NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Udara di dalam kabin gerbong Vanguard berubah menjadi dingin yang menusuk tulang, seolah-olah musim dingin abadi dari luar telah merangsek masuk melalui celah-celah palka. Desis cairan asam yang melelehkan baja atap menghasilkan bau belerang dan besi terbakar yang pekat, menusuk hidung dan menyesakkan rongga dada. Sepasang mata merah menyala milik The Ice-Web Queen memantulkan pendaran horor di dinding-dinding logam kabin, mengawasi mangsa yang terperangkap di sarangnya sendiri.

Tidak ada lagi waktu untuk berdebat atau membuang napas dengan keluhan.

Ren berdiri tegak dari kursi operatornya. Wajahnya yang semula tenang kini mengeras menjadi pahatan es; tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut, hanya ada denyut ritmis dari The Core Engine yang memompa panas murni ke seluruh aliran darahnya. Tanpa menoleh ke arah rekan-rekannya, ia menarik Rust-Bite Blade dari pinggangnya. Bilah pedang yang berkarat itu mengeluarkan dengung frekuensi rendah, bergesekan dengan partikel udara dingin dan memercikkan kilat oranye kemerahan yang redup.

"Buka palkanya," perintah Ren, suaranya rendah namun absolut, memotong deru angin dan suara erangan monster di luar.

Leo, yang baru saja menerima hantaman mental dari ketegangan barusan, menarik napas dalam-dalam. Sisi mekanik dan jiwa tempurnya langsung mengambil alih. Ia menyandang meriam Spark-Viper di bahunya, sementara tangannya yang lain meraih panel kontrol manual di dinding palka.

"Jangan mati terlalu cepat, Kapten!" seru Leo dengan seringai tipis yang menyembunyikan rasa cemas luar biasa di balik matanya. "Kalau kau mati, aku tidak punya tempat untuk merakit mesin lagi!"

Gavin, yang sedari tadi merapatkan diri ke konsol server dengan jemari gemetar, mendadak menegakkan tubuhnya. Di balik lensa kacamata tebalnya yang berembun, sorot mata penakut itu berganti menjadi ketajaman seorang pemikir taktis. Ia membuka folder sandi khusus di terminalnya, menyiapkan sistem pelacak target dan peledak frekuensi lokal. "Aku akan memetakan jalur evakuasi dan membuka jalan utama bagi kalian!" teriak Gavin.

Clank!

Tuas hidrolik utama ditarik. Palka baja gerbong bergeser terbuka dengan paksa, menyemburkan kepulan uap putih tebal ke udara gelap terowongan es.

Seketika itu juga, badai bau amis dan cakar tajam menyambut mereka.

Dari langit-langit gua es yang menjulang tinggi, puluhan laba-laba prajurit berukuran sebesar serigala berhamburan turun, merayap liar di atas rel dan dinding batu dengan suara mendesis yang memekakkan telinga. Mandibula mereka yang meneteskan cairan asam terbuka lebar, siap mencabik-cabik daging siapa saja yang berani mengusik sarang sang ratu.

"Maju!" teriak Leo.

Mereka bertiga melompat keluar dari palka gerbong dengan koordinasi yang luar biasa, mengambil posisi pertahanan di atas jalur rel yang membeku.

Leo bergerak lebih dulu. Dengan memanfaatkan refleks cepat seorang mekanik yang terbiasa melompati mesin-mesin berat, ia memutar posisi tubuhnya, membidikkan laras meriam Spark-Viper ke arah gerombolan laba-laba prajurit yang merayap turun dari langit-langit.

Bum! Blar!

Ledakan plasma elektromagnetik menyalak hebat. Bola-bola energi listrik bertekanan tinggi menghantam barisan laba-laba prajurit secara membabi buta. Sinyal listrik itu merusak sistem saraf biologis para monster, membuat tubuh mereka kejang-kejang, meledak dalam cipratan cairan hijau beracun, dan terpental jatuh menghantam dinding es.

Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Setiap kali satu laba-laba tumbang, tiga ekor lainnya merayap maju menggantikan posisi mereka, mendesak pertahanan Leo.

"Gavin! Lindungi sisi kiri!" seru Leo sambil melangkah mundur, kembali mengisi ulang modul baterai meriamnya dengan gerakan cekatan.

Gavin tidak tinggal diam. Meskipun ia bukan seorang petarung garis depan, jemarinya yang terampil menekan tombol pengendali jarak jauh pada perangkat jam tangan militer buatannya. Dari arah gerbong Vanguard, dua unit meriam kejut otomatis yang baru dipasang Leo mendadak berputar tajam, memuntahkan tembakan laser penekan yang menyapu bersih jalur sempit di sisi kiri, memberikan ruang bagi Leo untuk bernapas.

"Aku sudah mengunci pergerakan mereka!" seru Gavin, suaranya melengking di tengah hiruk-pikuk pertempuran. "Tapi konsentrasi musuh utama tertuju pada satu titik di depan kalian! Sang Ratu sedang bersiap menyerang langsung ke arah Kapten!"

