NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lebih Rumit Daripada Novel

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, jarum jam yang terpajang di dinding kamar Kanaya telah menunjukkan pukul satu siang.

Siang itu, Kanaya menuruni anak tangga dari lantai dua dengan penampilan yang rapi seperti biasanya. Rambut panjangnya di biarkan tergerai, sementara sebuah tas kecil telah menggantung di bahu kirinya.

Langkahnya terdengar pelan memenuhi rumah yang siang itu terasa jauh lebih lengang dari biasanya.

Pandangannya menatap sejenak ke arah ruang keluarga yang kosong.

Saat hendak melangkah menuju pintu utama, Kanaya melihat Bi Sumi muncul dari arah belakang sambil membawa beberapa potong pakaian yang baru selesai disetrika.

"Bi..." panggilnya pelan, membuat perempuan paruh baya itu segera menoleh.

"Iya, Non?" sahut Bi Sumi dengan senyum ramah yang sudah akrab di lihat Kanaya sejak kecil.

Kanaya menghentikan langkahnya di dekat anak tangga terakhir. "Ibu jadi pergi ke Bekasi, Bi?"

"Jadi, Non. Tadi di anterin sopir." Bi Sumi menjawab sambil merapikan tumpukan pakaian di pelukannya, lalu mengerutkan dahi seolah baru menyadari sesuatu.

"Emangnya Non Naya nggak dipamitin sama Ibu?"

Kanaya tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu. "Dipamitin kok, Bi. Cuma aku nggak sempat tanya berangkatnya jam berapa."

"Oalah..." Bi Sumi terkekeh pelan. "Kalau nggak salah tadi Ibu berangkat sekitar jam sebelas, Non."

Kanaya menganggukkan kepalanya pelan. "Ya sudah, Bi. Aku mau keluar dulu. Ada janji sama Dinda."

"Iya, Non." Bi Sumi menggeser sedikit tumpukan pakaian di tangannya sebelum melanjutkan, "Hati-hati di jalan, ya."

"Iya, Bi. Terima kasih."

Kanaya membalas dengan senyum tipis sebelum kembali melangkah meninggalkan rumah. Angin siang yang berembus lembut menyambutnya begitu ia tiba di halaman depan. Cuaca hari itu cukup cerah, meski matahari terasa sedikit lebih terik di banding biasanya.

Tak lama kemudian, ia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam kabin yang seketika di penuhi aroma lembut pengharum mobil favoritnya. Setelah mengenakan seatbelt, Kanaya menyalakan mesin kendaraan dan perlahan meninggalkan halaman rumah.

...****************...

Jalanan ibu kota siang itu tampak cukup padat. Deretan kendaraan memenuhi beberapa ruas jalan, sementara lampu lalu lintas yang silih berganti membuat laju mobilnya sesekali melambat.

Kanaya memilih membiarkan speaker menyala dengan volume rendah. Namun, alih-alih mendengarkan lagu yang diputar, pikirannya justru kembali dipenuhi oleh berbagai hal yang sejak semalam terus mengusik ketenangannya.

Jemarinya mengetuk pelan kemudi mobil saat lampu merah mengharuskannya berhenti di sebuah persimpangan.

"Kau harus menikah dengan cucu dari sahabat terbaik Kakek."

Kalimat itu kembali terngiang begitu jelas di dalam kepalanya. Kanaya menghembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya sejenak ke kursi.

"Apa semua ini cara Kakek memintaku untuk membalas semua kebaikan Kakek?" gumamnya lirih, nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Tidak ada yang menjawab.

Sejak kecil, kakeknya adalah orang yang selalu hadir dalam setiap langkah penting dalam hidupnya. Sosok yang tidak pernah sekalipun meragukan kemampuannya, bahkan ketika Kanaya sendiri sempat meragukan dirinya.

Lampu lalu lintas kembali berubah hijau. Kanaya perlahan menginjak pedal gas, tetapi pikirannya masih tertinggal jauh ditempat lain.

"Kalau memang ini kemauan Kakek yang akan membuat Kakek tenang dan bahagia di sana..." ucapnya pelan, diiringi senyum tipis yang menyimpan begitu banyak hal.

Untuk beberapa saat, perempuan itu hanya memandang lurus ke arah jalanan yang membentang di hadapannya.

"Naya akan berusaha menerimanya."

