Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Perhatian Kecil Si Bidadari Mungil
Atmosfer di SMA Garuda siang itu dipenuhi oleh dua energi yang bertolak belakang. Di satu sisi, kesibukan persiapan Pentas Seni (Pensi) tahunan sedang berada di puncak keriuhan. Panggung utama di tengah lapangan sudah berdiri kokoh, spanduk-spanduk besar bersponsor Dirgantara Group terpampang anggun, dan dentum musik latihan dari band sekolah menggema ke setiap sudut koridor. Namun di sisi lain, bayangan Ujian Nasional dan ujian akhir kelas 12 yang tinggal menghitung minggu mulai menghantui pikiran murid-murid.
Di meja pojok favorit kantin belakang, Alexa, Rin, Safi, dan Melati sedang berkumpul di sela-sela jam istirahat. Di atas meja, empat porsi bakso berkuah hangat baru saja disajikan oleh Ibu Kantin.
Namun, pemandangan di meja mereka membuat Rin dan Safi melotot tak percaya.
Alexa, yang kini usia kandungannya memasuki minggu keenam, merogoh botol garam di tengah meja. Dengan santainya, jemari mungil gadis itu menumpahkan sisa garam dapur di dalam botol ke dalam mangkuk baksonya hingga kuah di mangkuk itu mendadak tampak keputihan dan pekat!
"Aiyo! Alexa! Kau nak membunuh diri ke apa?!" jerit Safi heboh dengan logat Melayu kentalnya, melompat dari kursi seraya menunjuk mangkuk Alexa. "Garam tu banyak sangat! Tak masin ke kuah kau tu?!"
Rin menarik botol garam itu dari tangan Alexa dengan raut wajah syok. "Ca, kamu gila ya?! Itu garamnya udah kaya setengah mangkuk sendiri! Darah tinggi kamu nanti!"
Melati menggeleng-gelengkan kepala cemas. "Alexa, coba rasa sedikit dulu deh... Jangan langsung dimakan."
Alexa mengeripkan mata bulatnya polos, lalu meminum satu sendok kuah bakso putih pekat itu dengan santainya. Pipi tembamnya mengembung pelan seraya mengunyah butiran bakso.
"Gak asin kok," sahut Alexa polos seraya memayunkan bibirnya. "Pas banget rasanya! Menurut Aca malah kurang gurih dikit."
Rin penasaran, merogoh sendok baru dan mencicipi setetes kuah milik Alexa.
HUEKKK!
"UWEK! ASIN BANGET ANJIR!" jerit Rin heboh seraya buru-buru menenggak es teh manisnya dalam sekali tegukan, matanya melotot tajam. "Ini mah bukan kuah bakso! Ini kuah air laut mati! Lidah kamu udah mati rasa ya, Ca?!"
Safi memegangi dadanya, menggeleng pasrah. "Betul-betul gila... Hormon budak mengandung ni memang pelik sangat lah. Lidah wagyu haritu pun kalah sama air laut ni."
Alexa cemberut manis, memegang perut ratanya yang kini menyimpan benih cinta sucinya bersama Exel. "Dedek bayinya yang mau gurih-gurih tahu! Lagian Aca juga lagi gak mual hari ini. Aca merasa... kangen banget sama Mas Es Batu."
Rin dan Melati saling melempar pandangan, tersenyum hangat.
"Alhamdulillah... Berarti efek mual bau badan Mas Exel udah mulai hilang dong?" tanya Melati lembut.
Alexa mengangguk cepat, matanya berbinar manis. "Iya! Tadi pagi pas Mas Exel berangkat kantor, Aca coba cium bajunya... baunya udah gak kaya minyak tanah lagi! Malah baunya harum banget kaya parfum stroberi bercampur kopi! Aca jadi kasihan kemarin Mas Exel sampai ikut muntah-muntah..."
