NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. DUA DUNIA YANG BERBEDA

BAB 19. Dua Dunia yang Berbeda

Rapat direksi berakhir tepat menjelang tengah hari. Para peserta mulai meninggalkan ruang rapat sambil membawa dokumen masing-masing. Beberapa masih mendiskusikan langkah awal pelaksanaan renovasi Arshaka Mall, sementara yang lain langsung kembali ke divisinya untuk menindaklanjuti keputusan yang baru saja disepakati.

Kalandra tetap duduk beberapa saat di kursinya. Tatapannya beralih kepada Hagia yang sedang mematikan layar tablet di hadapannya. Wanita itu bergerak seperti biasa, tetapi Kalandra tahu tenaga yang dikeluarkan Hagia pagi ini jauh lebih besar daripada yang seharusnya.

Semalam ia telah berjanji kepada dokter perusahaan. Hari ini, Hagia tidak boleh dipaksa bekerja lebih dari yang diperlukan.

Tanpa banyak bicara, Kalandra berdiri lebih dahulu. Sebelum Hagia sempat meraih tas kerja yang diletakkan di samping kursinya, pria itu sudah mengambilnya lebih dulu, disusul map presentasi dan tablet yang masih berada di atas meja.

Hagia menoleh. "Tuan, biar saya--"

"Kita pulang."

Jawabannya singkat, seolah kalimat Hagia sebelumnya tidak pernah ada. Hagia hanya mengangguk kecil. Ia memilih mengikuti langkah Kalandra keluar dari ruang rapat. Pengalaman beberapa hari terakhir mengajarkannya satu hal. Ketika pria itu sudah mengambil keputusan, membantah hanya akan menghabiskan waktu.

Mereka berjalan melewati koridor lantai eksekutif. Beberapa karyawan yang berpapasan segera memberi salam, disertai ucapan selamat atas keberhasilan presentasi pagi itu. Kalandra membalas seperlunya tanpa menghentikan langkah, sementara Hagia hanya memberikan senyum tipis sebagai balasan.

Pintu lift eksekutif terbuka tepat ketika mereka tiba. Begitu masuk, ruangan kembali dipenuhi suasana yang tenang. Kalandra tetap berdiri sambil memegang seluruh barang bawaan Hagia di satu tangan.

"Setelah sampai rumah, langsung istirahat."

Nada bicaranya datar, lebih terdengar sebagai keputusan daripada saran.

Hagia mengangkat pandangan.

"Baik2 33."

"Kalau ada pekerjaan yang perlu diselesaikan hari ini, saya yang tangani."

"Ya."

Jawaban itu membuat Kalandra sedikit menoleh. Ia sempat mengira Hagia akan kembali berusaha meyakinkannya bahwa dirinya masih sanggup bekerja. Namun, wanita itu hanya berdiri tenang hingga lift berhenti di area parkir bawah tanah.

Beberapa menit kemudian, mobil meninggalkan pelataran Arshaka Group. Perjalanan menuju penthouse berlangsung tanpa banyak percakapan. Hagia lebih banyak memandangi jalan yang terus berganti di balik kaca jendela. Di balik wajahnya yang tenang, pikirannya justru mulai mengarah ke hal lain.

Sudah lebih dari seminggu ia nyaris tidak pernah membuka alamat surel pribadinya. Bukan alamat yang digunakan sebagai karyawan Arshaka Group. Melainkan alamat yang hanya dikenal oleh beberapa klien internasional. Alamat milik Xavier.

Sejak menjadi asisten pribadi Kalandra, hampir seluruh waktunya habis untuk menyesuaikan diri dengan ritme kerja pria itu. Pagi berangkat bersama, malam pulang bersama. Bahkan waktu luang di penthouse pun semakin sedikit. Ia tidak tahu berapa banyak pesan yang kini menumpuk. Bisa saja seluruhnya hanya laporan rutin. Namun, bisa juga ada perkembangan penting dari proyek yang beberapa waktu lalu berhasil dimenangkannya. Hagia mengembuskan napas pelan.

Setidaknya, siang ini ia memiliki beberapa jam untuk mengeceknya.

Mobil berhenti di area parkir pribadi penthouse. Seperti biasa, Kalandra turun lebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Hagia. Tas kerja, tablet, dan map presentasi masih berada di tangannya hingga keduanya memasuki lift pribadi. Sesampainya di dalam penthouse, suasana rumah kembali menyambut mereka dengan kesunyian yang mulai terasa akrab. Kalandra langsung meletakkan seluruh barang bawaan Hagia di atas sofa ruang tengah.

"Kamu duduk."

Setelah itu ia berjalan menuju dapur tanpa menunggu jawaban.

Hagia memperhatikannya sesaat sebelum akhirnya benar-benar duduk. Dari tempatnya, ia melihat Kalandra membuka lemari pendingin, mengeluarkan beberapa bahan makanan, lalu mulai menyiapkan sesuatu untuk di masak. Gerakannya kini jauh lebih terampil dibanding beberapa hari lalu.

"Anda masih lapar, Tuan? Bukannya, kita sudah makan di sela rapat tadi?"

"Saya tak bisa meninggalkanmu sendiri di rumah tanpa makanan."

