**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Fitnah Atas Namaku
Udara malam di halaman wisma lebih dingin daripada yang Kirana duga.
Ia berhenti di bawah lampu dekat teras. Dari jendela depan, Bu Marni masih bisa melihat mereka. Bagas memilih bangku semen yang paling dekat dengan pintu, lalu menunggu Kirana duduk lebih dulu.
Permen jahe tetap berada di genggaman Kirana.
"Tadi kamu bilang akan mencari orang yang pertama membawa cerita itu," ucapnya. "Berarti kamu tahu apa yang sebenarnya disebarkan."
Bagas mengeluarkan ponsel. "Aku tahu sebagian."
Ia membuka folder berisi beberapa tangkapan layar. Kirana melihat sebuah surel tanpa foto pengirim, potongan pesan yang diteruskan, serta dokumen satu halaman dengan namanya tertulis di bagian bawah.
Nama itu dieja dengan benar.
Namun kalimat-kalimat di dalamnya bukan miliknya.
"Ini dikirim seminggu setelah proses cerai kita dimulai," kata Bagas. "Masuk ke bagian administrasi kesatuan dan diteruskan ke beberapa grup keluarga."
Kirana memperbesar layar. Isi surat menuduh Bagas menikahi putri Prawira demi uang, mempermalukan istrinya, dan menggunakan seragam untuk menekan keluarga kaya. Di bagian lain, pengirim mengutip kalimat tentang prajurit kampung yang tidak memahami dunia Kirana.
Napas Kirana tertahan.
"Kalimat terakhir itu mirip dengan ucapanku," katanya. "Tapi paragraf lainnya tidak pernah kukatakan."
"Mirip atau sama?"
"Mirip. Aku bilang kita berasal dari dunia berbeda. Aku juga pernah bilang kamu terlalu keras kepala untuk memahami hidupku." Kirana menelan rasa malu. "Aku tidak bangga pernah mengatakannya. Tapi aku tidak pernah menulis semua ini."
Bagas menggeser layar ke gambar berikutnya. "Alamat pengirim memakai nama depanmu dan angka tahun lahir. Setelah dikirim, akunnya ditutup."
"Aku bahkan tidak tahu alamat surel bagian administrasi kesatuanmu."
"Keluargamu pernah mengurus dokumen akad melalui penghubung."
"Melati yang menjadi penghubung."
Keduanya diam.
Suara sepeda motor melintas di jalan depan, lalu menghilang. Cahaya lampu membuat wajah Bagas tampak lebih keras.
"Saat surat itu datang, aku baru kembali ke Magelang untuk menyelesaikan berkas perceraian," katanya. "Hanya beberapa orang yang tahu aku sudah tiba di kesatuan."
"Aku tidak tahu." Kirana menatapnya lurus. "Setelah meminta cerai, aku tinggal di Surabaya. Mama mengurus utang, aku mengurus sisa aset. Aku tidak tahu kapan kamu berangkat, di mana kamu tinggal, atau siapa atasanmu."
"Kenapa kamu tidak bilang sedetail itu waktu Gunawan menyinggung suratnya?"
"Karena kalian sudah melihatku seperti terdakwa sejak di gerbang." Suara Kirana meninggi, lalu ia segera menurunkannya ketika Bu Marni melirik dari jendela. "Aku baru menempuh perjalanan panjang dan baru tahu aku hamil. Menurutmu aku bisa menyusun pembelaan seperti di ruang sidang?"
Bagas mengusap rahang. "Tidak."
"Selain itu, kamu tidak percaya kepadaku."
"Saat itu aku tidak tahu siapa yang harus kupercaya."
"Sekarang?"
Pertanyaan itu membuat tangan Bagas berhenti.
Ia menatap dokumen palsu di layar, lalu wajah Kirana. Perempuan di hadapannya mengakui kata-kata buruk yang memang pernah ia ucapkan. Ia tidak mencoba membersihkan diri dengan menyangkal semuanya. Justru perbedaan kecil yang ia jelaskan cocok dengan ingatan Bagas.
Surat itu meniru luka yang nyata, kemudian membungkusnya dengan kebohongan.
"Sekarang aku percaya surat ini bukan buatanmu," jawab Bagas.
Kirana menunduk. Dada yang sejak sore seperti diikat perlahan mendapat ruang untuk bernapas.
"Dan aku percaya kamu tidak menyebarkan pertengkaran kita," katanya.
Itu bukan permintaan maaf yang indah. Namun Bagas mengerti.
"Bagus. Berarti kita berhenti saling menuduh."
"Aku tadi bertanya."
"Dengan wajah seperti mau menghukum orang."
"Aku sedang marah."