Kalimat itu keluar begitu saja, seolah menjadi jawaban yang akhirnya berhasil ia temukan setelah semalaman bergulat dengan isi pikirannya sendiri.

...****************...

Dua puluh menit kemudian, mobil Kanaya akhirnya memasuki area parkir sebuah kafe yang berada tepat di sebelah toko buku favoritnya. Tempat itu sudah seperti rumah kedua bagi dirinya dan Dinda.

Sejak masih duduk di bangku SMP hingga menyelesaikan pendidikan mereka, keduanya kerap menghabiskan waktu disana untuk sekadar berbincang atau menikmati sore.

Setelah mematikan mesin mobil, Kanaya meraih tas kecilnya sebelum turun dan mengunci kendaraan tersebut. Pandangannya sempat beralih ke arah toko buku yang berada di sebelah kafe. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Tidak banyak yang berubah dari tempat itu.

Langkahnya kemudian berlanjut menuju pintu masuk kafe.

Denting lonceng kecil yang tergantung diatas pintu langsung terdengar begitu ia masuk ke dalam. Suasana kafe siang itu tidak terlalu ramai. Beberapa pengunjung tampak sibuk dengan laptop mereka, sementara ynag lain memilih menikmati makan siang di temani alunan musik instrumental yang di putar pelan.

"Siang, Mbak Naya!"

Sapaan riang dari salah satu pelayan membuat Kanaya menoleh. Budi...salah satu pegawai yang telah lama bekerja disana, melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum lebar.

"Siang, Budi," balas Kanaya dengan senyum tipis sambil melangkah mendekat.

"Udah di tunggu Mbak Dinda tuh."

Budi menunjuk kearah sudut kafe yang berada di dekat jendela. Dari tempatnya berdiri, Kanaya dapat melihat Dinda yang tampak sibuk memainkan sedotan minumannya sambil menatap ponsel ditangannya.

"Oh, udah datang ya?" tanyanya pelan.

"Iya." Budi mengangguk antusias. "Mbak Naya mau pesan yang kayak biasanya?"

Kanaya terkekeh pelan mendengar pertanyaan yang bahkan tidak perlu lagi ditanyakan itu.

"Iya dong."

"Oke, Mbak!"

Setelah itu, Kanaya melangkah lebih dalam ke dalam kafe. Aroma kopi yang bercampur dengan wangi roti yang baru di panggang memenuhi indra penciumannya.

Di sudut ruangan, alunan musik instrumental terdengar mengalun pelan, berpadu dengan suara percakapan para pengunjung yang tidak terlalu ramai.

Seperti biasa, pandangannya langsung tertuju pada meja di sudut ruangan yang menghadap ke jalan raya. Tempat favoritnya dan Dinda selama bertahun-tahun.

"Nayaaaaa!"

Suara Dinda yang cukup nyaring membuat beberapa pengunjung menoleh sekilas. Bahkan seorang pria yang sedang bekerja di depan laptopnya tampak mengangkat kepala dengan ekspresi bingung.

Kanaya segera mengangkat telunjuknya ke depan bibir sambil menggeleng kecil.

"Sssttt... pelan-pelan, Dinda." tegurnya lirih, sedikit menahan malu karena tingkah sahabatnya yang selalu berhasil menjadi pusat perhatian.

"Pfft... iya, iya. Sorry," jawab Dinda tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Kanaya hanya menggelengkan kepala sambil menarik kursi di hadapan sahabatnya. Bahkan setelah bertahun-tahun, Dinda tetaplah Dinda...ceria, berisik, dan selalu berhasil menarik perhatian dimana pun ia berada.

"Kenapa kok tiba-tiba banget pengen ketemu?" tanya Dinda penasaran sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.

Kanaya mengembuskan napas pelan sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pandangannya sempat beralih ke arah luar jendela, memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang dijalanan ibu kota.

"Gapapa. Pengen aja."

Dinda langsung menyipitkan matanya penuh selidik. Sebagai orang yang telah mengenal Kanaya hampir sepanjang hidupnya, ia tahu betul bahwa jawaban seperti itu biasanya hanya digunakan ketika sahabatnya sedang menyembunyikan sesuatu.

"Hmm... mau ada yang dikeluhin, kan?"

Kanaya hanya terdiam beberapa detik. Ekspresi pasrah perlahan terlihat di wajahnya. Terkadang, memiliki sahabat yang mengenal terlalu baik juga cukup merepotkan.

