Saat bunda kandung dari gadis yang kamu cintai ternyata adalah calon istri papamu yang artinya juga adalah calon mama sambungmu.
Apa yang akhirnya akan kamu lakukan?
Mempertahankan hubunganmu dengan gadis yang kamu cintai dan meminta papamu yang mundur, atau mengalah demi kebahagiaan papamu?
Reza Hutomo akan menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOPDAR, YUK!
Nadya membolak-balik potongan kain daster diatas meja yang berada di dekat meja jahit seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"Cari apa, Nad? Kok belum berangkat?" Tegur Bunda Maya yang baru datang dari arah dapur seraya membawa secangkir kopi yang masih mengepulkan asap di tangannya.
"Senjata Nadya hilang satu, Bund! Yang lengkung nggak ada," jawab Nadya yang masih mencari-cari senjatanya.
Entah senjata apa maksudnya.
"Senjata apa?" Tanya Bunda Maya bingung.
"Penggaris pola, Bund! Ini cuma ada yang siku sama yang lurus. Yang lengkung nggak tahu nyelip dimana," Nadya masih terus mencari.
"Ish! Mana udah siang lagi!" Gerutu Nadya frustasi karena tak kunjung menemukan penggaris polanya.
Bunda Maya segera meletakkan cangkir kopinya dan membantu sang putri mencari penggaris lengkung yang biasa dipakai untuk membuat pola tersebut.
"Makanya, kalau udah selesai dipakai itu disimpan, Nad! Bukan di onggokin!" Bunda Maya memulai ceramahnya.
"Iya, iya! Kemarin kan keburu ngantuk pas bikin pola. Jadi nggak sempat beresin, Bund!" Ujar Nadya memberikan alasan seperti biasa.
"Ini!" Bunda Maya memberikan sebuah penggaris lengkung warna oranye pada sang putri. Rupanya benda yang sejak tadi dicari oleh Nadya tersebut terselip di bawah pijakan kaki mesin jahit. Entah bagaimana ceritanya bisa nyasar ke sana.
"Yes!" Nadya bersorak senang dan segera memasukkan penggarus tersebut ke dalam tas, bersamaan dengan penggaris siku dan lurus.
Tidak sepenuhnya masuk ke dalam tas memang karena separuhnya terpaksa menonjol keluar.
"Kainnya yang mau dipotong udah dibawa juga?" Tanya Bunda Maya mengingatkan.
"Udah, Bundaku Sayang!" Jawab Nadya yang dengan cepat meraih tangan sang bunda lalu mengecupnya.
"Nadya berangkat dulu, Bund! Assalamualaikum!" Pamit Nadya seraya berlalu keluar dari pintu depan.
"Walaikum salam!" Jawab Bunda Maya yang sepertinya tak di dengar oleh Nadya yang sudah berlari cepat ke arah depan gang.
****
^^^Lemper oh lemper^^^
^^^Lemper^^^
^^^Gue jualin aah^^^
^^^Gue jualin^^^
^^^Pagi-pagi ku bangun tuk jualan^^^
^^^Kue yang terbuat dari ketan^^^
^^^Lalu bungkusnya daun pisang^^^
^^^Kukus sampai matang dalam dandang^^^
Lita dan Nadya saling lempar pandang di dalam angkot saat mendengar lagu yang hari ini diputar oleh bang supir. Lagunya berbeda dari lagu yang kemarin di putar.
"Kok kayak kenal sama lagu ini, Nad!" Celetuk Lita yang terlihat sedang mengingat-ingat judul lagu yang kini sedang diputar tersebut.
"Masa? Lagu apa?" Tanya Nadya seraya terkikik.
Gadis itu mengutak-atik ponselnya sembari mendengarkan lagu aneh yang kini menggema di dalam angkot.
^^^Ada yang isi abon ^^^
^^^Ada yang isi ayam^^^
^^^Berbagai macam isi^^^
^^^Tinggal kau pilih ^^^
^^^Kalau kau lagi laper^^^
^^^Belilah ini lemper^^^
^^^Kalau ingin mengorder ^^^
^^^Nanti tinggal dianter^^^
^^^Ni mangap^^^
^^^Ni mangap^^^
^^^Ni mangap^^^
^^^Ngap ngap ngap ngap^^^
Nadya tertawa terbahak-bahak melihat Lita yang mangap-mangap menirukan lagu yang sedang diputar.
"Tunggu-tunggu! Ini lagu salah lirik kayaknya!" Pendapat Lita yang akhirnya berhenti mangap-mangap.
^^^Masih pagi jangan makan burger ^^^
^^^Itu sih nggak sehat dan nggak seger^^^
^^^Mendingan kau beli oh ini lemper ^^^
^^^Beli sebakul dapat skuter. ^^^
"Never oh Never, Nad!" Ucap Lita tiba-tiba seraya menepuk pundak Nadya.
"Apanya yang never oh never?" Tanya Nadya bingung.
"Itu lagunya Never Oh Never punyanya Justien Bieber. Kok bisa berubah jadi Lemper Oh Lemper, sih?" Gerutu Lita seraya mencebik kesal.
"Ya biar ada unsur kearifan lokalnya mungkin, Lit!" Jawab Nadya sekenanya karena gadis itu sedang fokus dengan layar ponselnya.
[Nadya, hari ini ke sekolah, nggak? Aku lagi jogging di sekitaran sekolah kamu. Ketemuan, yuk!] -Eza-
[Eza udah dimana memangnya?] -Nadya
[Udah di depan sekolah dekat halte. Nadya udah masuk ke dalam sekolah, ya?]-Eza-
[Di depan SMAN 4?]-Nadya-
[Iya! Kan sekolah Nadya disitu] -Eza-
Nadya terkikik membaca pesan Eza. Padahal sekolahnya Nadya kan di SMKN 4 bukan di SMAN 4. Gampang aja itu cowok Nadya kibulin.
