Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Bisikan orang-orang
Akhirnya jam pulang sekolah berbunyi! Para siswa-siswi sibuk dengan kegiatan masing-masing—ada yang bergegas mengambil motor di parkiran, nongkrong sebentar sebelum pulang, hingga murid yang masih asyik mengobrol dengan guru membahas soal tugas.
Hari itu, Danu berjalan pulang bersama kedua temannya. Sepanjang perjalanan, mereka membicarakan banyak hal seputar sekolah maupun topik-topik ringan yang sukses membuat mereka tertawa lepas.
Namun, di tengah perjalanan, langkah mereka mendadak terusik oleh bisikan-bisikan orang di pinggir jalan.
"Hei, lihat, dia gendut banget. Dan lihat, ada orang yang mau berteman dengan dia," bisik seseorang terang-terangan.
"Iya, ya... padahal kan jelek, kok mau-maunya ditemenin?" sahut yang lain mencibir.
Awalnya Danu hanya bisa menunduk, meski dalam hati ia sudah agak terbiasa dengan hinaan semacam itu. Menyadari suasana hati Danu yang mendadak suram, Zahra langsung mencoba menghiburnya agar tidak tersinggung.
"Oh iya, Danu... kamu bahagia hari ini?" tanya Zahra mengalihkan perhatian.
"Iya... tapi Zahra, kamu gak usah repot-repot ngehibur aku, kok. Aku udah biasa..." balas Danu lirih.
"Serius lu?" tanya Rio dengan nada penasaran dari samping kirinya.
"Iya," angguk Danu pelan.
"Sesekali bales balik dong! Jangan diem aja!" gerutu Rio kesal karena gemas melihat Danu yang terlalu sering mengalah.
"Hahaha, iya... kapan-kapan deh," balas Danu tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, mereka sampai di persimpangan jalan tempat arah rumah mereka mulai berpisah. Ketiganya lambaikan tangan sambil tersenyum ramah.
Begitu tiba di kamar kosnya yang sempit, Danu menutup pintu perlahan. Hari ini memberinya banyak pelajaran sekaligus semangat baru untuk menjalani hari-hari sekolah yang tidak lagi terasa suram.
"Haa... akhirnya sampai juga," gumam Danu lega. "Enaknya ngapain ya?"
Matanya menatap meja belajar sebelum melirik ponselnya. "Oh iya, aku nulis dulu deh, mau lanjut bikin bab berikutnya."
Ia mendesah pelan. "Hmm... sebenarnya aku ingin ganti HP karena udah lemot, tapi gak ada duit. Haa... ya udah, gak usah dipikirkan. Lagian nulis juga bisa dapet penghasilan. Ayo semangat, Danu!"
Danu segera mendudukkan diri dan mulai mengetik di ponsel kentangnya yang sudah tua dan tidak memadai itu. Meskipun fasilitasnya terbatas, Danu tidak peduli. Ia bertekad untuk menghidupi dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain—terutama keluarganya yang bahkan enggan melihat batang hidungnya. Kini, ia hanya bisa berjuang sendiri, merajut asa di tengah kehidupan yang menyimpan begitu banyak rasa.
Keesokan harinya, matahari terbit dengan cerah. Langit pagi itu tampak bersih, seolah ikut mendukung mood Danu yang masih membara dan penuh semangat.
Suasana hari itu seakan-akan merestui kebahagiaan kecil yang tengah dirasakan Danu. Dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan dari biasanya, ia mulai berjalan menuju sekolah.
Tepat di persimpangan jalan, Danu tak sengaja berpapasan dengan kedua temannya yang datang dari arah berlawanan.
"Yo, Danu! Semangat banget nih kayaknya hari ini," sapa Rio ramah.
"Iya," jawab Danu singkat sambil tersenyum.
"Hih, jangan ganggu semangatnya, tahu!" balas Zahra sembari melirik ke arah Rio dengan tatapan tajam.
"Apalah, ini kan cuma basa-basi doang, masa gak ngerti sih," bela Rio sewot.
"Oh," balas Zahra singkat, acuh tak acuh.
Rio menggelengkan kepala pelan, lalu kembali menoleh ke arah Danu. "Jadi, Danu... lu semangat karena apa nih?"
"Hmm... karena kalian. Terima kasih ya sudah mau jadi temanku!" ucap Danu tulus, memunculkan sedikit rona malu di wajahnya.
"Ohh, soal itu... ya, sama-sama, gak usah sungkan kali," jawab Rio santai.
Tanpa terasa, karena asyik mengobrol sepanjang jalan, mereka bertiga tahu-tahu sudah sampai di gerbang sekolah dan langsung melangkah masuk ke dalam kelas.
Namun, ketenangan pagi itu langsung diuji begitu mereka duduk di bangku masing-masing. Guru mata pelajaran matematika yang terkenal disiplin mendadak mengumumkan pengumpulan PR MTK.
