NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 KESAKSIAN DION DAN SEJARAH GELAP
Napas Yuda tertahan di kerongkongan. Jantungnya berdetak hebat, memukul-mukul dinding dadanya seakan ingin melompat keluar.
Di bawah temaram lampu jalan area parkir rumah sakit yang berkedip pelan, matanya tak bisa lepas dari sosok perempuan bergaun merah menyala yang berdiri di bawah rimbunnya pohon itu.
Senyuman menyeringai itu...
Tatapan mata yang gelap dan kosong itu...
Semuanya persis seperti raut wajah Harumi pada saat detik-detik sebelum pisau pusaka itu menembus perut Haruma.
"Tumbal pertama belum lunas... Jangan coba-coba lari, Anak Manusia..."
Bisikan berbahasa Jawa kuno itu tidak terdengar melalui telinganya, melainkan bergaung langsung di dalam kepalanya, menggema, dan menggoreskan teror yang membekukan aliran darah.
Yuda memundurkan langkahnya, kakinya tersandung pembatas trotoar hingga ia jatuh terduduk di atas aspal yang dingin. Tangannya gemetar hebat saat ia menunjuk ke arah pohon itu.
Namun, tepat pada detik berikutnya, sorot lampu jauh dari sebuah mobil yang baru saja berbelok memasuki area rumah sakit menyapu kegelapan di sudut tersebut.
Silau cahayanya memaksa Yuda memejamkan mata sesaat.
Ketika ia kembali membuka matanya, sosok bergaun merah itu telah lenyap. Menghilang tanpa jejak, seolah tertelan oleh pekatnya malam. Yang tersisa di udara hanyalah aroma kemenyan yang sangat tajam, bercampur dengan bau anyir darah yang perlahan memudar terbawa angin malam yang dingin.
Yuda mengusap wajahnya dengan kasar. Keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya.
Ia kini sadar, ancaman yang diucapkan oleh ayah angkat kekasihnya, Zaki, tidak ada artinya dibandingkan dengan ancaman dari entitas gaib ini.
Zaki menyuruhnya menjauh, tetapi makhluk kuno itu baru saja menandainya. Yuda tidak bisa lari, dan ia sama sekali tidak berniat untuk lari. Ia harus menyelamatkan Harumi yang kini meringkuk di balik jeruji besi, dan Haruma yang sedang mempertahankan nyawanya di ruang operasi.
.....
.....
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan kosong di dekat lobi rumah sakit yang dipinjam sementara oleh pihak kepolisian, Dion tengah duduk berhadapan dengan Inspektur Bayu.
Wajah sang sutradara tim drama itu terlihat loyo. Secangkir kopi hitam yang disediakan oleh petugas keamanan sama sekali tak disentuh oleh Dion.
Inspektur Bayu mengetuk-ngetukkan ujung bolpoinnya ke atas meja, menatap Dion dengan pandangan mengintimidasi. Melaksanakan proses BAP yang nanti akan diberikan laporannya ke kantor kepolisian.
"Jadi, Mas Dion... Anda adalah penanggung jawab seluruh jalannya pementasan malam ini. Saya ingin Anda menjelaskan sekali lagi, bagaimana pisau pusaka berumur ratusan tahun itu bisa lolos dari pengawasan tim properti Anda dan berakhir di tangan saudari Harumi?"
Dion menarik napas panjang, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Pak, saya berani bersumpah demi Tuhan. Saya sendiri yang mengecek kotak properti sebelum anak-anak naik ke atas panggung. Pisau yang dipakai Harumi untuk menusuk Kakaknya itu, nggak ada sama sekali di dalam kotak itu! Saya bahkan sempat merogoh ke dalam kotak properti itu, Pak! Dan nggak ada sama sekali sebuah pisau pun!" Dion sekali lagi coba menjelaskan yang sesungguhnya.
"Lalu bagaimana pisau itu bisa ada di sana? Apakah ada jeda waktu di mana kotak properti itu luput dari pengawasan Anda?" kejar Inspektur Bayu, matanya menyipit mencari celah kebohongan.
"Hanya sekitar sepuluh menit saat saya mengumpulkan anak-anak untuk briefing terakhir," jawab Dion jujur.
"Tapi, Pak... Anda harus percaya pada saya. Masalahnya bukan sekadar siapa yang menukar pisau itu. Masalah utamanya adalah Harumi sendiri. Harumi yang berdiri di atas panggung malam ini... bukanlah Harumi yang saya dan teman-teman saya kenal." tambah Dion lagi.
Inspektur Bayu menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Mas Dion, saya sudah tegaskan kepada Mas Yuda sebelumnya. Saya tidak bisa memasukkan unsur supranatural, kesurupan, atau kerasukan ke dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Di mata hukum kita, hal-hal semacam itu tidak memiliki nilai pembuktian." jawab polisi itu.
