Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTOLONGAN YANG TIDAK DIMINTA
Aku tidak pernah membayangkan akan berada di dalam mobil seorang pria yang baru kukenal kemarin malam, terlebih ketika pria itu mengatakan bahwa seseorang sedang mengincar keluargaku.
Jujur saja, aku masih sulit mempercayai semua ini.
Aku duduk di kursi penumpang sebuah mobil mewah berwarna hitam, sementara Dominic Lorenzo Imanuel duduk di sampingku dengan ekspresi yang begitu tenang. Seolah-olah kejadian barusan hanyalah bagian kecil dari rutinitas hariannya.
Berbeda dengannya, telapak tanganku mulai berkeringat.
“Can you please explain what's happening?” tanyaku akhirnya.
Dominic tidak langsung menjawab. Ia sibuk memperhatikan jalan melalui kaca depan, sesekali melirik kaca spion.
“Someone has been watching your family for the past few days.”
Aku menoleh cepat.
“What? Why didn't my father tell me?”
“Maybe because he doesn't want you to panic.”
Aku tertawa hambar.
“Oh, great. So everyone knows what's happening except me?”
Dominic melirikku sekilas.
“Calm down, Isabella.”
“Don't tell me to calm down! You just dragged me into your car, told me someone was following me, and now you expect me to sit here quietly?”
Rahangnya mengeras.
“I didn't drag you anywhere. You got into my car because you saw that suspicious vehicle.”
Aku terdiam.
Sial. Dia benar.
Namun, aku tidak akan mengakuinya begitu saja.
“Whatever. You still owe me an explanation.”
Dominic menyandarkan punggungnya.
“And you'll get one.”
“Now?”
“When we're somewhere safe.”
Aku memutar bola mata.
“Unbelievable.”
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
“You talk a lot when you're nervous.”
Aku langsung menoleh tajam.
“Excuse me?”
“You heard me.”
“I'm not nervous.”
“Of course, sweetheart.”
Aku hampir melempar tas kecilku ke wajahnya.
“Don't call me sweetheart!”
Dominic justru terkekeh pelan.
Untuk pria yang katanya ditakuti banyak orang, dia benar-benar memiliki kebiasaan menyebalkan. Dia seolah menikmati setiap kali aku kehilangan kesabaran.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil memasuki sebuah bangunan parkir bawah tanah milik hotel mewah. Dua pria berpakaian hitam segera menghampiri kendaraan kami.
Salah satunya membuka pintu untuk Dominic.
“Good afternoon, sir.”
Dominic turun tanpa menjawab panjang.
“Any updates?”
“No suspicious movements inside the building, sir. The security team is already in position.”
“Good. Double the security around the entrance.”
“Yes, sir.”
Aku turun dengan sedikit ragu. Mataku mengamati kedua pria itu, kemudian kembali menatap Dominic.
“Who are they?”
“My security team.”
“Do you always travel with bodyguards?”
“Usually.”
Aku menghela napas.
“Must be exhausting.”
Dominic menatapku sambil merapikan jam tangan di pergelangan tangannya.
“Being alive is more important than being comfortable, Isabella.”
Aku tidak menjawab.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu terdengar seperti sesuatu yang berasal dari pengalaman buruk.
Dia kemudian mengulurkan tangannya.
Aku menatap tangan itu dengan curiga.
“What?”
“Come with me.”
“I have legs. I can walk by myself.”
Dominic menghela napas pendek.
“God, you're stubborn.”
“And you're annoying.”
Salah satu pengawalnya tampak menahan senyum. Namun, ketika Dominic meliriknya, pria itu langsung kembali memasang wajah serius.
Aku hampir tertawa melihatnya.
Ternyata, bahkan anak buahnya pun takut pada tatapan pria itu.
Kami memasuki sebuah ruangan privat di lantai atas hotel. Interiornya didominasi warna hitam dan emas, dengan sofa kulit, meja marmer, serta jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Madrid.
Dominic melepaskan jasnya dan meletakkannya di sandaran sofa.
“Sit down.”
Aku berdiri diam.
“I'm not your employee, Dominic.”
Dia menoleh.
“I know.”
“Then stop giving me orders.”
Dominic mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
“Fine. Would you like to sit down, Miss Laurent?”
Aku tersenyum puas.
“Much better.”
Aku duduk di sofa, menyilangkan kaki, lalu memperhatikan pria itu ketika menuangkan segelas air.
Dia meletakkan gelas di hadapanku.
“Drink.”
Aku menatapnya.
Dominic terdiam beberapa detik.
“Please,” tambahnya.
Aku mengambil gelas tersebut.
“See? It's not that difficult to be polite.”
Dia hanya menggelengkan kepala kecil.
Setelah duduk di hadapanku, Dominic mengambil sebuah tablet dari meja dan memperlihatkan beberapa foto.
Aku mendekatkan wajah.
Mataku membesar ketika melihat foto rumah keluargaku dari sudut yang berbeda. Ada pula foto ayah saat keluar dari gedung perusahaan, bahkan foto diriku ketika sedang berjalan menuju sebuah restoran beberapa hari lalu.
“Where did you get these?”
“My people found them.”
“Someone has been following me?”
“Yes.”
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
“Since when?”
“Three days ago.”
Aku meletakkan gelas dengan tangan sedikit gemetar.
“Three days?”
Dominic mengangguk.
“Someone has been monitoring your movements. We don't know their exact intentions yet.”
Aku menatap foto-foto itu sekali lagi.
Selama tiga hari terakhir, aku menjalani kehidupanku seperti biasa. Pergi bekerja, bertemu teman, mengunjungi restoran, dan pulang ke rumah.
Sementara itu, seseorang ternyata mengawasiku.
“Why me?” tanyaku lirih.
Dominic memperhatikan wajahku.
“That's what we're trying to find out.”
Aku menatapnya dengan penuh kecurigaan.
“Wait a minute. How do you know all of this? Why are your people investigating my family?”
Dia tidak langsung menjawab.
Aku menyipitkan mata.
“Dominic?”
Dia meletakkan tablet di atas meja.
“Because I have information that could help protect your family.”
“That doesn't answer my question.”
Tatapannya bertemu dengan mataku.
“Not everything is safe for you to know right now.”
Aku langsung berdiri.
“Oh, absolutely not!”
Dominic mengangkat wajahnya.
“Isabella.”
“No! You don't get to decide what I should or shouldn't know about my own family!”
Aku menunjuk foto-foto di atas meja.
“Those are pictures of me! Someone has been watching me for three days, and you expect me to trust you just because you say you can protect me?”
Dominic ikut berdiri.
“I'm not asking you to trust me.”
“Then what do you want?”
Dia terdiam sesaat sebelum menjawab.
“I want you to stay alive.”
Aku membeku.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara di antara kami.
Tiba-tiba, ponsel Dominic bergetar.
Dia mengangkat panggilan tersebut.
“Speak.”
Aku memperhatikan perubahan ekspresinya. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah dingin.
“What do you mean the security footage is missing?”
Jeda.
“Find out who accessed the system. I want a name before tonight.”
Dia mengakhiri panggilan dengan kasar.
Aku menatapnya.
“Something happened?”
Dominic memasukkan ponselnya ke saku.
“Someone accessed the surveillance system around your office.”
Aku terbelalak.
“What?”
“Stay here.”
Dia berjalan menuju pintu.
Namun, aku segera mengikutinya.
“Where are you going?”
“To handle something.”
“I'm coming with you.”
Dia berhenti dan menoleh.
“No.”
Aku mengangkat alis.
“Excuse me?”
“You're staying here.”
“Dominic, I'm not a child!”
“And I'm not interested in arguing with you right now.”
Aku melipat tangan di depan dada.
“Then don't argue. Just explain.”
Dia mengembuskan napas panjang, tampak berusaha menahan kesabarannya.
“Listen carefully, Isabella. There are people out there who won't hesitate to hurt you just to get what they want. I don't know who they are yet, and I won't take unnecessary risks.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat kemarahan yang berbeda dalam dirinya. Bukan kemarahan karena aku membantah, melainkan sesuatu yang tampak jauh lebih serius.
Aku akhirnya mengangguk kecil.
“Fine. But I want to call my father.”
“Of course.”
Dominic memberikan ponselnya kepadaku karena ponselku tertinggal di mobil.
Aku segera menghubungi ayah.
Panggilan tersambung setelah beberapa kali nada dering.
“Isabella? Where are you? I've been trying to reach you!”
“I'm okay, Dad.”
“Where are you?”
Aku melirik Dominic.
