NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Hari demi hari berlalu dengan tenang di benteng perbatasan. Setiap pagi, Feng Wu selalu bangun sebelum matahari terbit, dan tanpa pernah melewatkan satu hari pun, ia berdiri di tepi arena pelatihan menatap para prajurit yang sedang berlatih keras. Suara bentakan perintah, dentangan senjata, dan langkah kaki yang serempak menjadi irama yang kini akrab di telinganya.

Di sana, di tengah arena yang luas dan berdebu, berdiri seorang pria yang gagah, namanya Jenderal Xu. Ia adalah jenderal termuda di pasukan perbatasan, terkenal karena ketegasannya, kemampuan bela diri yang luar biasa, dan cara melatih prajurit yang sangat ketat namun efektif. Di sampingnya berdiri beberapa jendral muda lainnya, mengawasi setiap gerakan prajurit dengan tatapan tajam.

Feng Wu memperhatikan setiap gerakan itu dengan saksama. Matanya tak berkedip, mencatat setiap teknik, setiap langkah, dan setiap cara memegang senjata. Ia bukan sekadar menonton, ia sedang mempelajari.

Suatu pagi, ketika latihan baru saja dimulai, Feng Wu melangkah masuk ke arena. Langkahnya tegap, tatapannya mantap, dan berhenti tepat di hadapan Jenderal Xu yang sedang memberi arahan.

"Jenderal Xu," panggilnya dengan suara jernih dan tenang, membuat semua mata tertuju padanya. "Saya ingin ikut berlatih bersama para prajurit. Mohon Jenderal mengajari saya."

Jenderal Xu menoleh, sedikit terkejut melihat kehadiran gadis itu. Ia tahu betul siapa Feng Wu, cucu kesayangan Jenderal Wen. Seorang wanita bangsawan yang seharusnya berada di dalam ruangan yang hangat, bukan di arena yang berdebu dan berbahaya ini.

"Nona Feng Wu," ucapnya sopan namun tegas. "Tempat ini bukan untuk wanita. Latihan ini keras dan berbahaya. Lebih baik Nona kembali ke kediaman."

Namun Feng Wu tidak bergerak mundur sedikit pun.

"Jenderal, saya tidak meminta perlakuan khusus. Saya hanya ingin dilatih sama seperti yang lain. Saya tidak akan menyerah," tegasnya.

"Maaf, Nona. Saya tidak bisa melakukannya. Jenderal Wen pasti tidak akan setuju," tolak Jenderal Xu sekali lagi.

Sejak hari itu, setiap pagi Feng Wu datang dan memohon hal yang sama. Setiap hari ia mendesak, dan setiap hari ia ditolak. Namun ketekunannya tak pernah pudar. Ia datang lebih awal, berdiri lebih lama, dan memohon dengan tatapan yang begitu tulus hingga akhirnya...

"Cukup!" Jenderal Xu menghela napas panjang, menatap gadis itu yang tetap berdiri tegap meski telah ditolak berkali-kali. "Baiklah. Jika Nona benar-benar mau, saya akan melatih Nona. Tapi ingat tidak ada belas kasihan. Jika Nona jatuh, Nona harus bangkit sendiri."

Senyum tipis namun penuh kemenangan muncul di bibir Feng Wu. "Terima kasih, Jenderal Xu. Saya siap.

Latihan pun dimulai. Jenderal Xu mulai dengan gerakan dasar cara berdiri, cara memegang pedang, keseimbangan tubuh. Ia melakukannya sekali perlahan, lalu berkata, "Lakukan seperti yang saya perlihatkan."

Para prajurit baru saja mulai berlatih, dan banyak yang masih kaku, belum terbiasa dengan ritme yang diminta. Namun ketika Feng Wu mulai bergerak...

Jenderal Xu tertegun.

Gerakan Feng Wu tidak hanya benar, ia sempurna. Keseimbangannya tegak, pedangnya dipegang dengan tepat, matanya tajam dan fokus. Bahkan cara kakinya melanggar pun presisi, seakan ia sudah berlatih bertahun-tahun.

Mungkin kebetulan saja, batin Jenderal Xu. Lanjut ke teknik berikutnya.

Ia memperlihatkan teknik serangan yang sedikit lebih rumit, tiga langkah cepat, tebasan miring, lalu mundur dengan lompatan ringan. Sekali lagi, Feng Wu menirunya tanpa ragu. Tanpa salah langkah, tanpa kaku. Gerakannya bahkan lebih luwes dan lebih cepat daripada beberapa prajurit yang sudah berlatih berbulan-bulan.

Jenderal Xu mulai terkejut. Ia mempercepat tempo, menggabungkan beberapa teknik sekaligus serangan, pertahanan, hindaran. Semakin sulit, semakin cepat. Namun Feng Wu tetap mengikutinya dengan sempurna. Bahkan ia melakukan gerakan itu dengan lebih indah dan lebih efisien, seakan tubuhnya sendiri sudah tahu bagaimana harus bergerak.

"Bagaimana mungkin? Ia baru pertama kali memegang pedang hari ini!" gumam Jendral Xu.

Di kejauhan, di atas menara pengawas, Jenderal Wen berdiri diam menatap ke bawah. Awalnya ia hanya ingin memastikan cucunya aman, namun semakin lama ia menonton, matanya semakin membelalak tak percaya.

Setiap gerakan yang diajarkan Jenderal Xu langsung dikuasai Feng Wu dalam sekejap mata. Bahkan ketika Jenderal Xu sengaja mempercepat dan memperumit, Feng Wu tidak tertinggal sedikit pun. Ia tidak hanya meniru dan ia memahami prinsip di balik setiap gerakan, bahkan sesekali menyempurnakannya tanpa disadari.

"Itu... itu mustahil..." gumam Jenderal Wen tak percaya. "Bahkan prajurit berbakat pun butuh berbulan-bulan untuk menguasai teknik itu. Tapi dia... dia baru saja mulai!"

Jenderal Xu pun akhirnya berhenti melatih, menatap Feng Wu dengan tatapan kagum sekaligus takjub.

"Nona..." ucapnya pelan. "Dari mana Nona mempelajari ini? Nona pernah berlatih sebelumnya?"

Feng Wu tersenyum tipis. "Tidak pernah, Jenderal. Saya hanya memperhatikan, lalu mencobanya."

Itu bukan kebohongan sepenuhnya, di dunia tempat ia berasal, ia sering mempelajari anatomi tubuh manusia, titik saraf, dan keseimbangan tubuh untuk keperluan pengobatan. Pengetahuan itulah yang kini membuatnya begitu paham cara menggerakkan tubuhnya dengan sempurna, mengetahui titik keseimbangan, dan cara memanfaatkan kekuatan dengan efisien.

Jenderal Xu menggeleng tak percaya, namun senyum kekaguman merekah di wajahnya. "Nona memiliki bakat yang luar biasa. Jika Nona terus berlatih, dalam waktu singkat Nona akan jauh lebih kuat dari prajurit biasa."

Jenderal Wen berjalan turun dari menara, mendekati keduanya. Matanya menatap cucunya dengan penuh kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.

"Kau benar-benar mengejutkan Kakek, Wu'er," ucapnya lembut namun mantap. "Siapa sangka cucuku yang dianggap lemah dan tak berdaya... ternyata menyimpan kekuatan yang begitu luar biasa."

Feng Wu menatap kakeknya, lalu menatap pedang di tangannya. Api tekad semakin menyala di matanya.

"Ini baru permulaan, Kakek. Suatu hari nanti, kekuatan ini akan kubawa kembali ke Qincheng. Dan saat itu tiba, tidak ada satu orang pun yang berani meremehkanku lagi."

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!