NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Darah segar menetes perlahan dari luka menganga di bahu kiri Ren, membasahi kristal-kristal es yang membeku di lantai anjungan lokomotif. Suhu tubuhnya merosot drastis, sementara sistem internal The Core Engine berkedip lemah dalam ritme sekarat yang nyaris padam. Di hadapannya, Jenderal Vane berdiri tegak dengan seringai kemenangan yang terukir di balik bekas luka bakar vertikal di pelipisnya. Pedang plasma merah di tangan sang jenderal masih berdengung nyaring, memancarkan gelombang panas yang melelehkan sisa-sisa embun beku di udara.

Di dalam kabin kereta, pandangan Soju, Leo, Gavin, and Yuna terpaku horor di balik kaca palka yang berembun. Mereka melihat tubuh Ren terkulai lemas, bertumpu pada bilah Rust-Bite Blade yang menancap di atas lantai logam. Kesadaran pemuda itu perlahan-lahan runtuh, terseret ke dalam jurang kegelapan abadi yang siap menelan raganya kapan saja.

Namun, di tengah kesunyian mutlak yang merayap di ambang batas kematian, kesadaran Ren tidak benar-benar lenyap.

Di dalam ruang batinnya yang gelap gulita, di mana kesunyian musim dingin abadi mencengkeram erat, sebuah kilatan cahaya redup mendadak menyala. Bayangan masa lalu yang telah lama terkubur di balik tumpukan kepedihan dan debu sejarah kembali berkelebat dengan sangat jelas.

Itu adalah senyuman Lily.

Adiknya, gadis berambut perak dengan mata yang memancarkan kejujuran dunia, berdiri di tengah reruntuhan stasiun tua yang terbakar. Suara tawa kecil Lily terdengar samar di antara deru badai salju, membawa kehangatan yang merobek dinding pertahanan emosional Ren.

“Kakak... jangan biarkan mereka merenggut segalanya. Dunia ini masih memiliki tempat bagi kita untuk pulang...”

Suara itu bergema lembut, menembus lapisan kesadaran Ren yang hampir mati. Kenangan tentang janji yang terucap di bawah bayang-bayang dinding es raksasa—janji untuk melindungi apa pun yang tersisa dari dunia yang kejam ini—tiba-tiba membakar kembali sisa-sisa abu yang berserakan di dalam dadanya.

Kemarahan yang murni. Penyesalan yang membara. Dan tekad yang tidak bisa dihancurkan oleh ribuan ton baja atau dinginnya badai.

Aku tidak boleh mati di sini... batin Ren bergemuruh hebat, sebuah jeritan bisu yang mengguncang dimensi kesadarannya. Belum. Belum saat orang-orang di belakangku masih bernapas!

Seketika itu juga, The Core Engine di dada Ren merespons gejolak emosi tersebut.

Inti mesin yang tadinya berdenyut lemah mendadak memancarkan pendaran cahaya biru tua yang menyilaukan mata—bukan lagi sekadar cahaya termal biasa, melainkan nyala energi purba yang memancarkan gelombang gravitasi mikro. Suara dengungan mesin berfrekuensi tinggi menggema keras, memecah keheningan badai salju di sekeliling jurang es.

Sebuah sistem notifikasi darurat yang telah lama terkunci di dalam memori inti tiba-tiba terbuka secara paksa, memproyeksikan cahaya biru terang di atas retina mata Ren:

[PERINGATAN SISTEM: BATAS KESELAMATAN DILAMPAUI. MENGAKTIFKAN SKILL PASIF DARURAT: WRATH OF THE LAST HEIR (AMARAH PEWARIS TERAKHIR).]

[SINKRONISASI JIWA DAN INTI MESIN MENCAPAI 100%. PEMULIHAN SELULER PAKSA DIAWALI. MENETRALISIR RASA SAKIT. MENGAKTIFKAN MODE OVERDRIVE FISIK.]

Di hadapan Ren, Jenderal Vane yang tadinya bersiap melancarkan tebakan pemungkas mendadak merasakan aura mencekam yang merambat naik dari tubuh pemuda di depannya. Seringai di wajah sang jenderal membeku seketika.

"Apa...?" bisik Vane tertahan, merasakan gelombang tekanan udara di sekitarnya berubah menjadi sangat berat dan mematikan.

