NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Darah yang Kutolak

Damon

Aku tiba di rumah Dominic untuk makan malam sialan itu, yang sebenarnya bisa saja kutolak. Tapi di sinilah aku.

Lauren yang membukakan pintu dan, seperti biasa, menyambutku dengan pelukan hangat. Si kecil ada di gendongannya dan begitu melihatku, dia mengulurkan tangan mungilnya ke arahku.

Aku langsung mundur selangkah.

"Aku nggak pandai dengan anak kecil."

Lauren hanya tersenyum, seakan sudah menduganya.

"Om Damon masih perlu waktu, sayang."

Gadis kecil itu terus menatapku, rupanya tak mengerti kenapa aku menolak pendekatan sepolos itu. Aku tak bisa menyalahkannya. Aku sendiri tak bisa menjelaskannya dengan baik.

Aku masuk dan mendapati Dominic berjalan ke arahku. Dia melirik botol di tanganku dan merebutnya tanpa basa-basi.

"Ruang anggurku berterima kasih."

"Kamu mengundangku makan malam, bukan untuk mengisi ruang anggurmu."

"Tapi kamu tetap bawa anggur."

"Itu kesalahan penilaian."

Dominic tertawa dan pergi menyimpan botolnya. Lauren menemani kami beberapa detik lagi, tapi segera menjauh bersama si bayi, meninggalkan kami berdua.

Begitu dia menghilang di koridor, ekspresi Dominic berubah total.

"Presiden Ricardo akan tiba beberapa menit lagi."

Senyum tipis muncul di wajahku.

Jadi itu alasan dia bersikeras membawaku ke sini.

Dominic tahu kisahku. Dia tahu persis arti hubungan antara orang-orang tertentu dan organisasi yang bertahun-tahun kucoba jauhkan dari hidupku. Dia juga tahu obsesiku pada keadilan, dan tahu aku tak bisa begitu saja mengabaikan apa yang kuanggap salah.

Ricardo bukan sekadar presiden.

Dia punya hubungan dengan Cosa Nostra dan, untuk melengkapi gambarannya, menikah dengan salah satu pewaris keluarga Lombardi.

Kombinasi yang dengan sendirinya sudah cukup membangkitkan perhatianku.

Dominic mengenalnya sejak kuliah. Sementara aku mengenal nama belakang yang menyertai pria yang sebentar lagi masuk lewat pintu itu.

Dan itu mengubah segalanya.

"Jadi akhirnya kamu mau cerita kenapa makan malam ini benar-benar ada," kataku.

Dominic menatapku dengan senyum puas.

"Sudah kuduga kamu bakal sadar."

"Dominic, aku hakim. Menyadari hal-hal itu bagian dari pekerjaanku."

"Dan mencurigai semua orang juga?"

"Terutama itu."

Dia tertawa, sementara aku melepas jas dan menyampirkannya di lenganku.

Dominic bicara lagi, dengan nada tenang yang biasa dia pakai kalau tahu sebentar lagi akan membuatku jengkel.

"Lauren dekat sekali dengan istri Ricardo. Dialah yang akhirnya mengatur makan malam ini."

Aku menyipitkan mata.

Jadi begitu.

Dominic tidak membawaku ke sini hanya karena persahabatan atau makan malam antarteman.

"Presiden itu orang baik, Damon. Mungkin dengan mengenalnya, kamu bisa melihat keluargamu dengan cara yang berbeda."

Aku langsung menggeleng.

"Aku bukan bagian dari keluarga kriminal, Dominic."

Jawabanku keluar tegas, tanpa ruang untuk berdebat.

Dia mengamatiku beberapa detik, seakan sudah menanti persis reaksi itu.

Lalu aku sadar.

Makan malam ini direncanakan.

Dominic mencoba mengubah pikiranku. Mungkin dia ingin aku mengenal Ricardo, berbincang dengannya, melihat pria di balik jabatan itu, dan dengan cara tertentu menerima hubungan yang seumur hidup kutolak.

Hanya ada satu masalah.

Aku tidak menginginkan hubungan itu.

