NovelToon NovelToon
RED CROWS

RED CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: D'syam

"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."

Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.

Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.

Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan 1

Pukul empat lewat empat puluh lima menit pagi. Udara di pelataran utama Markas Bawah Tanah Red Crows masih diselimuti embun dingin yang menusuk tulang. Dinding-dinding beton setinggi sepuluh meter yang mengelilingi lapangan latihan memantulkan cahaya lampu sorot kuning yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas permukaan tanah pasir hitam yang padat.

Daren sudah berdiri di tengah lapangan.

Dia mengenakan celana taktis hitam dan kaus tanpa lengan berbahan ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Meski badannya masih tampak kurus dan bekas luka di punggungnya masih meninggalkan garis-garis merah muda yang baru mengering, Daren tidak menggigil. Kedua kakinya menapak kokoh di atas tanah, kedua tangannya terkepal di samping paha, dan matanya menatap lurus ke arah kegelapan lorong utama tanpa berkedip.

Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Sesosok tubuh tinggi besar melangkah keluar dari bayang-bayang lorong.

Argus berjalan anggun tanpa mantel mewahnya. Pria penguasa bawah tanah itu hanya mengenakan kaus polos hitam yang melekat ketat pada otot-otot dadanya yang tebal, dipadukan dengan celana tempur. Di tangan kanannya, dia membawa sebuah tongkat kayu jati tebal sepanjang satu meter.

Argus berhenti lima langkah di depan Daren. Mata hitamnya yang dalam menyapu figur remaja lima belas tahun itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Kau tidak terlambat satu detik pun," suara Argus rendah dan tebal, membelah kesunyian pagi. "Di tempat ini, kedisiplinan adalah batas antara hidup dan mati. Jika kau terlambat, kau mati. Jika kau ragu-ragu, kau mati."

Daren menundukkan kepalanya tipis. "Saya siap, Tuan Argus."

Argus menancapkan ujung tongkat kayunya ke tanah. "Hari ini adalah hari pertamamu. Aku tidak akan mengajarimu cara memegang senjata atau memotong leher musuh. Sebelum kau bisa menggenggam pedang, kau harus membuat tubuhmu menjadi pedang itu sendiri."

Argus mengibaskan tangannya ke arah sudut lapangan. Di sana, sudah tersusun belasan rompi pemberat berlapis plat besi, ban truk besar, dan barisan beban besi.

"Pakai rompi beban dua puluh kilogram itu," perintah Argus tegas. "Lari lima puluh putaran mengelilingi lapangan ini. Setelah itu, sepuluh set push-up, pull-up, dan sit-up masing-masing seratus kali. Tanpa jeda istirahat."

Bagi remaja seusia Daren yang baru saja sembuh dari koma dan penderitaan malnutrisi menahun, instruksi tersebut bukan lagi latihan—itu adalah hukuman mati fisik. Dua puluh kilogram beban di dada dan punggung sama saja dengan memikul setengah dari berat badan Daren sendiri.

Namun, Daren tidak bertanya. Dia tidak menawar. Tidak ada sedikit pun raut ragu atau gentar di wajahnya.

Daren berjalan menuju sudut lapangan, mengangkat rompi beban besi yang berat itu, lalu memasangnya ke tubuhnya. Tali rompi diikat kencang mengunci dadanya. Paru-parunya seketika terasa tertekan, menahan bobot ekstra yang secara mendadak menghimpit tulang iganya. Daren mengambil napas dalam-dalam lewat hidung, membusungkan dadanya, lalu berbalik menatap Argus.

"Mulai," ucap Argus singkat.

Daren langsung menghenjotkan kakinya, mulai berlari mengelilingi lapangan pasir hitam.

Satu jam pertama berlalu dengan cepat.

Matahari pagi mulai terbit di balik benteng beton, memancarkan sinar kemerahan yang hangat. Keringat bercucuran deras dari pelipis Daren, membasahi kaus hitamnya hingga lekat di kulit. Setiap kali kakinya menapak tanah, rompi besi di dadanya menekan pernapasan Daren dengan sangat kejam.

Putaran ke-25... 30... 40...

