**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Orang yang Nggak Penting
Permintaan pertemanan itu baru dilihat Naila saat jam makan siang.
Ia duduk di kantin bersama Gita dan Vania, tangan kanan yang diperban diletakkan di tepi meja. Notifikasi WhatsApp menumpuk karena ia tidak sempat memeriksa ponsel selama kelas.
Satu pesan berada paling atas.
Lemon, add ya. Kali ini nggak aku hapus.
Naila berhenti mengunyah.
Lemon.
Tidak ada yang memanggilnya begitu sejak ia berumur empat tahun. Menurut cerita Mama, saat baru lahir ia pernah menggenggam lemon kecil dari keranjang buah dan menolak melepaskannya. Orang-orang dewasa tertawa, lalu nama itu melekat sampai keluarga mereka meninggalkan Bandung.
Setelah pindah, Naila melarang siapa pun menggunakannya lagi.
Ia sendiri tidak ingat alasannya. Setiap mendengar kata Lemon, ada rasa kehilangan yang tidak punya bentuk. Seperti berdiri di depan pintu yang seharusnya ia kenal, tetapi tidak mempunyai kunci.
Sekarang Radhika memakai nama itu seolah empat belas tahun tidak pernah berlalu.
"Nai, ayamnya mau kamu tatap sampai hidup lagi?" tanya Gita.
Naila membalik ponselnya. "Makan saja."
"Siapa yang chat?" Vania mendekatkan wajah bulatnya, penasaran.
"Nggak ada."
"Kalau nggak ada, kenapa dibaca dua menit?"
Naila menyuap nasi. Permintaan itu dibiarkan tanpa jawaban. Radhika sudah membuatnya menunggu di pinggir jalan pagi tadi. Sekarang gantian.
"Sekar nggak ikut makan?" tanyanya untuk mengalihkan topik.
Gita menggeleng. "Sudah berangkat kerja. Katanya ada reservasi besar di Padma Lakeside."
Sekar adalah penghuni keempat kos mereka. Ia masuk UI dengan beasiswa, membayar kebutuhan sehari-hari sendiri, dan mengambil jadwal kerja hampir setiap siang. Tagihan cicilan motor ibunya tidak pernah ia jadikan bahan curhat. Kalau ditanya, ia hanya menjawab semua masih bisa diatur.
"Dia sempat sarapan?" tanya Naila.
"Bawa roti dari kos," jawab Vania. "Nanti malam kita sisakan makanan, ya."
Naila mengangguk. Tiga gadis itu berbeda, tetapi sudah belajar saling menjaga porsi makan dan jadwal pulang sejak semester pertama.
Setelah kelas siang selesai, mereka kembali ke kos-kosan di luar area kampus. Naila baru saja meletakkan tas ketika ibu pengelola kos memanggil dari bawah.
"Naila, ada kiriman lagi!"
Di lobi, seorang kurir berdiri di samping buket mawar merah gelap sebesar setengah tubuh. Sebuah kotak cokelat impor tergantung di pitanya.
"Dari siapa, Bu?"
"Nggak ada nama. Cuma kartu."
Naila membaca tulisan di kartu. Dari seorang mahasiswa fakultas lain yang dua kali mengajaknya keluar dan dua kali pula ia tolak.
"Bunganya buat Ibu saja," katanya. "Taruh di meja depan biar semua bisa lihat."
Ibu kos tersenyum lebar. "Yakin? Mahal begini."
"Kalau dibawa ke kamar, besok juga layu. Di sini lebih cantik."
Cokelat dibawa ke atas dan langsung dibagi. Vania mengambil dua. Gita memilih satu rasa hazelnut, lalu menatap perban Naila.
"Pengirim bunga ini yang bikin tanganmu luka?"
"Bukan."
"Terus siapa?"
"Orang menyebalkan."
Vania menunjuk kotak berpita putih yang sejak pagi diletakkan Naila di sudut meja. "Yang kasih itu?"
Naila tidak menjawab. Ia baru sadar dua temannya belum berhenti memperhatikan kotak tersebut sejak masuk kamar.
"Buka, dong," desak Vania. "Kalau ternyata bom, kita lari bareng."
"Bom apaan pakai pita?" Gita sudah menarik kursi mendekat.
Naila sebenarnya ingin membuka sendiri saat kamar sepi. Namun semakin ia menolak, semakin besar kecurigaan mereka. Akhirnya pita putih dilepas memakai tangan kiri.
