NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Satu Kamar, Satu Batas

Ara berdiri cukup lama di depan pintu kamar Dante. Tangannya masih memeluk bantal dari kamarnya. Ia menatap pintu itu seolah-olah sedang berhadapan dengan musuh. Bagaimana pun juga ini keputusan mendadak yang mau tidak mau harus ia terima. Gara-gara satu kata salah. Tentang kehormatan. Semua berubah menjadi runyam. Dante menghukumnya dengan cara paling kejam, ya setidaknya cara ini kejam bagi Ara.

Mulai malam ini, kamar itu bukan lagi kamar Dante. Itu akan menjadi kamar mereka berdua. Ara menarik napas panjang. Ia ingin kabur.

"Ini benar-benar gila," runtuk Ara memaki.

"Memang gila." Suara Dante terdengar dari belakang.

Ara hampir melompat. Ia menoleh tajam.

"Bisa tidak kau berhenti muncul tiba-tiba?" protes Ara menggerutu.

Dante mengangkat sebelah alis. "Kau terlalu sibuk mengutukku. Karenanya bukan salahku jika kau tidak sadar aku sudah ada di belakangmu."

"Aku mempertimbangkan buat kabur lagi."

"Silakan kau coba," tantang Dante.

Ara mengerucutkan bibirnya. Dante mengabaikannya. Ia berjalan melewati Ara dan membuka pintu.

"Kalau kau berhasil melewati tiga lapis penjagaan di luar, dua orang anak buahku di lorong bawah, kamera keamanan, dan gerbang utama, mungkin aku akan memberimu penghargaan."

Ara mendengus. "Kau sengaja mengejekku."

"Sedikit." Dante masuk lebih dulu.

Ara mengikuti dengan enggan.

Kamar itu luas, dengan jendela besar menghadap taman belakang. Tempat tidur berukuran besar berada di tengah ruangan. Di sisi kanan terdapat meja kerja, sementara di sisi kiri ada sofa panjang dan rak buku.

Ara memandang ranjang itu. "Haruskah kita juga berbagi ranjang malam ini?"

"Bukankah kau yang bicara tidak peduli dengan kehormatan, kenapa sekarang masih menanyakannya?"

"Apa hubungannya kehormatan dan berbagi ranjang?" protes Ara meruntuki.

"Kau benar-benar tidak tahu atau kau pura-pura tidak tahu?" jelas Dante melangkah maju mendekati Ara.

Ara mengernyit. Ia ingin mundur tapi badannya tidak bisa diajak berkompromi.

"Apakah perlu aku tunjukkan padamu hubungan 'kehormatan' yang kau tanyakan itu?" Dante sudah berdiri tepat di depan Ara. Ara mau mengelak pun tidak bisa.

"Kau.. Kau.." gumam Ara setengah mengutuki manusia di depannya ini dalam hati.

"Perlu ku tunjukkan?" Wajah Dante mendekati wajah Ara.

Ara refleks mundur sedikit ke belakang. "Tidak perlu," katanya geram. Wajahnya sudah memerah.

Dante mendengus. Bibirnya mencibir. "Itu artinya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu."

Ara menoleh lagi ke arah Dante lalu menganggukkan kepala pelan.

Dante menarik nafas panjang sebelum duduk di atas ranjang. "Malam ini aku belum mau berbagi ranjang denganmu. Kita hanya berbagi kamar saja."

"Serius?"

"Serius. Kita hanya akan berbagi kamar tanpa berbagi ranjang. Kau bisa tidur di sofa."

"Baiklah," ujar Ara tanpa perlawanan. Itu opsi pilihan yang jauh lebih baik.

"Apa kau kecewa?"

"Tidak!"

Dante melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja.

Ara berjalan menuju sofa yang ada di kamar itu. Sofa panjang berbentuk letter L. Ia meletakkan bantal yang ia peluk di salah satu sisi sofa.

Dante memandang bantal itu. Lalu ia menatap Ara.

Ara menghela napas karena frustrasi. Ia belum terbiasa tinggal sekamar dengan Dante. Malam ini benar-benar akan menjadi malam panjang baginya. Dia sungguh-sungguh orang yang menyebalkan.

"Tidak ada novel yang kau baca malam ini?" tanya Dante penasaran. Ia pernah mendengar dari bisik-bisik para pelayan jika nyonyanya suka membaca novel sebelum tidur.

"Sedang tidak berminat," sahut Ara ketus. Ia menepuk-nepuk bantalnya sebelum merebahkan kepala diatasnya. Melalui ekor matanya, ia melihat Dante pergi ke salah satu lemari.

Beberapa detik kemudian, Dante kembali dengan sebuah selimut. Ia menjatuhkan selimut itu di atas tubuh Ara.

"Apa?"

"Selimutku untukmu."

Ara mengangkat kepala dan melihat selimut baru di atas perutnya.

"Terimakasih," katanya enggan.

"Kalau tidak mengucapkan dengan tulus, tak perlu kau ucapkan." Dante sudah kembali ke ranjang dan memasukkan dirinya ke dalam selimut.

Ara menggigit bibir lagi. Ia sedikit merasa bersalah atas ucapan terimakasihnya yang diucapkan tidak tulus. Apakah Dante mafia dingin ini juga mengenal apa itu ketulusan--pikirnya.

Dante menarik napas. "Besok kita bicara lagi. Sekarang tidurlah!"

Ara menatap Dante yang sudah berbaring di ranjang. Ia membuka lipatan selimut yang baru diberikan Dante. Tubuhnya lelah. Matanya berat. Ia berbaring dan menyembunyikan diri dalam selimut. Sekilas kedua matanya memandang langit-langit. Lampu kamar mereka sudah dimatikan. Dante juga tampaknya sudah tertidur. Ia mungkin juga lelah. Apakah selama dua hari ini ia juga tidak tidur demi mencarinya?--batinnya bertanya-tanya.