Sebelum Vane sempat menarik mundur pedang plasmasanya, tangan kanan Ren yang tadinya terkulai lemas perlahan-lahan bergerak. Jari-jarinya mencengkeram erat gagang Rust-Bite Blade dengan kekuatan yang begitu masif hingga logam berkarat itu berdengung melengking tinggi, memercikkan kilat oranye kemerahan yang menyatu dengan pendaran biru dari dadanya.

Ren mengangkat kepalanya. Sepasang mata peraknya yang tadinya meredup kini menyala terang, memancarkan tatapan tajam setajam belati yang dipahat dari es abadi. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi keraguan. Yang tersisa hanya gelombang amarah murni dari seorang pewaris terakhir yang bangkit dari abu kematiannya.

"Vane..." suara Ren keluar dari bibirnya yang berlumuran darah, terdengar begitu parau namun menggema berat, membawa getaran mutlak yang membuat udara di sekitar jurang seakan membeku. "...perjalananmu berakhir di sini."

Sebelum Vane sempat bereaksi terhadap perubahan drastis tersebut, tubuh Ren melesat maju dalam kecepatan yang melampaui batas kecepatan suara—sebuah pergerakan Flash Step berbasis ledakan energi inti yang meninggalkan bayangan buram di atas permukaan salju.

Bum!

Ren muncul tepat di hadapan Jenderal Vane dalam sepersekian detik. Pedang Rust-Bite Blade diayunkan secara vertikal dari bawah ke atas dengan tenaga sentrifugal yang mengerikan.

Jenderal Vane, dengan seluruh insting tempur elit militer yang dimilikinya, mencoba mengangkat pedang plasmasanya untuk menangkis serangan tersebut. Namun, kekuatan fisik Ren saat ini berada di tingkat yang sama sekali berbeda—didukung oleh energi Wrath of the Last Heir yang mendobrak seluruh batasan biologis manusia.

Clang-Krak!

Benturan dahsyat itu menciptakan ledakan energi sonik yang menyembur liar ke segala arah, meretakkan dinding es di sisi jurang dan menghamburkan serpihan kristal tajam bagai badai kaca.

Kekuatan hantaman Rust-Bite Blade terlampau masif untuk ditahan oleh satu tangan. Bilah pedang berkarat itu menghantam telak bagian dada zirah tempur plasma milik Jenderal Vane.

Brak! Syuung!

Armor pelindung dada berteknologi tinggi buatan Korporasi Frost-Guard yang dikenal tidak bisa ditembus itu mendadak retak berkeping-keping. Serpihan polimer bercahaya dan kawat konduktor listrik berhamburan di udara, sementara hantaman lanjutan dari tebasan Ren meninggalkan luka sayatan dalam yang mengoyak zirah dan kulit sang jenderal.

Jenderal Vane terpelanting hebat ke belakang, meluncur sejauh beberapa meter di atas lantai anjungan lokomotif sebelum akhirnya menabrak pagar pengaman besi dengan suara hantaman yang memekakkan telinga. Darah segar menyembur dari mulut Vane, membasahi mantel militernya yang koyak.

Di dalam kabin kereta, Soju, Leo, Gavin, and Yuna terperangah menatap adegan tersebut dengan napas tertahan. Mereka tidak percaya bagaimana Ren, yang sedetik lalu berada di ambang kematian dengan tubuh hancur, kini mampu membalikkan keadaan dalam satu serangan brutal yang meremukkan pertahanan sang jenderal elit.

Jenderal Vane terengah-engah hebat, menatap tangannya yang bergetar saat menyentuh luka robek di dadanya. Rasa sakit yang luar biasa membakar tubuhnya, namun yang jauh lebih menghancurkan bagi sang jenderal adalah rasa tidak percaya bahwa dirinya—komandan tertinggi pasukan khusus—bisa dipukul mundur oleh seorang tahanan buronan.

Vane mengangkat wajahnya, menatap Ren dengan mata yang memerah karena amarah dan rasa terhina yang teramat sangat. "Kau... bajingan sialan..." desis Vane penuh kebencian, tangannya meraba panel kontrol tersembunyi di pergelangan tangan zirah tempurnya.

Di tengah deru badai salju dan pendaran cahaya biru inti mesin yang menyilaukan, jari Jenderal Vane menekan tombol merah darurat berkode khusus—sebuah perintah pemusnahan total yang dirancang untuk meledakkan seluruh sektor jurang es beserta kereta Vanguard bersamanya tanpa meninggalkan satu pun saksi hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!