Sebelum sempat berkata apa pun, aku menangkap gerakan di luar.

Mobil-mobil berhenti di depan rumah. Suara-suara bercampur di balik pintu, dan beberapa menit kemudian Dominic mendekat untuk menyambut mereka.

Pintu terbuka.

Ricardo masuk lebih dulu.

Di sisinya berdiri sang istri, jelas sedang hamil, menggendong seorang bayi.

Mataku menyapu ketiganya dengan cepat.

Sang presiden tersenyum pada Dominic, menyapa Lauren, lalu matanya bertemu mataku.

Beberapa detik, tak ada yang bicara.

Aku diam, mengamati pria yang sampai belum lama ini hanya kukenal lewat dokumen, berita, dan hubungan yang lebih kupilih tak kutelaah.

Kini dia ada di hadapanku.

Dan aku menyadari mungkin Dominic merencanakan jauh lebih banyak dari sekadar makan malam.

Makan malam ini baru saja jadi jauh lebih menarik.

Ricardo mendekat dan menyalamiku dengan genggaman mantap.

"Damon. Senang akhirnya bisa bertemu."

"Pak Presiden."

Istrinya menyusul. Dia tersenyum sopan dan mengulurkan tangan padaku.

"Senang bertemu Anda, Damon."

"Sama-sama."

Tapi berbeda dari suaminya, dia tak mengalihkan matanya setelah berjabat tangan.

Dia memandangku terlalu lama.

Ada sesuatu dalam tatapan itu yang tak bisa kukenali. Rasa ingin tahu, mungkin. Atau sekadar pengetahuan seseorang yang tahu persis siapa yang berdiri di hadapannya.

Aku tak berkomentar.

Dominic menuntun kami ke ruang makan dan semua duduk. Tak lama, hidangan mulai disajikan dan obrolan mengalir ke topik-topik yang tampaknya tak berbahaya.

Sampai mereka mulai membicarakan proyek sosial.

Ricardo bercerita tentang lembaga-lembaga yang menerima dukungan dana, investasi di komunitas miskin, rumah sakit, dan proyek untuk anak-anak. Istrinya melengkapi beberapa informasi, bicara bersemangat soal orang-orang yang terbantu.

Aku mendengarkan dalam diam.

Semakin mereka bicara, semakin jelas tujuan sebenarnya dari makan malam ini.

Mereka ingin meyakinkanku.

Mereka ingin aku melihat Cosa Nostra dari sudut lain. Agar aku melihat karya, donasi, dan lembaga-lembaga itu lebih dulu daripada asal-usul uangnya.

Aku tertawa pelan, tak percaya.

Semua menatapku.

"Ada apa?" tanya Dominic.

Kuletakkan alat makanku di piring dan menatap ketiganya.

"Proyek dan kebajikan yang dibayar dengan darah."

Senyum Ricardo lenyap.

"Damon..."

"Uang dari perdagangan narkoba, senjata, dan kejahatan lain. Kalian bisa membangun rumah sakit, membiayai sekolah, memberi makan seluruh komunitas. Tak satu pun mengubah asal uang itu."

Tak ada yang menjawab.

"Tidak ada amal yang bisa menghapus darah dari tangan orang yang menumpahkannya," lanjutku.

"Dan aku tak akan berpura-pura ada, hanya karena sebagian orang diuntungkan."

Kesunyian yang jatuh di meja itu menegaskan bahwa pembicaraan sudah berakhir.

Bagiku, setidaknya.

Aku berdiri.

"Terima kasih atas makan malamnya, tapi aku sudah dengar cukup."

Dominic tampak hendak bicara, tapi aku tak memberinya ruang.

Aku bangkit dan menuju pintu keluar.

Aku nyaris sampai di pintu ketika kudengar suara di belakangku.

"Selamat malam, Om."

Aku berhenti.

Sesaat, kukira aku salah dengar.

Lalu aku berbalik.

Istri sang presiden tersenyum sinis.

Bella Lombardi.

"Selamat malam, Ibu Negara."

Aku berbalik dan pergi, meninggalkan mereka semua di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!