Dion mengepalkan tangannya di atas meja, frustrasi dengan dinding logika aparat yang begitu kaku. Dion berpikir keras bagaimana caranya supaya sang polisi di depannya ini bisa mempercayai kata-katanya.
"Pak Bayu, coba Bapak bayangkan! Saya berdiri tak jauh dari sisi panggung. Saya bisa melihat wajah Harumi dengan sangat jelas dari samping. Tatapan matanya... matanya menatap kosong, Pak! Bola matanya sama sekali tidak bergerak dan tidak berkedip memantulkan cahaya lampu. Urat-urat di lehernya menegang seperti sedang menahan beban yang sangat berat. Dan senyumannya..." jelas Dion, dan tertahan sejenak.
Dion menelan ludah, membayangkan kembali memori mengerikan itu membuat bulu kuduknya berdiri.
"Senyum itu ditarik terlalu lebar hingga wajah Harumi tidak seperti manusia normal, Pak. Itu bukan ekspresi seorang pembunuh berdarah dingin atau psikopat. Itu adalah ekspresi sebuah boneka! Boneka hidup yang dikendalikan paksa oleh dalang tak kasatmata dari dimensi lain!"
Inspektur Bayu terdiam. Ia adalah seorang polisi veteran yang telah menghadapi berbagai macam raut wajah pembunuh—dari yang penuh amarah hingga yang tak beremosi sama sekali.
Meski logikanya menolak keras argumen Dion, cara pemuda itu bercerita dengan tubuh yang gemetar dan mata yang memancarkan ketakutan murni, membuat sang inspektur sedikit goyah.
Terlebih, temuan sidik jari tunggal dan keanehan logam pisau dari tim forensik sebelumnya masih membayangi pikirannya.
"Meskipun saya memercayai cerita Anda, Mas Dion..." Inspektur Bayu berkata dengan nada yang jauh lebih pelan.
"Pengadilan tidak akan memercayainya. Jika Harumi terbukti memegang pisau itu, dia akan dihukum. Kecuali... kita bisa membuktikan ada orang lain yang merencanakan semua ini dan sengaja menukar senjata tersebut untuk menjebaknya. Apakah Harumi punya musuh? Atau... apakah Teater Arya Sena memiliki saingan yang ingin menghancurkan reputasi kalian?"
Pertanyaan Inspektur Bayu seketika memicu sebuah memori yang selama ini terkubur di benak Dion.
Memori tentang sebuah arsip lama yang pernah ia baca saat pertama kali menjabat sebagai ketua teater kampus bertahun-tahun yang lalu.
"Bukan saingan, Pak..." gumam Dion, matanya menerawang jauh. "Tapi sebuah sejarah gelap."
Inspektur Bayu kembali menegakkan punggungnya, bersiap menulis.
"Sejarah gelap apa maksud Anda?"
"Teater drama Arya Sena adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa tertua di kampus kami. Saya pernah mendengar desas-desus dari para alumni tua, alumni angkatan 90-an," Dion mulai bercerita, suaranya bergetar pelan.
"Tahun 1992... Teater Arya Sena pernah membawakan lakon Roro Jonggrang, persis seperti malam ini. Dan lokasinya juga sama, di pelataran Candi Prambanan."
Alis Inspektur Bayu terangkat. "Lalu apa yang terjadi pada tahun 1992 itu?"
"Pementasan itu tidak pernah selesai, Pak," jawab Dion, menatap lekat-lekat mata sang polisi. "Pemeran Roro Jonggrang pada saat itu... tiba-tiba mengamuk di atas panggung. Dia melukai beberapa pemain lain dengan properti yang tiba-tiba berubah menjadi senjata tajam sungguhan, sebelum akhirnya... dia mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian. Sejak tahun itu, lakon Roro Jonggrang menjadi mitos terlarang di kampus kami. Tidak ada yang berani mementaskannya lagi."
Suasana ruangan itu mendadak hening.
Inspektur Bayu tertegun.
Fakta bahwa ada kejadian kejahatan yang hampir sama persis di masa lalu memberikan sudut pandang baru dalam penyelidikannya.
"Baru tahun ini..." lanjut Dion dengan nada penuh penyesalan, "Baru tahun ini... Saya, dengan ego dan ambisi saya sebagai sutradara, berani membuka kembali naskah itu. Saya pikir kutukan itu hanya omong kosong. Saya pikir itu hanya kecelakaan panggung biasa di masa lalu. Ternyata saya salah besar, Pak. Saya yang telah membawa anak-anak teater drama itu ke dalam mulut harimau."
Inspektur Bayu menutup buku catatannya.
