Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
beberapa hari berlalu, arus sudah tak terlihat lagi setelah aksi lamarannya terakhir kali.
Seperti rutinitas biasa, Alya mengajar anak anak TK.
deg ...
Alya terdiam, saat sedang mengajak anak anak main ke luar ruangan.
Sepasang matanya menangkap seorang gadis cantik yang berjalan dengan Bagas.
Paras gadis itu sungguh cantik dengan kulit putih, dan ini di dukung oleh wajah yang terlihat polos dan lembut.
"Laras." batin Alya.
"ada apa ly..."tanya seseorang.
Alya berbalik, melihat sahabat satu kelasnya sudah berdiri bingung menatapnya.
"suci... sejak kapan kamu di sini...?"
"sudah dari 5 menit yang lalu, kamu di panggil panggil gak nyaut"
"emang lagi mikirin apa si.." lanjut suci.
Alya menggeleng...
"Enggak, cuma agak capek aja" alasannya.
Suci mengajak Alya duduk di kursi yang telah di sediakan.
"eh ly, kamu tau gak. Ku denger ada guru baru, katanya si dari kota."
Alya hanya mengangguk....
"kamu tau...?" terkejut suci.
Pasalnya guru baru itu baru datang hari ini, itupun dia datang saat Alya sedang mengajar.
"tadi, aku lihat guru barunya di antar sama Bagas" jawab Alya.
Mendengar ini suci langsung tersenyum ke arah Alya.
"jangan jangan gara gara ini kamu sampai melamun.... cemburu ya...." ungkap suci sambil menaikan kedua alisnya.
"apaan si, lagian aku sebentar lagi udah mau nikah. Buat apa aku cemburu sama Bagas, toh dia bukan siapa siapa aku"
suci menggeleng sambil menggoyangkan ujung jarinya.
"gak usah bohong, dari jaman sekolah aku paling tau kalok kamu Sukak banget sama Bagas. lagian apa kamu yakin sama arus...?"
"yakin lah, kenapa enggak."
"ly.... Bukannya aku mau ikut campur, tapi coba pikir pikir lagi. kemarin aja waktu aku nganter ibukku ke pasar aku ngeliat arus sama 2 cowok bertato keliling pasar, aku curiga dia malak pedagang di sana. Jujur aku gak tega kalok kamu nikah sama cowok gak baik"
"udahlah, lagian aku udah yakin mau nikah sama arus"
setelah mengatakan itu Alya berdiri, ia berjalan ke arah kantornya.
"ly tunggu" suci menyusul.
Bruk....
Tak sengaja suci menabrak Alya yang tiba tiba berhenti.
"apaan si ly, kenapa tiba tiba berhenti.." ungkap suci sambil memegang keningnya.
Saat menatap ke depan, ia melihat Laras sudah tersenyum ke arah mereka.
"eh kamu guru baru ya..." tanya suci dengan ramah..
"ia, baru tadi masuk. Maaf kalok boleh tau kakak ini siapa namanya.."
Laras mengulurkan tangannya, suci yang terbilang ekstrover langsung menyatu tangan Laras.
"aku suci, panggil nama aja. Kayaknya kita seumuran."
lagi lagi Laras tersenyum ramah...
"aku Laras, oh ia kalok kakak yang ini namanya siapa..?"
kali ini Laras mengajukan tangannya ke arah Alya.
Melihat temannya yang hanya diam, suci langsung mengikutinya sedikit.
Aw....
"Apaan si ci."
"kamu ngapain diem, lihat Laras ngajak kenalan".
Alya mengalihkan pandangan ke arah Laras, saat menatap wajah Laras ini.
Kenangan kenangan dalam mimpi tentang wanita ini langsung terlintas di benak Alya.
Namun walau begitu, dia masih menyambar tangan Laras.
"Alya"
"Alya....? Oh jadi kakak ini yang di ceritain sama guru guru lain".
"emang apa kata guru guru lain" tanya suci antusias.
"katanya ada salah satu guru yang ramah, cantik, baik pula"
"hahaha... Bener si apa kata guru lain, cuma dia agak pendiem sama orang yang baru di kenal, jadi maklumi aja" lagi lagi suci yang menjawab.
"ya udah kalok gitu, maaf ya aku agak buru buru" pamit Laras.
Setelah pamit Laras meninggalkan alya dan putri begitu saja..
"put kamu kenapa...?" tanya suci yang melihat wajah sahabatnya sudah penuh keringat dan sedikit pucat.