Malam itu mereka berdua tidur dalam jarak yang cukup jauh. Ara di sofa. Dante di ranjang.

Ara masih belum memejamkan mata. Ia menyadari satu hal. Hari-hari ke depan bakal jauh lebih sulit dilewati. Tidak akan mudah menulis dan menyusun rencana kabur lagi. Apalagi ketika Dante memutuskan mereka berbagi ranjang. Pikirannya terus berputar. Ia tidak mau memikirkannya lebih jauh. Baginya kesulitan sehari cukup untuk sehari, esok punya kesulitan sendiri. Ia kembali mengenang kota pesisir. Kota itu cukup indah untuk ditinggali perantau seperti dirinya.

Pagi datang terlalu cepat. Ara terbangun karena suara pintu dibuka. Ia mengucek matanya dan menggeliat.

Seorang pelayan berdiri di ambang pintu membawa sarapan.

"Selamat pagi, Nyonya."

Ara mengusap wajahnya. Ia turun dari sofa.

"Letakkan di meja." Terdengar suara Dante yang baru keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya berbalut handuk.

Pelayan itu menurut. Sebelum pergi, ia bahkan sempat tersenyum kecil pada Ara.

"Ini pertama kalinya kami melihat Tuan Dante meminta sarapan dibawa ke kamar."

Pelayan itu segera pergi.

"Kau yang menyuruh mereka menyiapkan sarapan?" Ara memandang Dante. Dan terkesiap melihat pemandangan di depannya.

"Ya," jawab Dante singkat.

Ara meringis. Ia juga merasa aneh. Tetapi ia tidak berani mengangkat kepalanya. Ia kawatir matanya bakal tercemari oleh makhluk yang namanya Dante yang berkeliaran di kamarnya hanya berbalutkan handuk ini. Dan separo tubuh bagian atasnya telanjang.

"Kenapa kau?" kernyit Dante.

Ara hanya menggeleng. Ia masih menundukkan kepala. Ia pura-pura melipat selimut yang baru disibaknya.

"Jangan katakan kau belum pernah melihat lelaki bertelanjang dada?" komentar Dante iseng. Ia melihat kejanggalan pada sikap Ara yang mendadak menjadi kikuk.

Ara menelan ludahnya dengan susah payah. Ia masih tidak mengangkat wajahnya. Tangannya meletakkan selimut di kursi dan menumpuk bantal di atasnya.

"Tidak perlu menebak," desis Ara canggung. Ia hendak pergi ketika suara Dante menghentikannya.

"Mau kemana kau?" cetus Dante yang sudah berdiri tak jauh dari Ara.

"Aku mau turun ke kamarku dan mandi," beritahu Ara yang masih memunggungi Dante.

"Tidak perlu turun. Handuk dan baju serta alat mandi mu sudah dibawa kemari. Kau bisa menggunakan kamar mandi kita," beritahu Dante menjelaskan.

Ara menarik nafas lebih panjang. "Baiklah," katanya pasrah. Ia bergerak menuju kamar mandi tanpa melihat Dante.

Sementara Dante lanjut masuk walking closet dan berganti baju. Ia mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam. Ada bros lambang keluarga Theo di atas kemejanya.

Ia lalu duduk di sofa sambil membaca laporan keuangan yang ada di tabletnya. Ia menunggu Ara keluar dari kamar mandi agar mereka bisa sarapan bersama.

Tak lama Ara keluar dari kamar mandi. Ia tidak seperti Dante. Ia sudah memakai baju lengkap saat keluar dari kamar mandi.

Dante menatapnya. Tatapan mereka bertemu.

"Kenapa kau belum makan?" ujar Ara heran.

"Tentu saja menunggu istriku yang sedang mandi." Dante sengaja memberi tekanan lebih pada kata menunggu dan mandi.

Wajah Ara menjadi merah. Ia mendengus kesal.

Ia duduk sedikit jauh dari Dante dan mengambil piring dari atas meja. "Kalau begitu, ayo makan."

Ara berpikir ia harus bergegas menyelesaikan tugasnya menemani sarapan, suami di atas kertas nya ini. Setidaknya ini satu hal baik yang bisa ia lakukan untuk suaminya sejauh ini.

Dante tersenyum tipis. Mereka berdua tetap makan dalam diam seperti kebiasaan sebelumnya. Usai sarapan, Dante berdiri. Ia mengambil jas dan memakainya.

"Hari ini kau tetap di dalam rumah. Kau tidak diijinkan kemana-mana," tutur Dante dingin.

"Aku tahu," ujar Ara meremang. Ia menatap punggung pria itu. Cepat sekali perubahan musim hati pria ini, sebentar hangat, sebentar dingin.

Dante berhenti di depan pintu. Ia tidak peduli apa yang dipikirkan Ara. Ia berkata tanpa menoleh padanya, "Aku tidak akan menghukummu jika kau belajar patuh."

Tatapan mata Ara tercekat.

"Lakukanlah hal berguna di rumah hari ini."

"Contohnya?"

"Kau bisa belajar memasak masakan kesukaan ku di dapur. Atau kau bisa belajar memasang dasi. Belajar lah dari Bibi."

Tak satupun kata yang keluar dari mulut Ara. Suaranya tertahan. Ia terkejut dengan permintaan Dante. Ia pikir Dante pun sudah mulai tidak waras. Ia benar-benar menganggap Ara istrinya.

Pintu tertutup.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!