NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Dimulainya Persaingan Tiga Bulan

​Suara dentang lonceng besar bergema megah di seluruh kawasan Sekte Awan Surgawi.

​Wang Dahu yang baru saja merapikan jubahnya segera melangkah keluar kamar, bergabung dengan gelombang murid luar yang bergerak menuju alun-alun utama.

​Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu: pertemuan perdana sekaligus pengarahan resmi bagi seluruh murid luar angkatan baru.

​Begitu tiba di lokasi, ratusan pemuda sebaya tampak telah berbaris memenuhi pelataran luas. Sebagian besar saling berbisik membicarakan masa depan mereka di sekte, sementara yang lain menatap takjub ke arah panggung tinggi di hadapan alun-alun.

​Dahu memilih mengambil posisi tenang di barisan paling belakang.

​Tak berselang lama, para Tetua dan instruktur agung melangkah naik ke atas panggung. Seketika, suasana alun-alun yang riuh mendadak sunyi senyap.

​Seorang Tetua berpenampilan wibawa berjubah putih maju ke depan membentangkan gulungan pengumuman.

​“Selamat datang di Sekte Awan Surgawi. Kalian telah sukses melewati saringan maut di Lembah Ujian dan resmi berstatus sebagai murid luar. Namun ingat, jangan cepat berpuas diri. Posisi ini bukanlah puncak pencapaian kalian.”

​Tatapannya menyapu tajam ke arah ratusan pasang mata di bawah.

​“Tiga bulan dari sekarang, sekte akan menggelar seleksi terbuka untuk menentukan siapa saja yang layak ditarik naik tingkat menjadi murid dalam!”

​Seketika, gumaman riuh membahana di antara kerumunan peserta.

​Ada binar ambisi yang menyala terang di mata sebagian besar murid, namun tak sedikit pula yang memasang raut wajah tegang menyadari betapa ketatnya standar sekte besar.

​Tetua itu mengangkat tangannya, meminta keheningan kembali.

​“Selama masa tiga bulan ini, kalian akan digembleng lewat program pelatihan dan sistem misi lapangan. Penilaian akhir tidak cuma bertumpu pada besarnya cadangan energi spiritual, melainkan juga ketajaman taktik, kapabilitas bertarung, serta kontribusi nyata kalian bagi sekte.”

​Seorang instruktur berbadan tegap maju menggantikan posisi sang Tetua untuk menjelaskan rincian jadwal.

​“Dengar baik-baik susunan program kita!” seru Instruktur itu tegas.

 ​Bulan Pertama: Fokus penuh menempa teknik dasar hingga tingkat menengah. Kalian akan dilatih bela diri tangan kosong, penguasaan senjata, ilmu pergerakan, teknik pertahanan, dan optimalisasi sirkulasi Qi.

 ​Bulan Kedua: Kalian mulai diterjunkan menjalankan misi lapangan di luar wilayah sekte. Setiap misi memiliki tingkat bahaya dan perolehan poin kontribusi yang berbeda-beda.

 ​Bulan Ketiga: Skala misi akan ditingkatkan ke tingkat ekstrem. Di penghujung bulan ketiga, para murid luar peringkat teratas wajib menghadapi ujian pembuktian langsung melawan para murid dalam!

​Mendengar agenda terakhir, alun-alun kembali gempar.

​“Melawan murid dalam? Bukankah jurang perbedaan kekuatan kita sangat jauh?”

“Kalau bisa mengalahkan murid dalam, itu artinya kita benar-benar diakui setara dengan para jenius senior!”

​Instruktur melambaikan tangan memberi isyarat agar mereka tenang. “Jangan lekas besar kepala! Murid dalam telah digembleng lewat tempaan bertahun-tahun. Kalian tidak akan bisa merebut posisi itu hanya mengandalkan keberuntungan bodoh.”

​Ia lantas menunjuk ke arah sebuah papan batu hitam raksasa yang berdiri di sisi alun-alun.

​“Seluruh perolehan poin misi kalian akan terekam secara otomatis di Papan Peringkat Murid Luar. Semakin tinggi poin yang kalian kumpulkan, semakin tinggi pula posisi kalian. Murid di jajaran teratas berhak mendapat limpahan hadiah pil eksklusif serta perhatian langsung dari para Tetua!”

​Dahu menatap lekat-lekat ke arah papan peringkat tersebut. Sistem misi, ya... Sepertinya itu kesempatan emas untuk mendulang sumber daya tanpa harus mencolok.

​Ia melirik sekilas ke sistem papan itu dengan ketertarikan tersembunyi. Selain mempercepat kemajuan kultivasi, misi luar sekte akan memberikannya kebebasan menjelajahi peta wilayah sekaligus memburu material herbal langka untuk keperluan alkimia.

​Di dalam kesadarannya, si iblis mendengus. “Cih! Ujung-ujungnya kau pasti sibuk mencari jalan pintas untuk memperkuat diri.”

​Dahu membalas santai via batin, “Ilmu tanpa praktik di dunia nyata tidak akan ada gunanya.”

​“Setidaknya otakmu masih lurus.”

​Di tengah kerumunan yang mulai merapikan barisan, sudut mata Dahu tanpa sengaja menangkap sosok yang memancarkan kebencian di sisi kanan lapangan.

​Zhou Tianhe.

​Pemuda sombong itu berdiri bersama beberapa pengikut setianya. Sisa-sisa luka lebam dan goresan akibat hajaran Dahu di Lembah Ujian masih jelas membekas di wajahnya.

​Begitu pandangan mereka beradu, raut wajah Zhou Tianhe seketika mengeras mengerikan. Kepalan tangannya bergetar hebat menahan amarah yang membuncah.

