NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 Dewi Air

Sebulan penuh telah berlalu Dataran Badai dikabarkan telah ditaklukan oleh pengembara misterius yang muncul dari jurang. Kael telah kembali ke sisi mereka, tubuhnya sudah pulih sepenuhnya.

Luka-luka bekas hantaman petir di dataran badai mungkin saja sudah sembuh, tetapi ketegangan di antara mereka bertiga masih terasa nyata.

Eliya, Kael, dan Rayn. Mereka tidak pernah meresmikan hubungan, baik sebagai teman petualangan, maupun sebagai penyihir dengan elemen sihir yang berbeda.

Mereka tidak berjanji untuk saling setia, juga tidak ada kata sepakat untuk terus berjalan bersama. Namun, takdir seperti mengikat kaki mereka di jalan yang sama. Ketiganya berjalan beriringan, menjaga jarak yang aneh, terikat oleh benang tak kasat mata yang belum bisa dijelaskan.

Perjalanan tanpa tujuan itu membawa mereka sampai di perbatasan kerajaan Aqualis. Misi prtama. Sebuah kerajaan di kaki lembah itu sedang mengalami kepunahan kecil. Hujan deras berhari-hari membuat bendungan kuno di atas bukit jebol, menumpahkan jutaan kubik air keruh langsung ke pemukiman.

"Jadi, ini adalah kerajaan Aqualis? Sebuah kerajaan yang dikelilingi air. Kenapa bisa sampai terjadi bencana? Bukankah ada seorang putra jenius air di sini?" gumam Eliya menatap daratan yang dikelilingi oleh air.

Mereka menjalankan kehidupan dengan mengandalkan air.

"Desa ini jauh dari pusat kota Mirawat. Kemungkinan pihak kerajaan belum mengetahuinya." Suara Zharvion menggema di alam pikiran memberi penjelasan.

Saat mereka melangkah lebih jauh, situasinya adalah kekacauan murni. Air setinggi dada mengalir deras, menghanyutkan atap jerami dan ternak. Warga desa yang ketakutan memanjat pohon dan atap yang tersisa. Di tengah gemuruh air, jeritan histeris terdengar bersahut-sahutan.

"I-ini jauh lebih buruk dari aku bayangkan," bisik Kael menatap kekacuan itu.

"Apa di sini tidak ada yang bisa mengendalikan air?" Rayn menimpali dengan bingung.

Pasalnya, para penduduk kerajaan Aqualis hampir menguasai sihir air dengan sempurna.

"Entahlah. Mungkin mereka hanyalah penduduk biasa," sahut Eliya sembari menatap kekacauan.

Ladang-ladang hancur, rumah-rumah terbawa arus yang deras. Banjir itu laksana monster, menelan semua yang dilewatinya.

"Aku hanya memiliki sihir angin, kurasa aku tidak dapat membantu," gumam Kael dengan tangan terkepal.

"Api? Apakah bisa melakukannya?" Rayn ikut berbisik, merasa tak berguna.

Sementara Eliya, hanya diam membisu. Mengamati situasi yang terjadi di hadapannya.

"Dewi! Dewi Air tolong kami! Tolong kami, Penyihir!"

Suara ratapan itu menggema, memohon pada sosok Eliya dan teman-temannya yang berdiri di atas sebuah batu.

Eliya menarik napas dalam-dalam. Angin basah menerpa wajahnya. Selama ini, ia selalu bersembunyi dan menekan kekuatannya karena takut diburu, takut dianggap sebagai monster.

Namun, melihat keputusasaan di depan matanya, sesuatu di dalam dada Eliya bergejolak. Kali ini, ia tidak akan sembunyi lagi.

"Eliya, kau bisa melakukannya." Suara Zharvion kembali berbisik. Naga kuno tak lagi bertengger di pundaknya, melainkan menetap di dalam pikiran Eliya.

Gadis itu melangkah maju, melewati Kael dan Rayn yang langsung bersiaga. Ia memejamkan mata, merasakan tiga elemen yang berdenyut di dalam inti sihirnya. Hanya tiga.

