Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Makam Dewa Kuno
Semakin jauh Mo Xie dan Xue Ling'er memasuki wilayah timur laut Jurang Sembilan Kegelapan, Racun Yin di sekitar mereka perlahan berubah.
Kabut ungu yang sebelumnya memenuhi jurang kini berubah menjadi merah gelap seperti karat. Bau darah tua dan besi memenuhi udara, sementara cahaya tidak lagi mampu menembus kegelapan tempat ini.
Inilah Makam Dewa Kuno.
Di tempat ini, bukan hanya tubuh yang ditekan. Bahkan jiwa pun seolah ikut terbelenggu.
Langkah Mo Xie semakin berat. Setiap kali kedua kakinya menyentuh tanah, tulang keringnya mengeluarkan bunyi retak halus dan darah mulai merembes dari kulitnya.
Tubuh bagian atasnya telah ditempa oleh Tulang Harimau Kegelapan, Tulang Naga Bumi, dan Tulang Rusuk Yang Murni. Namun, kedua kakinya masih fana.
Tekanan Makam Dewa Kuno terlalu berat bagi tubuhnya.
Xue Ling'er melayang beberapa inci di atas tanah dengan bantuan benang darah.
"Jangan lengah."
Tatapannya menyapu kegelapan di sekitar mereka.
"Tekanan ini bukan sekadar kekuatan bumi. Tempat ini dipenuhi niat membunuh dari para dewa dan iblis yang mati di sini."
Mo Xie tidak menjawab.
Di sekeliling mereka menjulang bukit-bukit tulang. Tengkorak raksasa sebesar rumah berserakan di antara tulang rusuk yang menjulang seperti menara, sementara potongan zirah kuno masih melekat pada beberapa kerangka.
Tiba-tiba, terdengar suara isakan.
Mo Xie berhenti.
Ia menoleh, dan Xue Ling'er pun membeku. Benang darah yang menopang tubuhnya bergetar halus.
Tatapan wanita itu perlahan berubah kosong.
Di hadapannya muncul bayangan masa lalu.
Sebuah sekte.
Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Seorang tetua yang berlumuran darah menunjuk kepadanya.
"Pengkhianat!"
Suara itu menggema di dalam Lautan Kesadaran Xue Ling'er.
"Kau membantai kami demi Seni Darah!"
Wajah Xue Ling'er memucat.
"Tidak..."
Ia mencengkeram kepalanya. Benang darah yang menopang tubuhnya seketika terurai dan tubuhnya jatuh berlutut.
Mo Xie segera menyadari bahwa mereka telah memasuki jebakan Makam Dewa Kuno.
Tempat ini tidak hanya menekan tubuh, tetapi juga membangkitkan ketakutan dan penyesalan yang tersembunyi jauh di dalam hati.
Namun, sebelum Mo Xie sempat mendekat...
Boom!
Tanah bergetar hebat.
Kabut merah di sekitar mereka mulai berkumpul. Dari antara tumpukan tulang, belasan sosok prajurit iblis perlahan muncul.
Tinggi mereka mencapai tiga meter dan tubuh mereka hanya berupa bayangan merah. Namun, tombak yang mereka genggam memancarkan aura mengerikan.
Salah satu prajurit langsung menerjang Xue Ling'er.
Mo Xie bergerak tanpa ragu.
Ia mengabaikan rasa sakit yang menjalar dari kedua kakinya dan melompat ke depan.
Boom!
Cakar obsidiannya menghantam tombak bayangan tersebut. Ledakan Qi jiwa mengguncang seluruh makam, membuat bayangan prajurit iblis itu terbelah sebelum berubah menjadi kabut merah.
Mo Xie mendarat di depan Xue Ling'er.
Ia menancapkan cakar kirinya ke tanah dan menjadikan tubuhnya sebagai pelindung.
"Buka matamu, Ling'er!" Xue Ling'er masih gemetar.
Mo Xie menatapnya tajam. "Mereka sudah mati."
Suaranya terdengar dingin dan tegas.
"Kalau kau ingin menangisi masa lalu, lakukan setelah kita keluar."
Ia mengepalkan cakar kirinya.
"Tapi kalau kau ingin hidup dan menghancurkan orang-orang yang memburumu, bangkit."
Suara itu menembus halusinasinya.
Xue Ling'er menggertakkan gigi hingga darah mengalir dari bibirnya. Bayangan di matanya perlahan memudar.
Ia mengangkat kepala. "Aku mengerti."
Puluhan benang darah melesat dari tangannya. Benang-benang itu menancap pada batu di sekitar mereka dan membentuk sebuah kubah pertahanan.
"Sisa jiwa ini tidak memiliki tubuh." Xue Ling'er menarik napas untuk menenangkan dirinya. "Mereka menyerang Lautan Kesadaran. Pasti ada sesuatu yang mengendalikan mereka."