​Wang Dahu keparat! maki Zhou Tianhe dalam hati.

​Rasa malu luar biasa karena pernah dipermalukan di depan umum masih mengakar kuat di dadanya. Ia tak menyangka pemuda desa yang dulu dipandangnya sebelah mata itu kini berdiri di tempat yang sama dengannya.

​Pengikut di sampingnya berbisik pelan, “Tuan Muda Zhou, apakah keparat itu masih membuatmu kesal?”

​Zhou Tianhe melirik tajam. “Menurutmu sendiri bagaimana?!”

​“Kalau begitu, mau kita beri pelajaran seusai latihan nanti?”

​Zhou Tianhe mendesis dingin. “Jangan jadi bodoh! Kita sekarang berada di bawah pengawasan langsung para instruktur sekte. Kalau berulah gegabah, kita sendiri yang bakal diusir keluar.”

​Ia kembali melotot tajam ke arah Dahu. Tunggu tanggal mainnya. Aku pasti akan menemukan celah untuk meremukkanmu.

​Dahu mendapati tatapan penuh dendam itu, namun ia sekadar meliriknya sedetik, lalu mengalihkan muka seolah-olah Zhou Tianhe hanyalah butiran debu yang tak bernilai.

​Sesi pengarahan rampung. Seluruh murid luar digiring menuju lapangan latihan terbuka yang luas.

​Instruktur bertubuh tegap tadi—yang memperkenalkan diri sebagai Instruktur Luo—berdiri di barisan paling depan dengan postur gagah.

​“Dengar! Selama bulan pertama ini, akulah yang akan bertanggung jawab mengawasi perkembangan fisik dan teknik dasar kalian!” teriak Instruktur Luo menggelegar.

​Ia memperagakan sebuah kuda-kuda dasar. “Fondasi terpenting dalam bela diri adalah keseimbangan gravitasi tubuh dan sirkulasi tenaga. Kalian wajib menguasai pijakan kaki sebelum belajar melayangkan pukulan maut!”

​Instruktur Luo mempraktikkan rangkaian gerakan langkah kaki yang luwes, lalu memerintahkan ratusan murid untuk menirukannya secara serentak.

​Dahu mengikuti instruksi tersebut dengan tenang tanpa mencolok. Gerakannya terlihat stabil dan presisi. Sebenarnya, seluruh variasi teknik dasar dan menengah itu sudah ia bedah habis-habisan di perpustakaan, namun ia tetap memilih bersikap sewajarnya seperti murid pemula pada umumnya.

​Sesi latihan berlanjut ke teknik tangkisan, pukul-memukul, hingga penyaluran Qi ke kepalan tangan.

​Instruktur Luo mondar-mandir mengoreksi gerak-gerik murid yang masih kaku. “Jangan cuma mengandalkan otot mentah! Konsentrasikan alurnya ke titik pusat dantian kalian!”

​Latihan intensif itu memakan waktu hingga matahari condong ke barat.

​Sebagian besar murid tampak kelelahan hebat. Banyak di antara mereka yang terduduk lemas di tanah sambil terengah-engah mengatur napas.

​Dahu pun tampak berkeringat, namun ritme pernapasannya tetap terjaga stabil dan terkontrol dengan sempurna.

​“Cukup! Latihan hari ini selesai. Besok pagi kalian wajib hadir tepat waktu!” seru Instruktur Luo membubarkan barisan.

​Dahu mengangguk kecil, lalu berbalik melangkah pulang menuju kompleks asrama murid luar.

​Malam hari menjelang.

​Usai membersihkan diri dan mengisi perut, Dahu kembali duduk bersila di atas ranjang kayunya, bersiap memulai ritual meditasi malam.

​Suara si iblis mendadak mencuat di dalam batinnya. “Sejujurnya, kau buang-buang waktu ikut latihan dasar membosankan tadi. Semua gerakan itu sudah di luar kepala berkat tumpukan buku yang kau telan.”

​Dahu memejamkan matanya tenang. “Aku tahu. Tapi tampil membaur di antara yang lain adalah cara terbaik untuk tidak mencuri perhatian para petinggi terlalu cepat.”

​“Terserah apa katamu.”

​Dahu mulai memusatkan kesadarannya. Ia memandu sirkulasi energi spiritual berputar di dalam jalur meridiannya.

​Qi alam meresap lembut masuk ke pori-porinya, mengalir selaras dengan fondasi Ranah Pembukaan Meridian tingkat pertama yang baru saja ia raih beberapa hari lalu. Ia tidak berniat terburu-buru mendobrak batasan ranah lagi; baginya, mematangkan fondasi dan memperkuat kendali jauh lebih esensial ketimbang sekadar mengejar angka tingkat kultivasi yang tinggi.

​Di dalam alam kesadarannya, sang iblis mengawasi dari balik terali besi dengan tatapan setengah takjub dan setengah jengkel. Pemuda ini benar-benar memiliki disiplin besi yang mengerikan.

​“Manusia aneh...” gumam si iblis lirih.

​Sesaat kemudian, sebuah rune kuno di permukaan gerbang hitam kembali berkedip samar, seakan merespons stabilitas energi Dahu. Namun sekali lagi, pendar itu lenyap begitu cepat sebelum sempat dianalisis.

​Dahu tidak ambil pusing. Seluruh atensinya terpusat pada aliran energi di tubuhnya.

​Di luar kamar, malam kian larut dalam keheningan.

​Sementara di tempat lain, Zhou Tianhe masih merencanakan siasat licik di dalam tidurnya. Persaingan sengit selama tiga bulan ke depan demi tiket menuju gerbang murid dalam kini resmi ditabuh!

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!