Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 30 — Pria yang Seharusnya Sudah Mati
Ruangan itu mendadak terasa membeku.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara.
Clara hanya bisa menatap pria yang berdiri beberapa meter di depan mereka.
Wajah itu...
Wajah yang selama bertahun-tahun hanya pernah ia lihat melalui foto lama.
Wajah yang selalu disebut dalam cerita keluarga sebagai seseorang yang telah meninggal dunia.
Namun kini...
Pria itu berdiri di hadapan mereka.
Masih hidup.
Dan tatapannya langsung tertuju kepada Clara.
“Tidak mungkin…”
Suara Clara hampir tidak terdengar.
Rafael mundur satu langkah.
Wajahnya benar-benar kehilangan warna.
“Kau…”
Pria itu tersenyum tipis.
“Ya, Rafael.”
Suara itu tenang.
Terlalu tenang.
“Ini aku.”
Clara menoleh kepada Rafael.
“Kamu mengenalnya?”
Rafael tidak menjawab.
Clara kembali menatap pria tersebut.
“Siapa kamu?”
Pria itu berjalan satu langkah mendekat.
“Aku kira setelah bertahun-tahun, kau akan langsung mengenaliku.”
“Aku tidak pernah melihatmu.”
Pria itu tersenyum pahit.
“Tentu saja.”
Ia menatap Clara lama.
“Karena ketika terakhir kali kau melihatku, usiamu bahkan belum cukup untuk mengingat wajah ayahmu.”
Clara membeku.
Ayah.
Satu kata itu membuat jantungnya berdegup keras.
“Jangan…”
Rafael segera maju.
“Jangan mengatakan apa pun kepadanya.”
Pria itu menatap Rafael.
“Kau masih sama.”
“Diam.”
“Kau masih takut kebenaran akan menghancurkan keluarga ini.”
Rafael mengepalkan tangan.
“Kau seharusnya sudah mati.”
Pria itu tertawa kecil.
“Bukankah itu yang selama ini kau katakan kepada semua orang?”
Clara menatap Rafael.
“Paman…”
Rafael memejamkan mata.
Clara semakin mendesak.
“Jawab aku.”
Rafael akhirnya membuka mata.
“Dia…”
Suaranya bergetar.
“Dia adalah ayah kandungmu.”
Clara seperti kehilangan keseimbangan.
Fedro segera menahan lengannya.
“Clara.”
Clara menepis tangan Fedro.
“Jangan.”
Fedro terdiam.
Clara menatap pria itu.
“Namamu?”
Pria itu menjawab dengan suara pelan.
“Adrian Evellyn.”
Clara membeku.
Nama itu sudah tidak asing.
Adrian.
Nama yang selama ini ia kenal sebagai ayah dalam silsilah keluarga.
Namun selama ini ia hanya mengenal satu Adrian.
Pria yang telah menjadi bagian dari keluarga mereka.
Pria yang selama ini dipanggilnya Papi.
Clara menoleh kepada Rafael.
“Jadi…”
Suaranya bergetar.
“Adrian yang selama ini kami kenal bukan ayah kandung kami?”
Rafael tidak menjawab.
“Jawab!”
“Bukan.”
Satu kata itu menghancurkan seluruh ketenangan Clara.
“Lalu siapa dia?”
Adrian tersenyum tipis.
“Orang yang mengambil tempatku.”
Clara menatapnya dengan tatapan penuh kebingungan.
“Kenapa?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia justru melihat ke arah Fedro.
“Karena E-17.”
Fedro langsung menegang.
“Apa hubungannya aku dengan semua ini?”
Adrian berjalan mendekati Fedro.
“Banyak.”
Fedro menatapnya tajam.
“Aku tidak mengenalmu.”
“Tapi aku mengenalmu.”
Adrian berhenti di hadapan Fedro.
“Bahkan sebelum kau mengenal dirimu sendiri.”
Clara langsung berdiri di antara mereka.
“Jangan mendekati suamiku.”
Adrian menatap Clara.
Kemudian tersenyum.
“Sekarang aku mengerti.”
“Apa?”
“Kenapa mereka memilih kalian.”
Clara mengerutkan kening.
“Memilih?”
Adrian mengangguk.
“Kalian bukan sekadar pasangan.”
Ia menunjuk Clara dan Fedro.
“Kalian adalah dua bagian terakhir dari E-17.”
Raka langsung mengangkat senjatanya.
“Jelaskan sekarang.”
Adrian melirik senjata tersebut.
“Turunkan.”
“Tidak.”
“Kalau kau menembakku, kau tidak akan pernah menemukan Gabriel dan Alena.”
Raka langsung terdiam.
Clara menatap Adrian.
“Di mana mereka?”
“Masih hidup.”
Clara menghela napas lega.
“Bawa kami kepada mereka.”
Adrian tersenyum.
“Belum waktunya.”
“Kalau begitu kapan?”
“Setelah kau membuka ruang asal.”
Clara melihat tangga di belakangnya.
“Ruangan itu?”
Adrian mengangguk.
“Di bawah sana tersimpan semua jawaban.”
Rafael tiba-tiba berkata,
“Jangan turun.”
Clara menoleh.
“Kenapa?”
“Karena tempat itu bukan tempat untukmu.”
“Kenapa?”
Rafael terdiam.
Adrian justru menjawab.
“Karena di bawah sana ada sesuatu yang selama ini disembunyikan ibumu.”
Clara langsung menegang.
“Mami?”
“Ya.”
“Mami tahu kau masih hidup?”
Adrian tersenyum.
“Dia tahu.”
Clara mengepalkan tangannya.
“Sejak kapan?”
“Sejak hari aku kembali.”
“Kenapa dia tidak pernah mengatakan kepadaku?”
Adrian menatap Clara dengan tatapan penuh kesedihan.
“Karena dia berusaha melindungimu.”
Clara tertawa hambar.
“Melindungiku?”
Ia mengusap air matanya.
“Semua orang selalu mengatakan mereka melindungiku.”
“Padahal mereka hanya menyembunyikan kebenaran.”
Adrian tidak membantah.
“Karena kebenaran tentang kelahiranmu akan membuatmu membenci mereka.”
Clara menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Adrian menarik napas.
“E-17 bukan sekadar proyek.”
“Lalu apa?”
“E-17 adalah alasan kenapa kau dilahirkan.”
Clara membeku.
Fedro langsung menatap Adrian.
“Jangan.”
Adrian menatap Fedro.
“Dia berhak tahu.”
“Tidak seperti itu.”
“Kau sendiri bahkan tidak mengingat masa kecilmu.”
Fedro terdiam.
Adrian melanjutkan.
“Ingatanmu dihapus karena kau terlalu banyak mengetahui.”
Clara perlahan menatap Fedro.
“Fedro…”
Fedro tidak menjawab.
“Kamu benar-benar tidak ingat?”
Fedro menggeleng.
“Tidak.”
Adrian tersenyum tipis.
“Karena pada usia tujuh tahun, kau dibawa ke tempat ini.”
Clara menatapnya.
“Tujuh tahun?”
Adrian mengangguk.
“Dan Clara…”
Tatapan Adrian berpindah kepadanya.
“Pada usia yang sama, kau juga pernah berada di sini.”
Clara merasa tubuhnya lemas.
“Aku?”
“Ya.”
“Tidak mungkin.”
“Ingatanmu juga dihapus.”
Clara memegang kepalanya.
Tiba-tiba sebuah kilasan muncul.
Ruangan putih.
Lampu terang.
Suara seorang anak laki-laki.
Tangisan seorang anak perempuan.
Dan suara seorang wanita yang berulang kali mengatakan:
“Jangan takut.”
Clara tersentak.
“Ah!”
Fedro segera mendekat.
“Clara?”
Clara menatapnya.
“Aku…”
Napasnya memburu.
“Aku pernah berada di sini.”
Fedro terdiam.
“Aku ingat…”
Clara menutup matanya.
“Ada seorang anak laki-laki.”
Adrian tersenyum.
“Siapa?”
Clara membuka mata.
“Dia memegang tanganku.”
Fedro tiba-tiba membeku.
Tangannya mengepal.
“Apa yang kau katakan?”
Clara menatapnya.
“Dia bilang…”
Clara berusaha mengingat.
“Dia bilang jangan menangis.”
Fedro menatap kosong.
Sebuah kilasan juga muncul dalam pikirannya.
Seorang gadis kecil.
Rambut panjang.
Mata penuh air mata.
Tangannya menggenggam tangan seorang anak laki-laki.
Lalu suara seorang pria:
“Kalian akan bertemu lagi ketika sudah dewasa.”
Fedro memegangi kepalanya.
“Tidak…”
Clara mendekat.
“Fedro?”
“Aku ingat sesuatu.”
Adrian memperhatikan mereka.
“Kalian akhirnya mulai mengingat.”
Rafael langsung berkata,
“Tidak!”
Adrian menoleh.
Rafael terlihat panik.
“Jangan biarkan mereka mengingat semuanya.”
Clara menatap Rafael.
“Kenapa?”
Rafael diam.
“Paman tahu sesuatu.”
Rafael menggeleng.
“Tidak.”
“Paman tahu!”
Clara melangkah mendekatinya.
“Siapa yang menghapus ingatan kami?”
Rafael tidak menjawab.
“Siapa?”
Akhirnya Rafael berkata,
“Amara.”
Clara membeku.
“Mami?”
Rafael menunduk.
“Dia melakukannya untuk menyelamatkan kalian.”
Clara menatap Adrian.
“Apakah itu benar?”
Adrian mengangguk.
“Benar.”
Clara tertawa getir.
“Jadi semua orang benar-benar berbohong kepadaku.”
“Tidak semua.”
Adrian menatap Fedro.
“Dia tidak tahu.”
Clara menatap suaminya.
Untuk pertama kalinya, keraguan dalam tatapannya sedikit berubah.
Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu—
Terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.
Semua menoleh.
Raka mengangkat senjatanya.