[Dekat halte, ya? Duduk di sebelah mana?]-Nadya-
[Yang nangkring di atas motor vixion warna merah. Itu Eza] -Eza-
Wow!
Naiknya motor Vixion!
Beneran tajir kayaknya si Eza.
Nadya bergumam dalam hati. Gadis itu lanjut melongok keluar jendela angkot, saat angkot yang dinaiki Nadya dan Lita lewat di depan SMAN 4. Kebetulan ada mobil yang sedang putar balik, jadi angkot berhenti sejenak dan Nadya buru-buru mencari motor Vixion yang terparkir di sekitar halte bus di depan SMAN 4.
Ketemu!
"Lihat apaan, Nad?" Tanya Lita kepo.
"Eza!" Jawab Nadya seraya menunjuk ke arah motor Vixion merah milik Eza.
"Mana, mana?" Lita mencari-cari penasaran.
"Itu yang nangkring di atas Vixion merah!" Jawab Nadya seraya mengetik pesan untuk Eza.
[Yah, aku ada kelas tambahan, Za. Maaf, ya! Belum bisa nemuin kamu] -Nadya-
[Begitu, ya! Sayang sekali!]-Eza-
[Yaudah kapan-kapan aja kita kopdarnya] -Eza-
Nadya menyimpan kembali ponselnya bersamaan dengan angkot yang kembali melaju.
"Kasian banget dia nungguin kamu di depan SMAN 4, Nad! Dasar tukang kibul!" Celetuk Lita seraya berdecak pada Nadya.
"Mukanya nggak terlalu jelas tadi ketutupan pohon. Tapi naiknya Vixion merah. Keren, ya!" Nadya menaik turunkan alisnya ke arah Lita.
"Iya, keren! Dasar matre!" Seloroh Lita bersamaan dengan angkot yang kembali berhebti karena lampu merah di depan.
Sebuah motor Vixion merah berhenti tepat di samping angkot dan tentu saja Nadya masih ingat dengan motor serta helm itu.
Nadya menutup mulutnya dengan telapak tangan dan bertingkah lebay saat menyadari kalau motor yang sedang berhenti di samping angkot adalah motor Eza.
"Kenapa kamu, Nad? Kesambet?" Tanya Lita yang memang duduknya membelakangi jendela angkot.
"Eza!" Nadya menunjuk ke balik punggung Lita.
Dua gadis SMK tersebut langsung mengamati dengan seksama wajah pria berhelm yang sedang bersiul santai menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.
"Tunggu, tunggu! Mukanya kok kayak nggak asing!" Celetuk Lita yang merasa kenal dengan wajah Eza.
"Bukannya itu Mas Res yang di BTC waktu itu, Lit!" Sahut Nadya yang langsung ingat.
"Iya! Itu memang mas Reza, Nad!" Lita akhirnya ikut-ikutan ingat.
Angkot sudah kembali melaju, melewati bundaran lalu berhenti di halte bus yang berjarak beberapa meter dari sekolah Nadya dan Lita.
Dua gadis itu segera turun dari angkot, saat penggaris pola Nadya tersangkut di pintu angkot dan membuat beberapa penumpang yang masih di dalam angkot tertawa.
Lita ikut tertawa atas tingkah konyol Nadya tersebut.
"Ish! Bantuin kenapa, sih, Lit! Malah ngetawain!" Gerutu Nadya yang akhirnya melepaskan tas ranselnya agar tak tersangkut.
"Lah kamu, sekolah bawa-bawa senjata begitu," kikik Lita yang masih belum berhenti tertawa.
"Ketimbang kamu, yang cuma modal pinjam! Dasar Si Lit!" Nadya kembali memanggil Lita dengan panggilan menyebalkan itu.
Lita hanya berdecak sambil menoyor kepala Nadya meskipun meleset.
"Jadi Eza itu Mas Reza penjual kain, Nad?" Lita kembali membahas tentang Eza yang naik Vixion merah tadi.
"Entahlah!" Nadya mengendikkan kedua bahunya.
"Mujur kamu, Nad kalau benar! Bisa dapat kain gratis terus! Pacaran gih sama Eza, biar aku kecipratan diskon kain!" Tutur Lita memberikan ide pada Nadya.
"Ya kalau toko kain itu punya Mas Reza! Kalau Mas Reza cuma karyawan bagaimana mau kasih diskon, Lit? Yang ada Mas Reza dipecat nanti!" Sahut Nadya seraya bersungut-sungut.
"Iya, juga, ya!" Lita hanya manggut-manggut dan dua gadis itu mempercepat langkah mereka ke arah sekolah sebelum gerbang ditutup.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
jiwa bar² mu hilang sudah beda sama Reza ya 😅😅
mungkin karena sifat kalian sama
sebab sy dulu gak dilamar, mas bojo datang ujuk ujuk ngajak nikah...?????
kamarnya cuma via telepon yongalahhhhhhh.....
heheeeee tp Alhamdulillah udah 8th lewat membina rumah tangga... mudah mudahan hingga akhir nafasku 🖤
aku juga pernah begitu dulu salah nomer....
lebih tepatnya sengaja ngacak nomer... terus nyambung ke nomer lelaki ya huhhuuuuyyyyy...🤭🤭🤭🤭
kalo novel yg semalam saling berhubungan, rajut merajut, kadang Ampe lupa...
yg ini anak sapa😁😁😁😁
"kadang malah bisa muter balik, flashback ke novel yg udah finis"
ahhh ..segitu gak ada kerjaan nya diriku???