NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 — Misi Pertama

Alarm Kaito bunyi jam setengah enam pagi, persis kayak yang dia setel. Dia membuka mata, natap langit-langit kamar kosnya beberapa detik, mikirin kenapa hal sesepele alarm yang bunyi tepat waktu bisa berasa kayak keajaiban tersendiri. Kemarin-kemarin hal kayak gini nggak pernah kejadian tanpa drama.

Dia bangun, jalan ke dapur, bikin kopi kayak biasa. Kali ini nggak ada kucing tetangga yang nyelonong masuk, nggak ada tangan yang refleks kesenggol. Dia minum kopinya pelan-pelan, duduk di kursi dapur yang udah agak reyot, sambil mikir apa ini emang cuma kebetulan biasa, atau ada hubungannya sama semua yang kejadian semalem di dalem game.

Dia buru-buru geleng kepala sendiri. Kebanyakan mikir, Kaito. Kopi lo aja belom abis.

Hari kerja itu berjalan normal bukan luar biasa bagus, tapi juga nggak ada bencana kayak biasanya. Kereta dateng tepat waktu. Nggak ada file yang tiba-tiba corrupt. Atasan cuma ngasih dia tugas rutin, nggak ada insiden memalukan yang bakal jadi bahan cerita orang sekantor.

Di jam istirahat, Tanaka rekan kerja yang kemarin presentasinya lancar jaya sementara punya Kaito berantakan nyamperin ke meja Kaito bawa dua kaleng kopi.

"Nih, buat lo," kata Tanaka, naro salah satu kaleng di meja. "Kemaren gue ngerasa nggak enak, sih. Gue tau materi lo lebih niat dari punya gue, cuma emang lagi apes aja."

Kaito agak kaget, nerima kaleng kopi itu. "Nggak usah minta maaf juga, itu emang bukan salah lo."

"Tetep aja, lain kali kalo presentasi bareng lagi, gue backup lo, deh." Tanaka nyengir.

Kaito ngangguk, sedikit tersenyum. Buat orang biasa obrolan kayak gini mungkin nggak berarti apa-apa. Tapi buat Kaito yang selama ini biasanya jadi orang yang dilupain begitu urusan udah lewat, kebaikan sekecil itu berasa nggak biasa. Dia mulai mikir lagi, jangan-jangan efek dari game itu emang bocor dikit-dikit ke dunia nyata. Tapi buru-buru dia tepis lagi pikiran itu, pasti kebetulan aja.

Buat orang biasa, hari kayak gini mungkin cuma dianggep "hari yang biasa aja." Tapi buat Kaito, hari tanpa drama itu sendiri udah kerasa kayak anomali.

Pulang kerja, dia makan cepet, terus langsung nyalain dive rig portable yang masih dipinjemin Souma rencananya emang mau dibalikin, tapi Souma bilang pinjem dulu aja sampe Kaito beli sendiri.

Dia coba hubungin Souma buat main bareng lagi, tapi yang keangkat cuma pesan singkat.

Souma: sori bro, malem ini gue lembur. Ada revisi mendadak dari klien. Lo main duluan aja, besok kita lanjut bareng!

Kaito natap pesan itu sebentar, terus ngetik balesan singkat, "oke, hati-hati," sebelum nyender ke sofa dan masang headset-nya sendirian.

Dunia Aeon Requiem nyambut dia lagi dengan sensasi yang udah mulai familiar, transisi gelap sebentar, terus dia berdiri lagi di tengah Plaza Kota Awal, siang virtual yang terang benderang, keramaian pemain lalu-lalang kayak biasa.

Tanpa Souma, dia ngerasa agak canggung, kayak anak baru yang ditinggal sendirian di sekolah baru. Tapi dia inget, toh dia emang niatnya belajar sendiri gimana cara dunia ini kerja, bukan cuma nempel terus sama Souma.