Alexa terdiam sejenak, memandangi mangkuk baksonya. Pikiran anak SMA-nya melayang membayangkan Exel yang beberapa hari ini selalu pulang larut malam demi membereskan pengkhianat internal perusahaan. Rasa khawatir dan rasa cinta yang teramat sangat membuncah di dalam dada mungilnya.
"Aku... aku mau masak buat Mas Exel!" seru Alexa mendadak melompat berdiri dari kursinya!
"Hah?! Masak?!" jerit Rin, Safi, dan Melati kompak.
"Iya! Nanti sepulang sekolah, Aca mau masak tumis cumi asin cabe hijau spesial buat sarana minta maaf sama Mas Exel di kantor!" tegas Alexa dengan suara cemprengnya yang penuh semangat.
Safi menelan ludahnya kaku seraya melirik kuah bakso di depannya. "Aiyo... Semoga masakan kau tak se-asin kuah bakso ni ya, Ca... Kasihan Pak CEO nanti."
Pukul 15.30 WIB.
Gedung pencakar langit Dirgantara Group berdiri megah di pusat ibu kota. Di area lobi utama yang sangat luas dan berlapis lantai marmer mengkilap, lalu lintas karyawan bersetelan jas dan gaun kerja tampak sangat sibuk.
Pintu kaca otomatis lobi terbuka pelan. Alexa melangkah masuk dengan gaya anggunnya yang berbalut seragam SMA Garuda, membawa sebuah tas kain pastel tebal berisi kotak bekal masakannya sendiri. Pipi tembamnya merona merah muda, dan mata bulatnya memandang sekeliling gedung mewah milik suaminya dengan binar kagum.
Alexa melangkah mendekati meja resepsionis utama yang dijaga oleh dua staf wanita berpenampilan sangat rapi dan formal.
"Selamat sore, Mbak!" sapa Alexa ramah dengan suara cemprengnya.
Resepsionis senior bernama Clara—bukan Clara sang mantan, melainkan staf bernama Siska baru pengganti yang belum mengenal Alexa—menatap Alexa dari ujung rambut kuncir kudanya hingga sepatu kets sekolahnya dengan pandangan menyipit heran.
"Selamat sore. Ada yang bisa dibantu, Adik Sekolah?" tanya staf resepsionis itu dengan nada suara kaku dan sedikit meremehkan.
"Saya mau ketemu sama Mas Exel Dirgantara," ujar Alexa polos, tersenyum manis.
Kedua staf resepsionis di balik meja seketika saling melempar kerlingan mata, lalu tertawa kecil menahan ejekan.
"Adik manis... Pak Exel Dirgantara itu CEO Utama di gedung ini," terang staf tersebut dengan nada menggurui. "Gedung ini bukan tempat untuk main-main atau minta tanda tangan artis. Apakah Adik punya janji temu? Dari sekolah mana? Mau minta dana sponsor Pensi ya?"
Alexa memayunkan bibirnya kencang, memasang raut cemberut heboh. "Aku gak minta dana sponsor! Aku mau antar bekal buat Mas Exel!"
Staf resepsionis itu menaikkan satu alisnya, tersenyum sinis. "Maaf ya, Adik. Pak Exel sangat sibuk di lantai eksekutif dan tidak menerima tamu tanpa janji resmi. Apalagi cuma antar bekal makanan. Silakan keluar sebelum kami panggilkan sekuriti."
DUARRR!
Pipi tembam Alexa seketika mengembung drastis akibat kesal setengah mati! Drama novel tentang istri sah yang dikira anak sekolah minta sumbangan kini beneran terjadi padanya!
"Ehh! Mbak-Mbak kaku!" jerit Alexa heboh refleks dengan suara cemprengnya yang melengking tinggi, membuat beberapa karyawan yang melintas di lobi refleks menoleh kaget. "Aku ini bukannya mau minta sumbangan tahu gak! Aku ini—"
"Ada keributan apa ini di lobi?"
