NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Kesayangan Ceo Muda

Gadis Mungil Kesayangan Ceo Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Teen
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.

​Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.

​Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Bayangan Cemburu, Kabar Bahagia, dan Bau Kemeja yang Dibenci

​Atmosfer di SMA Garuda siang itu terasa sedikit berbeda bagi Alexa. Setelah masa libur tengah semester dan perjalanan singkatnya ke Swiss berakhir, ia harus kembali menghirup udara persekolahan. Namun, kepulangannya justru disambut oleh kegigihan yang tidak diduga dari Dimas, Ketua OSIS yang populer itu.

​Meskipun Alexa telah menolaknya secara diplomatis beberapa waktu lalu dengan alasan ingin fokus pada ujian, Dimas tampaknya tidak lantas menyerah. Pria jangkung itu justru makin gencar menunjukkan perhatiannya. Mulai dari menunggui Alexa di depan kelas membawa minuman dingin, menawarkan diri mengantar tugas kelompok, hingga terus berada di dekat Alexa setiap kali ada kegiatan ekstrakurikuler. Bagi Dimas, selama belum ada pria yang secara resmi mendampingi Alexa di sekolah, peluang itu masih terbuka lebar.

​Namun, Dimas tidak pernah menyadari bahwa setiap gerak-geriknya terpantau sepenuhnya.

​Di dalam ruangan kerja eksekutif gedung Dirgantara Group, Exel duduk di belakang meja mahoninya. Di atas layar monitor privatnya, laporan berkala serta foto-foto pemantauan dari tim pengawal rahasia terpampang jelas. Salah satu foto memperlihatkan Dimas yang sedang berdiri sangat dekat dengan Alexa di koridor sekolah, tersenyum seraya menyodorkan sebuah buku catatan.

​Brak!

​Exel meletakkan cangkir kopinya dengan dentang nyaring yang menggetarkan meja. Rahangnya mengetat kaku, mata cokelat gelapnya berkilat penuh amarah yang tertahan. Kesabaran sang CEO berdarah dingin itu benar-benar telah berada di ambang batas.

​"Achmad," suara Exel menggema rendah, menembus dinding ruangan dengan aura intimidasi yang pekat.

​Achmad yang sedang memeriksa dokumen di sofa langsung mendongak, mendesah pelan melihat raut wajah bosnya. "Gua udah duga lu bakal bereaksi kaya gini, Cel. Budak SMA itu emang agak bandel, gak paham-paham kode penolakan Dek Alexa."

​"Siapkan berkas pengajuan sponsor tunggal untuk seluruh kegiatan festival dan fasilitas SMA Garuda tahun ini," perintah Exel kaku dan dingin, jemari tegapnya mengetuk meja berirama kencang. "Katakan pada pihak yayasan sekolah, saya sendiri yang akan turun langsung melakukan kunjungan inspeksi sponsor minggu depan."

​Achmad menyunggingkan senyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Siap, Pak CEO. Lagian udah saatnya lu kasih paham ke anak OSIS itu siapa pemilik sah dari bidadari sekolah."

​Namun, sebelum rencana kunjungan sponsor itu sempat terealisasi, sebuah peristiwa besar mendadak melanda kediaman utama keluarga Dirgantara pada Minggu pagi.

​Hari itu, Exel dan Alexa masih menginap di rumah utama bersama Mama Maria dan Papa Hendra. Suasana pagi yang seharusnya tenang dan hangat oleh aroma teh hijau mendadak pecah oleh suara kekacauan dari dalam kamar mandi utama di lantai dua.

​Hoeeekkk! Uhuk! Uhuk!

​Suara mual dan muntah yang sangat hebat melengking dari balik pintu kamar mandi.

​Exel, yang baru saja selesai merapikan kemeja kasualnya, seketika panik setengah mati. Pria bertubuh tegap itu melompat dari tepi kasur dan mendobrak pintu kamar mandi secara refleks.

​"Alexa! Sayang!" jerit Exel dengan suara bergetar yang sangat jarang terdengar.

​Di dekat wastafel, Alexa sedang berlutut kaku. Pipi tembamnya tampak pucat pasi, matanya berair, dan tubuh mungilnya berguncang hebat seraya terus mengeluarkan cairan bening dari tenggorokannya. Gadis mungil itu tampak sangat lemas dan tidak berdaya.

​"M-Mas... hoeeekkk!" Alexa kembali mual hebat, dadanya naik turun terengah-engah.

