NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukti yang Terkubur

Nelia menggenggam erat lengan Silvia saat mereka berjalan menyusuri lorong bawah tanah.

Suaranya sedikit bergetar, tetapi ia tetap memaksakan diri terdengar tegar.

“Sil...kau takut nggak?”

“Tenang saja.”

“Aku akan melindungimu.”

Silvia tetap menatap lurus ke depan, mengikuti langkah Adrian.

“Nel...”

“Kalau kamu takut, bersembunyilah di belakangku.”

“Siapa yang takut?!”

Nelia langsung mendongakkan dagunya.

Meski begitu...

Nada suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding biasanya.

Dengan keras kepala ia berjalan selangkah ke depan Silvia.

Namun tangannya sama sekali tidak melepaskan pergelangan tangan sahabatnya.

Telapak tangannya bahkan mulai dipenuhi keringat dingin.

Senter di tangan Adrian menjadi satu-satunya sumber cahaya di lorong gelap itu.

Semakin jauh mereka berjalan...

Udara semakin dingin.

Tetesan air terus merembes keluar dari dinding batu.

Tik...

Tik...

Tik...

Suara tetesan air menggema di lorong yang sunyi.

Yang terdengar hanyalah langkah kaki mereka bertiga.

Seolah-olah...

Sudah bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang pernah menginjakkan kaki ke tempat ini.

Beberapa menit kemudian...

Adrian akhirnya berhenti.

“Kita sudah sampai.”

Di hadapan mereka berdiri sebuah dinding batu raksasa yang dipenuhi ukiran tua dan relief kuno.

Adrian mengangkat tangannya.

Ujung jarinya menyusuri permukaan dinding sedikit demi sedikit.

Hingga akhirnya berhenti pada sebuah batu bulat kecil di sudut.

Ia menekannya perlahan.

Krak...

Batu itu masuk ke dalam dinding.

Suara mekanisme tua bergema di seluruh lorong.

Detik berikutnya...

Obor-obor yang menempel di kedua sisi lorong menyala satu per satu.

Cahaya kekuningan perlahan menerangi jalan hingga ke ujung ruangan.

“Nona Silvia.”

Adrian memberi isyarat ke arah sebuah lubang kecil yang memancarkan cahaya merah redup.

Silvia baru melangkah satu langkah.

Tatapan Adrian langsung jatuh ke arah saku bajunya yang sedikit menggembung.

Silvia menyentuh kunci dingin di dalam sakunya.

Ia mengeluarkannya perlahan.

Tatapannya bergantian antara kunci itu dan Adrian.

“Ini...mau dimasukkan ke sana?”

Adrian mengangguk.

“Iya.”

Ia mundur beberapa langkah.

Memberi Silvia ruang yang cukup.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Silvia memasukkan kunci itu ke dalam lubang.

Dari balik dinding batu terdengar suara roda gigi berputar.

Disusul bunyi rantai besi yang bergesekan.

Nelia buru-buru menarik Silvia mundur beberapa langkah ke belakang.

Pintu batu itu perlahan terbuka ke samping.

Hembusan udara yang terperangkap selama bertahun-tahun langsung menerpa wajah mereka.

Cahaya obor perlahan masuk ke dalam ruangan.

Hal pertama yang terlihat...

Sebuah sofa kulit yang dipenuhi debu.

Lalu...

Sebuah layar proyektor besar.

Komputer yang kabel-kabelnya masih terpasang rapi.

Dan...

Sebuah meja kerja yang dipenuhi dokumen.

Di tengah ruangan berdiri sebuah meja besar yang tertutup kain hitam.

Adrian menggenggam keempat sudut kain itu.

Lalu menariknya hingga terlepas seluruhnya.

Nelia memandangi ruangan kecil yang dipenuhi debu beterbangan.

“Tempat apa ini?”

Ia menepuk-nepuk kedua tangannya.

Kemudian menyipitkan mata.

“Rasanya seperti apartemen tua yang sudah setahun lebih ditinggalkan.”

Silvia berjalan menuju meja kerja.

Tatapannya langsung terpaku pada dinding di depannya.

Seluruh dinding itu...

Dipenuhi foto-fotonya.

Sejak masih kecil.

Masa taman kanak-kanak.

Sekolah dasar.

Hingga sekarang.

Momen-momen penting.

Maupun momen yang tampak biasa saja.

Semuanya ada di sana.

Hanya ada satu foto yang berbeda.

Foto itu disimpan di dalam sebuah bingkai.

Warna pinggirannya telah menguning dimakan usia.

Itu adalah foto kelulusan SMP mereka pas tiga tahun lalu.

Chris bersikeras mengajaknya berfoto saat itu.

Di dalam foto...

Chris masih tersenyum begitu cerah.

Rumbai topi wisudanya berkali-kali mengenai pipi Silvia.

Dan pada akhirnya...

Pipi Silvia tetap memerah karena ulahnya.

Nelia yang berdiri di seberang Silvia langsung memahami perasaannya.

Pelan-pelan ia membalik bingkai foto itu menghadap ke bawah.

“Sil...”

“Jangan lihat lagi.”

Silvia memaksakan senyum kecil, “Aku tidak apa-apa kok.”

Suara Adrian kembali memecahkan keheningan, “Nona Silvia.”

Barulah Silvia menyadari...

Di atas meja yang tadi tertutup kain hitam kini terdapat sebuah peti besi berwarna hitam sepanjang hampir satu meter.

Permukannya polos.

Tanpa hiasan apa pun.

Namun keempat sudutnya diperkuat dengan pelat baja yang sangat tebal.

Di bagian tengah hanya terdapat sebuah kunci kombinasi berwarna perak.

Seolah-olah...

Kotak itu sedang melindungi sesuatu.

Atau...

Menyegel sebuah rahasia.

Nelia mengernyit, “Itu...”

Adrian tidak menjawab.

Ia hanya menepuk pelan permukaan peti tersebut.

Debu tipis langsung beterbangan.

Dengan nada yang tetap tenang, ia berkata, “Nona Silvia.”

“Peti ini ditinggalkan Tuan Muda Chris sebelum beliau pergi.”

Silvia hanya memandang peti itu, tidak bergerak.

Adrian melanjutkan, “Anda bisa memilih untuk membukanya sekarang.”

“Atau...”

“Tak pernah membukanya seumur hidup.”

“Tidak seorang pun akan memaksa Anda.”

“Namun...”

“Ada satu hal yang harus Anda ketahui.”

Ia berhenti sejenak.

Tatapannya perlahan jatuh pada peti besi itu.

“Begitu peti ini terbuka...”

“Banyak hal...tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu.”

Ruang bawah tanah kembali sunyi.

Udara terasa semakin berat.

Nelia akhirnya tidak mampu lagi menahan rasa penasarannya.

“Apa sebenarnya isi peti itu?”

Adrian terdiam cukup lama, baru kemudian ia menjawab pelan : “Bukti.”

Satu kata itu saja...

Sudah membuat ruangan terasa semakin dingin.

Nelia membelalak, “Bukti apa?”

Adrian mengalihkan pandangannya ke dinding yang dipenuhi foto Silvia.

“Nyangkut keluarga Devallion.”

“Juga keluarga Pollis.”

“Bahkan...”Ia perlahan mengangkat kepalanya, “Seluruh kalangan elite ibu kota.”

Kerutan di dahi Nelia semakin dalam, “Maksudmu apa?”

Adrian mengembuskan napas panjang, “Selama bertahun-tahun, keluarga Devallion bisa berdiri di puncak kalangan elite bukan hanya karena apa yang terlihat di permukaan.”

“Ada bisnis yang bisa dilihat semua orang. Tentu juga, ada bisnis yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

“Tuan Muda Chris sudah menyelidiki semuanya selama bertahun-tahun.”

Ia kembali berhenti sejenak, “Lalu keluarga Pollis...”

“Bisa memasuki kalangan elite secara mendadak, dan kemudian jatuh secepat itu...”

“Itu juga bukan kebetulan. Semua kejadian itu...berkaitan dengan isi peti ini.”

Wajah Nelia perlahan berubah serius.

“Jadi...”

“Perubahan yang dialami keluarga Pollis selama ini...”

“Termasuk kecelakaan mobil Chris...”

“Bukan sekedar kecelakaan biasa?”

Adrian tidak menjawab, ia kembali memandang Silvia, suaranya sangat pelan, “Nona Silvia, sebelum pergi...Tuan Muda Chris pernah meninggalkan satu pesan.”

“Kalau Anda ingin tetap menjadi gadis kecil yang hidup tanpa beban seperti dulu...tinggalkan tempat ini.”

“Kalau Anda masih ingin tahu...kenapa beliau akhirnya harus berjalan menuju akhir seperti ini...”

Adrian mengankat tangannya, lalu meletakkannya di atas peti besi itu, “Kode sandinya...”

“Anda sudah tahu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!