Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Putus Pertemanan
Pertanyaan Karina menggantung, tetapi pilihan Anindya sudah terlihat dari tangan yang tidak ia lepaskan.
Arya hendak terus berjalan. Anindya justru berhenti.
Ia berbalik, masih menggenggam tangan suaminya.
"Iya," jawabnya. "Aku memilih Mas Arya."
Karina membeku di samping meja. Sherly pun tak segera bicara. Mereka mungkin menduga Anindya akan menghindar demi menjaga citra pertemanan lama.
"Lo serius?" suara Karina turun satu nada. "Lo kenal gue bertahun-tahun. Dia baru tinggal sama lo beberapa hari."
"Aku mengenalnya lebih lama daripada yang kamu kira."
Kalimat itu hampir membuka rahasia. Anindya berhenti sebelum terlambat.
Karina melangkah mendekat. "Nin, jangan bodoh. Arya itu suami pinjaman. Begitu dua bulan selesai, dia kembali ke gue. Lo dapat warisan. Gue dapat uang. Semua orang untung."
"Kamu masih tidak mengerti." Anindya melepaskan tangan Arya hanya untuk mengambil ponsel. "Mas Arya bukan barang. Kamu tidak bisa menentukan siapa yang memilikinya setelah kontrak selesai."
"Gue istrinya tiga tahun!"
"Mantan istri."
Dua kata itu membuat wajah Karina menegang.
Anindya membuka aplikasi perbankan. "Kamu ingin membicarakan uang? Baik. Aku akan menyelesaikannya sekarang."
Arya menoleh. "Kamu mau membayar sisa empat ratus juta?"
"Iya."
"Dia sudah melanggar kesepakatan."
"Aku tahu. Tim hukum bisa menahannya. Tapi selama uang itu belum selesai, Karina akan terus memakai kontrak sebagai alasan untuk masuk ke hidup kita. Aku lebih memilih membayar harga terakhir untuk menutup pintu."
Karina mendengar kata membayar dan langsung mendekat. "Transfer sekarang."
"Ada syarat penutup." Anindya menampilkan dokumen satu halaman yang sudah disiapkan tim hukumnya. "Pembayaran Rp 400 juta dianggap penyelesaian penuh. Kamu melepaskan semua klaim terhadap sisa Rp 1 miliar milik Arya, tidak lagi menjadi pihak pelaksana, dan semua komunikasi sesudah ini hanya melalui pengacara jika ada sengketa."
"Kenapa harus tanda tangan lagi?"
"Karena aku tidak akan memberimu ruang untuk memutar cerita nanti."
Sherly membaca layar dari samping. "Kalau nggak tanda tangan, uangnya nggak cair?"
"Benar."
Karina menggigit bibir. Empat ratus juta jauh lebih kecil daripada Rp 1,4 miliar yang ia bayangkan, tetapi tetap cukup besar untuk menutup sebagian tagihan dan perjalanan yang telanjur dipesan.
"Kirim dokumennya," katanya.
Anindya mengirim tautan tanda tangan digital yang identitasnya diverifikasi melalui nomor dan data perjanjian awal. Karina membacanya kali ini. Setiap kalimat membuat wajahnya semakin buruk.
"Pasal ini bilang gue tidak boleh menghubungi Arya?"
"Bukan begitu. Kamu boleh berkomunikasi melalui jalur resmi untuk hasil pemeriksaan anak atau perkara nyata. Kamu tidak boleh memakai kontrak untuk mengatur kehidupan pribadinya."
"Kalau dia berubah pikiran dan mau rujuk?"
Arya menjawab sendiri, "Tidak akan."
Karina menatapnya tajam. "Gue nggak tanya lo."
"Hidupku yang sedang kamu bicarakan."
Sejumlah pengunjung mulai mengangkat ponsel. Petugas keamanan Vila masuk satu langkah, tetapi Anindya memberi isyarat bahwa situasi masih terkendali.
Karina akhirnya menandatangani.
Anindya memeriksa verifikasi, lalu memasukkan nominal transfer. Sebelum menekan konfirmasi, ia memandang mantan sahabatnya.
"Setelah ini, hubungan kita selesai. Bukan cuma kontrak. Pertemanan kita juga."
Mata Karina melebar. "Lo memutus pertemanan karena laki-laki?"
"Aku memutusnya karena kamu menipu suamimu, menjualnya, lalu berusaha mengambil bagian uangnya. Setelah gagal, kamu memakai kehamilan dan ayahmu yang sakit untuk memaksanya kembali."
"Lo nggak tahu masalah rumah tangga kami."
"Aku tahu cukup banyak. Aku tahu Mas Arya menyerahkan gaji, mengurus rumah, dan kehilangan dirinya. Aku juga tahu kamu tidak menyesal ketika menerima enam ratus juta."
Karina mengangkat dagu. "Jadi selama ini lo pura-pura jadi teman gue sambil mengincar suami gue?"
Anindya menahan napas. Tuduhan itu menyentuh bagian yang paling ia takuti.
Arya melangkah setengah langkah ke depan. "Jangan pindahkan kesalahanmu. Anindya tidak memaksamu mengajukan cerai. Dia juga tidak menyembunyikan pasal uang. Kamu yang memilih tanda tangan karena melihat dua miliar."
"Mas selalu membelanya sekarang."
"Karena dia tidak memperlakukanku seperti barang."
Anindya menatap Arya. Kecemasan di matanya surut.
Ia menekan konfirmasi.
Ponsel Karina berbunyi.
Rp 400.000.000 masuk ke rekeningnya.
"Pembayaran selesai," kata Anindya. "Mulai sekarang, jangan hubungi kami kecuali melalui jalur yang sudah disepakati."
Karina menatap saldo. Total satu miliar yang diterimanya seharusnya membuatnya senang. Namun angka itu kini tampak seperti harga untuk kehilangan Arya, Anindya, dan sisa martabatnya di depan seluruh kafe.
"Gue nggak butuh pertemanan lo," desisnya. "Setelah warisan itu selesai, lo juga akan bosan sama dia."
Anindya kembali menggenggam tangan Arya. "Itu urusan rumah tangga kami."
Mereka berjalan menuju pintu.
Sherly menahan Karina yang hendak mengejar. "Rin, cukup. Orang-orang merekam."
"Biar!" Karina menepis tangannya. "Gue yang dikhianati!"
Seorang perempuan di meja dekat pintu berbisik kepada temannya, "Bukannya dia sendiri yang minta cerai karena uang?"
Karina mendengarnya. Wajahnya memerah sampai ke leher.
Di dalam Lamborghini, Anindya tidak langsung menyalakan sabuk pengaman. Tangannya masih gemetar setelah memutus hubungan yang dibangun bertahun-tahun.
Arya menunggu sampai pintu tertutup, lalu bertanya, "Kamu menyesal?"
"Sedih sedikit," jawab Anindya jujur. "Tapi tidak menyesal. Pertemanan yang mengharuskan aku membenarkan semua kesalahannya bukan pertemanan."
"Empat ratus juta untuk menutup pintu cukup mahal."
"Lebih murah daripada membiarkan dia punya alasan mengganggu kita dua bulan penuh."
"Uang satu miliar yang dicadangkan untukku, kembalikan ke rekeningmu."
Anindya menoleh tajam. "Tidak. Itu hak Mas Arya dalam kontrak."
"Aku sudah punya kartu sepuluh miliar."
"Itu hadiah dari istri. Yang satu ini kompensasi karena mantan istri menjadikanmu objek perjanjian. Berbeda pos."
Arya tidak mampu menandingi logika pembukuan perasaannya.
Ia menyalakan mesin. "Baik. Tapi uang itu tidak akan kupakai sembarangan."
"Gunakan untuk sesuatu yang membuatmu berdiri dengan namamu sendiri."
Arya memandangnya. Anindya tidak sekadar memberinya kekayaan. Ia terus mendorongnya untuk memiliki tujuan.
"Aku masih menyimpan salinan proyek dari kantor lama," kata Arya setelah hening beberapa saat. "Bukan data rahasia. Hanya rancangan, catatan revisi, dan bukti bagian yang kukerjakan. Kalau kususun menjadi portofolio, mungkin aku bisa mulai lagi."
Mata Anindya yang tadi redup langsung hidup. "Mulailah. Modalnya boleh dari kompensasi itu, tapi keputusan tetap milik Mas Arya."
"Kamu tidak mau mengaturnya?"
"Aku mau jadi istri, bukan pemilik baru yang menggantikan Karina."
Kalimat sederhana itu membuat dada Arya terasa hangat. Selama bertahun-tahun, setiap pilihannya selalu diukur dari manfaat bagi orang lain. Baru kali ini seseorang memberinya bantuan sambil tetap mengembalikan harga dirinya.
Arya mengangguk mantap. "Kalau begitu, aku akan membuat uang itu menjadi awal, bukan hadiah penghibur."
"Nah, begitu baru suamiku."
Anindya baru sadar pada kata terakhirnya. Ia cepat-cepat memalingkan wajah ke jendela, sedangkan sudut bibir Arya terangkat tanpa bisa dicegah.
Di kafe, Karina menatap pintu yang sudah kosong, lalu hasil pemeriksaan kehamilan yang kusut di meja.
Uang perjalanan sudah jauh lebih sedikit daripada mimpinya.
Persahabatannya berakhir.
Arya tetap pergi.
Karina menekan telapak pada perutnya dan berbisik, "Nggak apa-apa. Selama ada kamu, dia nggak bisa benar-benar lepas."
Itulah satu-satunya harapan yang masih ia miliki.
Dan harapan itu berdiri di atas kebohongan.