NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Tap tap tap.

Langkah sepatu kets putih yang baru dibeli Raka menggema di lobi sebuah gedung apartemen kelas menengah di kawasan Jakarta Pusat.

Gedung apartemen ini bernama Griya Kencana, tempat yang cukup mewah bagi orang biasa, tapi tidak terlalu mencolok bagi kalangan konglomerat.

Raka sengaja memilih tempat ini karena keamanannya terjamin dan privasinya sebagai penjelajah dua dunia bisa lebih terjaga.

Seorang resepsionis wanita dengan seragam rapi menatap Raka dari balik meja marmer yang panjang.

"Selamat siang, Kak. Ada yang bisa saya bantu hari ini?" sapa resepsionis itu dengan senyum sopan.

"Siang, Mbak. Saya sedang mencari unit apartemen yang kosong untuk disewa bulanan atau tahunan," jawab Raka santai.

Resepsionis itu memperhatikan penampilan Raka dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai.

Pakaian Raka memang baru dan bermerek, tapi cara berdirinya yang sedikit membungkuk masih menyisakan kebiasaan lamanya di jalanan.

"Kami memiliki beberapa tipe unit, Kak. Untuk tipe studio harganya lima juta per bulan, dan tipe dua kamar sepuluh juta per bulan," jelas resepsionis itu.

"Saya ambil tipe dua kamar yang paling atas, bayar langsung untuk sewa satu tahun ke depan," ucap Raka tanpa ragu.

Mata resepsionis itu sedikit melebar mendengar permintaan Raka yang terdengar sangat enteng.

"Maaf, Kak, untuk sewa satu tahun tipe dua kamar totalnya seratus dua puluh juta rupiah. Apakah Kakak ingin melihat unitnya dulu?"

"Tidak perlu repot-repot, Mbak. Saya percaya tempat ini bagus, langsung siapkan saja dokumen dan kunci ruangannya," tolak Raka cepat.

Brak.

Raka meletakkan kartu ATM platinumnya di atas meja resepsionis itu untuk meyakinkan si pegawai.

Melihat kartu berlogo eksklusif itu, sikap resepsionis tersebut langsung berubah menjadi sepuluh kali lipat lebih ramah.

"Baik, Tuan! Mohon ditunggu sebentar, saya akan segera memproses dokumen penyewaan Anda!" seru wanita itu panik sekaligus senang.

Sambil menunggu, Raka duduk di sofa lobi dan melihat ke arah jalan raya melalui dinding kaca.

Ia menyadari ada seorang pria bertopi hitam sedang duduk di atas motor seberang jalan sambil terus menatap ke arah lobi.

"Apa perasaan gue aja ya, dari pas keluar mall tadi kayak ada yang ngikutin," batin Raka curiga.

Tapi Raka cepat-cepat menepis pikiran itu karena ia merasa tidak punya musuh penting selain preman gang sempit semalam.

Ting.

"Proses pembayarannya sudah berhasil, Tuan Raka. Ini kunci elektronik untuk unit 105 di lantai sepuluh," ucap resepsionis itu menyerahkan sebuah kartu.

"Terima kasih, Mbak. Oh ya, kalau ada orang yang menanyakan data diri saya, tolong jangan beritahu siapa-siapa ya," pesan Raka memperingatkan.

"Tentu saja, Tuan. Privasi penghuni adalah prioritas utama kami di Griya Kencana," jawab resepsionis itu mengangguk patuh.

Raka mengambil kartu akses itu dan berjalan menuju lift.

Ceklek.

Pintu unit 105 terbuka menampilkan ruangan yang luas, bersih, dan sudah dilengkapi furnitur bergaya modern.

Raka langsung melempar tubuhnya ke atas kasur berukuran besar yang sangat empuk di kamar utama.

Boing.

"Gila, empuk banget kasurnya. Biasanya punggung gue encok tidur di atas kardus beralaskan aspal," tawa Raka lepas sendirian di dalam kamar.

Ia menatap langit-langit kamar dan mulai menyusun rencana untuk langkah selanjutnya.

Uang dua miliar memang banyak, tapi Raka tahu uang itu bisa habis dalam sekejap kalau ia hanya berfoya-foya.

Ia harus segera kembali ke dunia kuno untuk mencari lebih banyak ginseng atau barang pusaka lainnya.

"Tapi gue nggak mungkin datang ke sana dengan tangan kosong lagi. Gue harus bawa sesuatu untuk ditukar," gumam Raka sambil bangkit duduk.

Raka teringat pada pria paruh baya dan anak gadisnya yang menganggap botol bir kaca bekas sebagai pusaka dewa.

Di dunia kuno yang peradabannya masih tertinggal, barang modern sekecil apa pun pasti dianggap sebagai keajaiban sihir.

Raka bergegas keluar dari apartemennya dan berjalan kaki menuju sebuah minimarket besar yang letaknya tidak jauh dari gedung.

Kring.

Lonceng pintu minimarket berbunyi saat Raka mendorong pintu kaca tersebut.

Raka mengambil sebuah keranjang belanja berukuran paling besar dan berjalan menyusuri lorong bumbu dapur.

Ia memasukkan sepuluh bungkus garam halus bermerek dan sepuluh bungkus penyedap rasa alias micin ke dalam keranjang.

"Di zaman kuno, garam murni yang warnanya putih bersih begini pasti harganya selangit buat para bangsawan," pikir Raka licik.

Setelah itu ia pindah ke lorong perlengkapan rumah tangga dan mengambil belasan korek api gas beraneka warna.

Barang kecil yang bisa mengeluarkan api secara instan ini pasti akan membuat orang-orang zaman dahulu jantungan.

Terakhir, Raka membeli lima buah pisau lipat stainless steel yang mengkilap dari rak dekat kasir.

Bruk.

Raka meletakkan keranjangnya yang penuh sesak itu di meja kasir membuat si pegawai minimarket melongo.

"Banyak banget belanjanya, Kak. Mau buka warung sembako ya?" tanya kasir pria itu mencoba basa-basi.

"Iya, Mas. Buat modal usaha di kampung," jawab Raka asal sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribuan.

Total belanjaannya hanya menghabiskan sekitar tiga ratus ribu rupiah saja, sangat murah untuk modal bisnis antar dunia.

Raka keluar dari minimarket dengan menenteng dua kantong plastik besar yang cukup berat.

Sambil berjalan kembali ke apartemen, ia tidak menyadari bahwa pria bertopi hitam tadi masih setia mengikutinya dari jarak jauh.

Pria bertopi hitam itu mengeluarkan ponselnya lalu memotret Raka diam-diam.

"Halo, Bos Bima. Target baru saja menyewa apartemen mewah dan sekarang sedang belanja bumbu dapur," lapor pria bertopi hitam itu lewat telepon.

"Terus pantau dia. Jangan sampai kehilangan jejaknya satu detik pun," balas suara Bima dari seberang telepon.

"Siap, Bos. Target sepertinya orang bodoh yang baru dapat lotere, gerak-geriknya sangat ceroboh," ejek pria bertopi itu sambil mematikan panggilan.

Setibanya di dalam unit apartemennya yang aman, Raka mengunci pintu rapat-rapat.

Ia meletakkan kantong belanjaannya di atas meja ruang tamu lalu tersenyum puas.

"Sekarang waktunya tes fitur penyimpanan sistem untuk bawa barang ini," ucap Raka antusias.

"Buka penyimpanan sistem."

Sring.

Layar biru transparan muncul di hadapan Raka menampilkan ruang kotak virtual yang masih kosong melompong.

"Simpan semua barang di atas meja."

Wush.

Dua kantong plastik besar berisi bumbu dapur, korek api, dan pisau lipat itu lenyap dalam sekejap mata.

Di layar biru, kini muncul ikon-ikon kecil yang mewakili barang belanjaan Raka beserta jumlahnya.

[Kapasitas Penyimpanan: 10 Meter Kubik. Terisi: 0.5 Meter Kubik]

"Bagus. Dengan begini gue nggak perlu repot pikul karung kayak kuli pasar pas ngelewatin gerbang," puji Raka pada fitur Dewa Naga tersebut.

Raka merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan gagang pintu kuningan berukir naga.

Ia memegang gagang pintu itu erat-erat dengan telapak tangannya yang mulai berkeringat karena gugup.

Ini adalah ekspedisi keduanya, dan ia berniat mencari desa tempat pria paruh baya kemarin tinggal.

"Gue harap bapak tua sama anaknya itu masih ada di sekitar hutan sana," harap Raka dalam hati.

Raka memejamkan matanya, memfokuskan pikirannya pada pemandangan hutan kuno yang ia kunjungi pagi tadi.

"Buka gerbang dunia."

Sring.

Udara di tengah ruang tamu apartemen mewah itu mendadak terdistorsi kuat hingga membuat gorden jendela berkibar.

Celah cahaya keemasan setinggi dua meter robek membelah udara, menampilkan pemandangan hutan lebat dan suara kicauan burung.

Tanpa membuang waktu, Raka melangkah mantap masuk ke dalam celah cahaya tersebut.

Wush.

Gerbang cahaya itu tertutup dan menghilang sepenuhnya, menyisakan ruang tamu apartemen yang kosong dan hening.

Brak.

Pintu ruang kerja Sasa didorong dengan kasar dari luar membuat wanita cantik itu mengangkat wajahnya dari tumpukan dokumen.

Bima masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sebuah tablet di tangannya.

"Nona Sasa, ada masalah dengan pengintaian kita," lapor Bima dengan nada sedikit tegang.

Sasa meletakkan pulpen mahalnya lalu menyilangkan tangan di depan dada.

"Masalah apa? Apa gembel itu menyadari kalau dia sedang dibuntuti?" tanya Sasa dingin.

"Bukan begitu, Nona. Target masuk ke dalam unit apartemennya satu jam yang lalu dan informan kita terus memantau pintu masuknya."

Bima meletakkan tablet itu di atas meja Sasa, menampilkan rekaman kamera keamanan apartemen yang berhasil diretas anak buahnya.

"Lalu apa masalahnya, Bima? Jelaskan dengan bahasa manusia," desak Sasa mulai tidak sabar.

"Informan kita curiga karena target tidak keluar-keluar. Jadi dia menyogok petugas kebersihan untuk mengecek unit tersebut."

Bima menelan ludah sebelum melanjutkan kalimatnya yang terdengar tidak masuk akal.

"Unit apartemen itu kosong melompong, Nona. Raka Mahesa menghilang dari dalam kamar yang terkunci dari dalam."

Alis Sasa bertaut keras mendengar laporan pengawalnya itu.

"Menghilang? Kau pikir ini acara sulap murahan di televisi?" bentak Sasa menggebrak meja.

"Itu kenyataannya, Nona. Tidak ada jendela yang terbuka dan dia tidak pernah keluar dari pintu depan."

Sasa berdiri dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di depan jendela besar ruang kerjanya.

Otak jenius wanita itu berputar keras mencoba merangkai teka-teki tentang identitas asli Raka.

Ginseng seribu tahun, jamur truffle ajaib, dan sekarang kemampuan melarikan diri dari ruangan tertutup.

"Pemuda itu bukan gembel sembarangan. Dia pasti menyembunyikan rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar bisnis herbal," gumam Sasa menyeringai tipis.

Sasa menatap Bima dengan mata cokelatnya yang menyala penuh tekad.

"Tarik semua informan dari lapangan. Biarkan Raka Mahesa merasa aman dan tidak diawasi."

"Tapi, Nona, bagaimana kalau dia kabur membawa pusaka lainnya ke pesaing kita?" protes Bima khawatir.

"Dia tidak akan kabur, Bima. Orang miskin yang baru memegang uang dua miliar pasti akan kembali ke tempat dia menimbun hartanya."

Sasa kembali duduk di kursi kebesarannya dan menatap kotak kaca berisi ginseng liar di atas mejanya.

"Saat dia muncul lagi nanti, aku sendiri yang akan mengurusnya."

Sementara itu, Raka mendarat dengan mulus di atas tanah basah yang dipenuhi dedaunan kering.

Udara dingin hutan kuno langsung menyambut paru-parunya.

Raka melihat sekeliling dan menyadari ia muncul tepat di titik yang sama saat ia meninggalkan tempat ini.

Batu datar berselimut lumut tempat ia meletakkan botol bir kaca tadi pagi masih ada di sana.

"Sistem gerbang ini lumayan akurat juga, titik kordinat kembalinya nggak meleset," puji Raka puas.

Krak.

Suara ranting patah dari arah kanannya membuat Raka langsung bersembunyi di balik pohon raksasa.

Ia mengintip dari balik batang pohon dan melihat tiga orang pria berjalan mengendap-endap.

Mereka memakai baju kulit binatang yang kasar dan membawa tombak kayu dengan ujung batu runcing.

"Cepat cari jejak orang tua sialan itu. Dia pasti bersembunyi di sekitar sini bawa barang bagus!" bisik salah satu pria bertubuh kekar.

"Kalau kita berhasil rampas pusaka kaca itu, kepala suku pasti bakal kasih kita hadiah daging enak," sahut pria yang lain.

Raka mengerutkan dahi mendengar percakapan mereka berkat bantuan terjemahan otomatis dari sistem.

"Gawat, bapak tua itu kayaknya lagi diburu gara-gara botol bir rongsokan gue," batin Raka merasa sedikit bersalah.

1
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!