​Exel berlutut di samping istrinya, wajah sang CEO pucat pasi melebihi kertas. Dengan jemari gemetar, Exel merangkul bahu mungil Alexa dan mencoba mengelus punggungnya untuk memberikan kehangatan. "Sayang, kamu kenapa? Mas bantu, Mas pegang—"

​Namun, baru saja Exel memajukan tubuhnya dan aroma parfum masculine woody dari kemejanya terhirup oleh Alexa...

​Srettt!

​"AAAGH! JAUH-JAUH! MAS EXEL JAUH-JAUH DARI ACA!" jerit Alexa histeris seraya mendorong dada tegap Exel kencang-kencang dengan sisa tenaganya!

​Exel tersentak kaget, terdorong mundur hingga duduk di lantai marmer. Matanya melotot tak percaya melihat reaksi istrinya. "Aca? Ini Mas... Mas cuma mau bantu—"

​"GAK MAU! BAU! BAUNYA ANEH BANGET BIKIN ACA MAU MUNTAH!" jerit Alexa lagi seraya menutupi hidungnya kencang-kencang, air mata keharuan dan rasa mual meluncur deras membasahi pipi pucatnya. "Hoeeekkk! Jangan dekat-dekat Mas Exel!"

​Pintu kamar mandi mendadak terdorong lebar. Mama Maria dan Mama Sarah (yang sengaja menginap sejak semalam) berlari masuk dengan raut wajah panik luar biasa, diikuti oleh Papa Hendra dan Papa Surya dari lorong.

​"Ada apa ini?! Kenapa Alexa berteriak?!" seru Maria cemas.

​"Mama! Usir Mas Exel! Usir!" tangis Alexa pecah, merangkul kaki ibunya seraya menunjuk Exel dengan jemari gemetar. "Mas Exel baunya kaya bangkai! Aca gak tahan! Hoeeekkk!"

​Exel membeku di lantai bagaikan dihantam petir di siang bolong. Pria yang dipuja ratusan pengusaha karena ketampanan dan kebersihannya itu kini dituduh berbau busuk oleh istri tercintanya sendiri.

​"Maria, Sarah... cepat siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Papa Hendra tegas melihat kondisi menantunya yang makin lemas.

​Di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) terkemuka, suasana di depan ruangan pemeriksaan VIP diliputi ketegangan yang teramat sangat.

​Exel berdiri kaku di sudut lorong. Jas mewahnya sudah ia lepas karena Alexa terus menjerit mual setiap kali pria itu berada dalam jarak tiga meter darinya. Sang CEO berdarah dingin yang biasanya selalu menguasai keadaan kini tampak sangat frustrasi, rambut hitamnya agak berantakan, dan matanya memancarkan rasa bersalah serta kebingungan yang mendalam.

​Achmad yang baru saja tiba di rumah sakit menghampirinya seraya menepuk bahu Exel pelan. "Sabar, Cel. Kita tunggu penjelasan dokter dulu."

​Cklek.

​Pintu ruangan pemeriksaan terbuka. Dokter spesialis kandungan paruh baya keluar seraya tersenyum sangat lebar dan hangat, memegang papan rekam medis.

​"Keluarga dari Nyonya Alexa Dirgantara?" tanya Dokter ramah.

​Maria, Sarah, dan Exel buru-buru maju mendekat. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok? Apakah dia keracunan makanan?" tanya Sarah cemas.

​Dokter terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya seraya menatap Exel dengan binar penuh selamat.

​"Selamat, Pak Exel. Nyonya Alexa tidak keracunan makanan sama sekali," ujar Dokter mantap. "Mual dan muntah yang hebat itu adalah gejala morning sickness yang sangat wajar. Usia kandungan Nyonya Alexa saat ini sudah memasuki minggu kelima. Selamat, Anda berdua akan segera menjadi orang tua."

​DUARRR!

​Seketika itu juga, ruangan lorong rumah sakit seolah hening total.

​Kata-kata 'usia kandungan minggu kelima' dan 'akan menjadi orang tua' bergema nyaring di dalam kepala Exel. Pria bertubuh tegap itu membeku. Dada bidangnya bergemuruh hebat oleh gelombang rasa haru, bahagia, dan tak percaya yang membuncah begitu dahsyat. Air mata keharuan yang tak pernah tumpah seumur hidupnya kini perlahan menetes membasahi pipinya.

