Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gamon
"Setahu saya, Julian itu sahabat terdekat Elena dari dulu, Mas," sahut Fattah tenang, sembari menyilangkan kakinya.
"Waktu di Jakarta, dia kelihatan cukup perhatian dan selalu ada kalau Elena butuh bantuan. Sikapnya cukup santun, makanya saya pikir dia cuma sahabat yang tulus peduli."
"Tulus dari mananya?" potong Arjun cepat. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Fattah dengan alis berkerut dalam.
"Kamu cuma lihat bungkus luarnya aja, Fattah. Julian itu tipe pria paling berbahaya buat wanita seperti Elena: plin-plan."
Fattah mendengarkan, matanya menyipit menunjukkan rasa tertarik yang semakin dalam.
"Dia itu maruk," lanjut Arjun tanpa tedeng aling-aling, suaranya sarat akan nada cemooh.
"Tiap kali Elena dekat sama pria lain, dia langsung gelisah, kepo, pura-pura jadi pahlawan, lalu bertingkah seolah-olah Elena itu milik dia. Tapi apa yang dia lakukan di balik itu? Dia sendiri jalan sama wanita lain, bahkan berpacaran terang-terangan! Dia nggak mau memiliki Elena secara penuh, tapi dia juga nggak rela kalau Elena bahagia sama pria lain. Egois kan?"
Arjun menggelengkan kepalanya seraya mengembuskan napas kasar.
"Elena-nya aja yang terlalu polos dan sering keliru mengartikan rasa kasihan atau kebiasaan lama sebagai 'persahabatan'. Tapi buat saya? Perlakuan Julian itu cuma manipulasi berkedok sahabat."
Mendengar penjelasan Arjun yang begitu blak-blakan dan lepas tanpa beban, senyum di bibir Fattah perlahan memudar.
Raut wajahnya berubah lebih serius. Sorot matanya yang semula hanya menangkap Julian sebagai sosok sahabat hangat, kini menyiratkan pertimbangan baru yang jauh lebih dingin dan tajam.
"Jadi... selama ini dia sengaja menahan Elena di batas aman supaya Elena nggak bisa kemana-mana?" gumam Fattah pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Tepat," jawab Arjun tegas. "Makanya saya gemes banget. Pria model begitu nggak boleh dikasih ruang sedikit pun."
Fattah manggut-manggut pelan, memproses informasi baru itu di kepalanya. Pandangan positifnya terhadap Julian terkikis seketika, digantikan oleh kewaspadaan baru.
Tepat saat itu, pintu kaca balkon bergeser pelan. Tamara dan Elena melangkah kembali masuk ke dalam ruangan rawat yang temaram.
Belum sempat Fattah merespons lebih jauh, Arjun tiba-tiba memajukan posisi duduknya. Pandangannya menatap Fattah lurus-lurus, melontarkan pertanyaan tajam tanpa basa-basi.
"Kalau memang kamu berniat serius sama Elena... gimana pandangan kamu soal masa lalu dia?" tanya Arjun blak-blakan.
"Kamu tahu sendiri, Elena pernah living together cukup lama sama Nathan. Dan Gavin..." Arjun menunjuk pelan ke arah ranjang tempat balita itu terlelap.
"...Gavin ini anak biologis Elena dan Nathan. Kamu sungguhan siap menerima paket komplit dengan segala bayang-bayang masa lalunya?"
Uhuk!
Fattah yang baru saja menyesap kopinya seketika tersedak pelan. Pria berkelas yang biasanya selalu memegang kendali itu sempat terbatuk kecil, merapikan kemejanya seraya meletakkan cangkir kertas ke atas meja dengan gerakan canggung yang jarang sekali terlihat.
Elena yang baru saja menggeser pintu balkon langsung menghentikan langkahnya.
Tamara ikut membeku di ambang pintu. Kedua wanita itu mematung, menahan napas mendengar pertanyaan Arjun yang luar biasa frontal.
Arjun sama sekali tidak merasa bersalah. Pria paruh baya itu hanya bersedekap, menanti jawaban dengan raut menuntut kejujuran khas seorang kakak.
Fattah mengambil napas dalam-dalam, menetralkan rasa gatal di tenggorokannya.
Mengusap bibirnya pelan, raut canggung di wajahnya berganti menjadi ketenangan mutlak. Ia menatap Arjun, lalu sekilas melirik Elena yang berdiri kaku di dekat balkon.
"Mas Arjun," panggil Fattah dengan suara rendah yang mengudara mantap di dalam ruangan.
"Saya hidup untuk masa depan, bukan untuk menghakimi lembaran kain yang sudah melar di masa lalu."
Arjun menaikkan sebelah alisnya, mendengarkan.
"Soal Elena yang pernah tinggal bersama Nathan, atau fakta bahwa Gavin adalah darah daging pria itu... bagi saya itu bukan sebuah cacat," lanjut Fattah tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.
"Setiap orang punya sejarah. Kalau saya sibuk mempermasalahkan masa lalu Elena, artinya saya pria hipokrit."
Fattah menghela napas tipis, bibirnya terangkat membentuk senyum pahit yang sarat akan kejujuran.
"Lagipula... masa lalu saya sendiri tidak kalah buruknya, Mas. Saya punya dosa dan luka dari masa lalu saya dengan Savana yang juga harus saya pertanggungjawabkan. Jadi, atas dasar apa saya merasa terlalu suci sampai harus menolak Elena atau Gavin?"
Kalimat Fattah bergetar pelan di udara, menyisakan keheningan yang begitu pekat di kamar rawat itu.
Tamara menatap Fattah dengan binar haru, sementara Elena meremas ujung bajunya di balik pintu.
Seketika itu juga, suasana di dalam kamar rawat berubah menjadi hening-senyap. Fattah, yang baru saja melontarkan pengakuan jujur dan terbuka di hadapan Arjun, mendadak membeku saat matanya menangkap sosok Elena yang berdiri kaku di ambang pintu balkon.
Pria berwibawa yang biasanya selalu tenang dan memegang kendali penuh atas situasi itu mendadak salah tingkah. Rona merah yang sangat kontras tiba-tiba merambat naik dari leher hingga menembus kulit wajahnya.
Malu setengah mati karena menyadari bahwa setiap kata ketulusan dan pengakuannya barusan didengar mentah-mentah oleh wanita yang dibicarakannya.
Fattah berdehem pelan, mengalihkan pandangannya canggung ke arah cangkir kopi di atas meja, sementara tangannya sibuk merapikan ujung lengan kemejanya yang sudah rapi.
Namun, reaksi Elena jauh di luar ekspektasi siapa pun.
Alih-alih tersipu malu, tersenyum tersipu, atau menunjukkan kelegaan luar biasa mendengar pembelaan Fattah, ekspresi Elena justru tetap datar. Ada dinding es tebal yang membentengi wajahnya, menyembunyikan kecanggungan yang teramat sangat.
Di balik tatapan tenangnya itu, batin Elena justru bergemuruh hebat dan menolak untuk luluh.
Sehebat apa pun kata-kata bijak dan ketulusan yang baru saja diucapkan Fattah, hati kecil Elena ternyata masih menjadi tawanan dari masa lalunya yang beracun.
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, rasa rindu dan ketergantungan yang bodoh pada Nathaniel masih berakar begitu kuat.
Bayangan Nathan pria yang paling menyakitinya namun paling ia nantikan masih mendominasi sisa kewarasannya.
Elena merasa terjebak. Ia tahu Fattah jauh lebih baik, jauh lebih matang, dan pantas mendapatkan yang jauh lebih sempurna dibanding dirinya yang hancur. Tapi hatinya yang patah masih berharap suatu keajaiban bodoh: bahwa suatu hari nanti, Nathaniel akan kembali dan memperbaiki semuanya.
Dengan langkah kaku, Elena menghindari tatapan mata Fattah. Ia berjalan lurus menghampiri ranjang Gavin, pura-pura sibuk merapikan selimut putranya yang sedang tidur lelap demi menutupi degup jantungnya yang kacau balau.
Arjun, yang menangkap perubahan gestur kaku di antara keduanya, hanya bisa menghela napas panjang dalam diam, sementara Tamara memilih merangkul bahu Elena pelan, mencoba mencairkan atmosfer ruangan yang mendadak terasa begitu berat.
ayo tor lanjutin update nya