NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Tisa mengklik tombol *print*, mendengarkan suara mesin pencetak yang berderet halus memecah keheningan lantai paling atas gedung Oliver Group. Begitu lembaran-lembaran kertas tebal itu keluar, Tisa segera menyusunnya, menyatukannya dalam stop map kulit hitam eksklusif, dan menyegelnya sesuai prosedur kerahasiaan.

Tanpa membuang waktu, Tisa merapikan pakaian kerjanya dan melangkah menuju pintu ganda bernuansa kayu gelap yang terletak di ujung koridor utama. Pintu ruang kerja sang Presdir.

*Tok, tok, tok.*

"Masuk," suara berat dan bernada dingin dari dalam ruangan menyahut singkat.

Tisa mendorong pintu berat itu lalu melangkah masuk. Di balik meja kerja raksasa berbahan kayu mahoni, Luca Oliver tampak masih sibuk meneliti beberapa grafik keuangan di layar komputernya. Aura dominan dan intimidatif yang terpancar dari pria itu selalu berhasil membuat ruang kerja yang luas tersebut terasa makin menyempit dan menyerap udara di sekitarnya.

"Permisi, Tuan Luca," ujar Tisa sopan seraya meletakkan stop map hitam itu tepat di sisi meja kerja Luca. "Laporan dan analisis alur kepemilikan saham rahasia yang Tuan minta sudah selesai saya kerjakan. Seluruh data perubahannya sudah disederhanakan agar mudah dipahami."

Luca menghentikan gerakan jemarinya di atas *keyboard*. Pria itu perlahan mendongak, mengunci pandangannya pada Tisa. Iris mata hitamnya yang tajam seolah sanggup menembus pikiran siapa pun yang berdiri di hadapannya.

"Kamu sudah memastikan tidak ada celah hukum atau kebocoran data dari pihak luar?" tanya Luca datar, nada suaranya tak menunjukkan keraguan sedikit pun.

"Sudah, Tuan," jawab Tisa mantap dengan profesionalisme tinggi. "Seluruh identitas pemilik asal dan pihak kunci sudah dienkripsi sesuai arahan Tuan. Tidak ada seorang pun di divisi keuangan yang bisa membaca alur transaksi ini selain Tuan sendiri."

Luca meraih stop map hitam tersebut, membukanya seraya memindai barisan angka dan grafik yang dirapikan Tisa dengan sangat presisi. Senyum tipis yang tak terdeteksi hampir mengukir bibirnya. Kerja sekretaris pribadinya ini memang tidak pernah mengecewakan.

"Bagus," balas Luca pendek seraya menutup kembali berkas tersebut. "

"Terima kasih, Tuan Luca. Saya permisi dulu," pamit Tisa seraya membungkuk hormat.

Saat Tisa berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja Luca, ia menarik napas lega karena tugas rumitnya akhirnya selesai. Tisa sama sekali tak menyadari bahwa laporan berharga yang baru saja diserahkannya adalah dokumen kunci yang digunakan oleh bosnya untuk membebaskan Ruby—sahabat yang selama ini ia tangisi—dari cengkeraman ketakutan keluarga Archelio.

Luca menutup stop map hitam di mejanya dengan kepuasan dingin. Hasil kerja Tisa memang sempurna, persis sesuai dengan perhitungan matangnya untuk menuntaskan kebangkrutan keluarga Archelio.

Namun, saat Luca hendak mematikan lampu meja kerjanya, ponsel pribadi yang berada di dalam saku jasnya bergetar kencang.

Ia merogoh ponsel itu dan mengerutkan dahi. Di layarnya tertera pemanggil yang tak biasa: **Telepon Rumah**. Para pelayan dan pengawal di mansion memiliki instruksi ketat untuk tidak pernah mengganggu Luca melalui jalur pribadi kecuali dalam kondisi darurat tingkat tinggi.

Luca menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Ada apa?"

*"T-Tuan Luca!"* suara Bi Ratna terdengar panik dan gemetar hebat dari seberang telepon, diselingi suara isak tangis yang tertahan. *"Non Ruby, Tuan... Non Ruby terpeleset dan jatuh ke kolam renang belakang!"*

Rahang Luca seketika mengeras. Udara di dalam ruang kerjanya mendadak terasa membeku. "Bagaimana bisa?"

*"Saya tidak tahu pasti, Tuan... sepertinya Non Ruby mau mengambil sesuatu di tepi kolam. Non Ruby tidak bisa berenang, Tuan! Pas pengawal menemukan dan mengangkatnya, Non Ruby sudah... sudah pingsan dan tidak bernapas lancar. Sekarang dokter pribadi sedang menanganinya di kamar rawat mansion!"*

*Brak!*

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Luca menghempaskan ponselnya ke atas meja dan menyambar kunci mobilnya. Wajahnya yang biasa tenang tanpa ekspresi kini berubah kelam, memancarkan aura amarah dan kepanikan yang luar biasa membara.

Pria yang biasanya selalu tenang dalam mengendalikan situasi paling berdarah sekalipun, kini melangkah lebar menembus koridor kantor dengan napas memburu. Ia mengabaikan Tisa yang sempat menyapa heran di depan lift, langsung menerobos masuk ke dalam mobilnya dan menancap gas dengan kecepatan gila menembus jalanan kota menuju mansion.

Di dalam pikirannya, hanya ada satu gambaran yang terus berputar: tubuh rapuh Ruby yang tak berdaya. Kontras dengan segala pertahanan kokoh yang ia bangun, rasa takut kehilangan gadis itu menghantam dada Luca dengan begitu telak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!