Paru-paru Daren terasa bagai disiram minyak panas. Tenggorokannya begitu kering hingga setiap kali dia menarik napas, ada rasa amis darah yang samar di pangkal lidahnya. Kakinya yang kurus gemetar hebat, otot-otot pahanya menjerit meminta berhenti.

Namun, di dalam benak Daren, bayangan wajah Deni yang tertawa saat mencambuknya, serta senyuman picik Dion, berputar tanpa henti. Setiap kali matanya memburam karena kelelahan, bayangan rasa hina di gudang bawah tangga menampar kesadarannya.

“Aku tidak akan pernah kembali menjadi orang lemah!” jerit Daren di dalam hatinya.

Daren mempercepat langkah kakinya, menyelesaikan putaran ke-50 tepat saat matahari berdiri penuh di atas kepala. Tanpa menyela satu detik pun untuk merebahkan diri atau meminum air, Daren langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah dalam posisi push-up.

Satu... dua... tiga... puluh... seratus.

Argus berdiri tidak jauh dari Daren, mengamati setiap gerakan remaja itu dengan ketelitian seorang pemahat batu bernilai tinggi. Argus tidak memegang cambuk, tidak menendang, dan tidak memaki. Ketika Daren melakukan kesalahan posisi siku pada putaran push-up ke-70 karena otot tangannya mulai kehabisan daya, Argus hanya melangkah mendekat, memukul pelan siku Daren menggunakan tongkat kayunya.

"Posisikan sikumu menyusur rusuk, Daren," kata Argus, suaranya tenang namun penuh ketegasan yang tak terbantahkan. "Jika sikumu melebar, kau membuang energi secara sia-sia. Kunci inti tubuhmu. Jangan biarkan pinggulmu terkulai ke tanah."

Di masa lalunya bersama keluarga Deni, setiap kali Daren melakukan kesalahan kecil—seperti menjatuhkan sapu atau terlalu lambat menyiram tanaman—yang diterimanya adalah makian kasar, makian ibu jari yang ditunjuk ke muka, atau sabetan gesper yang merobek kulit. Siksaan itu membuat jiwa Daren tertekan dan panik.

Namun di sini, bersama Argus, kesalahan tidak dibalas dengan amarah murahan atau penyiksaan membabi buta. Yang diterima Daren adalah ketegasan dingin dan koreksi teknis yang sangat presisi.

Koreksi tanpa kebencian itu justru memberikan dorongan psikologis yang luar biasa bagi Daren. Daren tidak merasa direndahkan; dia merasa sedang dibentuk. Setiap teguran Argus diterimanya sebagai ilmu baru yang harus diserap sempurna.

"Ulangi sepuluh kali terakhir dengan bentuk yang benar," perintah Argus.

"Baik, Tuan!" sahut Daren parau, langsung membetulkan posisi sikunya dan menyelesaikan sepuluh pakan push-up tambahan tanpa mengeluh sedikit pun.

Siang berganti sore, lalu malam merambat perlahan menyelimuti Kota Atlas. Lampu sorot tinggi di sekeliling lapangan kembali menyala terang, memancarkan cahaya putih murni di atas pasir hitam yang kini telah basah oleh tetesan keringat Daren.

Pelatihan telah berlangsung selama belasan jam nonstop.

Daren telah melewati lari beban, angkat beban, latihan tumpuan inti tubuh, hingga simulasi ketahanan pukulan. Tubuhnya bergetar di setiap inci ototnya. Napasnya berbunyi hosh... hosh... berat dan cepat. Kausnya sudah basah kuyup seolah baru saja dicelupkan ke dalam sumur, dan beberapa titik darah tipis tampak merembes di telapak tangannya yang terkelupas akibat gesekan besi.

Namun, yang membuat siapa saja terhenyak adalah: Daren tidak pernah tumbang. Dia tidak pernah ambruk menyentuh tanah, tidak pernah meminta jeda minum jika tidak diperintahkan, dan yang paling gila... tidak ada satu pun desahan keluhan yang keluar dari bibirnya.