​"A-anak... aku akan jadi Ayah?" bisik Exel serak, suaranya bergetar hebat.

​"Iya, Exel! Kamu mau jadi Papa!" jerit Maria gembira seraya memeluk suaminya dan Sarah dalam tangis bahagia.

​Namun, di tengah buncahan rasa haru dan gembira yang membakar dada Exel, Dokter berdeham pelan seraya tersenyum agak canggung.

​"Tapi... ada satu hal khusus yang perlu Pak Exel pahami," tambah Dokter pelan. "Perubahan hormon pada awal kehamilan Nyonya Alexa sangat ekstrem. Selain mengidam hal-hal unik, pasien mengalami kepekaan indra penciuman yang sangat tinggi terhadap feromon atau aroma tubuh suaminya sendiri. Ini kondisi medis yang dikenal sebagai maternal rejection to partner scent. Jadi... untuk sementara waktu, Nyonya Alexa akan sangat menolak berdekatan dengan Pak Exel."

​Kebahagiaan Exel yang baru saja membumbung tinggi ke langit seketika runtuh menghantam bumi!

​"M-maksud Dokter... saya tidak boleh mendekati istri saya sendiri?!" seru Exel frustrasi setengah mati, matanya melotot tak percaya.

​"Bukan tidak boleh, Pak," kekeh Dokter canggung. "Tapi jika Pak Exel mendekat, Nyonya Alexa akan terus mual dan muntah hebat yang justru berbahaya bagi kondisi janinnya. Harap bersabar ya, Pak Exel."

​Achmad yang berdiri di sebalah Exel menutupi mulutnya kencang-kencang, menahan gelak tawa yang hampir meledak hebat. Gokil... Dapet anak iya, tapi dibuang istri sendiri! batin Achmad bersorak geli.

​Dua jam kemudian, rombongan kembali ke kediaman utama.

​Alexa sudah beristirahat di atas kasur kamar utama lantai dua. Wajahnya mulai menampakkan rona segar setelah mendapat asupan vitamin dan cairan infus dari rumah sakit. Kedua tangannya mengelus pelan perut ratanya yang kini menyimpan benih cintanya bersama Exel. Tangis bahagia dan rasa haru menyelimuti hatinya saat menyadari ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya.

​Namun, pemandangan tragis terjadi di sudut pintu kamar yang terbuka sedikit.

​Exel berdiri di luar ambang pintu kamar tidur, bersandar kaku pada dinding koridor. Pria bertubuh 185 cm itu mengenakan kaus polos yang sudah dicuci bersih tanpa parfum sedikit pun. Wajah sang CEO tampak sangat nelangsa, memandangi istri tercintanya dari jarak lima meter dengan rasa rindu dan frustrasi yang membakar dada.

​"Aca..." panggil Exel pelan dari kejauhan, suaranya terdengar sangat memelas dan serak. "Mas boleh masuk sedikit saja? Mas rindu mau peluk Aca... mau pegang perut Aca..."

​Alexa yang sedang disuapi buah apel oleh Mama Sarah melirik ke arah pintu. Begitu melihat Exel mencoba melangkah satu pijakan mendekati ambang pintu...

​"JANGAN MAJU-MAJU!" jerit Alexa heboh seraya memayunkan bibirnya kencang dan menutupi hidungnya dengan bantal! "Aca tahu Mas Exel udah ganti baju, tapi bau hidung Aca tetap bilang Mas Exel baunya kaya minyak tanah bercampur terasi busuk! Hoeeekkk! Mundur lima langkah lagi!"

​Exel menghembuskan napas panjang yang teramat sangat berat. Pria yang ditakuti ribuan karyawan itu akhirnya mundur lima langkah dengan wajah tertunduk pasrah. Rasa frustrasi dan rasa rindu yang tertahan membuat sang CEO berdarah dingin itu terlihat bagaikan anak kecil yang dibuang oleh ibunya.

​Mama Maria dan Papa Hendra yang melintas di lorong hanya bisa menepuk bahu Exel seraya tertawa prihatin. "Sabar ya, Papa Muda... Ini ujian jadi seorang Ayah," goda Papa Hendra.

​Tiba-tiba, Alexa yang duduk di kasur mendongak, matanya yang bulat berbinar-binar memancarkan keinginan yang sangat kuat.

​"Mama! Papa!" panggil Alexa heboh dengan suara cemprengnya. "Aca mendadak pengen makan sesuatu!"