Mo Xie mengamati sekelilingnya. "Serahkan padaku."
Di tengah serangan para prajurit iblis, matanya menyapu seluruh medan. Tak lama kemudian, pandangannya berhenti pada sebuah bukit tulang di tengah makam.
Di atas bukit itu duduk sebuah kerangka berzirah hitam.
Ukurannya hanya sekitar tiga meter, tetapi tekanan membunuh yang keluar darinya jauh lebih kuat daripada para prajurit di sekelilingnya.
Sebuah pedang besar tertancap di tanah di sampingnya.
Jenderal Iblis Kuno.
"Ketemu."
Mo Xie melesat keluar dari kubah.
Puluhan tombak bayangan menghantam tubuhnya. Halusinasi penderitaan kembali menyerbu Lautan Kesadarannya.
Namun, Mo Xie justru tertawa.
"Rasa sakit?" Tatapannya berubah dingin. "Aku sudah terlalu akrab dengannya."
Ia terus maju.
Kedua kakinya retak semakin parah akibat tekanan makam. Darah mengalir dari kulitnya, tetapi langkahnya tidak berhenti sedikit pun.
Jenderal Iblis Kuno akhirnya bergerak. Api biru menyala di dalam rongga matanya.
Kerangka itu mengangkat pedang besar di sampingnya.
Wush!
Pedang kuno menebas dengan kekuatan yang seolah mampu membelah gunung.
Mo Xie mengangkat lengan kirinya.
Klang!
Cakar obsidian bertabrakan dengan pedang raksasa.
Bunga api hitam menyala di tengah kegelapan.
Lengan Mo Xie bergetar, tetapi ia tidak mundur. Ia memutar tubuh dan menghindari tebasan berikutnya.
Saat itulah tatapannya jatuh pada kaki sang jenderal.
Dua tulang kaki hitam terlihat di balik zirah. Keduanya padat, kuat, dan dipenuhi ukiran kuno.
Senyum perlahan muncul di wajah Mo Xie.
"Kakimu bagus." Ia merendahkan tubuhnya "Ini cocok untukku."
Jenderal Iblis meraung dan kembali mengayunkan pedangnya.
Mo Xie tidak mundur. Ia justru menerjang ke depan.
Cakar obsidiannya menancap tepat pada lutut sang jenderal.
Krakk!
Tulang hitam itu retak.
Mo Xie mengerahkan kekuatan Tulang Naga Bumi.
"Keluar!" Ia menarik dengan seluruh tenaganya.
Krak!
Satu tulang kaki tercabut. Jenderal Iblis itu meraung keras.
Namun, Mo Xie tidak berhenti. Ia segera meraih kaki satunya.
Krak!
Tulang kedua ikut tercabut.
Begitu kedua tulang itu kehilangan tempatnya, kerangka sang jenderal mulai runtuh. Pedang besarnya terlepas dan jatuh ke tanah, sementara seluruh tubuh kerangka perlahan hancur menjadi debu merah.
Pada saat yang sama, seluruh makam bergetar.
Para prajurit iblis yang mengepung Xue Ling'er berhenti bergerak. Tubuh mereka perlahan menghilang bersama kabut merah yang mulai surut.
Halusinasi pembantaian lenyap.
Kesunyian kembali menyelimuti Makam Dewa Kuno.
Mo Xie berdiri di atas bukit tulang dengan napas berat.
Kedua kakinya telah retak parah dan darah terus mengalir dari kulitnya, tetapi ia sama sekali tidak memedulikannya.
Di tangan kirinya kini terdapat dua tulang kaki hitam.
Keduanya memancarkan Qi iblis kuno yang begitu kuat hingga udara di sekitarnya bergetar.
Xue Ling'er datang mendekat dan menatap tulang-tulang tersebut.
"Kau benar-benar gila."
Mo Xie mengangkat salah satu tulang itu. "Kalau ingin bertahan hidup, kita harus menjadi lebih kuat dan gila."
Tatapannya turun pada kedua kakinya yang hancur.
"Tulang ini akan menjadi kakiku."
Xue Ling'er tersenyum tipis. "Kalau berhasil, tubuhmu akan jauh lebih kuat."
Mo Xie menggenggam kedua tulang itu erat.
"Kalau gagal..." Ia menatap kegelapan di depan. "Berarti aku mati sebelum sempat membalas dendam."
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
"Tapi aku tidak berniat mati."
Di tengah Makam Dewa Kuno, dua Tulang Kaki Jenderal Iblis Purba kini telah jatuh ke tangan Mo Xie.
Dan untuk pertama kalinya, Mo Xie memiliki kesempatan untuk menempa seluruh tubuhnya menjadi tubuh iblis sejati.