Di sepanjang pinggir lapangan, belasan prajurit pengawal dan anggota operasional Red Crows yang baru selesai menjalankan tugas mulai berkumpul. Mereka berdiri bersandar pada dinding beton, memperhatikan remaja lima belas tahun itu dari kejauhan.

"Astaga... bocah itu masih bertahan?" bisik salah seorang prajurit taktis bertubuh kekar pada rekannya. "Dia sudah dihajar latihan daya tahan tingkat tiga sejak jam lima pagi. Bahkan rekrutan militer kita biasanya sudah pingsan atau muntah-muntah di jam keempat!"

"Aku dengar dari anak medis, dia baru sembuh dari koma lima hari lalu," sahut prajurit lainnya dengan mata membelalak heran. "Gila... dari mana dia mendapatkan mental baja seperti itu? Dia tidak meringis sama sekali saat Tuan Argus memukul otot paha dan dadanya untuk melatih daya tahan saraf!"

Rasa kagum dan hormat perlahan tumbuh di mata para anggota Red Crows. Di dunia bawah tanah, penghormatan tidak didapatkan dari umur atau asal-usul, melainkan dari ketabahan murni dan ketahanan fisik saat melintasi neraka.

Saat Daren sedang menyelesaikan set pull-up terakhirnya dengan tubuh yang digantungi beban besi tambahan, raungan mesin mobil dan langkah kaki santai terdengar dari arah gerbang pelataran.

Lukas melangkah masuk dengan jaket kulit merahnya yang mencolok, memutar-mutar kacamata hitam di jarinya. Dia baru saja kembali dari area persenjataan, namun langkahnya terhenti saat melihat kerumunan prajurit yang berkumpul di tepi lapangan.

Lukas menaikkan alisnya penasaran, menyibak kerumunan prajurit itu dengan santai. "Ada pertunjukan apa ini? Kenapa kalian semua kumpul-kumpul seperti sedang menonton pertandingan sepak bola?"

Mata Lukas kemudian tertuju pada sosok Daren yang berada di tengah lapangan. Remaja itu baru saja melompat turun dari tiang pull-up, mendarat dengan kedua kaki gemetar, namun tetap berusaha berdiri tegap di hadapan Argus yang sedang mengoreksi kuda-kudanya.

Lukas melotot. Dia membetulkan kacamata hitamnya, lalu mengucek matanya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Tunggu... tunggu dulu," gumam Lukas. Dia melangkah maju menyeberangi garis pembatas lapangan tanpa memedulikan tatapan dingin Argus.

Lukas berjalan mengelilingi Daren yang sedang memposisikan tangannya dalam posisi bertahan. Lukas mencondongkan tubuhnya, menatap wajah Daren yang pucat penuh keringat, namun matanya tetap menyala tajam bagaikan serigala lapar.

"Oi, Bocah!" seru Lukas seraya menepuk-nepuk pipi Daren dengan ujung jarinya secara tengil. "Ini sudah jam delapan malam! Kau dilatih dari subuh tanpa henti oleh monster seperti Argus, dan kau masih bisa berdiri? Kau ini sebenarnya manusia atau cuma mayat hidup yang dipasangi baterai, huh?"

Lukas berbalik menatap Argus dengan raut wajah hebohnya yang khas. "Tuan Argus, Anda yakin anak ini tidak diberi obat bius dosis tinggi oleh Dr. Anthony? Mana ada anak lima belas tahun kurang gizi yang dilatih seperti ini tapi tidak menangis minta pulang ke ibunya?"

Daren hanya menatap Lukas datar melalui sudut matanya. Meski napasnya terengah-engah, dia tidak mengalihkan fokus kuda-kudanya.

Lukas yang merasa diabaikan semakin berulah. Dia mengulurkan tangannya, berniat mencubit lengan Daren untuk memastikan otot anak itu asli atau tidak. "Coba kukulit sedikit tangannya, jangan-jangan—"

SSET!

Sebelum jemari Lukas sempat menyentuh kulit Daren, sebuah tangan ber-jas hitam dengan genggaman sekeras cengkeraman tang muncul dari balik bayang-bayang.

Mike berdiri di sana. Wajah kaku dan dingin sang Pemimpin Eksekutif itu tampak sangat tidak bersahabat. Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, Mike mencengkeram bagian belakang kerah jaket kulit mahal milik Lukas, lalu menariknya ke belakang secara kasar hingga Lukas terdorong mundur beberapa langkah.

"Aww! Hei! Mike! Leherku bisa tercekik, Sialan!" jerit Lukas seraya memegangi kerah jaketnya yang tertarik kencang.

Mike tidak melepaskan pandangan dinginnya dari Lukas. "Jangan mengganggu sesi latihan Tuan Argus, Lukas. Kau berisik sekali."

"Aku cuma bercanda sedikit, Mike! Aku cuma penasaran!" omel Lukas seraya membetulkan posisi jaketnya yang kusut. Dia menunjuk ke arah Daren dengan wajah jengkel. "Lihat anak itu! Dia bahkan tidak merintih sama sekali! Itu tidak normal! Dia membuat para prajurit kita kelihatan seperti sekelompok penakut!"

Argus yang berdiri di tengah lapangan hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat kelakuan dua eksekutif kepercayaannya itu. Pria besar itu melipat tangannya di dada, lalu menatap Daren yang masih dalam posisi siap.

"Daren," panggil Argus datar. "Abaikan orang gila di sebelahmu itu. Dia memang tidak punya pekerjaan lain selain menggonggong saat melihat orang lain bekerja."

Daren menundukkan kepalanya tipis. "Baik, Tuan Argus."

Mendengar ucapan sang Pemimpin Tertinggi yang menyebutnya orang gila di depan Daren dan belasan prajurit, mulut Lukas seketika mengerucut panjang. Wajahnya terlipat jengkel seraya menatap Argus dengan pandangan memprotes yang sangat konyol.

"Tuan Argus! Kenapa Anda selalu membela bocah baru ini daripada aku?" seru Lukas seraya menghentakkan kakinya ke tanah pasir. "Aku ini Eksekutif yang sudah mempertaruhkan nyawa puluhan kali untuk Red Crows! Lagipula..." Lukas menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya sok tampan, "...kalau tidak ada aku yang berulah di markas ini, tempat ini bakal mati dan kaku seperti kuburan tua! Anda harusnya bersyukur aku membuat suasana latihan ini jadi lebih berwarna!"

Mike melangkah mendekat ke samping Lukas, lalu membisikkan sesuatu dengan nada suara yang membekukan. "Kalau kau tidak diam dalam tiga detik, aku sendiri yang akan melemparmu ke kolam karantina Sektor Empat."

Lukas seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah, meski matanya masih mendelik jengkel pada Mike.

Argus tidak memedulikan ocehan Lukas lagi. Dia berjalan mendekati Daren, lalu menyentuh pundak remaja itu. Untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, Argus memberikan sinyal untuk berhenti.

"Cukup untuk hari ini," kata Argus. Suaranya melunak tipis, memancarkan rasa puas yang sangat jarang dia tunjukkan pada siapa pun. "Tubuhmu sudah mencapai batas maksimal sintesis protein hari ini. Kembali ke kamarmu, mandi air hangat, makan seluruh hidangan yang disiapkan ahli gizi, dan tidur."

Daren mengepalkan tangannya di dada, membungkuk mendalam. "Terima kasih atas bimbingannya hari ini, Tuan Argus."

Saat Daren membalikkan badan dan berjalan perlahan menuju pintu keluar lapangan dengan langkah yang tetap stabil meski lelah luar biasa, Argus, Mike, dan Lukas memperhatikan punggung remaja itu.

Lukas—di balik sifat tengil dan bercandanya—kini menatap langkah Daren dengan mata bersinar serius.

"Dia benar-benar tidak mengeluh sama sekali ya..." gumam Lukas pelan, kali ini tanpa nada ejekan. "Anak itu... punya iblis yang sangat besar di dalam dadanya."

Argus menyunggingkan senyuman dinginnya seraya menatap kegelapan malam. "Bukan iblis, Lukas. Itu adalah rasa lapar akan kekuatan dari seseorang yang pernah diinjak hingga ke dasar neraka. Dan ketika anak itu selesai kutempa... seluruh Kota Atlas akan bertekuk lutut di hadapannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!