu ke mana aja? Aku dari semalam teleponin kamu terus. Aku sampai khawatir."
"Maaf, Zil. Aku benar-benar sibuk. Ponselku juga ketinggalan di ruang kerja, jadi baru sempat lihat sekarang."
"Huh! Aku kira kamu kenapa-kenapa."
"Maaf ya."
"Nggak boleh ngilang lagi."
"Iya, Bos."
Mendengar jawaban itu, Zilia terkekeh pelan.
"Oke, nanti aku ceritain semuanya. Banyak banget yang mau aku omongin."
"Aku juga."
"Sebentar ya, aku pindah ke kamar dulu."
"Oke."
Zilia menutup mikrofon ponselnya sejenak, lalu menatap Davin dan Adrian.
"Aku... ke kamar dulu."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat menaiki tangga sambil terus menggenggam ponselnya.
Bahkan langkahnya yang semula terasa berat kini berubah menjadi ringan.
Melihat perubahan ekspresi Zilia yang begitu drastis, Davin hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil.
"Kalau sudah ditelepon pacarnya..." gumamnya pelan.
Tuan Adrian yang mendengarnya langsung menoleh.
"Pacarnya?"
Davin sontak menyadari keceplosan.
"Eee... anu..."
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maksudku... mungkin teman dekatnya."
Tatapan Tuan Adrian berubah serius.
Namun ia memilih tidak bertanya lebih jauh.
Sementara itu, di lantai dua, Zilia memasuki kamarnya dengan senyum yang tak kunjung pudar.
Baginya, mendengar suara Vio setelah semalaman menunggu seolah menghapus seluruh rasa lelah dan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi hatinya.
Ia sama sekali belum mengetahui...
bahwa di balik suara lembut lelaki yang sedang mengajaknya berbicara itu, tersimpan sebuah kenyataan yang suatu hari nanti akan menghancurkan hati mereka berdua.
Sesampainya di kamar, Zilia langsung menutup pintu, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil tetap menggenggam ponsel.
"Jadi... kamu sekarang lagi di mana?" tanya Vio dari seberang.
Zilia sempat melirik ke arah pintu kamar.
"Aku lagi di kota."
"Di kota?"
"Iya. Ada sedikit urusan keluarga."
Zilia memilih menghentikan kalimatnya sampai di situ. Ia belum siap menceritakan tentang ayah kandungnya, rumah utama, maupun kehidupannya yang sebenarnya.
"Semoga urusanmu cepat selesai," ucap Vio.
"Aamiin."
Beberapa saat mereka mengobrol tentang keseharian masing-masing. Zilia lebih banyak bertanya tentang pekerjaan Vio, sedangkan Vio menghindari pembahasan mengenai keluarganya.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benak Zilia.
"Vio."
"Hm?"
"Besok... kita ketemu, yuk."
Vio terdiam beberapa detik.
"Boleh."
"Serius?"
"Iya. Kebetulan besok sore aku ada waktu luang."
"Wah, syukurlah."
"Nanti aku kirim lokasi."
"Siap."
Senyum Zilia tak kunjung hilang hingga panggilan itu berakhir.
Keesokan harinya...
Menjelang sore, Zilia sudah tiba lebih dulu di sebuah kafe yang berada di pusat kota.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan kafe.
Vio turun sambil mengenakan kemeja putih sederhana.
Begitu melihat Zilia, langkahnya spontan dipercepat.
"Zil..."
Tanpa berpikir panjang, Vio langsung memeluk gadis itu.
"Aku kangen."
Zilia tersenyum bahagia.
"Aku juga."
Beberapa saat mereka berbincang, menikmati waktu yang terasa begitu singkat. Zilia menceritakan pekerjaannya, sementara Vio hanya mengatakan dirinya sedang sibuk membantu perusahaan keluarga.
Tak sedikit pun ia menyinggung tentang pernikahannya.
Sore mulai berganti senja.
"Aku harus pulang," ucap Vio.
"Iya. Hati-hati."
Vio mengusap lembut kepala Zilia.
"Aku kabari lagi nanti."
Zilia mengangguk sambil tersenyum.
Namun, setelah Vio pergi, entah mengapa muncul rasa penasaran di dalam dirinya.
"Dia buru-buru sekali..."
Tanpa banyak berpikir, Zilia memutuskan mengikuti mobil Vio dari kejauhan.
Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah butik mewah.
Zilia ikut menghentikan taksi yang ditumpanginya.
Dari balik tiang bangunan, ia mengamati Vio yang baru saja turun dari mobil.
Tak lama kemudian, seorang wanita berpenampilan elegan berjalan menghampiri Vio.
Tanpa ragu, wanita itu langsung berdiri tepat di hadapan Vio.
"Aku mencarimu dari tadi."
Vio tampak terkejut.
"Alena, aku cuma ada janji sama teman aku."
Nada suara wanita itu terdengar dingin.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau pergi menemui seorang perempuan?"
Vio menghela napas pelan.
"Itu urusanku."
"Urusanmu?"
Wanita itu tertawa sinis.
"Aku ini istrimu, Vio. Apa salah kalau aku ingin tahu ke mana suamiku pergi?"
Deg!
Tubuh Zilia seolah membeku.
Kedua matanya membelalak.
Tangannya refleks menutup mulut agar tidak sampai mengeluarkan suara.
"Apa...?"
Air matanya mulai menggenang.
"Istri...?"
"Jadi... Vio sudah menikah?"
Dunia seolah berhenti berputar.
Napasnya terasa sesak.
Sementara di kejauhan, Vio dan Alena masih saling berbicara.
Namun, pandangan Zilia mulai kabur oleh air mata.
Saat ia buru-buru mengusap wajahnya...
Keduanya sudah tidak terlihat lagi.
"Vio!"
Zilia berlari ke arah tempat tadi.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap masih bisa menemukan sosok lelaki yang begitu ia cintai.
Namun...
Yang tersisa hanyalah keramaian jalan dan kendaraan yang berlalu-lalang.
Tanpa sadar, air mata Zilia jatuh membasahi pipinya.
Janji yang selama ini ia pegang teguh...
seolah hancur dalam sekejap.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