“I'm with Dominic Imanuel.”
Hening.
Lalu suara ayah terdengar jauh lebih serius.
“Isabella, listen to me. Don't leave wherever you are. I'll come to get you.”
Aku mengerutkan kening.
“Dad, what's going on? Do you know something?”
Namun, ayah tidak menjawab pertanyaanku.
“Just stay there, sweetheart. Please.”
Panggilan terputus.
Aku menatap layar ponsel dengan kebingungan.
Mengapa ayah terdengar begitu ketakutan?
Aku mengangkat wajah dan mendapati Dominic sedang memperhatikanku.
“Your father knows more than he's telling you,” katanya.
Aku mengangguk perlahan.
“I think so too.”
Dominic mendekat, lalu mengambil kembali ponselnya.
“Get some rest. Your father will be here soon.”
Aku menatapnya beberapa saat.
“Dominic?”
“Yes?”
Aku menggigit bibir bawah sebelum akhirnya bertanya.
“Why are you helping me?”
Dia tidak langsung menjawab.
Matanya menatapku cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
Kemudian, dia tersenyum tipis.
“Maybe I have my reasons.”
Aku mengernyit.
“That's not an answer.”
“It's the only one I can give you right now.”
Aku menghela napas kesal.
“You're impossible.”
“And yet, here you are.”
Aku mendengus.
“Don't flatter yourself.”
Dominic tertawa kecil sebelum akhirnya berjalan menuju pintu.
Namun, tepat ketika tangannya menyentuh gagang pintu, dia berhenti.
“Oh, and Isabella?”
Aku menoleh.
“What?”
“Next time you see someone following you, don't confront them yourself.”
Aku mengangkat dagu.
“I can take care of myself.”
Dia menatapku dengan ekspresi serius.
“I don't doubt that. But courage and recklessness are two different things.”
Setelah mengatakan itu, dia keluar dari ruangan.
Aku menjatuhkan tubuh ke sofa dan mengusap wajah dengan kedua tangan.
Hari ini benar-benar gila.
Aku bertemu pria menyebalkan, mengetahui bahwa seseorang sedang mengawasiku, dan sekarang harus menunggu ayah datang menjemputku.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih mengganggu pikiranku.
Mengapa Dominic Lorenzo Imanuel begitu peduli kepadaku?
Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu ruangan terbuka.
Aku mengangkat wajah dan melihat ayah berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat tegang, tetapi sedikit kelegaan muncul ketika melihatku baik-baik saja.
“Isabella!”
“Ayah!”
Aku segera menghampirinya dan memeluknya.
Ayah mengusap rambutku.
“Are you alright, sweetheart?”
“I'm fine. But I need an explanation.”
Ayah melepaskan pelukannya dan melirik ke arah Dominic yang baru saja masuk kembali ke ruangan.
Keduanya saling bertukar pandang.
Ada sesuatu yang tidak kumengerti dari tatapan mereka.
Seperti dua orang yang telah mengetahui rahasia besar dan sedang berusaha memutuskan siapa yang harus mengungkapkannya terlebih dahulu.
“What's going on between you two?” tanyaku.
Dominic memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Mr. Laurent, I think it's time we talked.”
Ayah mengangguk pelan.
“I agree.”
Aku memandang mereka bergantian.
“Can someone please tell me what's happening?”
Ayah menghela napas panjang.
Kemudian, dia menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Isabella, ada sesuatu tentang keluarga kita yang belum pernah Ayah ceritakan kepadamu.”
Jantungku berdetak semakin cepat.
“Apa maksud Ayah?”
Ayah menoleh kepada Dominic.
“Tell her.”
Dominic menatapku.
Tatapan elangnya terasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
Lalu dia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat seluruh tubuhku membeku.
“Your family has been involved in a dangerous agreement for years, Isabella. And now, someone is coming to collect what they believe belongs to them.”
Aku menatap ayah dengan mata berkaca-kaca.
“Dad... is that true?”
Namun, ayah hanya menundukkan kepalanya.
Dan dari keheningan itu, aku mendapatkan jawaban yang paling tidak ingin kudengar.
Selama ini, keluargaku menyimpan rahasia. Dan sekarang, rahasia itu mulai mengejarku.
Bersambung ke Bab 4 — Nama yang Ditakuti Dunia.
jangan lupa mampir kakk..🤭