"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BaB 6 : Batas Tegas
"Kamu cemburu, Aluna?"
Bisikan Marko yang rendah dan intim mengalun tepat di depan wajah Luna. Hembusan napas hangat pria itu menyapu permukaan kulit pipinya, membuat dada Luna bergemuruh hebat. Genggaman tangan kekar Marko di pergelangan tangannya masih terasa begitu posesif.
Luna menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Marko. Tidak ada keraguan atau niat untuk bersembunyi lagi. Runtuh sudah seluruh pertahanan yang ia bangun sepanjang hari.
"Kalau iya, kenapa?" tantang Luna dengan suara bergetar namun tajam. "Iya, Pak Marko! Saya cemburu! Saya panas lihat wanita itu pegang-pegang bahu Om seolah Om itu punya dia!"
Marko membeku. Pria itu menyipitkan matanya, kaget dengan pengakuan jujur dan vulgar yang meluncur dari bibir gadis di depannya.
"Aluna, jaga ucapan kamu," tegur Marko, intonasi suaranya mendadak berubah menjadi dingin dan menusuk. Ia melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Luna secara kasar.
"Kenapa harus dijaga?" Luna melangkah satu langkah maju, memangkas jarak di antara mereka. "Om tanya kan tadi? Saya cuma jawab! Saya nggak suka lihat Om dekat sama wanita lain!"
"Cukup!" potong Marko tegas, membuang pandangannya ke samping sebelum kembali menatap Luna dengan sorot mata paling keras yang pernah Luna lihat. "Dengar baik-baik, Aluna. Hilangkan perasaan konyol itu sekarang juga."
Kata-kata itu menghantam dada Luna bagai hantaman tumpul. "Konyol?"
"Ya, konyol dan tidak masuk akal," tegas Marko tanpa ampun. "Saya ini sahabat karib Ayah kamu. Umur saya empat puluh lima tahun, dan kamu baru dua puluh tahun. Saya udah menganggap kamu kayak anak sendiri sejak kamu masih ingusan! Jangan pernah halusinasi soal hal yang nggak akan pernah terjadi."
"Saya bukan anak kecil lagi, Marko!" panggil Luna nekat tanpa embel-embel 'Om' atau 'Pak'.
"Aluna!" gertak Marko dengan suara bernada ancaman. "Saya tidak pernah dan tidak akan pernah punya perasaan apa pun sama kamu selain sebagai anak dari Ardi. Mengerti? Kalau kamu tidak bisa bersikap profesional dan terus bawa perasaan tidak jelas ini, esok hari saya sendiri yang minta Ardi buat tarik kamu dari Janitra Group!"
Setelah melontarkan kata-kata menusuk itu, Marko berbalik dan melangkah lebar meninggalkan area kolam renang tanpa menoleh lagi.
Luna berdiri mematung di kegelapan malam, meremas jemarinya sendiri saat air mata yang ditahannya sejak tadi perlahan jatuh menetes ke pipinya.
Keesokan harinya di kantor, suasana hati Luna berada di titik terendah. Efek penolakan telak dari Marko membuat matanya sedikit sembab, namun ia berusaha menutupinya dengan riasan tipis.
Kesialan Luna tidak berhenti di situ. Pagi-pagi sekali, Pak Doni mengumumkan bahwa Kenan dan Rania dipindahkan sementara ke divisi marketing dan public relation untuk membantu proyek pameran luar. Artinya, Luna kini sendirian di area divisi analisis data tanpa ada benteng perlindungan dari Rania.
Maya, senior analis yang memang sudah menaruh rasa iri sejak hari pertama, memanfaatkan situasi tersebut.
"Aluna! Sini kamu!" panggil Maya dengan nada meremehkan dari mejanya.
Luna melangkah mendekat. "Iya, Mbak Maya?"
Maya menghempaskan tiga tumpukan bundel berkas fisik yang sangat tebal ke atas meja hingga menimbulkan suara dentuman keras. Karyawan lain di sekitar ruangan sempat menoleh, namun tak ada yang berani ikut campur.
"Ini data keuangan dan tren pasar dari lima anak perusahaan Janitra Group selama tiga tahun terakhir," ujar Maya seraya bersedekap dada, menatap Luna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Saya minta kamu rekap ulang semuanya secara manual ke spreadsheet, buat grafik komparatifnya, lalu serahkan ke meja saya sebelum jam lima sore ini."
Luna membelalakkan matanya, melihat tumpukan berkas setinggi tiga puluh sentimeter itu. "Mbak Maya, ini kan data ribuan baris. Kalau dikerjakan manual sendirian sebelum jam lima sore... rasanya nggak memungkinkan. Biasanya ini dikerjakan tim minimal tiga hari."
Maya menyunggingkan senyum sinis. "Kenapa? Nggak sanggup? Katanya mahasiswi berprestasi? Muka aja yang dijaga biar cantik, tapi disuruh kerja segini aja udah mengeluh?"
"Saya bukan mengeluh, Mbak. Tapi ini tidak rasional," balas Luna berusaha menahan emosinya.
"Di Janitra Group nggak ada kata nggak rasional buat staf magang!" semprot Maya keras, mempermalukan Luna di depan staf lain. "Kerjakan sekarang atau saya laporkan ke Pak Doni kalau kamu tidak kompeten!"