"Ck..."

Dinda justru tertawa kecil melihat reaksinya.

"Hahaha... cerita gih. Tapi tunggu dulu," ujarnya sambil mengangkat telunjuk seolah baru mengingat sesuatu. "Kamu udah cerita ke Om Tama sama Tante Wina?"

"Itu yang mau aku ceritain."

"Ah... oke."

Tak lama kemudian, Budi datang membawa segelas matcha latte favorit Kanaya dan meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.

"Matcha latte untuk pelanggan setia kami."

"Terima kasih, Budi."

"Sama-sama, Mbak."

Setelah pelayan itu pergi, Dinda kembali mengalihkan seluruh perhatiannya kepada sahabatnya. Ia bahkan menggeser gelas minumannya sedikit ke samping, tanda bahwa percakapan kali ini membutuhkan perhatian penuh.

"Jadi?"

Kanaya menggenggam gelas minumannya sejenak. Sensasi dingin dari permukaan gelas itu sedikit banyak membantu menenangkan pikirannya sebelum akhirnya ia membuka suara.

"Jadi gini, Din. Semalam aku sebenarnya udah mau kasih tau Ayah sama Ibu. Aku mau kasih kejutan buat mereka."

Dinda mengangguk pelan.

"Kamu tau kan kalau aku udah ngerencanain itu dari lama."

"Hmm... iya, Nay. Aku tau. Terus?" tanyanya lembut, masih belum menyadari ke arah mana percakapan itu akan berjalan.

"Pas aku mau kasih tau mereka, tiba-tiba pengacara mendiang Kakekku datang."

Dinda yang semula bersandar santai langsung duduk lebih tegak. Kedua alisnya bertaut, memperlihatkan rasa penasaran yang semakin besar.

"Iya... terus?"

"Dia datang sambil bawa surat wasiat."

"Surat wasiat?" ulang Dinda pelan.

Kanaya mengangguk kecil.

"Katanya, itu amanat terakhir Kakek yang baru boleh di bacakan setelah aku genap dua puluh lima tahun."

Dinda mengernyit penasaran, tetapi memilih tetap diam menunggu Kanaya melanjutkan ceritanya. Sesekali, ia memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak jauh lebih murung di banding biasanya.

"Dan..." Kanaya terdiam sejenak, seolah masih sulit mempercayai kalimat yang akan keluar dari mulutnya sendiri. "Isinya... Kakek minta aku menikah dengan cucu sahabatnya."

Deg.

Untuk pertama kalinya sejak Kanaya datang, Dinda terlihat benar-benar kehilangan ekspresinya. Mulutnya sedikit terbuka, sementara kedua matanya membulat sempurna.

"M-Menikah, Nay?" tanyanya terbata, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Aku nggak salah dengar ini?"

Kanaya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, meski senyum itu terlihat lebih seperti bentuk kepasrahan.

"Nggak, Din. Kamu nggak salah dengar."

Suasana di antara keduanya mendadak berubah hening. Bahkan suara musik yang sedari tadi mengalun pelan seolah menjadi satu-satunya hal yang terdengar diantara mereka.

"Iya," lanjut Kanaya dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Kakek jodohin aku sama cucu sahabatnya."

"Naya... aku..." Dinda mengusap wajahnya pelan, masih mencoba mencerna informasi yang baru saja didengarnya. "Aku nggak tau harus ngomong apa."

Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali bertanya dengan hati-hati.

"Siapa laki-laki itu?"

"Aku nggak tau, Din."

"Nggak tau?" ulangnya sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi.

Kanaya mengangguk. "Yang tau cuma orang tuaku."

Dinda menatap sahabatnya dengan mata membulat. Dari sekian banyak kemungkinan yang sempat muncul di kepalanya, perjodohan jelas bukan salah satunya.

"Jadi... kamu di minta menikah dengan laki-laki yang bahkan belum pernah kamu lihat wajahnya?"

"Kira-kira begitu."

"Ya Tuhan, Nay..." gumam Dinda sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mengembuskan napas panjang. "Ini bahkan lebih dramatis dari novel ynag terakhir aku baca."

Kanaya hanya tersenyum kecil mendengar komentar tersebut, tetapi jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa kenyataan sering kali jauh lebih rumit daripada cerita yang tertulis didalam sebuah novel.

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!