'Air. Tanah. Petir. Aku membutuhkan ketiganya sekarang.' Eliya bergumam di dalam hati, aliran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.

Eliya menghentakkan kaki ke bumi. Tanah di bawah air yang mengalir mulai bergeser, naik ke permukaan sebagai lumpur tebal yang pekat. Bersamaan dengan itu, ia mengangkat kedua tangannya, memanggil elemen petir dari langit yang mendung.

Kilatan listrik biru menyambar lurus ke arah gundukan lumpur yang sedang ia bentuk. Panas ekstrem dari petir seketika membakar dan mengeraskan lumpur tersebut, mengubahnya menjadi dinding batu padat dalam hitungan detik. Sebuah tanggul baru berdiri kokoh, menahan laju air bah.

Kael dan Rayn tertegun, menyaksikan kehebatan seorang penyihir yang menguasai lebih dari satu elemen sihir.

Tidak berhenti di sana, Eliya mengarahkan sisa aliran air yang bergolak. Dengan kendali penuh atas elemen air, ia memutar arusnya, memaksa debit air yang masif itu berbelok menjauh dari pemukiman dan mengalirkannya langsung menuju danau raksasa di sisi timur desa.

Para warga melongo melihat aksi Eliya. Dia tidak beranjak sama sekali, dan bibirnya tidak bergerak untuk merapalkan mantra seperti penyihir yang lainnya. Aksinya memukau, air yang seperti monster itu tunduk dengan mudah di hadapan Eliya.

"Luar biasa!" Bibir Kael bergumam.

"Benar-benar menakjubkan!" Rayn ikut berkomentar, mata mereka tak berkedip menatap jubah Eliya yang berkibar tertiup angin.

Cahaya putih kebiruan, bercampur coklat zamrud dan biru elektrik menyelimuti tubuhnya. Aliran listrik seperti sengatan yang apabila disentuh akan menciptakan denyut yang hebat.

"Kau berhasil!" Suara Zharvion menggemakan pujian.

Sepuluh menit. Hanya butuh sepuluh menit bagi Eliya untuk menghentikan bencana yang mengancam ratusan nyawa penduduk desa itu. Gemuruh air menyurut, digantikan oleh suara rintik hujan tipis dan helaan napas lega yang massal.

Ia menurunkan tangan, napasnya sedikit memburu. Jantungku berdegup kencang, bukan karena lelah, tapi karena sensasi kebebasan setelah melepaskan kekuatan penuhnya. Lagipula mengeluarkan tiga elemen sihir sekaligus cukup menguras tenaganya. Hitung-hitung latihan secara bertahap.

Saat ia berdiri terpaku melihat air yang kini tenang, sebuah tarikan lembut terasa di ujung pakaiannya. Eliya menunduk. Seorang anak perempuan kecil dengan rambut basah menatapnya dengan mata bulat yang berbinar penuh kekaguman.

"Kakak Dewi Air!" bisiknya polos.

Mendengar sebutan itu, Eliya menoleh ke arah Rayn yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pria itu bersedekap, sebuah senyum tipis yang jarang terlihat menghiasi wajah yang biasanya dingin itu.

"Lihat? Sekarang kau punya fans," goda Rayn, nadanya santai, tapi ada binar bangga di matanya.

Kael melangkah maju, mendengus pelan sambil membersihkan sisa lumpur di sepatunya.

"Menyebalkan," gerutunya.

Tapi Eliya tahu itu hanya cara Kael menyembunyikan rasa takjubnya. Dia benci mengakui bahwa gadis itu baru saja melakukan hal yang mustahil bagi penyihir biasa.

"Terima kasih." Eliya mengusap rambut basah gadis kecil itu. Sorak-sorai warga menyambut telah berakhirnya bencana.

Eliya mendongak, melihat ke arah langit malam yang mulai menampakkan bintang-bintang di balik awan yang memudar. Di dalam benaknya, sebuah angka kembali berputar.

