NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06 - Kemenangan Bianca

Makan siang Minggu di rumah keluarga Kartawijaya adalah institusi. Kasih sayang tidak pernah ada hubungannya dengan itu. Itu kendali, murni dan sederhana. Bu Ratih memanggil, dan tak seorang pun absen. Meja ditata dengan taplak putih, piring saji porselen, gelas kristal yang hanya keluar dari lemari saat sang matriark turun dari Pondok Indah untuk menghormati apartemen Kelapa Gading itu dengan kehadirannya.

Arga membantu menata meja. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang berterima kasih.

Apartemen itu penuh. Bu Ratih di kursi kepala meja, seperti biasa. Marlina di kanan, waspada. Robert di kiri, diam. Bagas datang terlambat, celana pendek bermerek, kacamata hitam terselip di atas kepala, senyum seseorang yang mengira dunia adalah pesta yang disiapkan untuknya. Dua sepupu, seorang paman, istri sang paman.

Arga duduk di sudut. Tempatnya seperti biasa.

Topik berputar dari gosip apartemen sampai harga dolar ketika Bianca berdiri. Ia meletakkan serbet di meja. Berdeham.

"Aku punya kabar."

Percakapan mati berlapis-lapis. Pertama para sepupu, lalu Marlina, terakhir Bagas, yang sedang di tengah cerita tentang mobil yang hampir ia beli.

"Grup Imperial menyetujui proposalku." Bianca berbicara sambil berdiri, menatap neneknya. "Kontrak Rp30 miliar untuk redesign kantor pusat baru. Tanda tangan hari Selasa."

Keheningan yang mengikuti terasa berat. Arga merasa seolah seseorang menguras seluruh udara dari ruangan lalu mengembalikannya dalam bentuk yang lebih padat.

Robert menjadi orang pertama yang bereaksi. Ia bangkit dari kursi sampai serbetnya jatuh.

"Tiga puluh miliar? Bianca, itu..." Ia tidak menyelesaikannya. Ia memang tidak pernah menyelesaikan kalimat. Namun matanya berkilau dengan cara yang belum pernah Arga lihat.

"Selamat, Sayang," kata sang paman sambil mengangkat gelas.

Para sepupu saling bertukar pandang. Salah satunya, Rina, yang selalu mengunggah foto liburan di Bali, memaksakan senyum yang tidak sampai ke mata.

Bu Ratih memotong gumaman dengan presisi pisau bedah.

"Grup Imperial. Perusahaan yang berganti pemilik dua minggu lalu."

"Iya, Nek."

"Dan pemilik baru itu," Bu Ratih memutar gelas anggur tanpa meminumnya, "tidak ada yang tahu siapa."

"Proposalnya melewati komite teknis independen. Tiga finalis, evaluasi buta." Suara Bianca tetap mantap. "Aku dipilih karena mutu proyekku."

"Hm." Bu Ratih menyesap anggur. Bunyi "hm" itu lebih buruk daripada hinaan apa pun, keraguan yang dibungkus kesopanan.

Marlina, yang berhasil diam tepat sebelas detik, rekor pribadi, melipat tangan.

"Yah, Bianca, selamat. Sungguh." Kata "sungguh" datang seperti hadiah dengan pisau di dalam bungkusnya. "Bayangkan apa yang bisa kamu capai dengan suami sungguhan. Suami yang punya koneksi, yang bisa membuka pintu. Seseorang yang setara dengan kita."

Kalimat itu jatuh di meja seperti gelas pecah. Semua orang melihatnya. Tak seorang pun membersihkan.

Arga tidak bergerak. Matanya tetap pada piring. Rahangnya terkunci, jari-jarinya dibuat rileks semata-mata karena kehendak.

Bianca menatap ibunya. Lalu Arga. Dan sesuatu berubah di wajahnya, kecil saja, tarikan di sudut mulut yang bisa berarti marah, malu, atau keduanya saling terpilin.

"Arga," kata Bianca, dan suaranya memiliki ketegasan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, "selalu percaya kepadaku. Lebih dari siapa pun di meja ini."

Keheningan berikutnya punya kualitas lain. Kejutan murni.

Marlina membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi. Tidak ada suara keluar.

Bu Ratih meletakkan gelas dengan bunyi klik kering di meja.

Robert menatap Bianca seolah putrinya baru saja berbicara dalam bahasa yang tidak ia kenal.

Dada Arga terasa terhimpit. Ia tidak mengangkat mata. Jika ia menatap Bianca saat itu, sesuatu di wajahnya akan membocorkan hal yang tidak boleh ia bocorkan.

Bagas memecah keheningan. Tentu saja Bagas.

"Aduh, manis sekali." Ia bersandar di kursi, senyumnya kembali, tajam. "Pasangan tahun ini. Bianca mendapat kontrak besar, dan Arga duduk manis di rumah sambil bertepuk tangan." Ia memutar gelas birnya. "Hei, Arga. Karena kamu sepintar itu, semua orang tahu kamu pintar, kan, orang ini sekolah, baca buku, ayo kita tes."

Arga mengangkat mata.

"Tes apa?"

"Taruhan." Bagas mencondongkan tubuh, siku di meja. Matanya berkilau seperti orang yang sudah cukup minum untuk merasa tak terkalahkan. "Aku punya bisnis di meja. Tanah di Jakarta Selatan. Beli Rp2 miliar, jual Rp6 miliar dalam sembilan puluh hari. Untung tiga ratus persen. Pembelinya sudah siap, sertifikatnya bersih."

"Lalu apa hubungannya denganku?"

"Taruhannya. Kalau dalam sembilan puluh hari bisnisku tidak selesai, aku berlutut di depan seluruh keluarga. Di sini, di ruangan ini, di lantai ini." Bagas mengetuk meja dengan jari. "Tapi kalau selesai, dan pasti selesai, aku ingin mendengarmu mengatakan di depan semua orang bahwa aku lebih baik darimu. Bahwa akulah pria yang seharusnya dinikahi Bianca."

Marlina menahan tawa. Bu Ratih memperhatikan dengan minat seseorang yang menonton permainan catur. Robert menunduk pada piringnya.

Bianca menyentuh lengan Arga di bawah meja.

"Tidak perlu," bisiknya.

Arga menatap Bianca. Menatap matanya yang memintanya mundur. Tidak masuk ke permainan Bagas. Menjadi pria sabar dan tak terlihat seperti biasanya.

Ia menatap Bagas. Tangan sepupunya yang terulur. Senyum orang yang merasa sudah menang.

Untung tiga ratus persen. Tanah di Jakarta Selatan. Pembeli sudah siap.

"Aku terima."

Bagas berkedip. Selama sepersepuluh detik, senyumnya goyah, seolah ia tidak mengira Arga benar-benar akan menerima.

Lalu senyum itu kembali, lebih lebar.

"Sepakat." Ia menjabat tangan Arga dengan kekuatan yang tidak perlu. "Semua orang di sini saksi."

Arga melepas tangannya. Ia meneguk air.

Di bawah meja, ponselnya bergetar. Pesan dari Pak Jaya, yang memantau semuanya.

Tanah di Jakarta Selatan. Sedang saya telusuri.

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!