Di dalam kotak terdapat kastel kristal dengan menara-menara kecil. Seorang penari berbaju putih berdiri di tengah lantai bundar. Ketika kunci di bagian bawah diputar, musik lembut mengalun dan penari itu mulai berputar.
Vania menutup mulut. "Ya ampun, cantik banget."
"Ini pasti mahal," kata Gita. "Dari orang menyebalkan tadi?"
Naila menatap penari kecil itu. Ia tidak pernah bercerita kepada Radhika bahwa dirinya mengikuti klub tari. Namun bentuk hadiah ini terasa terlalu tepat, seperti pilihan seseorang yang sudah mengenalnya jauh lebih lama daripada yang ia ingat.
"Dari orang yang nggak penting," jawabnya.
Ia mematikan musik, membungkus kastel itu kembali dengan hati-hati, lalu meletakkannya di meja paling jauh dari tepi.
Vania hendak mengangkatnya lagi, tetapi Naila cepat-cepat menahan tutup kotak dengan tangan kiri.
"Jangan. Kristalnya tipis."
Gita tersenyum penuh arti. "Katanya nggak penting."
"Barangnya tetap mahal. Kalau pecah, sayang."
"Nomornya sudah kamu simpan?"
Naila melirik permintaan pertemanan yang masih menggantung. "Belum."
"Hadiah diterima, orangnya nggak? Kejam juga kamu."
"Dia duluan hapus aku."
Dua temannya langsung berseru bersamaan. Naila sadar sudah bicara terlalu banyak. Ia meraih sebungkus cokelat dan menyodorkannya ke Gita.
"Makan. Jangan tanya lagi."
Gita menerima cokelat itu, tetapi tatapannya belum kehilangan rasa ingin tahu. "Berarti kalian sudah kenal lama."
"Kenal bukan berarti dekat."
Naila menaruh ponsel dengan layar menghadap bawah. Meski begitu, catatan `Lemon` seolah masih menyala di balik meja.
Ponselnya berdering.
Radhika.
Naila tidak ingat pernah menyimpan nomornya. Rupanya nama itu tersinkron dari grup keluarga. Ia membiarkan telepon berbunyi empat kali sebelum mengangkat.
"Apa?"
"Sore ini makan bareng."
"Aku ada kelas."
"Kelas apa?"
Naila melirik Gita yang sedang menahan tawa. "Teori Komunikasi, jam empat sampai setengah enam."
Sunyi singkat terdengar dari seberang.
"Teori Komunikasi hari Rabu jam sepuluh. Senin jam empat kamu latihan klub tari. Selasa pagi Metode Penelitian, siangnya Bahasa Indonesia. Kamis kelasmu mulai jam sembilan. Jumat cuma satu kelas sebelum zuhur."
Naila menegakkan tubuh. "Kamu tahu dari mana?"
"Dari jadwal yang kamu keluarkan semalam."
"Kamu cuma lihat sebentar."
"Cukup."
Gita mendekatkan telinga. Naila mengusirnya dengan tangan kiri, lalu berpikir cepat.
"Aku pergi sama teman-teman."
"Ajak."
"Tiga orang."
"Ajak semuanya."
"Kami makannya banyak."
"Bagus. Jam lima di depan kampus."
Sambungan diputus sebelum Naila menemukan alasan baru.
Vania langsung mengangkat tangan. "Aku ikut."
"Aku juga," kata Gita. "Siapa dia?"
Naila mengirim undangan ke grup kamar. Sekar membalas dari tempat kerja bahwa sifnya baru selesai malam dan ia tidak bisa ikut. Ia menambahkan satu pesan lagi: jangan sisakan makanan, makan saja sampai puas.
Naila teringat pengakuan Radhika sebagai staf biasa di Adiwangsa Group. Laki-laki pelit yang masih meminta transfer dari ibunya itu pasti berharap ia datang sendiri dan memilih tempat murah. Membawa dua teman akan membuat tagihannya lebih menyakitkan.
"Nanti kalian pesan yang paling mahal," katanya.
Gita menyipitkan mata. "Kamu mau balas dendam?"
"Sedikit."
Naila mengambil lembar jadwal kuliah yang tadi terselip di buku. Ia memeriksa seluruh susunannya. Radhika tidak salah satu jam pun.
Lembar itu dimasukkan kembali. Tatapannya tanpa sadar beralih ke kotak musik yang sudah ia rapikan.
"Jadi siapa?" Vania bertanya lagi.
Naila mengangkat dagu. "Orang yang nggak penting."