4/7.

"Empat elemen dari tujuh elemen sejati telah bangkit dalam diriku. Perjalanan ini masih sangat panjang." Ia bergumam pelan, berbisik pada angin malam yang membelai jubahnya.

"Berikutnya," katanya, memecah keheningan di antara mereka.

"Gunung meletus di Terravon. Kabar burung mengatakan ada aktivitas Api purba di sana. Aku akan pergi ke sana," lanjut Eliya menatap jauh pada langit malam yang bertabur bintang.

Rayn dan Kael saling pandang. Atmosfer di antara mereka berdua seketika berubah. Rivalitas yang membara kembali tersulut.

"Kompetisi?" tanya Rayn, sudut bibirnya terangkat menantang Kael.

Eliya berjalan melewati mereka berdua dengan langkah mantap.

"Kerja tim," jawabnya tegas tanpa menoleh lagi.

Mau tidak mau, mereka harus belajar berjalan bersama, sama seperti dirinya yang harus belajar menguasai takdir.

1
Agus Tina
Bagus, tifak menyangka kalau alur ceritanya spt itu. Perjanjian dengan iblis, dama sekaki tidak terpikirkan olehku ... makasih thor
Agus Tina
Baguus
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Agus Tina
Tinggal buka kedok siapa itu Sherina, apa alasan dia meracuni Eliya sehingga kekuatan sihirnya tidak muncul saat usia 17 tahun. siapa yg membantu Sherina
..
Aisy Hilyah: hehehe bener
total 2 replies
Swety
💪💪
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Elin Erliana
imajinasi yg luar biasa
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Yue Li MZy
Membayangkan betapa ngerj nya di dalam sana,Mana suhu lava dan magma ny panas nya sampai membuat tubuh manusia terbakar dan hangus 😲😲
Aisy Hilyah: Bener banget itu
total 1 replies
Yue Li MZy
keserakahan Seraphina akan menyebabkan kehancuran dirinya,dan lord Ignis menyesal pun ga ada gunanya.ayooo Aurel balaskan dendam mu 🤭🤭
Aisy Hilyah: Bener banget
total 1 replies
Agus Tina
🤍🤍🤍
Dwi Setyaningrum
masak kalah lg sih..kalau kalah tamat dong ya ga thor 😁
Aisy Hilyah: ehehehe betul
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
jd deg degan nih..
Aisy Hilyah: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
semangat eliya💪jdlah lbh kuat utk mengalahkan kegelapan
Aisy Hilyah: siap! semangat pasti bisa
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
waduh jgn mati dong msk pemeran utama mati Jadi apa nanti dunia kalau dikuasai dg kegelapan🤔
Aisy Hilyah: ehehe tidak tenang saja
total 1 replies
Agus Tina
Eliya, semoga kali berhasil
Aisy Hilyah: pasti berhasil
total 1 replies
Agus Tina
Jangan lama upnya y thor ...
Aisy Hilyah: bismillah insya Allah diusahakan
total 1 replies
Agus Tina
Bagus Eliya bongkar juga kejahatan mereka yg telah membuangmu juga kejahatan Seraphina yg telh meracunimu dulu
Dwi Setyaningrum
elemennya berarti sdh 7 kan ya🤔apa msh kurang 1🤔
Aisy Hilyah: Baru enam belum tujuh
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
ikut tegang juga..bayangin betapa panasnya lava dan magma gunung bisa melelehkan apa saja apalg ini hanya kulit manusia bisa jd bubur nih😁
Aisy Hilyah: Bener bener banget
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
eliya yg blm punya elemen api ya..🤔
Aisy Hilyah: betul
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kalau wajahnya sdh ada dimana2 kenapa ga nyamar saja sih jdnya ga kehambat utk menuju pencarian mahkota/elemen lainnya🤔
Aisy Hilyah: iya ya. mereka cuma nutupin pake jubah
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
waow taktik yg cerdas..kerennn..👏👏
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!