"enggak, kayaknya aku gak enak badan." jawab Alya.
"ya udah, apa mau ku anter ku puskesmas aja...?"
Alya menggeleng....
"gak usah, istirahat sebentar paling juga sembuh"
"kamu yakin."
"aku yakin.."
"ya udah kalok gitu, biar ku anter ke ruangan mu aja."
di perjalanan, Alya melihat Bagas sekilas..
Alya melihat tatapan Bagas yang tertuju ke satu arah, dan arah itu tak sulit di tebak. Itu adalah arah Laras pergi.
"seperti ini, lagi...."gumam Alya.
Sedangkan Laras terus berjalan ke tempat yang sepi, ia merogoh tas dan mengambil sebuah ponsel di sana.
Tak lama ponsel ia tempelkan ke telinga.
"halo nona muda" ungkapnya.
"bagaimana, apa kau sudah bertemu dengan wanita itu..?"
"sudah nona, dan dari informasi yang saya dapatkan cocok dengan informasi yang sebelumnya. Tuan muda arus memang sudah melamarnya."
tar.....
Suara pecahan terdengar dari sambungan telepon.
"nona muda apa anda baik baik saja..."
"aku baik, lalu apa kau mendapatkan informasi lain...?"
"ada nona, aku mendengar kalau Alya ini sama sekali tak dekat dengan tuan muda arus. dari warga desa, mereka bilang Alya ini lebih dekat dengan pria bernama Bagas"
"Bagas...? Siapa itu, aku tak pernah mendengarnya..?".
"dia adalah anak yang mengaku menolong Alya 15 tahun lalu.".
"jadi dia juga penyebab arusku hampir mati saat itu."
"benar nona...."
"kalo begitu, buat keduanya mendapatkan balasan karena sudah membuat arusku hampir mati, kalau bisa buat mereka tak ingin hidup lagi".
Laras tersenyum....
"tenang nona, serahkan semua kepadaku"
setelah itu panggilan tertutup....
Setelah panggilan tertutup, seorang wanita tersenyum.
Di depannya sudah bejejer foto arus dari mulai kecil hingga besar.
Di tangannya ada foto arus kecil yang terbaring lemas dengan beberapa luka. Senyumnya terbit saat mengelus foto arus.
"arus.... Andai kau terlahir tak di desa itu, mungkin kita akan hidup bersama. Tapi sayangnya takdir berkata lain, kamu harus terlahir di lingkungan orang orang munafik itu....!.".
Tiba tiba ia menusukkan sebuah pisau ke sebuah foto lain.
Itu adalah foto Alya dan Bagas bersama beberapa warga desa, dari foto itu dan foto arus kecil terbaring lemas sepertinya itu di ambil di tempat yang tak jauh.
Putri, mengayunkan pisaunya beberapa kali ke arah foto itu.
Lalu tiba tiba ia tersenyum saat melihat foto arus.
"tenanglah arusku, karena kau tak tega membalas mereka, biar aku yang turun tangan. Akan ku pastikan mereka menyesal telah melakukan itu kepadamu."
"dan kamu.."
jleb....
Pisau menancap tepat di foto Alya.
"jangan harap bisa mendapatkan arusku, walau kalian menikah sekalipun, aku akan tetap membuat kau menyesal telah hidup di dunia ini"
sedangkan Alya, walau dia telah terlihat baik.
Tapi dia tetap di suruh beristirahat di rumah.
di jalan ia bertemu dengan arus di saat melewati warung.
"mau ke mana" tegur pria itu.
Alya menoleh, melihat arus yang sudah berdiri di sampingnya.
"arus...."
"kenapa belum jawab, tumben sekali kamu sudah pulang. Ini kan belum waktunya anak sekolah pulang...?"
Alya menggeleng..
"aku kurang enak badan.."ungkapnya.
Arus hanya ber oh ria, lalu ia menatap Alya.
"jadi, kamu mau mahar apa" tanya arus datar.
"mahar...?"
arus mengangguk..
"itu terserah kamu saja, aku akan menerima...".
Saat Alya berbicara, arus mengerutkan keningnya saat tatapannya menangkap benda kecil di tas Alya.
"kau pikirkan, bagaimanapun biasanya pihak perempuan yang menentukan mahar" ungkap arus berlalu sambil menyambar benda kecil di tas Alya tanpa pemiliknya sadari.
Alya tak sempat menahan pria itu...