​Exel yang berdiri di koridor luar seketika menegakkan dadanya, matanya berbinar gembira. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan pengabdiannya sebagai suami!

​"Aca mau makan apa, Sayang?!" seru Exel kencang dari luar kamar. "Sebutkan saja! Mas akan suruh koki atau terbang ke luar negeri sekarang juga buat belikan!"

​Alexa menjulurkan kepalanya dari balik pintu kasur, menatap Exel dengan pandangan polos namun mematikan.

​"Aca pengen makan rujak bebek buah mangga muda yang bumbunya dicampur ulekan cabai rawit tiga puluh biji," ujar Alexa mantap. "Tapi... ulekannya harus diulek langsung sama Paman Achmad! Dan yang menyuapinya ke mulut Aca harus Papa Surya! Mas Exel cuma boleh nonton dari balik kaca jendela luar kamar!"

​DUARRR!

​Seketika itu juga, rahang Exel jatuh ke lantai. Keinginan mengidam sang istri benar-benar membuat sang CEO geleng-geleng kepala dan frustrasi tingkat dewa!

​Di ujung lorong, Achmad yang baru saja membawa dokumen langsung membeku kaku. "Hah?! Kenapa gua yang kudu ngulek cabai tiga puluh biji?!" jerit Achmad histeris.

​"ACHMAD!ULEK SEKARANG JUGA ATAU SAYA POTONG GAJI KAMU LIMA PULUH PERSEN!" bentak Exel frustrasi setengah mati, melempar pandangan membunuh pada asistennya untuk melampiaskan rasa meratanya.

​"SIAP, BOS! SIAP NGULEK!" seru Achmad pasrah melesat menuju dapur.

​Malam itu, di tengah tangis haru atas berkah calon buah hati yang dikandung Alexa, kediaman utama keluarga Dirgantara dipenuhi oleh kekonyolan, gelak tawa, dan kepasrahan sang CEO dingin yang harus rela terusir sementara waktu dari pelukan sang istri tercinta.

1
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Lengkap sudah penderitaan Axel /Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: wkwkwkkwkwkw
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
selamat ya Exel baru aja Alexa ketahuan hamil, eeehh.. si orok sudah ngerjain papanya😂
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Rame ya Akexa hamidun... Trus gimana tuh sekolah na
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: sekolah nya aman na soal nya kelas 12 mau ujian AKHIR
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
paman Achmad mesti salting kalo ada safi🤔😁
𝐀⃝🥀Weny
so sweet 🥹🫠
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Oleh oleh buat akuu manaaa /Applaud/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: sebanyak cintaku padamu
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Cry//Cry/ Masih pagi udah banyak bombai bertebaran ae om mik /Cry//Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Yg nebar bombai lah
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Bacana otomatiss pake nada alm Uje dong /Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Pepet terooss paman Ahmad 🤣🤭 /Determined//Determined/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Dih tega bener 😅
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Belom beraksi juga mereka 🤔
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: sabar
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Waahh ini nih yg bikin syeruu /Determined//Determined/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Aaaaa jadi pengen makan basoo /Scream//Hunger/
𝐀⃝🥀Weny
dalam sebuah hubungan, komunikasi dan kepercayaan itu lebih penting... semoga kalian bisa melewati badainya...
𝐀⃝🥀Weny
semoga mereka bisa bertahan dan bisa melewati setiap rintangan yang mencoba mengusik hubungan mereka🤲
𝐀⃝🥀Weny
jangan² si Alexa hamil nih🤔
𝐀⃝🥀Weny
cieee... yang dibuatin susu dan roti panggang sama mas CEO.. bikin ngiri deh😊tapi kalo aku nganan entar ketabrak😂
𝐀⃝🥀Weny: kau membuatku kepanasan😂
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
ayo paman Achmad jangan kasih kendor ngegoda safi😂
𝐀⃝🥀Weny: jangan membuat diriku meleleh dengan kata manismu bang😜kabuuur🏃🏃🏃
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
si Achmad mengintai seperti predator.. padahal Cemen tuh😁
𝐀⃝🥀Weny: wkwkwkkk😜
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣 Ga ngaruh ya sama duo ucing garong yg lagi saling memanfaatkan itu, kalian tetep joss 😅/Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣🤣/Facepalm//Determined//Determined/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Makin gencar aja nih paman Ahmad 😅
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣/Determined//Determined//Determined/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!