Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Danau Tibe
Esmera memperhatikan setiap sudut kamar yang akan dia tempati selama berada di Utara. Tatapannya bergerak perlahan, mengamati perabotan, jendela, hingga tirai tebal yang menggantung di sisi tempat tidur.
Kamar itu memang tidak semewah kamar yang biasa dia tempati di istana kerajaan, tetapi suasananya cukup mirip. Ukurannya luas, perabotannya tertata rapi, dan segala sesuatu yang dibutuhkan sudah tersedia. Bahkan tempat tidurnya terlihat begitu nyaman dengan kasur tebal dan selimut hangat yang seolah sengaja dibuat untuk membuat siapa pun enggan bangun.
Setelah menempuh perjalanan selama berhari-hari, Esmera merasa tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.
Sebelumnya, rombongan raja telah menyantap makanan yang disajikan oleh keluarga Duke Utara. Hidangan yang disediakan cukup beragam dan terasa jauh lebih mengenyangkan dibandingkan makanan sederhana yang biasa Esmera makan ketika tinggal sendirian.
Setelah selesai makan, rombongan raja dipersilakan untuk beristirahat di kamar masing-masing. Dan sekarang, Esmera sudah berada di kamarnya.
Setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian yang lebih nyaman, Esmera berjalan menuju tempat tidur. Begitu melihat kasur empuk yang sejak tadi seolah memanggilnya, dia tidak lagi berpikir panjang.
Esmera menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas kasur.
Tubuhnya langsung tenggelam di antara kasur dan bantal yang empuk. Untuk beberapa saat, dia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Namun, pikirannya justru kembali pada alasan mereka datang ke Utara."Masalah apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Esmera mengerutkan kening."Setahuku, aku tidak pernah mengingat ada masalah besar di Utara."
Dia membalikkan tubuhnya, kemudian memeluk bantal di hadapannya."Atau aku saja yang memang tidak tahu karena terlalu sibuk menarik perhatian Edris?"
Esmera terdiam sesaat. Pikiran itu membuatnya menghela napas panjang."Bagaimana aku bisa membantu kalau aku tidak tahu apa-apa?"
Sejak awal, Edris memang selalu menganggap informasi dari Esmera sebagai sesuatu yang penting. Bahkan pria itu membawanya ke Utara karena ada masalah yang cukup serius di wilayah ini.
Tapi sekarang Esmera justru merasa seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
Dia mengembuskan napas kesal."Seharusnya Edris bertanya dulu padaku. Apa aku tahu tentang masalah ini atau tidak?"
Esmera menarik selimut sedikit lebih tinggi sambil terus menggerutu. Dia mengerucutkan bibir."Jika aku menjadi tidak berguna di sini, itu salahnya."
Esmera mengangguk sendiri, seolah baru saja menemukan alasan yang sangat masuk akal untuk membela dirinya."Benar. Ini salah Edris, yang sok tahu."
Namun, setelah beberapa detik, dia kembali terdiam. Sebenarnya bukan karena dia tidak ingin membantu.
Justru Esmera ingin sekali mengetahui apa yang sedang terjadi di Utara. Hanya saja, dia tidak memiliki ingatan mengenai masalah tersebut dari kehidupan sebelumnya. Semua yang terjadi sekarang terasa seperti sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak pernah dia persiapkan.
Dan hal itu membuat Esmera sedikit gelisah."Semoga setidaknya tidak ada perang besar atau sesuatu yang lebih buruk."
Dia kembali menghela napas.
Tetapi setelah menggerutu cukup lama, rasa lelah yang sejak tadi dia tahan perlahan mulai mengambil alih.
Kelopak mata Esmera terasa semakin berat.
Mungkin perjalanan panjang selama beberapa hari membuat tubuhnya benar-benar kelelahan. Ditambah lagi, makanan yang baru saja dia santap cukup banyak hingga membuat perutnya terasa penuh dan hangat.
"Ah... mengantuk sekali." Esmera menguap kecil. Dia berniat hanya memejamkan mata sebentar. Hanya sebentar.
Namun, kenyamanan kasur membuat kesadarannya perlahan menghilang. Napasnya menjadi semakin teratur, tubuhnya semakin rileks, dan tanpa menyadarinya, Esmera akhirnya tertidur.
Semua keluhan yang tadi memenuhi kepalanya pun lenyap untuk sementara.
Di kamar yang tenang itu, Esmera tidur pulas tanpa mengetahui bahwa di luar sana, masalah yang membawa mereka jauh-jauh ke Utara sedang menunggu untuk mengungkapkan dirinya.
***
"Jadi, sekumpulan serigala yang memiliki ukuran sangat besar itu sering terlihat di dekat Danau Tibe?" tanya Edris.
Setelah acara makan bersama selesai, Edris langsung memanggil para bangsawan Utara. Ia ingin mengetahui dengan jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi di sekitar Danau Tibe. Sejak mendengar laporan tentang kawanan serigala berukuran tidak wajar itu, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
"Benar, Yang Mulia. Karena ukurannya yang berada di luar nalar, kami memberikan larangan keras kepada siapa pun untuk tidak mendekati danau tersebut," jawab Duke Relis.
"Apa pernah ada korban?"
Duke Relis terdiam sejenak sebelum salah satu ksatria Utara menjawab.
"Selama kita tidak melakukan pergerakan yang mengancam, mereka pun tidak menunjukkan sikap agresif. Namun, jika mereka menganggap seseorang sebagai ancaman, mereka akan menjadi jauh lebih ganas."
Ksatria itu menarik napas sebelum melanjutkan."Beberapa waktu lalu, ada dua orang pendeta yang berusaha menyucikan tempat tersebut. Mereka menghilang setelah memasuki kawasan danau. Dua hari kemudian, keduanya ditemukan sudah tidak bernyawa. Ada luka koyakan yang cukup parah di leher mereka."
Edris mengerutkan keningnya."Mayat mereka utuh?"
"Benar, Yang Mulia. Tidak ada bagian tubuh yang hilang dari kedua mayat tersebut."
Edris terdiam sejenak. Tatapannya berubah semakin serius."Cukup aneh. Kenapa para serigala itu tidak memakan mayat para pendeta?"
Pertanyaan tersebut membuat beberapa bangsawan saling berpandangan. Duke Relis akhirnya berdeham pelan sebelum berbicara."Yang Mulia, sebenarnya ada satu informasi yang tidak kami sampaikan kepada istana."
Edris langsung menatapnya."Kenapa?"
"Karena kami berpikir informasi ini mungkin terdengar sedikit mustahil."
"Apa itu?" tanya Edris cepat. Nada suaranya terdengar tidak sabar.
Duke Relis menarik napas panjang."Seorang penggembala secara tidak sengaja pernah melihat salah satu serigala itu berubah menjadi manusia."
Ruangan seketika terasa lebih sunyi.
"Mereka bisa mengubah wujud," lanjut Duke Relis.
Mata Edris sedikit melebar.
Untuk sesaat, bahkan dirinya kesulitan mencerna apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin seekor serigala dapat berubah menjadi manusia?
Namun, keterkejutannya hanya terlihat sesaat. Edris segera kembali memasang wajah tenangnya.
"Awalnya kami juga tidak percaya," lanjut Duke Relis."Karena itu, kami mengutus beberapa ksatria untuk berjaga di sekitar Danau Tibe secara diam-diam. Mereka diperintahkan untuk mengawasi pergerakan kawanan tersebut tanpa menarik perhatian."
Duke Relis berhenti sejenak.
"Dan ternyata laporan penggembala itu benar. Para ksatria kami melihatnya sendiri. Kawanan serigala itu memang bisa berubah wujud menjadi manusia."
Tatapan Edris semakin tajam.
"Sejak saat itu, kami mulai mencurigai bahwa mereka termasuk sekelompok penganut sekte sesat, Yang Mulia."
Edris memang semakin terkejut mendengar penjelasan tersebut. Namun, sebagai seorang raja, ia tidak membiarkan keterkejutannya menguasai wajahnya. Ia hanya menyandarkan tubuhnya, kemudian mengamati satu per satu orang yang berada di hadapannya.
Sekte sesat.
Makhluk yang mampu berubah dari serigala menjadi manusia.
Dan Danau Tibe yang selama ini dihindari oleh penduduk Utara.
Semua informasi itu membuat persoalan yang awalnya dianggap sebagai kemunculan kawanan binatang buas menjadi jauh lebih rumit.
"Besok pagi," ujar Edris akhirnya, "aku akan pergi ke Danau Tibe."
Para bangsawan Utara langsung menatapnya."Yang Mulia, apakah itu tidak terlalu berbahaya?" tanya Duke Relis.
"Aku ingin melihatnya secara langsung." Nada suara Edris terdengar tenang, tetapi tidak memberikan ruang untuk dibantah.
"Kerahkan beberapa ksatria terbaik kalian. Mereka harus siap sejak pagi."
"Baik, Yang Mulia."
Edris kembali menatap Duke Relis."Aku ingin mengetahui apa sebenarnya yang berada di sekitar danau itu."
Ia kemudian terdiam sejenak."Besok, aku akan memantau Danau Tibe dan melihat kawanan itu dengan mataku sendiri."
di tunggu up nya thor😌😌 semangat up nya 😆😆