Luna mengepalkan tangannya di samping paha. Ia tahu Maya sengaja mengerjainya karena tidak suka padanya yang selalu dipuji cantik dan mendapat perhatian staf lain. Tanpa membalas lagi, Luna mengangkat tumpukan berkas berat itu dan membawanya ke mejanya. Ia bertekad tidak akan membiarkan wanita iri seperti Maya melihatnya menyerah.
***
Malam harinya, di dalam kamar pribadi Luna yang bernuansa hangat, Rania duduk bersila di atas tempat tidur dengan mulut menganga lebar.
"Sumpah?! Si Mbak Maya dower itu bener-bener gila ya!" seru Rania emosi, menghempaskan bantal yang dipegangnya. "Ribuan data dikerjain sendirian dalam enam jam?! Kenapa lu nggak aduin ke Pak Doni sih, Lun?"
Luna yang baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur hanya menghela napas lelah, duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Kalau gue ngadu, dia makin punya alasan buat ngatain gue anak manja yang cuma mengandalkan Muka. Gue selesaiin kok, walaupun jari gue rasanya mau patah."
"Gue gedeg banget! Awas aja besok kalau gue balik ke divisi, gue sindir tuh lampir!" omel Rania. Namun raut wajahnya mendadak berubah serius saat menatap wajah pucat sahabatnya. "Tapi... mata lu sembab banget, Lun. Lu nggak cuma lelah fisik kan? Ada masalah lain?"
Luna menghentikan usapan handuknya. Ia menatap Rania sejenak, lalu menunduk dalam-dalam. Rahasia yang ia simpan sendirian selama bertahun-tahun rasanya sudah terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
"Ran... gue mau cerita sesuatu. Tapi lu janji jangan potong ucapan gue dan jangan histeris," bisik Luna pelan.
"Soal apa? Serius amat."
"Soal... alasan kenapa gue nekat magang di Janitra Group. Dan alasan kenapa gue nggak pernah bisa buka hati buat Kenan atau cowok mana pun di kampus," kata Luna, suaranya terdengar bergetar.
Rania memajukan duduknya, menatap Luna lekat-lekat. "Maksud lu?"
"Gue... gue suka sama seseorang, Ran. Udah dari umur gue dua belas tahun."
"Siapa? Anak kampus kita juga?"
Luna menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang, menetralkan dadanya yang sesak. "Marko Janitra."
"APA?!" Rania menjerit refleks, menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan begitu menyadari volume suaranya. Matanya melotot hampir keluar dari kelopaknya. "P-Pak Marko? CEO kita?! Om Marko sahabat Ayah lu?!"
"Ssshh! Rania, pelan-pelan!" bisik Luna panik.
"Lun! Lu gila?!" Rania mengguncang bahu Luna dengan wajah tak percaya. "Pak Marko itu... dia duda! Umurnya empat puluh lima tahun! Dia sahabat karib bokap lu, Aluna! Pantesan aja lu nolak Kenan mentah-mentah! Kenan yang dipuja-puja satu kampus nggak ada seujung kukunya dibanding bos besar itu!"
Luna menunduk, air mata yang ia tahan kembali menetas. "Gue nggak bisa ngontrol perasaan ini, Ran. Gue tahu ini terdengar konyol... tapi gue beneran cinta sama dia."
Rania tertegun melihat sahabatnya yang biasanya ceria dan kuat kini menangis sesenggukan. Rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi rasa kasihan. Rania mengelus punggung Luna lembut.
"Terus... Pak Marko tahu perasaan lu?" tanya Rania pelan.
"Tadi malam gue ngaku ke dia," bisik Luna lirih. "Gue jujur kalau gue cemburu lihat dia sama model bernama Jessi itu."
"Terus repons Pak Marko gimana?"
"Dia nolak gue mentah-mentah," tangis Luna pecah. "Dia bilang perasaan gue konyol. Dia melarang keras gue punya perasaan sama dia. Dia bilang... dia nggak akan pernah bisa lihat gue selain sebagai anak dari Ayah."
Rania menghela napas panjang, merangkul bahu Luna. "Lun... jujur ya, dari sudut pandang Pak Marko, sikap dia itu masuk akal banget. Perbedaan usia kalian dua puluh lima tahun. Dia sahabat karib bokap lu. Kalau dia merespons perasaan lu, posisi dia di mata keluarga lu bakal hancur."
"Gue tahu, Ran! Gue tahu semua risiko itu!" sahut Luna emosional, menatap sahabatnya dengan mata memerah. "Tapi gue capek dianggap bocah terus! Gue udah dua puluh tahun! Menurut lu... gue harus gimana, Ran? Gue harus nyerah atau tetap berjuang buat bikin dia lihat gue sebagai seorang wanita?"
Rania menatap Luna dalam diam. Sebagai sahabat, ia tahu betapa dalamnya perasaan Luna. Namun di sisi lain, ia juga tahu benteng yang dihadapi Luna adalah tembok raksasa bernama etika dan rasa hormat.
Sebelum Rania sempat memberikan jawaban, pintu kamar Luna mendadak terketuk dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Luna? Ini Mama, Sayang," suara Sinta terdengar dari balik pintu. "Di bawah ada Om Marko datang. Katanya ada berkas penting kantor yang ketinggalan di tas kamu dan harus diambil sekarang."
Jantung Luna seketika berhenti berdetak. Ia dan Rania saling pandang dalam keheningan yang mencekam.