Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Murid yang Jenius
Pagi itu, wajah di cermin terlihat sedikit berbeda.
Ning berdiri lama di depan cermin kecil yang retak di kamar kontrakannya. Cahaya matahari masuk dari celah jendela sempit, jatuh miring ke pipinya. Kemarin, wajah ini begitu pucat sampai tampak hampir kelabu. Hari ini, warna kulitnya masih lemah, tetapi ada sedikit terang di bawah mata.
Bukan cantik.
Belum.
Tapi seperti seseorang yang baru saja kembali bernapas setelah lama dikubur hidup-hidup.
Ning menyentuh pipinya pelan. Ingatan tentang Kian, Kevin, dan potongan malam kemarin langsung memenuhi dadanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh ini. Ia hanya tahu sejak bertemu mereka, rasa asing di cermin sedikit berkurang.
"Jangan berharap terlalu banyak," bisiknya pada diri sendiri.
Namun tangannya tetap merapikan rambut lebih teliti daripada kemarin.
Ia memakai kemeja putih yang sama, sudah dicuci cepat semalam dan belum benar-benar kering di bagian kerah. Celana hitamnya disetrika asal dengan dasar panci panas karena kamar itu tidak punya setrika. Di tas, ia memasukkan buku catatan, pulpen, KTP, obat rumah sakit, dan kertas kecil tempat ia menulis beberapa rencana pelajaran.
Sebelum berangkat, Ning menatap ponsel.
Pesan Kian masih ada di sana.
Pekerjaan tutor. Besok lanjut.
Tidak ada pesan baru. Tidak ada tambahan. Tetap saja, Ning membacanya sekali lagi sebelum keluar.
Menteng Enclave di pagi hari terasa berbeda dari malam sebelumnya. Jalanannya basah karena disiram petugas taman. Pohon-pohon tinggi memberi bayangan rapi di atas aspal. Di pos keamanan, petugas yang sama memeriksa namanya, lalu mempersilakan masuk setelah menghubungi rumah nomor satu.
Pintu dibuka oleh Felix.
"Ci Ning!" serunya terlalu ceria untuk ukuran jam sembilan pagi. "Selamat datang di medan perang akademik. Aku sudah siapkan mental. Kian belum."
Ning tersenyum kecil. "Dia tahu saya datang?"
"Tahu. Makanya dia pura-pura sibuk dari tadi."
Dari dalam rumah, suara Kian terdengar datar. "Gue dengar."
Felix menoleh. "Bagus. Berarti telinga lo masih bisa dipakai walau otak lo menolak sekolah."
"Felix."
"Oke, oke. Aku turun volume."
Kian duduk di sofa ruang keluarga dengan kaus putih longgar dan celana rumah. Rambut peraknya masih agak basah, mungkin baru selesai mandi. Di meja depannya ada gelas susu yang belum disentuh dan ponsel yang lebih sering ia lihat daripada manusia di depannya.
Ning menahan dorongan untuk bertanya apakah ia sudah sarapan.
Ia hanya berkata, "Selamat pagi, Kian."
Kian tidak menjawab. Ia berdiri, mengambil buku dari meja, lalu berjalan ke arah tangga. "Belajar di atas."
Felix memberi dua jempol pada Ning dari belakang Kian. Ning mengangguk kecil, mengikuti anaknya naik ke lantai dua.
Ruang belajar Kian luas, dingin, dan terlalu rapi untuk remaja yang mengaku tidak peduli sekolah. Ada meja besar, komputer dengan tiga monitor, rak buku, sofa kecil, dan papan tulis kaca. Di salah satu dinding, sebuah lemari kaca berdiri terkunci.
Ning melihatnya sekilas.
Jantungnya langsung melambat.
Di dalam lemari itu ada beberapa buku seni lama. Sampul salah satunya sangat ia kenal. Buku sketsa anatomi yang dulu ia coret-coret saat kuliah. Ada juga kotak cat air kecil, beberapa mainan bayi yang sudah pudar, dan sebuah boneka kain berbentuk kelinci yang pernah ia beli karena warnanya mirip awan setelah hujan.
Barang-barang itu seharusnya hilang bersama hidupnya.
Ternyata semuanya ada di sini.
"Jangan sentuh."
Suara Kian memotong napasnya.
Ning cepat mengalihkan pandangan. "Saya tidak akan menyentuhnya."
"Bahkan lihat terlalu lama juga tidak perlu."
Kalimat itu kasar, tetapi Ning mendengar hal lain di baliknya. Lemari itu bukan pajangan. Itu benteng. Kian menjaga benda-benda itu seperti menjaga seseorang yang sudah tidak bisa ia temui.
"Baik," jawab Ning lembut.
Kian duduk di kursinya. "Felix belum bawa buku ekonomi gue."
"Kita bisa mulai dari yang ada."
"Gue mau minum dulu."
"Silakan."
Kian berdiri, mengambil botol air, minum dua teguk, lalu kembali duduk dengan sangat lambat.