Sebuah suara berat, dingin, dan sangat berwibawa mendadak memotong jeritan Alexa dari arah lift VIP eksekutif!
Seluruh area lobi seketika hening total!
Exel Dirgantara melangkah keluar dari lift VIP, mengenakan setelan jas hitam mewahnya yang amat gagah. Pria bertubuh tegap setinggi 185 cm itu berjalan diiringi oleh Achmad yang membawa map dokumen, serta dua pengawal pribadi.
Kedua staf resepsionis seketika pucat pasi, buru-buru membungkuk sembilan puluh derajat. "S-Selamat sore, Pak Exel! Maaf, ini ada anak SMA yang memaksa masuk dan—"
Namun, kata-kata staf resepsionis itu terhenti kaku di udara.
Mata cokelat gelap milik Exel yang biasanya sekeras batu es seketika melotot sempurna begitu pandangannya menangkap sosok gadis mungil berseragam SMA yang sedang cemberut di depan meja resepsionis!
Aura 'kulkas dua pintu' dan kejam sang CEO seketika luntur tanpa bekas dalam hitungan detik! Binar kebahagiaan dan rasa terkejut yang luar biasa memancar terang dari wajah tampan Exel.
"Alexa?!" seru Exel dengan suara bergetar gembira, melangkah lebar menyeberangi lobi tanpa memedulikan pandangan ratusan karyawannya!
"Mas Exel!" jerit Alexa gembira, lupa akan kekesalannya.
Karena efek mual bau badan yang sudah sepenuhnya sirna berganti rasa rindu yang membakar dada, Alexa lari melesat dan langsung melompat menghambur ke dalam dekapan tegap suaminya!
Sret!
Exel dengan sigap menangkap tubuh mungil istrinya, merengkuh erat Alexa ke dalam pelukan hangat dadanya. Sang CEO berdarah dingin itu bahkan memutar tubuhnya pelan seraya menciumi puncak kepala, pelipis, dan pipi tembam Alexa berkali-kali tanpa rasa malu di depan seluruh staf perusahaannya!
"Sayang... Kenapa ke sini tidak kabari Mas dulu, hm?" bisik Exel sangat lembut dan rendah, matanya berbinar-binar memandangi wajah mungil istrinya. "Kamu tidak mual lagi dekat Mas?"
Alexa menyembunyikan wajah panasnya di ceruk leher Exel, menghirup aroma maskulin kopi dan kayu dari kemeja suaminya seraya menggeleng manja. "Enggak mual lagi! Baunya Mas Exel udah harum banget kaya parfum favorit Aca! Aca kangen banget sama Mas Suami!"
Mendengar frasa 'Aca kangen banget sama Mas Suami', rasa bahagia yang luar biasa membakar dada Exel. Sang CEO menyunggingkan senyum paling manis dan tampan yang pernah disaksikan manusia di gedung tersebut.
Sementara itu... kedua staf resepsionis di belakang meja membeku kaku bagaikan patung! Wajah mereka pucat pasi seputih kertas, rahang mereka hampir jatuh menghantam lantai marmer.
"I-Istri...?! Anak SMA itu istrinya Pak Exel?!" cicit staf resepsionis gemetar hebat setengah mati.
Achmad yang berdiri di belakang Exel melangkah mendekati meja resepsionis seraya menyunggingkan cengiran jahatnya yang paling legendaris.
"Catat di otak kalian ya, Mbak-Mbak," bisik Achmad santai namun menakutkan. "Gadis kecil berseragam SMA itu adalah Nyonya Alexa Dirgantara, istri sah dari bos gede kalian. Untung Pak Exel lagi kasmaran, kalau enggak... besok surat pemecatan kalian udah terbit."
Staf resepsionis itu makin kaku, lemas tak berdaya di balik mejanya.
Di dalam ruang kerja eksekutif lantai teratas...
Atmosfer ruangan bernuansa mewah itu terasa sangat hangat dan manis. Exel duduk di sofa panjang seraya memangku tubuh mungil Alexa. Lengan tegap sang CEO melingkar kencang di pinggang istrinya, seolah menolak melepaskan Alexa walau satu sentimeter pun setelah seminggu harus berpuasa jarak akibat hormon kehamilan.
Di atas meja kaca, kotak bekal buatan Alexa sudah terbuka. Tumis cumi asin cabai hijau masakan Alexa terhampar menggoda.
"Ini Aca masak sendiri khusus buat Mas Exel," ujar Alexa bangga seraya menyodorkan sesuap nasi dan tumis cumi menggunakan sendok ke bibir suaminya. "Ayo makan, Mas! Biar gak kecapekan lembur terus!"
Exel menatap istri mungilnya dengan pandangan penuh rasa haru dan cinta mati. Pria itu membuka bibirnya, menerima suapan dari tangan Alexa tanpa ragu sedikit pun.
Exel mulai mengunyah...
Deg!
Seketika itu juga, rahang tegap sang CEO membeku kaku!
Rasa asin yang luar biasa ekstrem—hasil racikan lidah hormon hamil Alexa yang menumpahkan sisa garam ke dalam bumbu—seketika meledak dahsyat di dalam mulut Exel! Rasa asinnya begitu pekat hingga sanggup membuat lidah manusia biasa mati rasa dalam sekejap!
Alexa memandangi wajah suaminya dengan mata bulat berbinar-binar penuh harapan. "Gimana, Mas? Enak banget kan masakan Aca?!"
Exel menelan suapan terasin dalam sejarah hidupnya itu dengan susah payah seraya tetap mempertahankan senyuman paling manis, paling hangat, dan paling tulus di wajah tampannya. Binar mata sang CEO memancarkan kasih sayang yang tak bertepi.
"Sangat lezat, Sayang," bohong Exel penuh kepatuhan cinta, mengusap lembut kepala Alexa. "Ini masakan terbaik yang pernah Mas makan."
Achmad yang baru melangkah masuk membawa cangkir teh mendadak penasaran. "Wah, kelihatan enak tuh! Gua minta sepotong dong, Dek Alexa!"
Sebelum Alexa sempat menjawab, Achmad merogoh sendok dan mencicipi sepotong cumi masakan Alexa.
HUEKKK!
"UWEK! ASIN BANGET ANJIR!" jerit Achmad histeris seraya memegangi tenggorokannya dan menyambar cangkir tehnya, matanya melotot tajam pada Exel. "Cel! Lu gila ya?! Ini masakan kadar garamnya bisa bikin ginjal meledak! Kok lu bilang lezat?!"
Exel seketika melayangkan tatapan membunuh yang teramat sangat dingin pada Achmad. "Achmad. Keluar dari ruangan saya sekarang juga."
"Aduh! Ampun Pak CEO Bucin!" seru Achmad pasrah melesat keluar ruangan seraya terus berkumur-kumur di koridor.
Alexa memayunkan bibirnya polos. "Paman Achmad berlebihan banget deh. Padahal rasanya kan pas."
Exel terkekeh renyah, merengkuh erat tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya seraya mengecupi pelipis dan bibir manis Alexa berkali-kali.
"Abaikan Achmad, Sayang," bisik Exel rendah dan penuh kehangatan di telinga Alexa. "Terima kasih sudah memasakkan ini untuk Mas... Mas sangat mencintaimu."
Alexa tersenyum bahagia, melingkarkan lengannya di leher tegap Exel seraya menyembunyikan wajah panasnya di dada suaminya. Di balik rasa asin masakan dan kekonyolan sore itu, efek hormon mual yang mereda mendadak digantikan oleh kemanjaan indah yang makin merekatkan jiwa dan raga sang CEO dingin dan Si Gadis Cempreng Mungil.