“Siapa?”
Suara pintu terbuka terdengar.
Kemudian langkah kaki semakin mendekat.
Seseorang turun melalui tangga.
Clara menatap ke atas.
“Mami?”
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian, Amara muncul.
Wajahnya pucat.
Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Begitu melihat Adrian, Amara berhenti.
Air mata langsung mengalir dari matanya.
“Adrian…”
Adrian menatapnya.
“Sudah waktunya, Amara.”
Amara menggeleng.
“Belum.”
“Sudah.”
“Kalau kau membuka semuanya sekarang, mereka akan membencimu.”
Adrian tersenyum sedih.
“Mereka sudah membenciku karena mengira aku meninggalkan mereka.”
Amara menangis.
“Karena aku yang membuat mereka percaya kau sudah mati.”
Clara menatap ibunya.
“Mami…”
Amara perlahan berbalik.
“Maafkan Mami.”
Clara merasa dadanya sesak.
“Selama ini…”
Ia menatap kotak hitam di tangan Amara.
“Apa yang ada di dalam kotak itu?”
Amara menggenggamnya semakin erat.
“Sesuatu yang seharusnya tidak pernah ditemukan.”
Adrian berkata,
“Berikan kepadanya.”
“Tidak.”
“Amara.”
“Aku tidak bisa.”
Clara melangkah mendekat.
“Mami.”
Amara menatapnya.
“Kalau memang selama ini Mami melakukan semua ini untuk melindungiku…”
Clara mengulurkan tangan.
“Sekarang biarkan aku memilih sendiri.”
Amara terdiam.
Kemudian perlahan ia menyerahkan kotak itu.
Clara menerimanya.
Kotak tersebut terasa sangat berat meskipun ukurannya kecil.
Di bagian atasnya terdapat simbol yang sama dengan kunci burung miliknya.
Clara memasukkan kunci itu.
Klik.
Kotak terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.
Sebuah gelang kecil.
Dan sebuah kartu identitas.
Clara mengambil kartu tersebut.
Matanya langsung membesar.
Nama yang tertulis di sana membuat seluruh tubuhnya membeku.
SUBJEK C-01.
NAMA: CLARA EVELLYN.
STATUS: AKTIF.
Namun ada satu tulisan lain di bagian bawah.
STATUS PROYEK:
DITERUSKAN OLEH GENERASI KEDUA.
Clara mengerutkan kening.
“Generasi kedua?”
Adrian menatap kartu itu.
Wajahnya berubah.
“Tidak…”
Rafael mendekat.
“Apa?”
Adrian menatap Amara.
“Kau tidak pernah memberitahuku tentang ini.”
Amara menunduk.
“Aku tidak punya pilihan.”
Clara menatap mereka bergantian.
“Jelaskan.”
Tidak ada yang menjawab.
Kemudian dari komputer di ruangan itu terdengar bunyi peringatan.
BIP.
BIP.
BIP.
Layar menyala sendiri.
Sebuah tulisan muncul:
E-17 REACTIVATED.
Kemudian tulisan kedua muncul.
SUBJEK C-01 TERDETEKSI.
Clara mundur.
Layar kembali berubah.
SUBJEK F-09 TERDETEKSI.
Fedro menatap layar.
Lalu muncul tulisan terakhir.
PASANGAN UTAMA BERHASIL DIPERTEMUKAN.
Ruangan mendadak sunyi.
Clara menggenggam tangan Fedro.
Kali ini bukan karena takut.
Melainkan karena ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggu mereka di bawah sana.
Tiba-tiba layar menampilkan hitungan mundur.
10
9
8
Raka berteriak,
“Semua keluar!”
7
6
Amara langsung menarik Clara.
“Clara, kita harus pergi!”
5
Fedro menarik tangan Clara.
“Jangan lepaskan tanganku!”
4
Rafael menatap tangga.
“Tidak…”
3
Suara mekanisme besar terdengar dari bawah tanah.
2
Adrian menatap wajah Clara untuk terakhir kalinya.
“Sekarang kau akan melihat alasan sebenarnya kenapa kau dilahirkan.”
1
DUAR!
Seluruh lantai bergetar.
Dinding di depan mereka terbuka.
Di baliknya terdapat ruangan besar yang selama tujuh belas tahun tersembunyi di bawah rumah itu.
Dan di tengah ruangan...
terdapat sebuah kapsul kaca.
Di dalamnya ada seorang gadis.
Rambutnya panjang.
Wajahnya sangat mirip Clara.
Clara kehilangan napas.
“Itu…”
Amara menutup mulutnya.
Rafael menatap dengan mata penuh ketakutan.
Fedro membeku.
Adrian hanya berkata pelan,
“Dia adalah alasan kenapa E-17 tidak pernah benar-benar berakhir.”
Clara menatap gadis di dalam kapsul.
Kemudian layar di samping kapsul menyala.
SUBJEK C-02 — AKTIF.
Mata gadis itu perlahan terbuka.
Dan untuk pertama kalinya…
ia menatap tepat ke arah Clara.
Bersambung…