Di hadapan mereka, kabut es terowongan terbelah secara dramatis.

Sosok raksasa The Ice-Web Queen muncul sepenuhnya dari kegelapan. Tingginya mencapai empat meter, dengan tubuh utama dilindungi oleh cangkang cangkang kristal es tebal yang berkilau kebiruan di bawah cahaya redup. Delapan kaki panjangnya yang berujung cakar tajam menancap di dinding es dengan mudah, sementara bagian abdomennya berdenyut-denyut memuntahkan cairan jaring berpijar yang siap dilepaskan kapan saja.

Di hadapan monster kolosal itu, Ren berdiri seorang diri.

Tanpa ragu, pemuda itu melesat maju menerjang sang Ratu. Langkah kakinya begitu ringan, meninggalkan jejak embun beku di atas rel baja. Ia mengayunkan Rust-Bite Blade dengan kekuatan penuh, mengarah langsung ke celah pelindung di leher makhluk tersebut.

Tring!

Dentuman logam beradu dengan kristal es menggema sangat keras, memercikkan bunga api oranye yang terang. Ren merasakan getaran hebat merambat naik melalui lengan kanannya hingga ke bahu. Serangan itu berhasil menggores cangkang sang Ratu, tetapi di detik yang sama, suhu ekstrem di sekitar terowongan mulai memberikan efek samping yang mematikan.

Suhu di dalam gua es itu berada jauh di bawah titik beku normal—mencapai minus lima puluh derajat Celsius.

Bilah Rust-Bite Blade yang tadinya berpendar dengan kilat oranye hangat mendadak meredup. Lapisan es tebal dengan cepat merambat naik menutupi permukaan pedang yang berkarat itu, membuat logam tersebut kehilangan fleksibilitas dan ketajamannya. Setiap kali Ren menebas, bilah pedang itu terasa semakin berat, seolah-olah ia sedang mencoba memotong balok baja padat menggunakan ranting kayu yang membeku.

The Ice-Web Queen mengeluarkan pekikan melengking yang memekakkan telinga, menciptakan gelombang kejut sonik yang membuat gendang telinga berdengung hebat. Merasakan ancaman dari manusia kecil di hadapannya, sang Ratu mengibas-ibaskan kaki depannya yang bermuatan cakar tajam dengan kecepatan kilat.

Ren melompat mundur untuk menghindari tebasan maut tersebut, namun ia terlambat sepersekian detik. Cakar es itu menyambar bahu mantelnya, merobek kain tebal dan meninggalkan luka sayatan dalam di kulitnya. Darah segar menetes, langsung membeku menjadi kristal kemerahan sebelum sempat menyentuh lantai es.

Sebelum Ren sempat memulihkan keseimbangannya, sang Ratu membuka rahangnya lebar-lebar.

Whoosh!

Sebuah semburan jaring putih berpijar—senyawa polimer beracun dengan tingkat kelengketan ekstrem—ditembakkan langsung ke arah Ren dengan kecepatan proyektil. Jaring itu melingkar di udara, menyebar luas, dan menghantam tubuh Ren telak, menjerat kedua tangannya ke sisi tubuh dan membantingnya keras ke atas rel baja.

"Kapten!" teriak Leo dari kejauhan, matanya membelalak ngeri melihat Ren terkapar tak berdaya.

Ren berusaha meronta, mengerahkan seluruh kekuatan otot dan tenaga dari The Core Engine di dadanya. Namun, jaring termal-kristal itu langsung bereaksi terhadap panas tubuh, semakin mengerut dan mengikat tubuhnya dengan erat. Racun asam yang terkandung di dalam serat jaring mulai meresap melalui pakaiannya, membakar kulitnya dan melumpuhkan sistem saraf motoriknya secara perlahan. Pandangan mata Ren mulai kabur, warna-warni di sekelilingnya menggelap, dan kesadarannya perlahan-lahan ditarik ke ambang pingsan.

Di atas tubuh Ren, The Ice-Web Queen merayap mendekat, mengangkat kaki depannya yang besar dan tajam tinggi-tinggi, bersiap menghujamkan tusukan maut yang akan menembus dada pemuda itu dalam satu serangan telak.

Waktu seolah melambat. Gavin yang melihat pemandangan itu dari dekat berteriak histeris, sementara Leo, yang posisinya terlalu jauh untuk berlari menyelamatkan, merasakan darahnya mendidih karena keputusasaan.

Namun, di detik-detik paling kritis di mana maut berada hanya berjarak beberapa sentimeter dari jantung Ren, Leo mengambil tindakan paling nekat.

Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Leo membanting tombol peluncur darurat pada meriam Spark-Viper, memasukkan sisa bahan peledak inti reaktor ke dalam satu peluru granat kejut modifikasi khusus, lalu membidikkan larasnya lurus ke arah langit-langit es tepat di atas kepala sang Ratu.

"Makan ini, laba-laba jelek!" bentak Leo, lalu menarik pelatuknya sekuat tenaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!