Dia jalan ke arah papan quest yang tadi ditunjukin Souma, ngeliatin daftar misi yang tersedia buat pemain level rendah kayak dia. Sebagian besar quest-nya standar, bunuh sekian monster, kumpulin sekian bahan, anter barang ke NPC lain. Tapi satu quest di pojok bawah papan itu nyantol perhatiannya.

[Quest: Bisikan dari Reruntuhan] Deskripsi: Penduduk desa terdekat melaporkan suara aneh dari reruntuhan kuil tua di pinggiran hutan. Beberapa pemain yang mencoba menyelidiki tidak kembali dengan hasil apa pun hanya laporan soal "perasaan diawasi." Selidiki reruntuhan tersebut. Rekomendasi Level: 5-10 Hadiah: Bervariasi, tergantung penemuan.

Kaito baca deskripsi itu dua kali. "Reruntuhan kuil tua" langsung ngingetin dia sama deskripsi item yang dia dapet kemarin Fragmen Batu Keberuntungan Kuno, yang katanya "berasal dari sisa reruntuhan sebuah kuil purba yang sudah lama terkubur." Mungkin ini cuma kebetulan. Tapi setelah semua yang kejadian sama dia, dia mulai ragu apa masih ada yang namanya "kebetulan biasa" buat dirinya.

Dia klik ambil quest itu.

Reruntuhan kuil itu ternyata nggak terlalu jauh dari Vale Aurora, sekitar setengah jam jalan kaki lewat jalur hutan yang sepi, jauh dari keramaian pemain lain. Semakin deket, suasana emang berubah drastis pohon-pohon di sekitar situ keliatan lebih tua, lebih gelap, dan udaranya kerasa lebih berat, kayak ada tekanan tipis yang nggak keliatan tapi kerasa.

Kaito jalan sendirian, sesekali ngecek map kecil di sudut pandangannya buat mastiin arah. Nggak ada monster yang keliatan di sepanjang jalan, cuma keheningan yang lumayan bikin dia agak parno, bukan parno takut, lebih ke parno khas orang yang udah kebiasaan nunggu sesuatu yang buruk kejadian tiba-tiba.

Setelah beberapa lama jalan, dia akhirnya nyampe di mulut reruntuhan gerbang batu besar yang separuh runtuh, ditutupin lumut tebal, dengan ukiran-ukiran aneh yang udah pudar di sekelilingnya. Dari kejauhan, kuil itu keliatan kosong dan sepi, persis kayak deskripsi quest-nya.

Tapi begitu Kaito berdiri di depan gerbangnya, dia ngerasa sesuatu yang aneh bukan dari lingkungan sekitarnya, tapi dari dalam dirinya sendiri. Semacam tarikan halus, kayak ada sesuatu di dalem reruntuhan itu yang entah gimana ngerasa familiar buat dia. Bukan familiar kayak pernah kesitu sebelumnya. Lebih ke familiar kayak... dikenalin.

Dia berdiri di situ beberapa detik, ragu buat masuk. Bagian rasional otaknya bilang ini standar quest RPG biasa, cuma dungeon kecil buat pemain rendah level. Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang udah mulai peka sama pola-pola aneh sejak kemarin, bilang ada sesuatu yang lebih besar nunggu di dalem sana.

Dia narik napas lalu ngelangkah masuk.

Interior reruntuhan itu remang-remang, cuma diterangin cahaya biru pucat dari kristal-kristal kecil yang nempel di dinding, entah dekorasi atau emang sisa energi dari zaman kuil itu masih aktif. Suara langkah kakinya sendiri kedengeran jelas banget di lorong sepi itu, gema pelan yang mantul-mantul di dinding batu.

Dia jalan lebih dalem, ngelewatin beberapa ruangan kosong, patung-patung retak, sisa altar yang udah hancur, dan tulisan-tulisan di dinding pake aksara yang sama sekali nggak dia kenal. Anehnya, tulisan itu mirip banget sama simbol yang sempet berkedip di layarnya waktu dia konfirmasi alokasi stat kemarin.

Kaito berhenti di depan salah satu tulisan itu, natap lama, coba nyari koneksi yang mungkin cuma khayalan dia doang.

Dari lorong lain yang lebih dalem, samar-samar dia denger sesuatu bukan suara monster, bukan suara reruntuhan yang lagi rubuh. Suara langkah kaki ringan, cepat, terkontrol, jelas bukan langkah kaki orang yang baru pertama kali ke tempat kayak gini. Kaito diem sebentar, nahan napas, coba mastiin dia nggak salah denger.

Baru aja dia mau lanjut jalan ke arah suara itu, dua patung batu di sisi lorong tiba-tiba bergerak, matanya nyala merah redup, dan panel nama muncul di atas kepala mereka.

Penjaga Batu Reruntuhan — Lv. 9

Kaito mundur selangkah, refleks nyiapin pedang kayunya yang jujur aja keliatan lucu banget dibandingin sama dua patung batu setinggi dua meter yang sekarang lagi jalan pelan ke arahnya. Tapi dia udah cukup sering ngalamin hal aneh dalam dua hari terakhir buat nggak terlalu panik.

Dia maju ngayunin pedangnya ke patung pertama.

CRITICAL HIT!

Retakan besar langsung muncul di tubuh batu itu, dan cuma butuh satu ayunan lagi buat bikin patung itu ambruk jadi serpihan.

Patung kedua yang tadinya keliatan siap nyerang balik, entah kenapa malah kepeleset sendiri di lantai berlumut tepat sebelum sempet ngangkat tangannya, jatoh dengan posisi canggung yang bikin Kaito hampir ketawa kalo situasinya nggak segenting itu. Dia manfaatin momen itu buat ngasih hit penentu, dan patung kedua ikut ambruk.

Panel drop muncul lagi, item lain dengan border ungu yang udah mulai familiar. Tapi Kaito nggak sempet ngecek detailnya, suasana di sekitarnya udah berubah jadi sunyi total, saking sunyinya dia jadi sadar suara langkah kaki yang tadi dia denger juga udah berhenti, kayak orangnya ikut sadar ada suara pertarungan barusan dan sengaja diem.

Dia jalan lebih dalem, ngelewatin lorong yang makin lama makin terang oleh cahaya biru dari kristal-kristal dinding, jantungnya mulai berdetak lebih kenceng. Dia nggak tau apakah suara tadi itu monster lain yang nyamar, atau pemain lain yang kebetulan lagi eksplorasi tempat yang sama.

Dia mendekat pelan-pelan, nyender di balik pilar batu besar deket mulut ruangan berikutnya, ngintip hati-hati.

Dan di sana, di tengah ruangan yang diterangin cahaya biru pucat dari kristal-kristal dinding, berdiri sesosok karakter seorang cewek, berdiri membelakangi dia, dengan gerakan yang cepat dan presisi lagi meriksa sesuatu di dinding altar, kayak lagi nyari sesuatu yang spesifik.

Kaito nggak sempet liat wajahnya, tapi ada satu hal yang langsung dia sadarin begitu matanya nangkep nama kecil yang ngambang di atas kepala karakter itu.

Rin.

1
Zyren Vale
ikut meramaikan 🔥
Zyren Vale
kena kutukan nih
Zyren Vale
inti bumi kah
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor🙏👍💪
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Mampir gan👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Ngak tau saya, yang hanya buang buang waktu saja
Tio Buki
Mungkin nama spesial
Tio Buki
Apa itu
Tio Buki
Tidak mengapa
Tio Buki
Bumi ya
Tio Buki
Siapakah dia
Tio Buki
Wow
Tio Buki
Seberapa jau kah
the virtuso
saling support yah thor👍
Giooooo
Keren ceritanya thorku 💪
Author Melda
salah suport kak mampir yah ke novel ak KKN DESA MATI👍
Author Melda: terimakasih kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!