"Saya akan menyuruh tim saya menggali arsip kepolisian tahun 1992 terkait kasus ini. Ini bisa menjadi petunjuk penting. Terima kasih atas kesaksian Anda, Mas Dion. Anda boleh pergi sekarang, tapi pastikan ponsel Anda selalu aktif jika kami membutuhkan keterangan tambahan."
"Tolong, Pak... Tolong jangan perlakukan Harumi seperti penjahat di sel sana. Dia korban yang sama menderitanya dengan kakaknya," pinta Dion dengan suara memelas sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Dion berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit menuju lobi utama.
Pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah dan kebingungan.
Saat ia melangkah keluar dari pintu kaca, ia melihat Yuda sedang duduk meringkuk di anak tangga teras rumah sakit. Pakaian Yuda masih dipenuhi noda darah yang kini telah mengering dan berubah warna menjadi cokelat gelap.
"Yud..." panggil Dion pelan.
Yuda mendongak. Wajah pemuda itu sepucat mayat, bibirnya membiru karena kedinginan dan ketakutan. "Yon... Dia ada di sini, Yon..." bisik Yuda dengan suara serak.
Dion mengerutkan kening, segera duduk di sebelah Yuda dan menepuk bahu sahabatnya. "Siapa yang ada di sini? Pak Zaki? Bu Nisa? Kan memang udah datang dari tadi mereka berdua disini. Sekarang lagi nemenin Haruma."
"Bukan... Bukan mereka, Yon..." Yuda menggeleng pelan, matanya nanar menatap ke arah area parkir. "Perempuan itu... Perempuan bergaun merah yang merasuki Harumi. Dia baru saja menampakkan wujudnya di bawah pohon itu. Dia tersenyum padaku, Yon. Dia bilang... tumbal pertamanya belum lunas."
Mendengar itu, darah Dion terasa berdesir dingin.
Ia merangkul bahu Yuda kuat-kuat, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan meski dirinya sendiri sedang dilanda ketakutan yang luar biasa.
"Gue percaya sama lo, Yud," ucap Dion mantap.
"Gue baru aja diinterogasi sama Pak Bayu. Gue yakinkan polisi, gue terang-terangan bilang ke mereka kalau senyum dan mata Harumi di atas panggung itu bukan Harumi yang asli. Gue bersaksi kalau ada entitas lain yang mengambil alih tubuhnya malam ini."
Yuda menoleh, secercah harapan kecil muncul di matanya. "Polisi percaya sama kesaksian lo?"
Dion tersenyum kecut dan menggeleng. "Hukum nggak kenal hantu, Yud. Polisi tetap butuh bukti fisik. Tapi... saat interogasi tadi, gue teringat sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa jadi kunci buat kita nyelamatin Harumi dan Kakaknya, Haruma."
Yuda menegakkan punggungnya. "Apa itu, Yon?"
"Tragedi tahun 1992," jawab Dion dengan raut wajah sangat serius. "Teater Arya Sena pernah mementaskan lakon Roro Jonggrang di Prambanan tahun 1992 itu, dan berujung pada pertumpahan darah yang sama persis. Ini bukan sekadar kerasukan biasa, Yud. Ini kutukan yang terus berulang."
Mata Yuda membelalak. Fakta itu menyambar kesadarannya bagai petir di malam hari.
"Pak Zaki memang ngelarang lo buat deketin keluarga mereka lagi," Dion mencengkeram bahu Yuda erat-erat, menatap langsung ke dalam mata sahabatnya yang penuh keputusasaan.
"Tapi persetan dengan larangan itu, Yud! Kita berdua tahu kebenarannya. Kalau kita nyerah dan ninggalin mereka sekarang, entitas itu bakal terus membantai keluarga itu sampai garis keturunan Harumi dan Haruma habis."
Yuda menelan ludah.
Rasa takutnya pada sosok bergaun merah itu perlahan tergeser oleh kobaran tekad yang baru menyala di dadanya.
Rasa cintanya pada Harumi berteriak jauh lebih nyaring daripada ketakutannya pada kematian.
"Lo benar, Yon," desis Yuda, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya kini memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Gue nggak peduli diusir. Gue nggak peduli harus berhadapan sama iblis berumur ribuan tahun sekalipun. Kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1992, dan kita harus cari cara buat matahin kutukan sialan ini!"
Dion mengangguk mantap.
Di bawah bayang-bayang Candi Prambanan yang menjulang dalam kegelapan di kejauhan sana, kedua pemuda itu tanpa sadar telah mendeklarasikan perang melawan sesuatu yang jauh di luar nalar manusia.
Sebuah perburuan melawan kutukan masa lalu yang siap meminta tumbal-tumbal berikutnya.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda