“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Seorang wanita, kemungkinan ibu dari anak itu, berlari menghampiri mereka dengan wajah panik. "Terima kasih! Terima kasih banyak! Aku tak tahu harus bagaimana jika terjadi sesuatu pada anakku!"
Elara menggeleng. "Tidak apa-apa, yang penting dia selamat."
Dreven sudah berada di sampingnya dengan kursi rodanya, wajahnya terlihat gelap dan penuh amarah. "Apa kau gila?! Kenapa kau bertindak seperti itu tanpa pikir panjang?!"
Elara menatapnya datar. "Aku tidak bisa diam saja melihat anak kecil dalam bahaya."
Dreven menghela napas panjang, lalu menarik pergelangan tangan Elara dengan sedikit kasar. "Kita pergi."
Elara mengernyit. "Hei! Aku belum selesai—"
"Cukup, kau sudah membuat jantungku hampir copot." Dreven tidak melepaskannya, tetap menggenggam tangannya erat seolah takut wanita itu akan melakukan hal nekat lainnya.
Dan saat tiba di depan apotek, Dreven berhenti. "Tunggu disini."
Elara mengernyit, menatap pria itu dengan bingung. "Untuk apa ke apotek?"
Dreven tidak menjawab, hanya menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam dengan langkah cepat.
Beberapa menit kemudian, dia keluar dengan sebuah kantong kecil di pangkuannya. Tanpa berkata apa-apa, dia menarik tangan Elara dan membawanya ke bangku terdekat.
"Berikan tanganmu," katanya tegas.
Elara masih bingung, tetapi tetap mengulurkan tangannya. Saat itulah dia merasakan perih di telapak tangannya dan baru sadar ada luka kecil akibat terseret di aspal ketika menyelamatkan anak tadi.
Dreven membuka kantongnya dan mengeluarkan antiseptik serta plester. Dengan cekatan, dia membersihkan lukanya, meniupnya pelan sebelum menempelkan plester di sana.
Elara terdiam, menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Lain kali jangan sok baik, jika kau mati tak ada yang peduli," kata Dreven dengan ketus.
Elara terdiam beberapa saat, lalu tersenyum, "Jika aku mati maka mungkin akan ada yang mengirim bunga untukku."
Dreven menaikkan sebelah alisnya, "Kau serius? Memang sepenting apa dirimu? Tak ada yang memperhatikanmu kecuali aku, karena aku suamimu."
"Karena aku baik," jawab Elara dengan enteng menyembunyikan fakta tentang perusahaannya.
"Lalu.. jika kau dihadapkan dua pilihan kau lebih memilih menyelamatkan aku atau anak kecil tadi?" Tanya Dreven dengan serius.
Elara menatapnya sejenak sebelum tertawa kecil. "Pertanyaan macam apa itu?"
"Aku serius." Dreven menatapnya tajam, menunggu jawabannya.
Elara menghela napas. "Tentu saja anak kecil tadi."
Dreven menyipitkan mata. "Tanpa ragu?"
"Tanpa ragu." Elara mengangguk mantap.
"Kenapa?"
Elara menaikkan alisnya, "Kau masih tanya? Tentu saja karena saat kau mati aku menjadi semakin kaya karena mendapatkan harta warisan," katanya santai meskipun dia tak serius dengan hal itu.
Dreven langsung menghempaskan tangan Elara dengan kesal lalu memutar kursi rodanya dan pergi meninggalkan Elara.
Elara yang melihat itu bingung, "Dia marah?"
---
"Alexander sudah pergi, kau bisa jemput aku?" Suara Elara terdengar lirih di kamar hotelnya. Saat ini dia sudah siap dengan kopernya dan akan pergi ke bandara.
"Oke. Tunggu di samping hotel agar cctv tak mengambil gambar kita. Aku akan tiba dalam lima menit," kata Leo dengan tenang.
Elara mengangguk meskipun Leo tidak bisa melihatnya. Setelah panggilan berakhir, dia menghela napas panjang dan melirik koper di sampingnya.
"Sudah waktunya," gumamnya pelan.
Dengan hati-hati, dia membuka pintu kamar dan mengintip ke luar. Lorong hotel tampak sepi. Dengan cepat, dia menarik kopernya dan berjalan ke arah tangga darurat, menghindari lobi utama agar tidak menarik perhatian.
Saat tiba di samping hotel, dia melirik arlojinya. Masih tiga menit lagi.
Tapi tiba-tiba saat dia ingin turun ke lantai terakhir tiba-tiba dia melihat Leandro berada disana seperti sedang menelpon seseorang. Dia segera bersembunyi dengan aman.
"Aku sudah mengirim dokumennya, jangan lupa kirim uangnya."
"..."
"Oke, aku akan mencari rahasia perusahaannya. Asal kau membayar dengan nominal sesuai."
Elara menahan napas, jantungnya berdetak kencang. Apakah yang dimaksud adalah perusahaan Dreven? Jika benar, ini berarti Leandro mengkhianati sahabatnya sendiri.
Dia semakin menempel ke dinding, memastikan dirinya tidak terlihat. Leandro masih berbicara di telepon dengan nada serius.
"Aku tahu ini berisiko, tapi tak ada yang mencurigai aku. Dreven bahkan menganggapku saudara."
Elara mengepalkan tangannya. Benar, ini tentang Dreven.
Setelah beberapa saat, Leandro akhirnya menutup teleponnya dan berjalan pergi. Elara menunggu beberapa detik sebelum keluar dari persembunyiannya.
'Jika aku memberitahu Dreven, akankah dia mempercayaiku?' pikirnya dalam hati.
Namun, sekarang itu bukan urusannya. Lebih baik pergi ke bandara sesuai rencana. Leandro juga tak mungkin melakukan penyerangan pada Dreven secara terang-terangan jika dia tak bodoh.
Hingga telepon Elara berdering yang membuatnya sadar dari lamunannya. Itu Leo.
Elara segera mengangkat teleponnya.
"Aku sudah di dekat hotel. Cepat keluar sebelum ada yang melihat," kata Leo dengan suara rendah.
Elara menggigit bibirnya, matanya melirik ke arah tempat Leandro menghilang. Ada perasaan tak nyaman di dadanya, tapi dia segera menepisnya. Ini bukan urusannya.
"Oke, aku turun sekarang," jawabnya sebelum memutus panggilan.
Dia menarik napas panjang, lalu dengan langkah cepat dan hati-hati, dia menuju pintu keluar samping hotel, memastikan tidak ada kamera yang menangkapnya.
Begitu dia keluar, Leo sudah menunggunya dengan mobil. Dia membuka pintu dan masuk dengan cepat.
"Let's go."
Leo segera menekan pedal gas, membawa mereka menjauh dari hotel. Namun, Elara masih merasa gelisah. Tanpa sadar, dia melirik ke luar jendela, seakan ada sesuatu yang mengikutinya.
---
"Maaf, saya sudah menjual semua tanah saya di daerah itu. Anda terlambat, tuan," kata pria paruh baya itu dengan tenang meskipun dibawah tekanan yang kuat dimana dua orang pria sedang berdiri di belakangnya seolah memberikan ancaman.
Dreven menatap tajam dari kursi rodanya, "Aku akan membelinya dengan harga lebih tinggi."
Pria paruh baya itu tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Bukan soal harga, Tuan. Saya sudah membuat kesepakatan."
Dreven mengepalkan tangannya, ekspresinya menggelap. "Dengan siapa?"
Pria itu hanya tersenyum tanpa menjawab, jelas enggan membocorkan informasi lebih lanjut.
Dreven berdecak kesal, tapi asistennya langsung menghampirinya.
"Tuan, saya menemukan rekanan pria ini dengan dua orang di restoran," kata Tony dengan serius.
Dreven tanpa melihatnya langsung menyerahkan tablet itu pada pria paruh baya tersebut.
"Apa ini orangnya?"
Pria paruh baya itu melirik layar tablet yang disodorkan Dreven. Lalu tersenyum, "Informan anda sangat cepat mencari tahu. Tapi sungguh tuan, saya tak bisa memberikan tanah itu karena semua surat-surat sudah ada ditangannya."
Dreven berdecak kesal namun Tony segera mendekat, "Tuan, anda lihat dulu siapa dua orang itu."
Mendengar hal itu Dreven dengan malas membuka cctv di restoran tersebut, terlihat jelas jika itu Elara dan pria yang dihajar bodyguardnya kemarin.
"Elara?!"
Bersambung...
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/