Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 — Memulai Kembali
Pagi itu, setelah sekian lama, Kinara membuka pintu toko kecil yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Toko kue itu tidak terlalu besar. Letaknya berada di salah satu sudut kawasan pertokoan yang cukup ramai, dengan etalase kaca di bagian depan dan dapur kecil di belakang.
Dulu, tempat itu selalu dipenuhi aroma mentega, vanila, dan kue yang baru keluar dari oven. Kinara membangunnya sebelum menikah dengan Rashid, ketika ia masih memiliki kehidupan sendiri dan belum menjadikan rumah tangganya sebagai seluruh dunianya. Namun setelah menikah, toko itu perlahan ia tinggalkan.
Awalnya Kinara hanya mengurangi jam operasional karena ingin membantu Rashid mengembangkan bisnis. Lama-kelamaan, ia berhenti menerima pesanan. Oven yang dahulu hampir setiap hari menyala akhirnya lebih sering diam. Rak-rak yang dulu dipenuhi kue pun mulai berdebu.
Kini, setelah kehilangan semuanya, Kinara kembali ke tempat itu. Ia berdiri di tengah toko sambil memandangi sekeliling. "Sudah lama sekali aku meninggalkan toko ini," gumamnya. Mengingat kembali masa lalu.
Kinara membuka semua jendela dan pintu agar udara segar masuk. Ia kemudian mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja, rak, serta etalase kaca. Debu yang menempel di berbagai sudut membuatnya beberapa kali bersin, tetapi ia tidak mengeluh.
Justru untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa pikirannya sedikit lebih tenang. Hanya dirinya, toko kecil ini, dan sisa kenangan yang tersisa. Kinara berhenti di depan sebuah papan menu lama yang masih tergantung di dinding lalu tersenyum tipis.
"Dulu aku sangat menyukai tempat ini. Sekarang pun masih," lirihnya menatap toko kue kebanggaannya.
Dulu, ia bisa menghabiskan berjam-jam di dapur hanya untuk mencoba resep baru. Ia bahagia ketika pelanggan kembali memesan kue buatannya. Ia bahkan pernah bercita-cita membuka beberapa cabang suatu hari nanti. Namun semua itu berhenti ketika Rashid membutuhkan bantuannya.
Kinara memilih membantu suaminya, meninggalkan toko kue yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tetapi kini ia baru menyadari bahwa selama lima tahun terakhir, ia telah menyerahkan hampir seluruh kehidupannya demi seseorang yang bahkan tidak ragu membuangnya.
Kinara menarik napas panjang, lalu tersenyum lebar, menyemangati dirinya sendiri. "Tidak apa-apa, Kinara. Semuanya akan segera membaik. Kini waktunya untuk bangkit kembali menjadi wanita mandiri."
Ia menatap toko kuenya sekali lagi. "Aku pasti bisa memulainya lagi." Kinara kembali membersihkan rak dengan semangat yang sedikit berbeda.
Kali ini ia tidak ingin toko tersebut menjadi pelarian dari kegagalan pernikahannya. Ia ingin menjadikannya awal baru.
Menjelang siang, toko itu mulai terlihat jauh lebih bersih dibanding saat ia membukanya dan Kinara baru saja selesai membersihkan bagian depan etalase ketika suara sebuah mobil berhenti di depan toko.
Ia tidak terlalu memperhatikannya. Namun beberapa detik kemudian, suara pintu mobil ditutup terdengar dari luar. Kinara terus bekerja sampai suara langkah kaki memasuki toko.
"Ternyata kau kembali ke tempat asalmu?"
Tubuh Kinara seketika menegang saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, gerakannya kontan berhenti.
Perlahan, Kinara menoleh dan melihat Rashid yang berdiri di ambang pintu. Di sampingnya ada Marissa. Perempuan itu mengenakan gaun sederhana tetapi tampak mahal. Salah satu tangannya menggenggam lengan Rashid, sementara tangan lainnya sesekali menyentuh perutnya yang semakin besar.
Kinara menatap mereka tanpa ekspresi. "Mau apa kalian ke sini?"
Rashid memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Jangan menganggap dirimu tinggi, kami hanya kebetulan lewat."
Kinara mendengus pelan. "Oh," sahutnya berbalik kembali dan bersikap seolah-olah kedua orang itu tak ada di sana. Membersihkan etalase terlihat lebih menyenangkan dibandingkan dengan berbicara dengan dua orang itu.
"Kalau begitu pergilah, aku sedang bekerja."
Marissa tersenyum tipis, tetapi ekspresi wajahnya jelas ingin membuat Kinara kesal. Ia semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Rashid. "Kami baru saja dari toko perhiasan, Mbak."
Kinara sama sekali tidak tertarik, ia berpura-pura tak mendengarnya.
Namun, Marissa tak kehilangan akal, ia sengaja mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan sebuah cincin berlian berkilau di jari manisnya.
"Kami baru memilih cincin untuk pernikahan kami." Marissa berkata dengan keras, semata untuk membuat Kinara menoleh ke arahnya.
Kinara berhenti bergerak, hanya sesaat kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya. "Selamat, ya."
Jawaban singkat itu rupanya tidak memuaskan Marissa. "Terima kasih, Mbak." Ia melirik Rashid yang terus saja menata ke arah Kinara. “Mas!”
"Rencananya pernikahan kami akan dilangsungkan dalam waktu dekat." Marissa menambahkan. Nada suaranya terdengar manis, tetapi Kinara bisa merasakan ada kepuasan terselip di baliknya.
Kinara hanya mengangguk. "Semoga pernikahan kalian lancar, ya."
Alih-alih membahas pernikahannya dengan Marissa, Rashid justru memperhatikan keadaan toko kue milik Kinara. Matanya berkeliling, memerhatikan Kinara dan toko itu.
"Kau mau membuka toko ini lagi?" tanyanya pada Kinara. “Kenapa? Kau menolak harta gono-gini dan memilih membuka toko kue ini lagi?”
Kinara menatapnya, melepaskan kain lap dan menatap Rashid dengan berani. “Ya, memangnya kenapa? Menerima atau menolak pemberianmu adalah hakku, dan perihal aku ingin melakukan apa setelah bercerai darimu, semua itu bukan urusanmu lagi, Rashid.”
Rashid menghela napas, lalu berkata pelan. "Kau tidak perlu melakukan ini, Kinara. Kau bisa saja menerimanya dan hidup dengan nyaman. Aku ragu kau bisa menghasilkan banyak uang hanya dari menjual kue."
Kinara mengernyit, kesal. Sementara Marissa tampak puas mendengarnya.
"Aku tidak membutuhkan uangmu. Karena tanpa uang darimu pun, aku tetap bisa hidup," sahut Kinara kesal, tangannya mengepal kuat.
Rashid melangkah lebih dekat. "Kenapa kau memilih menyiksa dirimu sendiri? Aku sudah menyiapkan harta gono-gini. Jumlahnya cukup untuk membuatmu hidup nyaman selama beberapa tahun."
Kinara menatapnya lekat-lekat. "Kenapa kau begitu ingin memberiku uang?"
"Karena aku tidak ingin merasa bersalah."
Jawaban itu membuat Kinara tertawa pendek. "Jadi, uang itu untuk membeli rasa bersalahmu?"
Rashid terdiam, tak tahu harus menjawab apa karena pertanyaan itu terasa menohok baginya.
“Mbak, tolong jangan berkata seperti itu. Mas Rashid sudah berbaik hati menolongmu,” ucap Marissa membela.
Kinara tersenyum tipis, lalu melanjutkan dengan suara tenang. "Simpan saja uangmu untuk biaya pernikahan dan persalinan wanita jalang itu."
"Kinara!" sentak Rashid murka. Tatapannya menajam dengan rahang terkatup rapat.
“Mas, aku takut. Sepertinya Mbak Kinara benar-benar membenciku,” cicit Marissa di samping Rashid.
"Jangan bertingkah seolah-olah kau sedang bermurah hati kepadaku padahal kaulah yang membuatku seperti ini. Apakah kau memang sebajingan ini, Rashid?” balas Kinara lantang, langkahnya maju beberapa langkah hingga matanya bertemu tatap dengan itu.
Rashid mengerutkan kening, balas menatap Kinara yang sekarang tampak berbeda baginya. Saat masih menjadi istrinya, Kinara adalah wanita yang anggun dan menuruti semua perkataannya.
“Kenapa kau begitu keras kepala, Kinara? Aku hanya ingin membantumu. Aku tahu aku sudah bersalah padamu, tapi apa sulitnya menerima bantuanku,” ucap Rashid lagi, berusaha tetap bersikap tenang.
Di sampingnya, Marissa merapat takut, apalagi melihat Kinara yang seperti ingin menghabisinya hidup-hidup.
Kinara tersenyum mengejek. "Bantuan? Akulah yang sudah membantumu selama ini, Rashid! Jadi jangan berdiri di depanku sambil menawarkan uang seolah-olah aku perempuan miskin yang harus berterima kasih karena kau bersedia memberiku belas kasihan."
Wajah Rashid memerah. "Kau benar-benar tidak tahu diri."
Kinara terdiam, menatap pria di hadapannya dengan kebencian.
Rashid menunjuk toko kecil di belakangnya. "Aku menawarkan uang karena aku masih memiliki sedikit rasa kasihan kepadamu. Tapi kau malah bersikap seolah-olah kau korban paling besar dalam pernikahan ini."
Kinara tersenyum getir. "Kasihan?" Ia menggeleng. "Aku tidak membutuhkan rasa kasihanmu."
Rashid tertawa sinis. "Lihatlah dirimu." Tatapannya menyapu pakaian sederhana Kinara yang terkena sedikit debu. "Dulu kau adalah istri seorang pengusaha. Sekarang kau kembali menjadi penjual kue."
Kinara tidak menjawab.
Namun Marissa ikut menyela. "Sudahlah, Mas." Ia berpura-pura menenangkan Rashid, tetapi tatapannya justru merendahkan Kinara. "Mungkin Mbak Kinara memang belum bisa menerima kenyataan."
Kinara menatapnya dalam diam, tak ada kata yang keluar dari lisannya tetapi tatapannya sudah cukup membuktikan betapa ia membenci perempuan bernama Marissa itu.
"Bagaimanapun, kehidupan kami akan jauh berbeda setelah menikah." Marissa berhenti sejenak, menatap Kiwnra dari atas hingga bawah lalu melanjutkan, "Mbak tidak perlu malu bekerja di sini. Tapi jangan berharap bisa mendapatkan kehidupan seperti dulu hanya dengan menjual kue."
Rashid menyeringai. "Dia memang selalu terlalu percaya diri."
Marissa mengusap perutnya. "Menurutku, lebih baik Mbak menerima saja uang dari Mas Rashid. Toko kecil seperti ini mungkin tidak akan cukup untuk membiayai hidup Mbak."
Kinara akhirnya menatap mereka berdua dengan tenang. "Sudah selesai? Jika sudah, pergilah dari sini. Kehadiran kalian membuat toko milikku semakin kotor."
Rashid tampak tersinggung. "Kau mengusir kami?"
"Ini adalah tokoku. Aku berhak mengusir pelanggan seperti kalian." Kinara tersenyum tipis.
Rashid mengepalkan tangan. “Baik! Kami pergi, tapi jangan menyesalinya nanti, Kinara.”
Lalu, keduanya pergi dengan perasaan kesal. Sementara Kinara kembali membersihkan etalase, seolah keberadaan mereka tidak lagi penting.
"Aku sudah pernah menyesal,” gumamnya setelah kedua orang itu pergi. "Aku menyesal karena pernah meninggalkan keluargaku demi seseorang yang tidak pantas sepertimu."
Kinara berdiri sendirian di tengah toko. Ia menghela napas panjang. Kemudian pandangannya jatuh pada oven lama di sudut dapur, lalu tersenyum kecil.
"Baiklah." Ia menggulung kedua lengan bajunya. "Jika mereka menganggap aku tidak akan bisa apa-apa hanya karena aku seorang penjual kue."
Kinara menyalakan oven yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. "Aku akan membuktikan bahwa aku bisa membangun semuanya kembali dari sini."