Hagia menatap punggung pria di depannya. Sejak pagi Kalandra memang tidak pernah lagi membahas kejadian di ruang arsip. Ia juga tidak bertanya bagaimana perasaan Hagia setelah insiden itu. Namun, seluruh tindakannya sejak semalam seolah menjadi bukti bahwa ia mengingat setiap ucapan dokter, bahkan lebih serius daripada pasien yang mengalaminya.

Tanpa disadari, senyum tipis muncul di sudut bibir Hagia.

Mungkin benar. Pria itu memang tidak pandai menunjukkan perhatian melalui kata-kata.

Namun, setiap keputusan yang diambilnya selalu berbicara jauh lebih jelas daripada apa pun yang sanggup ia ucapkan.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, aroma masakan yang memenuhi dapur mulai memudar. Beberapa wadah sudah tersusun rapi di atas meja makan. Sengaja tidak ia masukan ke dalam kulkas karena masih panas.

"Kalau lapar, mungkin makanannya nanti masih hangat."

Hagia yang masih duduk di ruang tengah mengangguk pelan.

"Iya, Tuan."

"Kamu istirahat. Jangan menyentuh pekerjaan apa pun hari ini."

"Baik."

Jawaban itu terdengar patuh. Kalandra menatapnya beberapa saat, seolah memastikan wanita itu benar-benar akan menuruti ucapannya. Hagia bahkan sampai mengangguk berkali-kali untuk meyakinkannya. Barulah pria itu mengambil jas yang tadi diletakkan di sandaran kursi.

"Saya ke kantor sekarang."

Hagia hanya membalas dengan senyum tipis. Beberapa menit kemudian, suara pintu utama tertutup pelan. Disusul bunyi lift pribadi yang bergerak turun meninggalkan lantai penthouse. Hagia tidak langsung beranjak. Ia menunggu beberapa saat hingga suasana benar-benar kembali lengang.

"Maaf, Tuan. Saya memang akan istirahat, tapi sebelumnya ada hal penting yang harus dikerjakan."

Barulah ia mengembuskan napas perlahan, berdiri, lalu berjalan menuju kamar.

Di dalam lemari pakaian, tepat di balik beberapa map dokumen, tersimpan sebuah laptop berwarna abu-abu gelap yang selama beberapa hari terakhir sama sekali belum pernah disentuh lagi. Laptop itu tidak pernah digunakan untuk urusan Arshaka Group. Tidak pula berisi kehidupan Hagia sebagai asisten pribadi CEO. Seluruh isinya hanya berkaitan dengan satu nama yang telah lama menghilang dari dunia arsitektur.

Xavier.

Laptop menyala beberapa detik kemudian. Begitu koneksi internet aktif, deretan notifikasi segera memenuhi layar. Puluhan surat elektronik. Sebagian besar merupakan laporan perkembangan dari satu proyek yang sama. Seluruhnya diteruskan oleh satu nama yang sudah sangat dikenalnya. Nika

Hagia membuka surel paling atas.

Akhirnya kamu muncul juga.

Sejak pengumuman tender itu, inbox hampir nggak pernah sepi.

Ada beberapa orang yang mencoba menghubungi alamat email proyek. Katanya ingin berbicara langsung dengan Xavier.

Alis Hagia sedikit terangkat. Ia langsung teringat ucapan Kalandra di penghujung rapat beberapa hari lalu yang akan melakukan berbagai cara untuk bertemu dengan Xavier.

Ia segera membuka balasan berikutnya.

Aku nggak tahu mereka benar-benar calon klien atau bukan. Cara mereka bertanya lebih banyak soal siapa Xavier daripada membahas proyek. Aku jawab seperti biasa. Semua komunikasi tetap lewat aku.

Hagia mengembuskan napas pelan.

Ia membuka surel berikutnya.

Satu lagi.

Ada yang mencoba meminta jadwal pertemuan langsung. Aku tolak dengan alasan yang sama seperti selama ini. Mereka kelihatannya cukup kecewa, tapi enggak bisa memaksa.

Sudut bibir Hagia sedikit terangkat. Nika masih menjalankan prosedur yang mereka sepakati bertahun-tahun lalu. Jemarinya mulai bergerak di atas papan ketik.

Tetap gunakan prosedur yang sama. Jangan ada pertemuan langsung apa pun bentuknya.

Kalau ada permintaan baru, teruskan kepadaku lebih dulu sebelum kamu menjawab apa pun.

Balasan muncul tidak sampai satu menit kemudian.

Sudah kuduga jawabanmu pasti begitu. Tenang saja, selama aku masih di sini, enggak akan ada orang yang bisa sampai kepadamu.

Oh ya... tim struktur sudah menyelesaikan seluruh evaluasi revisi terakhirmu. Tinggal menunggu keputusan akhir supaya pekerjaan fisik bisa dimulai.

Gunakan seluruh revisi terakhir yang saya setujui sebelum proyek memasuki tahap administrasi. Jangan ada perubahan terhadap konsep utama tanpa persetujuan saya. Jika muncul keputusan yang tidak bisa ditunda, teruskan seluruh dokumennya terlebih dahulu.

Tidak sampai satu menit kemudian, balasan baru muncul di layar.

Baik. Saya akan memastikan semuanya berjalan sesuai arahanmu.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!