Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
“Haruskah aku ikut campur?” tanyanya sembari menatap foto-foto yang ada di tangannya, beberapa foto yang memang diminta oleh pria itu.
Arga tampak berpikir. Kali ini pria itu sepertinya sedikit keberatan dengan apa yang sedang dipikirkan Marchel. Dia sangat yakin jika yang dimaksud Marchel dengan ikut campur adalah membiayai segala kebutuhan Tirta, lalu memperlancar setiap hal yang gadis itu lakukan.
Sayangnya, dari semua hal yang dia ketahui dan laporkan kepada Marchel, kenyataannya justru berbanding terbalik. Gadis itu bukan orang yang mau menerima bantuan orang lain begitu saja. Bahkan, Tirta terkesan tidak suka jika ada yang membantunya tanpa alasan yang jelas. Ada satu hal lagi yang dia ketahui, yaitu Tirta pernah mengamuk kepada kekasihnya karena pria itu berusaha menggunakan jalur belakang agar dirinya bisa masuk ke sebuah perusahaan.
Karena marah, gadis itu langsung mengundurkan diri dan memilih mencari pekerjaan dengan kemampuannya sendiri. Berkat usahanya itu, kini dia justru mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik daripada perusahaan sebelumnya.
“Kalau boleh kuberi saran, jangan. Bukannya ingin membatasimu atau apa. Hanya saja, seperti yang kamu baca, dia bukan gadis yang suka menerima bantuan tanpa diminta. Aku takut kalau kamu melakukannya diam-diam, yang ada kita malah kehilangan gadis itu.” jelas Arga dengan yakin.
Marchel menyandarkan tubuhnya pada kursi roda lalu menatap pria itu dengan tatapan jengkel.
“Sepertinya penggunaan kata kita terdengar menjengkelkan.”
Arga segera melipat bibirnya ke dalam. Sial, dia salah ucap lagi.
“Maksudku... kamu akan sulit mendekatinya lagi. Sejauh ini kita—maksudku aku—sudah terlalu banyak berbohong padanya.” Gugup, pria itu mengusap tengkuknya sendiri. Kepalanya tiba-tiba berdenyut melihat sikap kekanak-kanakan Marchel.
“Baiklah. Sekarang minta seseorang mengawasinya dari jauh. Kamu sudah membawa apa yang kuminta?” tanya pria itu sembari menutup lembaran-lembaran kertas yang baru saja dia baca.
“Sudah. Semuanya ada di dapur. Akan kuantar ke sana.”
Setelah mendapat anggukan dari Marchel, pria itu mengambil berkas tersebut lalu menyimpannya ke dalam laci. Setelah itu, dia mendorong kursi roda Marchel keluar dari kamar.
“Untuk masalah penerbitan buku yang sudah kita bicarakan bulan lalu, aku akan membawa berkasnya dua hari lagi. Karena biasanya kamu tidak menerima pekerjaan sebelum lewat tanggal dua puluh.” kata Arga, mengingatkan tentang buku yang memang sudah dijadwalkan terbit bulan depan.
“Bawakan saja besok.” Perintah itu membuat Arga sedikit terkejut, meski dia berusaha menyembunyikan ekspresinya.
“Siap laksanakan.”
Pria itu masuk ke dapur, mengambil sebuah tas berisi berbagai macam camilan, lalu meletakkannya di pangkuan Marchel. Setelah itu, mereka kembali keluar dan menuju kamar Tirta.
“Dan satu lagi, aku sudah tidak membutuhkan obat tidur karena gadis itu menemaniku. Jadi pikirkanlah...” Ucapan itu membuat Arga menghentikan langkahnya. Kursi roda yang didorongnya ikut berhenti sebelum mereka sampai di depan kamar Tirta.
“Kamu ingin dia pindah ke kamarmu? Itu mustahil! Kamu ingin tidur dengannya?” Rentetan pertanyaan itu membuat Marchel mendecak kesal. Apa-apaan? Pria itu benar-benar salah paham.
“Kamu sedang menghinaku? Menurutmu apa yang bisa kulakukan pada gadis itu?” kesalnya sembari memalingkan wajah.
Arga langsung menepuk dahinya sendiri. Dia baru sadar telah berpikir terlalu jauh.
“Baiklah. Akan kuusahakan dia mau berada di kamarmu pada malam hari.”
Jawabannya terdengar pasrah. Setelah itu, dia kembali mendorong kursi roda hingga Marchel tiba di depan pintu kamar Tirta. Tak lama kemudian, Arga pamit meninggalkan mereka.
Perubahan Marchel memang cukup mengejutkan. Dia mau keluar dari kamarnya meski masa berkabungnya belum selesai. Bahkan, dia bersedia menerima pekerjaan sebelum masa itu berakhir. Perlahan pria itu memang berubah, meski hanya sedikit. Arga sangat berharap Marchel bisa benar-benar sembuh dan kembali menjalani hidupnya seperti dulu.
Sejak kecelakaan itu, Marchel meninggalkan seluruh kekayaan dan ketenarannya. Dia mengasingkan diri dari semua orang dan memilih menjadi pria yang hidup bersama siksaan batinnya sendiri. Orang tua mendiang kekasihnya berkali-kali melimpahkan seluruh kesalahan kepada Marchel. Pria itu menjadi tempat pelampiasan atas kehilangan putri mereka.
Meski begitu, Marchel tidak pernah membantah. Bahkan dengan tegas dia mengakui bahwa semua itu memang kesalahannya. Seharusnya mereka keluar bersama, atau setidaknya dia meminta Rachel turun lebih dulu.
Setelah kepergian Rachel, Marchel mengasingkan diri ke negara ini. Kedua orang tua Rachel pun tidak pernah datang lagi. Dari kabar yang dia dengar, mereka telah pindah ke negara lain karena tidak sanggup tinggal di tempat yang selalu mengingatkan mereka pada putri semata wayang.
Di negara ini, Marchel menuangkan seluruh isi kepalanya ke dalam tulisan. Dia menciptakan berbagai buku dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai monster di dalam setiap cerita. Karena itu, semua buku yang dia tulis selalu bertema gelap, penuh kekejaman, dan dipenuhi luka.
Namun, karena memang memiliki jiwa pebisnis, apa pun yang dia hasilkan selalu mendatangkan keuntungan. Arga memilih mengikuti Marchel dan menerbitkan seluruh buku pria itu dengan izinnya. Bahkan, karya-karyanya menjadi buku terlaris dan sangat populer di kalangan masyarakat.
Tok.
Tok.
Ceklek.
Pintu terbuka, memperlihatkan Tirta yang mengerjapkan matanya pelan untuk menyesuaikan penglihatannya.
“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya sembari menggaruk tengkuk yang terasa gatal.
“Kamu tidak berniat mempersilahkanku masuk?” Tirta mengernyit bingung, tetapi tetap menggeser tubuhnya dan membiarkan pria itu masuk ke dalam kamarnya tanpa bertanya lebih jauh.
Marchel masuk dan memperhatikan seluruh isi kamar yang rapi. Tidak banyak barang di sana. Bahkan, tas pakaian Tirta masih berada di atas lemari, seolah gadis itu bisa pergi kapan saja.
Mimpi!
“Ada apa? Aku sangat mengantuk.” Tirta duduk di atas tempat tidurnya, menunggu alasan pria itu datang ke kamarnya. Dengan santai Marchel mengangkat tas berisi camilan yang ada di tangannya.
“Camilan untukmu.”
“Terima kasih. Memangnya kamu habis melakukan sesuatu sampai memberiku camilan sebanyak ini?” tanyanya. Kini tubuhnya sudah terasa jauh lebih baik, bahkan rasa kantuknya menghilang begitu melihat isi tas tersebut.
“Apa otakmu tidak bisa berpikir baik tentangku? Sepertinya sudah terlalu tercemar.” Tirta terkekeh pelan lalu menatap pria itu dengan sorot mata teduh. Ternyata sisi baik Marchel begitu indah, hanya saja sangat jarang diperlihatkan kepada orang lain.
“Ayo makan malam. Sepertinya aku juga akan memasak.”
“Aku bisa meminta Arga membelikan makanan untuk kita. Ini sudah cukup malam.”
“Siap, Tuan Muda. Ayo keluar.” Tirta memutar kursi roda Marchel lalu mengajaknya keluar kamar.
Tak lama kemudian, Arga datang membawa makanan di tangannya. Di belakangnya berjalan seorang pria mengenakan jas putih yang tampak gagah dengan wajah tampan.
Tirta yang tadi sempat mengobrol dengan Marchel di meja makan kini memperhatikan kedua pria yang datang menghampiri. Tatapannya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya sambil berpikir.
Bagaimana bisa semua pria di rumah ini selalu tampan dan bertubuh bagus? Tinggal di rumah ini rasanya seperti mendapat hadiah dari Tuhan. Setiap kali lelah, selalu ada pria-pria tampan yang bisa mencuci matanya.
“Perhatikan air liurmu sampai menetes.” Sindiran Marchel terdengar sinis. Sepertinya pria itu sedikit terganggu karena tatapan Tirta tak kunjung lepas dari dokter muda yang baru datang.
“Tenang saja, kamu tidak kalah tampan.” Tirta menggodanya sambil tertawa. Namun, berbeda dengan dirinya, Marchel justru menanggapi ucapan itu dengan serius. Pria itu memilih diam sambil menyembunyikan senyum tipisnya.
“Hai, Kak...” sapa Tirta sembari mempersilakan mereka duduk. Namun, keduanya tetap berdiri di tempat.
“Hai, Tirta. Ini makanan kalian. Setelah makan nanti, Marchel akan menjalani pemeriksaan rutin.”
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