Mendengar pengumuman itu, Rio langsung panik bukan main. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Duh... gue belum kerjain lagi!"
Panik karena waktu sudah habis, Rio langsung menoleh ke arah Danu. "Dan, contek dong! Nanti gue traktir deh!"
"Ehh, tapi kan..." Danu ragu-ragu.
"Gapapa, please dong, bantu temenmu yang malang ini!" mohon Rio dengan wajah memelas.
"Ya udah, nih... cepetan dikit, keburu gurunya mutar ke barisan kita," kata Danu mengalah sambil menyerahkan buku tugasnya.
"Tenang saja, gue itu punya keahlian khusus... speed kilat!" seru Rio percaya diri.
Rio langsung menyambar bolpoin dan mulai menulis dengan kecepatan penuh. Sayangnya, nasib berkata lain. Baru saja tangannya hampir merampungkan nomor terakhir, sang guru mendadak beranjak dari meja guru dan mulai melangkah mengitari ruangan.
"Eh, tunggu, Pak!" seru Rio refleks.
Guru matematika itu menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah meja Rio. "Kamu ini... dari tadi malah ribut sendiri. Bawa buku tugasmu, ikut ke ruang guru sekarang!"
"Iya, Pak..." gerutu Rio pasrah.
Rio pun membuntuti langkah sang guru keluar kelas, sementara Danu dengan setia ikut mengekor di sampingnya sebagai bentuk solidaritas antarteman.
Begitu sampai di luar kelas, Rio langsung berbisik pada Danu dengan rasa bersalah. "Duh, maaf ya, Danu... gara-gara gue nyontek, lu jadi ikut kena repot."
"Ya, gak apa-apa," jawab Danu fleksibel.
"Yaudah... sesuai janji tadi, nanti istirahat gue traktir makanan di kantin!" janji Rio bersungguh-sungguh.
"Oke, terserah lu," balas Danu tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, Rio keluar dari ruang guru dengan wajah ditekuk dan langkah gontai. Danu yang sejak tadi menunggunya di depan pintu segera menghampiri.
"Gimana? Dimarahin habis-habisan?" tanya Danu menahan senyum.
"Bukan cuma dimarahin, gue disuruh bersihin toilet cowok sepulang sekolah nanti," keluh Rio sambil mengusap tengkuknya kasar. "Sial bener hari ini."
"Hahaha, lagian lu nunda-nunda ngerjain PR. Ya udah, sabar aja," balas Danu, mulai terbiasa melontarkan candaan.
"Iya, iya. Ayo ke kantin, Zahra pasti udah nungguin. Sesuai janji, gue traktir lu hari ini."
Mereka berdua berjalan menuju kantin dan langsung menemukan Zahra yang sedang duduk santai sambil meminum es teh. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya melihat wajah suram Rio.
"Loh, kok kalian lama banget? Wah... jangan bilang kamu abis dihukum Pak Guru ya, Yo?" tebak Zahra tepat sasaran.
"Gak usah ngeledek lu. Gue lagi apes aja," gerutu Rio seraya menarik kursi kayu dan menghempaskan tubuhnya. "Dan, lu mau pesen apa? Buruan sebelum gue berubah pikiran."
"Gue pesen mie ayam aja deh, makasih ya," jawab Danu cepat.
Mendengar itu, mata Zahra langsung berbinar. "Wah, Rio lagi baik! Aku juga ditraktir, kan?"
"Kagak! Duit gue menipis, cuma cukup buat nebus rasa bersalah gue ke Danu," tolak Rio mentah-mentah.
"Dih, pelit banget lu! Awas aja ya, besok-besok kalau butuh contekan aku gak mau bantu," ancam Zahra sambil memanyunkan bibirnya.
"Biarin, gue bisa minta Danu lagi. Bener kan, Dan?"
"Eh? Kok jadi aku yang repot?" balas Danu sambil tertawa kecil, melihat kedua temannya kembali berdebat memperebutkan hal sepele.
Di tengah keramaian kantin siang itu, Danu memandangi wajah Rio dan Zahra secara bergantian. Bisikan-bisikan jahat dari orang-orang di jalan tadi pagi kini terasa sangat jauh, menguap begitu saja tanpa sisa.
Dulu, satu hinaan bisa membuat Danu mengurung diri berjam-jam dalam kegelapan dan membenci dunia. Namun sekarang, obrolan receh, perdebatan konyol, dan traktiran mie ayam dari teman-temannya berhasil menjadi pelindung yang kokoh.
Danu akhirnya menyadari, ia tidak butuh pengakuan dari semua orang untuk merasa berharga. Ia hanya butuh secercah cahaya ini—cahaya hangat dari orang-orang yang tulus menerimanya apa adanya.