**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Rujuk yang Tertunda
"Kedua janin tumbuh sesuai usia."
Kirana baru berani bernapas setelah dr. Suherman mengucapkan kalimat itu.
Di layar USG, dua bentuk kecil terlihat lebih jelas daripada dua minggu lalu. Bagas berdiri di samping ranjang pemeriksaan dengan buku catatan terbuka. Ia sudah menulis tekanan darah Kirana, berat badan, jadwal vitamin, dan pertanyaan tentang rasa nyeri ringan yang sesekali muncul.
"Nyeri singkat tanpa perdarahan bisa terjadi saat rahim menyesuaikan," jelas dokter. "Tapi kalau menetap, makin kuat, atau disertai darah, langsung datang."
Bagas menulis sampai kata terakhir.
"Pak," kata Kirana, "dokternya belum selesai bicara. Jangan menggores kertas seperti sedang mengejar tersangka."
dr. Suherman tersenyum. "Biarkan. Setidaknya ada yang mengingat instruksi saya."
"Dia mengingat semuanya, lalu mengulangnya kepadaku lima kali."
"Karena kamu suka bilang baik-baik saja."
"Karena memang baik-baik saja."
"Lihat?" Bagas menatap dokter. "Begini setiap hari."
"Saya dokter kandungan, bukan penengah rumah tangga," jawab dr. Suherman. "Kalian selesaikan sendiri."
Kirana tertawa kecil. Dua minggu lalu ruang pemeriksaan ini dipenuhi kecurigaan. Hari ini perdebatan mereka terdengar seperti sesuatu yang biasa.
Setelah pemeriksaan, Bagas menyerahkan kotak sarapan. Ada nasi lembut, telur matang, dan potongan buah.
Gunawan yang menunggu di dekat pintu klinik bersiul. "Mas sekarang bawa bekal lebih rapi daripada istri saya."
"Jangan menyeret Bu Yanti," kata Bagas.
"Saya cuma kagum. Dulu makan sendiri saja kadang lupa."
Kirana membuka kotak. "Dia masih lupa. Bedanya sekarang dia mengingat makananku."
Gunawan menepuk bahu Bagas. "Sudah selesai, Mas. Rahasiamu terbongkar."
Bagas menyikut tangannya menjauh. "Kenapa kamu ke sini?"
Wajah Gunawan langsung serius. Ia mengangkat map cokelat. "Salinan surel asli dan catatan penerusan. Saya juga membawa surat keterangan dari admin grup. Belum cukup untuk menuduh siapa pun, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa Mbak Kirana bukan pengirim langsung."
"Simpan di tempat aman," kata Kirana. "Kita lihat setelah dari KUA."
Hari itu mereka membawa semua berkas yang diminta. Akta cerai asli berada dalam map bening, bersama salinan putusan, KTP, kartu keluarga, surat pengantar kelurahan, dan keterangan kehamilan dari klinik.
Petugas KUA memeriksa satu per satu. Ia mencocokkan nama, tanggal, jenis talak, serta catatan keadaan Kirana.
"Dokumennya secara awal sesuai," katanya. "Talak pertama. Masa iddah Ibu masih berlangsung karena kehamilan. Apakah kalian datang tanpa paksaan?"
"Ya," jawab Bagas.
Petugas menatap Kirana, bukan Bagas. "Saya perlu mendengar jawaban Ibu sendiri."
Kirana meletakkan kedua tangan di atas pangkuan. Jantungnya berdebar lebih cepat daripada saat pertama datang meminta Bagas bertanggung jawab.
Kini ia tidak sedang berdiri di gerbang tanpa tempat pulang. Ia sudah tahu Bagas akan mengakui anak-anak mereka sekalipun ia menolak rujuk. Keputusan ini bukan lagi satu-satunya pintu agar bisa bertahan hidup.
"Saya datang atas kemauan saya sendiri," jawabnya. "Saya ingin rujuk, tapi saya juga ingin seluruh catatan kami ditulis sesuai fakta."
Bagas menoleh. Tatapannya menetap di wajah Kirana.
Petugas mengangguk. "Baik. Setelah pemeriksaan akhir, ikrar rujuk dapat dilakukan dan dicatat. Bacalah semua sebelum menandatangani."
Harapan yang tipis tetapi nyata tumbuh di dada Kirana. Mungkin sebentar lagi ia tidak perlu lagi menjelaskan status mereka dengan kalimat panjang. Mungkin rumah kecil yang dijanjikan Bagas benar-benar akan memiliki pintu untuk mereka berdua.
Ponsel Bagas berdering.
Nama Bramantyo muncul di layar.
Bagas hendak mematikannya, tetapi panggilan kedua segera masuk. Seorang atasan tidak akan menelepon berulang saat tahu ia sedang mengurus izin keluarga tanpa alasan penting.
"Saya izin menjawab," kata Bagas kepada petugas.
Ia berdiri dan berjalan dua langkah ke sisi ruangan.
"Siap, Pak."
Suara Bramantyo terdengar cukup keras hingga Kirana menangkap beberapa kata.
"Kembali ke kesatuan sekarang. Ada masalah soal seleksimu. Panitia menerima pengaduan baru pagi ini."
Wajah Bagas berubah.
"Atas nama siapa?"
"Kirana Ayu Prawira."
Pada saat yang sama, ponsel Kirana bergetar. Pesan Gunawan masuk dengan tautan dan peringatan singkat.
`Jangan teruskan ke siapa pun. Materi baru beredar di beberapa grup. Simpan untuk bukti.`
Kirana membuka tautan itu.
Sebuah akun tanpa foto mengunggah pengakuan panjang atas namanya. Isinya menuduh Bagas memaksa mantan istri yang sedang hamil untuk kembali demi menyelamatkan karier. Bagas disebut menyembunyikan masalah keluarga, memakai kedudukannya untuk menekan pengelola wisma, dan membawa Kirana ke KUA tanpa persetujuan bebas.
Di bawah tulisan itu ada foto mereka memasuki kantor KUA pagi tadi.
Foto tersebut diambil dari seberang jalan, kurang dari satu jam sebelumnya.
Jari Kirana menjadi dingin.
"Mereka mengikuti kita."
Bagas menutup panggilan. "Apa?"
Kirana menyerahkan ponsel.
Rahang Bagas mengeras saat membaca. Pengaduan lama menggunakan luka dari masa lalu. Yang baru menyerang apa yang sedang mereka bangun hari ini.
Petugas KUA menunggu dengan tenang. "Apakah ada keadaan yang perlu kalian selesaikan lebih dulu?"
Bagas menatap dokumen di meja. Tinggal beberapa tahap pemeriksaan dan ikrar. Namun bila ia bertahan di sana sementara Bramantyo memanggil, serangan itu bisa dianggap lebih penting daripada perintah dinas. Jika pergi tanpa menjelaskan kepada Kirana, ia mengulang kebiasaan lama mengambil keputusan sendiri.
"Aku harus kembali ke kesatuan," katanya. "Tapi keputusan ada pada kita berdua. Kalau kamu ingin prosesnya diteruskan hari ini, aku minta waktu kepada Bramantyo."
Kirana menatap foto di layar. Orang yang memotret menunggu mereka mendekati rujuk, lalu memukul tepat sebelum ikrar.
"Kita tunda," ujarnya.
Mata Bagas menyipit. "Karena takut pada tulisan ini?"
"Bukan." Kirana menutup tautan. "Karena aku tidak mau rujuk kita selesai dalam keadaan kamu dituduh memaksaku. Aku akan datang ke kesatuan dan menyatakan sendiri bahwa tulisan ini palsu. Setelah itu kita kembali dengan kepala tegak."
Petugas mengangguk. "Itu pilihan kalian. Berkas konsultasi tetap kami simpan sesuai prosedur. Buat jadwal baru setelah siap."
"Apakah kantor memiliki kamera yang mengarah ke pintu depan?" tanya Kirana.
"Ada."
"Tolong jangan hapus rekaman pagi ini. Foto kami diambil dari seberang jalan. Mungkin kendaraannya terlihat."
Petugas memanggil rekan untuk mencatat permintaan penyimpanan rekaman. Ia tidak menjanjikan isi yang belum dilihat, hanya memastikan rekaman tidak tertimpa jadwal penghapusan rutin.
Bagas menatap Kirana. Beberapa minggu lalu perempuan itu datang tanpa rencana selain meminta perlindungan. Sekarang, bahkan ketika diserang tepat di depan meja rujuk, ia menjadi orang pertama yang melihat bukti baru.
"Kamu kembali ke wisma," katanya. "Aku dan Gunawan yang ke kesatuan."
"Tulisan itu memakai namaku. Pernyataanku dibutuhkan."
"Kamu baru kontrol dan dokter menyuruh jangan stres."
"Dokter juga tidak menyuruhku membiarkan orang lain berbicara atas namaku."
"Kirana."
"Aku ikut sampai ruang administrasi. Setelah memberi keterangan, aku pulang. Bu Marni bisa menemaniku kalau aturan meminta pendamping."
Bagas ingin menolak. Namun ia teringat janjinya untuk tidak lagi memutuskan semuanya sendiri.
"Baik," katanya akhirnya. "Kita jemput Bu Marni."
Mereka keluar dari KUA membawa map yang belum bertambah Akta Rujuk. Langit siang cerah, tetapi halaman terasa berbeda dari saat mereka datang.
Gunawan sudah menunggu di dekat gerbang dengan wajah tegang.
"Pak Bram membekukan penilaian administrasi Mas untuk sementara," katanya. "Bukan mencoret. Panitia meminta klarifikasi sebelum melanjutkan."
"Sumber unggahan?" tanya Bagas.
"Akun baru. Tapi orang yang pertama menyebarkan tautannya sama dengan salah satu penerima awal surel lama. Dia mengaku mendapat pesan dari seseorang di lingkaran keluarga Adiningrat."
"Mau bersaksi?"
"Belum. Dia takut terseret."
"Jangan tekan," kata Kirana. "Minta dia menyimpan ponsel dan pesan asli. Kalau kita membuatnya takut, dia akan menghapus semuanya."
Gunawan mengangguk. "Saya coba lewat admin grup."
Bagas menelepon Bramantyo kembali. "Pak, Kirana ada bersama saya. Dia bersedia memberi pernyataan bahwa unggahan itu bukan miliknya."
"Jangan bawa warga sipil masuk ke ruang panitia," jawab Bramantyo. "Temui petugas administrasi di ruang tamu dinas. Minta Bu Marni atau perempuan pendamping ikut. Semua keterangan dibuat tertulis dan sukarela."
"Siap."
"Dan dengar. Penilaianmu ditahan agar panitia tidak mengambil keputusan dari cerita sepihak. Itu bukan hukuman. Jangan bertindak seolah kariermu sudah selesai lalu membuat kesalahan baru."
Bagas melihat Kirana. "Dimengerti."
Setelah panggilan berakhir, Kirana mengulurkan tangan. "Aku ingin membaca unggahan lengkapnya sebelum menulis pernyataan."
Gunawan menyerahkan salinan cetak yang masih berada di dalam map. Kirana membaca setiap tuduhan tanpa melewati satu baris pun. Di tepi kertas ia memberi tanda pada bagian yang bisa dibantah dengan catatan wisma, izin kunjungan, dan kehadiran petugas KUA.
"Di sini tertulis Bagas masuk paksa ke kamarku," katanya. "Bu Marni bisa menjelaskan bahwa dia yang membuka dengan kunci cadangan dan tetap berada di dalam."
"Bagian ini bilang Mas Bagas menyembunyikan status kehamilan dari atasan," tambah Gunawan.
"Laporan keluarga saya sudah diserahkan sebelum materi ini terbit," jawab Bagas. "Bramantyo punya tanggal penerimaan."
Kirana menunjuk foto di depan KUA. "Dan tuduhan bahwa aku dibawa tanpa setuju bertentangan dengan jawaban yang baru saja kuberikan langsung kepada petugas. Minta catatan konsultasinya dipertahankan."
Untuk pertama kalinya, serangan baru itu tidak hanya berisi rasa sakit. Setiap kebohongan memiliki fakta pembanding, saksi, atau catatan waktu. Mereka belum memegang nama pelaku, tetapi kini tidak lagi bertarung dengan tangan kosong.
Bagas membuka map cokelat. Pengaduan lama, surat admin, catatan waktu, dan unggahan baru kini berada dalam satu jalur. Serangan kedua memang mengguncang seleksi, tetapi pelakunya juga meninggalkan lebih banyak jejak.
Saat menutup map, tangan Bagas tanpa sadar menekan saku dalam tempat gelang bayi disimpan. Kirana melihat gerakan itu. Pertanyaan tentang nama Rangga kembali berdenyut, bersamaan dengan nama keluarga yang muncul di ujung jalur fitnah.
Adiningrat.
Namun bukan saatnya membuka dua perang sekaligus.
Kirana meletakkan tangan di perutnya yang belum terlihat membesar. Ia menatap Bagas, lalu Gunawan.
"Kita tidak akan kalah."