"Aku juga."
Untuk sesaat, keduanya hampir tersenyum. Lalu Bagas membuka gambar terakhir dan suasana kembali berat.
"Masalahnya bukan cuma gosip," katanya. "Pengaduan ini tersimpan dalam catatan administrasi. Pemeriksaan pertama tidak menemukan pelanggaran, jadi perkara ditutup. Tapi kalau muncul tuduhan baru, orang bisa menganggap ada pola masalah keluarga."
"Seleksimu."
Bagas mengangguk. "Bramantyo sudah memperingatkan agar aku tidak memberi siapa pun alasan untuk mencoret namaku."
"Apakah surat ini bisa membuatmu gagal?"
"Bukan secara otomatis. Tapi penilai melihat disiplin, stabilitas, dan kemampuan menjaga tanggung jawab. Satu fitnah mungkin bisa dibantah. Kalau ada serangan kedua yang tampak berhubungan, orang yang ingin menjatuhkanku mendapat bahan."
"Kalau begitu kita minta salinan aslinya, bukan hanya tangkapan layar."
Bagas menatap Kirana, sedikit terkejut oleh perubahan kata ganti itu.
Kita.
"Bagian administrasi masih menyimpan surel masuk," katanya. "Aku bisa meminta akses melalui Bramantyo, tapi harus ada alasan resmi."
"Gunakan pernyataanku. Aku bersedia menulis bahwa alamat itu bukan milikku dan meminta pemeriksaan jejak pengirim."
"Jangan tanda tangan apa pun sebelum kita baca bersama."
"Aku tidak sebodoh itu."
"Aku tidak bilang kamu bodoh. Aku bilang jangan terburu-buru. Orang yang membuat ini tahu cara memakai dokumen keluarga."
Kirana memandangi tanggal pada layar. "Kalau alamat, waktu pengiriman, dan perangkat asal masih tercatat, kebohongan ini punya bekas."
"Belum tentu mudah ditemukan. Tapi ada tempat untuk mulai."
Untuk pertama kalinya, surat itu tidak terasa seperti bayangan tanpa bentuk. Ia telah menjadi benda yang bisa diminta salinannya, dibandingkan tanggalnya, dan ditelusuri jalurnya. Kirana masih takut, tetapi ketakutannya kini memiliki arah.
"Maaf aku mencurigaimu," katanya pelan.
Bagas memasukkan ponsel ke saku. "Aku juga terlalu lama membiarkan surat itu berdiri di antara kita tanpa memeriksanya sampai tuntas."
Kirana memikirkan akun anonim yang akhir-akhir ini membicarakan Prawira. Ia juga teringat pujian orang-orang kepada Melati. Perempuan itu memperoleh rumah nyaman, nama keluarga Adiningrat, dan citra sebagai orang yang berani membongkar kesalahan keluarganya sendiri.
Siapa yang paling diuntungkan saat Kirana tampak kejam dan Bagas tampak sebagai korban yang memalukan?
"Waktu kamu menemui Melati, apa yang dia katakan?" tanyanya.
"Dia mengaku tidak tahu soal pengaduan."
"Kamu percaya?"
"Tidak sepenuhnya. Karena itu aku meminta dokumen penghubung keluarga dan surel administrasi. Besok seharusnya dia menyerahkannya di kantor layanan."
Kirana mengangkat kepala. "Seharusnya?"
"Dia membatalkan pagi tadi. Katanya sakit."
"Melati jarang melewatkan kesempatan tampil sebagai orang paling membantu."
"Aku tahu."
"Dia juga tahu cara menulis seolah menjadi aku." Kirana meremas bungkus permen di tangannya. "Dulu banyak surat keluarga dan pesan perjodohanku melewati dia. Kalau aku sedang belajar atau menemani Papa, Melati yang membalas pertanyaan kecil atas namaku."
Bagas menoleh tajam. "Termasuk surat kepada keluarga Adiningrat?"
"Sebagian. Aku baru menyadari belakangan bahwa ada jawaban yang tidak kuingat pernah kubuat."
Informasi itu seperti kunci yang masuk ke lubang yang selama ini gelap. Bagas teringat alamat korespondensi Melati di dokumen lama, pesan anonim tentang kamar 207, dan tatapan perempuan itu ketika diminta berhenti memakai nama Kirana.
Belum ada bukti yang cukup untuk menuduh. Tapi arah jejaknya tidak lagi menyebar ke mana-mana.
"Kamu benar-benar tidak pernah mengirim surat ini?" tanya Bagas sekali lagi.
Kirana menggeleng. "Tidak pernah."
Di bawah lampu teras, keduanya memikirkan nama yang sama.
Melati.