Ning membuka catatan. "Kamu ingin mulai dari matematika atau bahasa?"
"Perut gue sakit."
Ning menatapnya.
Kian menatap balik tanpa rasa bersalah.
"Kalau begitu lima menit. Setelah itu kita mulai."
Kian tampak kecewa karena alasannya tidak berhasil membuat Ning panik. Ia bersandar, membuka ponsel. Ning tidak merebutnya. Ia hanya mengeluarkan buku latihan kelas sepuluh yang kemarin dikirim Mbak Rina dalam bentuk foto, lalu menyalin beberapa soal ke kertas.
Lima menit kemudian, Ning mendorong kertas itu ke depan Kian.
"Coba kerjakan tiga soal pertama."
"Gue lupa semua."
"Tidak apa-apa. Saya jelaskan dari awal."
"Repot."
"Saya dibayar untuk repot."
Felix yang ternyata mengintip dari pintu langsung tertawa. "Ci Ning satu, Kian nol."
Kian melempar penghapus ke arahnya. Felix menghindar sambil kabur. "Oke, gue pergi! Jangan lempar masa depan lo ke aku!"
Pintu tertutup.
Ning mulai menjelaskan perlahan. Ia tidak menjejalkan rumus. Ia menggambar garis, memberi contoh sederhana, lalu meminta Kian menebak langkah berikutnya. Awalnya Kian menjawab malas-malasan. Namun di soal kedua, matanya berubah.
Ia mengerti terlalu cepat.
Lebih cepat daripada siswa biasa.
Di soal ketiga, ia bahkan mengambil pulpen dari tangan Ning dan menulis cara lain yang lebih ringkas.
Ning menahan senyum.
"Kamu bisa."
"Kebetulan."
"Tiga kali kebetulan berarti kemampuan."
Kian mendecak, tetapi sudut mulutnya bergerak sangat tipis. "Jangan sok bangga. Gue tetap gak suka belajar."
"Tidak apa-apa. Tidak suka bukan berarti tidak bisa."
Kian menatapnya sebentar. Ada sesuatu yang ragu di matanya, seolah ia tidak terbiasa mendengar orang dewasa memisahkan kemampuan dari kemalasan.
Ketukan pintu terdengar.
Pintu terbuka sebelum Kian menjawab.
Kevin berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih dan celana kerja gelap. Di tangannya ada nampan kecil berisi dua gelas jus delima.
Ning langsung kaku.
Kian juga tampak terkejut. "Pak Kevin ngapain?"
Panggilan itu membuat udara di ruangan menipis.
Wajah Kevin tidak berubah. "Bi Ruan membuat jus. Minum."
"Biasanya suruh orang antar."
"Saya lewat."
Jelas tidak. Dari lantai bawah ke ruang belajar Kian bukan jalur orang yang hanya lewat.
Kevin meletakkan gelas di meja. Satu di depan Kian, satu di dekat Ning. Saat ia mengangkat wajah, tatapannya bertemu mata Ning.
Gerakannya berhenti sangat singkat.
Ning merasakan jantungnya memukul lebih keras.
Kevin menatap matanya seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang terlalu jauh. Bukan curiga penuh. Belum. Hanya jeda kecil, seperti orang mendengar nada lama dari lagu yang pernah ia hafal.
"Terima kasih, Pak Kevin," ucap Ning, memaksa suaranya stabil.
Kevin mengalihkan pandangan lebih dulu. "Lanjutkan."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Kian menatap gelas jus delima itu, lalu bergumam, "Aneh."
"Apa?"
"Biasanya dia gak pernah naik buat beginian."
Ning tidak menjawab. Jari-jarinya menyentuh gelas dingin itu. Aroma delima naik pelan, manis dan sedikit asam, membuat dadanya kembali sesak.
Sesi belajar berakhir satu jam kemudian. Kian hanya menyelesaikan lima soal, tetapi lima soal itu cukup untuk membuktikan satu hal: anak itu bukan bodoh. Ia hanya membangun tembok terlalu tinggi, lalu duduk sendiri di baliknya.
Sebelum Ning pulang, Kian berkata tanpa menatapnya, "Besok jam yang sama."
Ning menahan senyum. "Baik."
Di lantai bawah, Kevin berdiri di ruang kerja dengan map tipis di tangan. Jovi baru saja meletakkan laporan di meja.
Ning Tju. Dua puluh lima tahun. Alamat Tangerang. Tidak ada catatan kriminal. Riwayat kerja tidak stabil. Latar belakang keluarga bermasalah.
Kevin membaca halaman pertama sampai akhir, lalu menutup map itu.
Di benaknya, mata Ning kembali muncul. Bening, lelah, dan entah kenapa terasa sangat dikenal.
"Pak?" tanya Jovi.
Kevin menatap pintu yang tadi dilewati Ning.
"Biarkan dia tetap di dekat Kian untuk sementara."
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya